
Kelakuan Suami dan Ibu Mertuaku di Balik Pintu
Bab 2
"Apa?! Ibu mertuamu tidur dengan kalian tadi malam?!"
"Jangan keras-keras."
Aku kaget mendengar teriakan sahabatku dan buru-buru mengingatkannya.
Lalu mengangguk tak berdaya.
Sahabatku tampak terguncang, tapi aku merasa ini masalah yang tidak terlalu besar.
"Apa? Jelas ada yang nggak beres. Mereka memang ibu dan anak, tapi sudah setua itu, masa masih tidur bersama?"
"Tapi, suamiku sangat baik kepadaku."
"Rana, jangan percaya! Siapa tahu ibu mertuamu itu nggak baik!"
"Iya, aku tahu."
Meski berkata demikian, pikiranku spontan teringat pada saat suamiku memeluk ibunya di tempat tidur tadi malam.
Sesampainya di rumah, ibu mertuaku sudah menyiapkan makanan.
Melihat meja penuh hidangan dan ibu mertuaku yang memanggilku untuk segera makan siang, aku merasa sedikit bersalah.
Suamiku belum pulang. Ibu mertuaku meluangkan waktunya untuk memasak untukku, bahkan sebagian besar di antaranya makanan kesukaanku. Tapi aku diam-diam mencurigainya.
"Mama harusnya nggak usah masak banyak-banyak."
"Nggak apa-apa Rana, Bhaskara sudah terbiasa begini. Aku punya waktu. Kamu harus berangkat kerja lagi nanti."
Kami sudah setengah jalan makan saat suamiku pulang.
Ibu mertuaku buru-buru meletakkan sendoknya dan pergi ke pintu untuk menyambut. Suamiku menyerahkan jaketnya kepada ibunya seperti sudah sangat terbiasa. Pemandangan ini menyerupai perilaku pasangan suami istri.
Aku menggelengkan kepala, mencoba menghilangkan pikiran yang macam-macam dari otakku.
Suamiku mengusap rambutku sebelum duduk di sampingku. Ekspresi ibu mertuaku masih tetap sama.
Tapi aku tetap dapat merasakan suatu kejanggalan.
Aku berniat membeli kamera pengintai nanti, agar bisa tenang dan tidak curiga sepanjang waktu.
Setelah makan siang, Suamiku mencuci piring bersama ibunya.
Dia menyuruhku tidur siang karena aku harus pergi ke kantor lagi nanti.
Hatiku berbunga-bunga mendengarnya. Sebahagia itu hingga aku terlupa akan sikap aneh ibu mertuaku dan tidur siang dengan nyenyak.
Di tengah tidurku, aku dibangunkan oleh suara notifikasi pesan di ponselku.
Aku pun bangun dan pergi ke toilet, tetapi ternyata suami dan ibu mertuaku tidak ada di ruang tamu.
Saat aku ingin memanggil, suara-suara aneh keluar dari kamar ibu mertuaku. Aku berjalan mendekat. Pintu kamar tertutup, tapi rumah kami tidak terlalu kedap suara. Aku menempelkan telinga ke pintu.
Aku mendengar suara-suara di dalam ruangan, terputus-putus.
"Ahhh ... mmm ... lebih keras ...."
Seluruh tubuhku seperti tersengat listrik. Suara ini jelas erangan kenikmatan, tapi ibu mertuaku sudah kehilangan suaminya sejak lama. Aku lalu teringat bahwa suamiku juga entah di mana. Aku pun menutupi mulutku dan kembali ke kamar.
Melihat ponsel di tempat tidur, aku segera sadar.
Cepat-cepat mengirim pesan kepada suamiku.
"Kamu sudah berangkat? Aku baru bangun, kamu nggak ada."
Aku sedikit cemas menunggu balasan suamiku, tapi aku juga tahu bahwa aku tidak boleh terburu-buru. Aku tidak ingin salah paham.
"Iya, aku sudah minta Mama bilang ke kamu. Ada apa?"
Setelah menerima balasan ini, kepanikan dalam hatiku mereda.
Batu yang mengganjal di hatiku juga terangkat.
"Kenapa? Baru sebentar saja sudah kangen?"
Melihat kata-kata suamiku di layar ponsel, aku tidak bisa menahan tawa.
Aku pura-pura tidak terjadi apa-apa dan membalas pesan tersebut. Di saat yang sama, aku juga menantikan kompensasi dari suamiku malam ini.
"Kamu harus menebusnya malam ini."
"Tenang, Sayang, aku sudah siap. Sampai jumpa nanti malam."
"Sampai jumpa nanti malam."
Setelah mengobrol dengan suamiku, aku teringat suara yang kudengar dari kamar ibu mertuaku. Lupakan saja, ini urusan pribadinya.
Aku juga merasa tidak perlu berkomentar apa-apa, tapi rasanya tidak baik kalau ibu mertuaku sering membawa laki-laki ke rumah seperti ini. Suamiku juga berkata bahwa dia meminta ibunya untuk membangunkanku.
Aku tidak bisa memahaminya, tapi demi menghindari rasa malu, aku diam-diam pergi.
Saat melewati kamar ibu mertuaku, aku tidak menyangka suaranya semakin keras.
Wajahku spontan merona merah. Sebagai seorang wanita, aku saja merasa kalau suara erangannya lumayan memikat. Belum lagi isi kata-katanya.
"Mmm ah ... mmm aku mencintaimu .... Lebih keras ... Ahh ...."
Rasa panas di wajahku mereda sedikit setelah aku keluar.
Aku bahkan lupa soal memasang kamera pengintai. Aku baru ingat saat ditelepon teknisi yang hendak memasang di sore hari.
Anda Mungkin Juga Suka





