APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel KASIH YANG TAK DIINGINKAN

KASIH YANG TAK DIINGINKAN

Kasih menjalani hidup sebagai anak yang kehadirannya tak pernah diharapkan. Dianggap sebagai kesalahan, ia tumbuh tanpa kehangatan keluarga. Nama indah pemberian ibunya, yang semula diharapkan mampu meluluhkan hati sang suami siri, justru menjadi awal mula kehancuran rumah tangga mereka hingga berujung pada perceraian. Kini, Kasih harus menanggung penderitaan akibat ego orang tuanya, berjuang bertahan hidup tanpa pernah merasakan ketulusan cinta sejak ia dilahirkan.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kasih, kamu nggak masalah kan pakai seragam yang tahun kemarin? Atau pakai saja punya Risa, sepertinya yang ini juga masih muat di badan kamu."

"Lagi Bi? Dari SD sampai kelas dua SMP kemarin, saya juga pakai baju bekas Kak Risa," jawabku pelan.

Sekarang aku sudah berusia empat belas - sebentar lagi lima belas tahun - dan baru saja naik di kelas tiga SMP, sama dengan Ririn anak kedua Bi Yana. Sedangkan Kak Risa baru saja lulus SMP, dan akan masuk SMA yang ada di kecamatan sebelah.

Sejak masuk sekolah, hanya saat di kelas satu dan kelas dua SD saja aku mendapatkan seragam baru, tentu saja karena perhiasan Ibu belum lama Bibiku terima, tapi apa iya, secepat itu habisnya?

"Terus mau kamu bagaimana Kasih? Bibi tidak bisa belikan kamu seragam baru, yang penting kan masih bisa dipakai? Selama ini juga kamu nurut saja? Kenapa sekarang protes? Sudah merasa besar kamu?"

"Saya hanya penasaran kenapa Ririn seragamnya ganti terus Bi? Sedangkan badannya Ririn sama Kak Risa nggak jauh berbeda, justru di saya bajunya agak kekecilan."

"Uang Bibi cukupnya cuma untuk Ririn, karena badannya kecil, seragam untuknya murah, bukannya kekecilan baju Risa di kamu, tapi kamu nya saja yang makannya banyak, jadinya lebih besar dari Risa. Lagian ya, kamu itu bukannya bersyukur masih bisa sekolah, malah nuntut seragam baru, bisa makan dan tidur nyaman di sini, harusnya kamu bisa terima apapun yang bibi berikan."

Makan banyak kata Bibi? Iya, banyakan nasinya, karena biasanya aku hanya disisakan sayuran dan tempe atau tahu. Padahal yang bantu Bibi memasak di dapur aku, namun aku tak bisa banyak protes dan hanya bisa menerima. Aku cukup tahu diri posisiku di sini.

Pakaian rumahku juga tak kalah mengenaskan, hanya beberapa potong baju, itupun ada yang bekas dari Kak Risa, atau baju Ririn yang kebesaran, aku tidak masalah, karena hanya di rumah. Tapi untuk seragam sekolah? Iya kalau memang muat di badanku, masalahnya kadang ada yang kekecilan di badanku yang memang sedikit lebih besar dari Kak Risa, hingga kadang sobek di ketiak, atau tempat yang lain, dan aku harus menjahitnya sendiri. Selalu seperti itu.

"Saya bersyukur Bi, tapi kan setahu saya Ibu meninggalkan perhiasan untuk dijual buat-"

"Kamu anak kecil tahu apa? Kamu pikir semua yang kamu pakai dan makan selama di sini itu nggak butuh uang? Sekarang apa-apa mahal, barang emas Ibu kamu juga nggak seberapa, sudah habis terjual empat tahun lalu! Jadi, sekarang berhenti ungkit-ungkit barang yang sudah tidak ada lagi!"

"Maaf Bi, apa Ibu tidak bisa dihubungi?"

"Tumben kamu tanya Ibumu? Selama ini kamu diam saja, tidak pernah singgung soal Ibumu? Apa sekarang kamu mau mengadu, pada orang yang sudah jelas tidak menginginkanmu? Harusnya kamu lebih peduli pada Bibi dan keluarga di rumah ini yang masih menampung kamu! Nggak kasihan kamu sama Pamanmu yang kerja banting tulang buat kalian? Jadi pekerja tambang itu capek Kasih, ini bukan di perusahaan, tambang tradisional, yang memang serba tenaga, kalau dapat sukur, kalo lagi apes, ya ... harus sabar. Jadi, kamu jangan banyak maunya deh!"

