APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kemarau Kapan Berlalu?

Kemarau Kapan Berlalu?

Demi membiayai sekolah keponakannya, Sam Rahardja rela menjadi kurir narkoba meski Galih terus memotong upahnya. Saat Galih berhenti beroperasi, Sam kehilangan sumber penghasilan. Di tengah situasi sulit ini, Sena hadir mengancam akan membongkar masa lalu kriminal Sam ke polisi. Terdesak demi masa depan Renaldi, Sam terpaksa menerima tawaran kerja dari Sena. Sayang, keputusan tersebut membawanya pada penyesalan terdalam karena pekerjaan baru itu adalah menjual diri.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sam memarkirkan motornya di teras rumah sambil membawa dua kantong plastik berisi alat menggambar dan dua bungkus nasi padang. Rumah ini cenderung kecil dibanding rumah-rumah di sekitarnya. Tidak ada garasi, halaman luas, apalagi bangunan bertingkat. Walau demikian, Sam merawatnya dengan baik. Pot bunga aneka ragam berjajar di depan teras, kaca bersih, lantai mengkilap, dan tidak ada satu pun sarang laba-laba di atapnya yang belum dipasang plafon.

"Di, gue pul ... ang."

Langkah Sam terhenti begitu pintu dibuka oleh pemuda yang lebih tinggi darinya. Pemuda jangkung itu adalah keponakannya, Renaldi. Sam mendesah melihat rambut ikal Renaldi acak-acakan, bertabur kotembe dan debu. Wajahnya berminyak, dan astaga ... kaos yang ia pakai masih kaos hitam kemarin sore.

"Astaga, Di. Lo enggak mandi?"

Cengiran kikuk Renaldi justru membuat Sam bergidik karena melihat kulit cabe di gigi pemuda itu. "Mana Milkita gue?"

Sam menyembunyikan barang bawaannya. "Enak aja. Mandi dulu sana."

Renaldi berdecak. "Tadi siang gue udah mandi."

"Mandi macem apa, hah? Liat, tuh, rambut lo kayak enggak pernah kenal sampo. Muka kucel, gigi kuning, baju enggak ganti. Mau gue mandiin?" omel Sam. "Apa gunanya gue beli alat mandi sama baju, sih, Di?"

Yang diomeli hanya mengerucutkan bibir, sementara Sam melangkah masuk, duduk di karpet hijau depan televisi. "Mandi atau gue enggak mau beliin Milki—"

"Iya, iya. Gue mandi."

Sam memijat pelipis, pening. Renaldi remaja semakin membuatnya geleng-geleng kepala jika menyangkut kebersihan. Jarang mandi, bercukur, dan tidak pernah mau ke luar rumah kalau tidak ada kepentingan yang mata darurat. Sam harus rajin menceramahi Renaldi untuk lebih merawat diri, tapi remaja 18 tahun itu tidak peduli. Padahal waktu masih SD, Renaldi selalu wangi, rapi, dan enak dipandang.

Menghela napas, Sam beranjak mengambil piring dan sendok di dapur untuk makan malam. Biasanya, ia jarang membeli makanan di liar dan lebih memilih memasak di rumah. Namun, karena malam ini ia pulang agak larut, ia memutuskan untuk membeli saja.

Seraya menunggu Renaldi selesai, Sam menyalakan televisi, menonton FTV malam yang sebentar lagi tayang. Ngomong-ngomong, gadis pendek tadi belum memberitahu namanya. Setelah memberi Sam minum, gadis itu kembali mengurung diri di kamar, tidak repot-repot mengantarnya keluar.

"Dia tinggal di sana sendiri? Gila. Kalau ada orang macem-macem, gimana coba—"

"Siapa yang tinggal sendiri?" Renaldi tiba-tiba ke luar sambil melilit rambut ikalnya dengan handuk.

"Itu ... tadi gue ketemu cewek tinggal di rumah kumuh, sendiri lagi."

Renaldi duduk di seberang Sam. Pemuda itu sudah berganti memakai sweater biru dan celana jeans pendek, menampilkan bulu-bulu halus di betisnya. "Tumben peduli cewek," gumamnya, sambil membuka bungkus nasi padang.