"Iya Bi, saya hanya ingin tahu kabar Ibu."

"Yeni itu sudah punya kehidupan sendiri, dia nggak perduli sama kamu! Bibi dan Pamanmu di sini yang membesarkan dan bahkan menyekolahkan kamu, jangan sampai lupakan itu!"

"Iya Bi."

Padahal setahuku, sejak kelas tiga SD sampai masuk SMP, aku dapat beasiswa prestasi, karena di sini Bibiku yang jadi wali murid, maka semuanya dipegang Bibi, kadang keperluan sekolah seperti buku, aku harus hemat, Bibi hanya belikan album yang tebal satu, dibagi untuk semua mata pelajaran, sisanya kadang dikasi bekas bukunya Kak Risa. Sedangkan untuk kedua putrinya selalu ada buku satuan setiap pelajaran.

"Itu uang dari Bapak mereka, punya kamu cuma cukup segitu." Seperti itulah jawaban Bibi ketika kutanya.

"Ya sudah, Bibi anggap protes soal seragam ini tidak pernah ada. Itu karena Bibi sayang sama kamu. Mengajari kamu untuk jangan boros. Ini bajunya kamu cuci dulu, sekalian sama seragamnya Risa dan Ririn. Mumpung besok hari minggu, sore ini masih bisa nyuci kan?"

"Besok pagi saja bisa Bi? Saya baru saja selesai mencuci baju rumah, kenapa baru sekarang seragamnya Bibi berikan?"

"Kan punya mereka baru beli, yang bikin lama itu, karena Bibi harus bongkar lemarinya Ririn buat nyari seragam kamu. Sudah sana, buruan dicuci, biar jemurnya besok saja nggak apa-apa. Kan besok libur, seperti biasa kamu yang jaga warung ya ...."

"Iya Bi," ucapku pelan, dan langsung ke tempat untuk mencuci pakaian.

Bibi memang tidak menggunakan mesin cuci, boros katanya. Sejak berusia sepuluh tahun, aku yang mencuci pakaian mereka semua. Awalnya Bibi turut membantu, tapi setelah dirasanya aku mampu sendiri, ia tak pernah lagi menemaniku.

Aku yang sudah terbiasa bekerja sejak tinggal dengan Ibu tidak masalah, tapi kadang ada rasa iri dalam hati saat melihat Ririn bisa santai nonton TV di hari libur, saat aku harus berkutat dengan pekerjaan rumah dan menjaga warung.

"Ririn itu badannya kecil, nggak kayak kamu, tenaganya juga lemah dan dia gampang sakit, jadi nggak boleh capek." Alasan itulah yang Bibi lontarkan saat mendelegasikan tugas rumah lebih banyak padaku, ketimbang dua anak perempuannya.

Aku bisa apa? Ka Risa kadang menyapu, kadang mencuci piring, tapi lebih banyak santainya, katanya capek belajar dan sebagainya. Bibi hanya mengiyakan saja setiap ucapan anak sulungnya tersebut. Sedangkan aku? Jangankan mengeluh, bertanya satu kalimat saja, akan mendapat jawaban panjang lebar, dan Bibi akan mulai mengungkit semua yang ia lakukan pada hidupku.

Saat mencuci seragam kami bertiga, terlihat sekali perbedaannya, warna putih bersih milik mereka berdua dan milikku yang sudah mulai berwarna kekuningan, entah sudah berapa lama seragam ini menghuni lemari Kak Risa.

Terpaksa aku rendam seragamku lebih lama dari milik Kak Risa dan Ririn, tak lupa ku tambahkan pemutih pakaian agar sedikit lebih cerah.

"Akhirnya selesai juga ...." ucapku sembari berdiri dan meregangkan kedua lenganku yang terasa kaku, karena dua kali mencuci dengan tangan dan jumlah pakaian yang sangat banyak.

"Tunggu! Mau ngapain kamu?" Aku yang hendak membuang sisa air bekas mencuci pakaian, dikejutkan oleh suara Ririn.

"Mau buang air bekas cucian Rin, kenapa?"

"Jangan dulu! Nih, masih ada yang ketinggalan," ucapnya sembari melemparkan dua pasang pakaian dalamnya, begitu saja di dalam loyang.

"Apa ini?" tanyaku pada Ririn dengan tatapan dingin.