"Ya abis kasian, Di. Kecil banget bodinya, mana kuat mukul preman."

"Emang bakal ada preman main ke tempat kumuh?" Renaldi meletakkan nasi dengan bungkusnya di piring.

"Yee, nggak tahu aja, jaman sekarang preman-preman markasnya di tempat kotor," sahut Sam. Lelaki itu ikut membuka nasi padangnya.

Renaldi tidak menyahut lantaran fokus dengan makan malamnya. Sam pun demikian. Lelaki itu melahap nasinya sembari menatap layar TV yang sudah menampilkan aktris favoritnya.

Dalam beberapa saat, hanya terdengar suara dari televisi dan decap bibir. Diam-diam Sam melirik Renaldi yang menunduk, menggigit paha ayam dengan lahap. Tipis, bibir Sam tersenyum. Bagi orang lain, Renaldi adalah suatu kesalahan, tapi baginya Renaldi adalah anugerah yang diberi Tuhan untuk menemani hari-harinya yang kosong.

Sam paham betul pekerjaan yang ia lakoni adalah pekerjaan haram. Kadang, ia ingin berhenti dan mencari pekerjaan halal. Namun, lagi-lagi, Tuhan begitu tidak adil baginya; setiap pekerjaan halal yang ia tekuni tidak pernah berjalan baik.

Pernah Sam menjadi kuli bangunan, tetapi di sana, mandornya memperlakukannya secara tidak adil. Ia hanya mendapat bayaran separuh dari kuli lain.

"Besok daftar sekolah, yuk?" ucap Sam seusai menelan nasi becampur sambal ijo dan sayur lodeh.

Renaldi mengangkat wajah. "Sekolah mana?"

"Gravika."

"Mahal."

"Lah, emang kenapa? Lagian sebanding sama kualitas pendidikannya." Renaldi diam. Sam menambahi, "Lo khawatir gue enggak mampu?"

Renaldi tetap diam. Jemarinya mengumpulkan sisa nasi di piring.

"Lo lupa berapa upah gue sekali nganter barang?"

"Tapi, 'kan, lo enggak tiap hari transaksi."

Benar. Bahkan mulai sekarang Sam tidak akan melakukan transaksi lagi, tetapi Renaldi harus tetap sekolah. Masa depan anak itu harus cemerlang.

"Pokoknya lo enggak perlu khawatir soal biaya. Belajar yang bener, lulus, kuliah. Bukannya lo enggak mau terus-terusan hidup kayak gini?"

"Ya udah, gue ngikut."

Wajah Sam berubah cerah. "Bagus. Lo harus jadi anak hebat!" serunya. "Besok pulang dari sekolah kita belanja dulu."

"Belanja?" Kening Renaldi berkerut.

"Iya. Buat keperluan sekolah. Sepatu, tas, dan ... hp lo juga udah retak, 'kan, layarnya?"

"Enggak perlu, Sam. Sepatu dan tas gue masih layak pakai. Hp juga masih bisa buat scroll sosmed."

Meletakkan piring ke karpet, Sam menyahut, "Di, gue cuma enggak mau lo dipandang rendah sama orang saat ngelihat apa yang lo pakai. Lagian udah kewajiban gue—"

"Nyatanya emang kita rendahan, 'kan?" sergah Renaldi. "Baik pekerjaan lo, kasta gue yang anak haram, kita emang ditakdirkan hidup di bawah, Sam!"

"Enggak!" Sam membentak dengan suara bergetar. "Harus berapa kali gue bilang lo bukan anak haram, hah?! Lo pantes dihargai sebagai manusia, sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa di hidup gue."

Renaldi mengalihkan pandangan pada televisi yang menampilkan iklan minuman serbuk.

"Apa salahnya gue ngelakuin semuanya buat elo?" lirih Sam lagi. "Gue enggak mau di masa depan, hidup lo terluntang-luntang, kejar-kejaran sama polisi, makan enggak enak tidur enggak nyenyak. Gue cuma mau lo bahagia di masa depan."

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Renaldi meninggalkan Sam di ruang tamu berukuran dua meter persegi tanpa meja dan kursi itu bersama FTV yang sejak tadi dianggurkan.

Sam menatap nasi padangnya nanar. Semakin hari, ia semakin merasa Renaldi sulit ditebak. Sam ingat betul setelah kelulusan SD, Renaldi yang biasanya memanggilnya 'Om' tiba-tiba memakai 'lo-gue' saat ngobrol. Masuk SMP, pemuda itu berubah ambisius dengan prestasi yang kerap membuat Sam bangga. Namun, Sam menyadari sesuatu terjadi ketika penampilan Renaldi berubah kumal, jarang mandi, dan sering mengurung diri di kamar dan tidak pernah menceritakan apa pun selain prestasi gemilang yang dia dapat di sekolah.

Sam hendak memakan lagi makan malamnya, tetapi getaran ponsel membuatnya mengernyit.

Tidak Diketahui : Butuh pekerjaan, Rahardja?

Sudah 15 tahun lebih tidak ada satu pun yang memanggilnya dengan Rahardja. Jangankan memanggil, yang tahu nama lengkapnya saja tidak ada selain Renaldi. Galih yang bertahun-tahun menjadi atasannya pun tidak tahu nama lengkapnya.

Siapa orang ini? Tidak mungkin Renaldi iseng mengganti nomor. Ditambah, keponakannya itu tidak tahu kalau ia sudah dipecat. Sam menggeleng. Ada banyak Rahardja di dunia ini, mungkin orang ini salah kirim.

Ditemani akting Ine Marinka dan Randy Pangalila di televisi, lelaki kurus itu menyuapkan lagi nasi padangnya. Semenjak tahu mencari uang itu sulit, Sam menghargai apa pun yang ia dapat. Makanan dan minuman tidak pernah ia buang dengan cuma-cuma setidaknapsu apa pun dirinya.

Usai menghabiskan makannya, Sam ke dapur membawa serta piring Renaldi untuk ia cuci. Sudah menjadi rutinitasnya, mencuci piring sesudah makan. Berikutnya, ia mematikan televisi, bergegas mandi sekalian mencuci pakain kotor Renaldi yang sudah menumpuk.

Sam melakukannya suka rela. Tidak pernah sekali pun dia mengeluh soal tumpukan baju kotor, bungkus Milkita di kolong ranjang, atau buku-buku berantakan. Banyak orang menganggap Renaldi anak haram, miskin, rendahan, tapi seperti yang almarhum kakaknya ucapkan, Sam tidak menganggap Renaldi rendah dan layak dijauhi. Bahkan kalau boleh jujur, kehadiran Renaldilah yang selalu memacunya untuk terus berusaha, untuk tidak menyerah.

Maka, setelah semuanya beres, Sam membuka pintu kamar sang keponakan untuk mengecek apakah dia sudah terlelap atau belum. Namun, pintu kamar yang terkunci meyakinkannya bahwa Renaldi masih terjaga.

"Di, gue cuma mau bilang, kalau lo enggak mau dianggap rendahan lagi, lo cukup buktiin kalau lo punya sesuatu yang melebihi mereka," ujar Sam, mendekatkan wajah ke pintu. "Jangan lupa, besok bangun pagi buat daftar sekolah. Setelah itu, lo bisa buktiin bahwa anak yang katanya haram ini punya prestasi yang bagus."

Di dalam kamar tersebut, Renaldi menyimak baik-baik ucapan sang paman, seraya menatap gemerlap langit Jakarta dari balik jendela. Kata almarhumah neneknya, kalau sedang tidak baik-baik saja tataplah langit. Sebab di sana terbentang harapan luas.

Mengambil buku sketsa di laci, Renaldi membuka kembali gambar-gambar di sana. Kemudian, pandangannya berhenti pada sketsa piala yang ia buat satu setengah tahun lalu sesudah ia memenangkan lomba cerdas cermat tingkat kabupaten.