Aku yang sudah kelelahan, dan ingin segera istirahat tentu saja tidak bisa menerimanya begitu saja, terlebih seingat ku selama ini aku hanya bertugas mencuci pakaian luar saja.

"Pakaian kotor, lah! Kamu buta?" jawabnya acuh.

"Cuci sendiri! Kamu bukan bayi, dan aku bukan pembantu!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AZAB SUAMI YANG DZOLIM
9.7
Kalina, seorang pengusaha wanita yang sangat sukses, membangun rumah tangga bersama Adit yang hanya bekerja sebagai pegawai bank biasa. Di balik pernikahan mereka, Adit ternyata hanya memanfaatkan kekayaan istrinya. Pengkhianatan itu terasa kian menyakitkan saat Kalina mengetahui bahwa sang suami telah menikah lagi secara diam-diam. Tidak tinggal diam begitu saja, Kalina pun menyusun sebuah rencana elegan untuk membalas semua perbuatan dzolim suaminya tersebut.
Sampul Novel Istri Kontrak: Penebusan Thorne
8.8
Clara didera duka mendalam saat Marko, suaminya, merenggut nyawa bayi mereka. Tanpa rasa bersalah, Marko justru menceraikannya demi menikahi sahabat Clara yang tengah hamil. Di bawah ancaman akan dijebloskan ke rumah sakit jiwa, Clara tak punya pilihan. Beruntung, pengacara keluarganya datang membawa kunci rahasia warisan orang tua. Kunci itu membuka kontrak kuno yang menjodohkannya dengan Julian Aditama, miliarder kejam yang ditakuti Marko. Peluang emas untuk membalas dendam kini ada di tangan Clara.
Sampul Novel Kecurangan Maduku
9.5
Demi masa depan anak-anak dan ekonomi keluarga, Andin Rosemala rela bekerja keras di perantauan. Ia sangat memegang teguh kesucian pernikahan bersama Rendy Prawira. Sialnya, di saat Andin berjuang di kota lain, Rendy malah tega berkhianat dan diam-diam menikahi Ayu. Menghadapi kepedihan atas kecurangan sang suami, sanggupkah Andin bertahan? Akankah Rendy meninggalkan istri mudanya, atau justru Ayu yang akan merebut kendali atas segalanya?
Sampul Novel Kini Ku Hilang Selamanya
9.6
Merayakan tujuh tahun pernikahan dengan Lionel, sang bos mafia, sang istri awalnya berniat membagikan kabar kehamilannya. Namun, kemesraan mereka hancur saat ia mendengar obrolan rahasia Lionel dan anak buahnya dalam bahasa Iltan mengenai wanita lain bernama Sofia. Tanpa mereka sadari, sang istri memahami bahasa tersebut karena asal-usul neneknya. Menahan rasa sakit hati dan amarah di balik senyum palsunya, ia diam-diam mengambil keputusan besar. Melalui ponselnya, ia menerima tawaran proyek riset medis internasional, bersiap untuk pergi dan melenyapkan dirinya dari kehidupan sang suami dalam waktu tiga hari.
Sampul Novel Semangkuk Kelapa Parut Untuk Lauk Nasi
8.5
Sepuluh tahun membina rumah tangga, Suci tetap setia mendampingi suaminya yang bekerja keras sebagai mekanik lepasan. Meski hidup serbakekurangan bersama tiga anak mereka, badai sesungguhnya baru datang saat cibiran orang lain dan kehadiran orang ketiga mulai mengusik keharmonisan pernikahan ini. Di tengah impitan ekonomi dan ujian kesetiaan yang berat, sanggupkah kekuatan cinta, rasa syukur, serta kesabaran mereka menyelamatkan bahtera rumah tangga ini dari kehancuran?
Sampul Novel Tingkat Nol Cinta, Bagian 2
9.7
Pelanggaran aturan sakral oleh Lucía Vega dan Bruno Ortega akhirnya terdeteksi sistem NCA. Hubungan terlarang mereka kini terancam oleh Julián Iriarte, analis yang mulai mengendus konspirasi emosional ini. Lucía dan Bruno tidak lagi tunduk, menjadikan cinta mereka senjata untuk mengancam stabilitas kekuasaan. Tanpa jalan kembali, mereka harus menghadapi perang terbuka saat semua topeng hancur dan masa lalu menghantui. Demi menang, mereka siap menghancurkan segalanya.