Renaldi tersenyum masam. Seharusnya piala itu ada di lemarinya atau bertengger manis di meja belajarnya. Sayangnya, sebelum ia sempat membawa pulang piala kejuaraan itu, pihak sekolah meminta pialanya dibawa ke sekolah dan diberikan kepadanya di upacara hari Senin sebagai motivasi teman-teman yang lain. Namun, akhirnya bukan Renaldi yang dipanggil sebagai pemenang lomba Fisika melainkan seorang anak pejabat negara yang tidak hadir ketika lomba berlangsung.

Menutup buku sketsa, Renaldi kembali menatap langit. "Oke. Mari kita buktikan, Sam."

*

Kebumen, 30 Oktober 2021

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu
7.9
Pascaserangan brutal tiga pemuda di Gunung Lawu, Alana yang sekarat di dasar jurang diselamatkan oleh Arga. Penyelamatnya adalah eks anggota Kopassus yang kini menjadi buronan di hutan tersebut. Selagi memulihkan trauma dan luka fisiknya, Alana bimbang untuk membalas dendam atau menata ulang hidupnya. Kedekatannya dengan Arga yang berwatak keras namun sangat protektif lambat laun menumbuhkan perasaan baru yang tak terduga di antara mereka.
Sampul Novel Darah Sang Mafia
8.9
Dastan, pembunuh bayaran berjuluk The Black Wings, menyandera Dara di rumahnya sebagai jaminan utang. Ia sempat membenci Dara karena mengira gadis itu wanita simpanan ayahnya. Namun, sikap Dastan melunak saat kebenaran terungkap. Meski kerap diperlakukan kasar, Dara tetap mencintai Dastan. Di tengah kejamnya dunia mafia, akankah Dara berhasil menyelamatkan Dastan dari kegelapan, ataukah maut justru memisahkan mereka?
Sampul Novel DENDAM dan JERAT PESONA GADIS yang KUCULIK
9.7
Anggara menculik Almaira demi membalas dendam atas kematian ibunya. Ia ingin membuat ayah gadis itu menderita karena kehilangan putrinya selamanya. Namun, saat menyekap Almaira, benih cinta justru tumbuh di hati Anggara. Kini ia terjebak di antara kebencian masa lalu dan perasaan barunya. Akankah cinta mampu memadamkan amarahnya, sementara Almaira sendiri sangat membenci sang penculik?
Sampul Novel Gadis Yang Terjamah
8.7
Demi ambisi pendidikan, Marlina kehilangan kehormatan hingga terbuang ke dunia gelap narkoba sebagai pengedar. Saat berniat tobat dan berhijrah, jebakan rival justru menjebloskannya ke penjara. Di balik jeruji besi, ia memperdalam ilmu agama. Namun setelah bebas, penolakan keras masyarakat kembali menghadangnya. Kini, Marlina dihadapkan pada pilihan sulit: kembali ke jalan haram yang menjanjikan atau tetap teguh pada proses hijrahnya.
Sampul Novel KETUA GENG MOTOR VS BADGIRL
7.9
Qiandra Putri menjalani peran ganda sebagai Ketua OSIS yang disiplin sekaligus sosok badgirl. Sayangnya, ia selalu gagal mendapatkan pacar baru setelah putus dari Exal Jevon Danendra. Rupanya, sang mantan yang memimpin geng motor EXALTO itu diam-diam mengancam setiap lelaki yang mencoba mendekati Qiandra. Di bawah bayang-bayang masa lalu dan obsesi kuat sang mantan kekasih, akankah hubungan mereka kembali terajut atau justru berakhir semakin renggang?
Sampul Novel Penyesalan Mantan Suamiku
9.8
Dua tahun menikah, kebahagiaan Sophia atas kehamilannya hancur karena Nathan meminta cerai. Saat nyawanya terancam dalam sebuah insiden pembunuhan, Nathan mengabaikan panggilan daruratnya hingga Sophia putus asa dan memilih pergi ke luar negeri untuk menata hidup baru. Namun, saat Sophia hendak menikah lagi, Nathan mendadak muncul kembali. Dengan penuh penyesalan, ia menuntut penjelasan mengenai anak yang telah dilahirkan oleh Sophia.