
Kalau Cinta, Pasti Sayang
Bab 3
"Menyebalkan, dia selalu mengekangku!"
Salsa terus berada di samping sambil mendengarkan gumaman Erino.
Wajah Salsa terlihat muram. Dia merangkul pinggang Erino yang ramping sambil membujuknya, "Erino, kalian sudah bercerai. Nggak ada yang mengekangmu lagi, sekarang kamu boleh minum sampai larut malam."
"Bercerai?" Erino memejamkan mata. Dia berkata sambil tersenyum, "Oh ya, benar, kami sudah cerai. Kami sudah cerai ...."
Benar, kami sudah bercerai. Erino terlihat sangat bahagia. Padahal aku sudah mencintainya bertahun-tahun, tetapi dia tidak mencintaiku sedikit pun.
Dengan terhuyung-huyung, Erino mengambil minuman yang disodorkan. Erino meneguknya langsung hingga mengalir ke lehernya.
Ketika tingkah pria menawan itu, Salsa tampak bingung.
"Sudah, cukup." Salsa menolak tawaran minum dari teman-temannya. "Cukup sampai di sini. Erino sudah mabuk. Aku antar dia pulang."
Setelah itu, Salsa memapah Erino keluar dari ruangan.
Erino mengikuti Salsa keluar ruangan dan naik ke lantai 60 tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Erino, hati-hati." Salsa memapah Erino sampai masuk ke salah satu depan kamar. Salsa membuka pintu kamar sambil berkata, "Ayo, masuklah."
Kejam sekali kalau menyuruhku menyaksikan mereka berdua bercinta di dalam kamar.
Setelah mereka berdua masuk, Salsa membaringkan Erino di tempat tidur. Ketika Salsa membantunya melepas pakaian, Erino tiba-tiba duduk dan mendorongnya dengan tatapan kosong.
Salsa terkejut, lalu bertanya, "Ada apa?"
"Aku tidur di kamar lain." Erino berdiri. Seketika itu juga, dia merasa pusing dan tidak bisa berdiri dengan stabil.
Erino berjalan ke pintu dengan tubuh terhuyung-huyung. Kebetulan sekali, dia bertemu dengan manajer hotel di koridor.
Erino memesan kamar melalui manajer itu. Akhirnya, dia menutup pintu dan pergi ke kamarnya sendirian.
Pria itu benar-benar membuatku bingung. Bukankah selama ini pria itu menantikan bisa bersama dengan cinta pertamanya lagi?
Tatapan mata Salsa perlahan berubah menjadi penuh kebencian.
Salsa bergumam, "Mereka jelas-jelas sudah bercerai, tapi Erino masih setia kepada wanita itu ...."
Esok paginya.
Salsa menyingkirkan rasa kecewanya. Dia merangkul lengan Erino sambil tersenyum lebar. Mereka turun dari lantai 60.
Sampai di lobi hotel, kami bertemu dengan seorang kenalanku.
Di lobi yang mewah itu, banyak orang yang lalu-lalang.
Salsa merangkul lengan Erino sambil menatap kenalanku yang tak jauh dari sana dengan tersenyum.
Kenalanku itu tidak lain adalah Hesti Glora, manajer hotel ini sekaligus sahabatku sejak kecil.
Senang sekali melihat Hesti. Aku ingin mendekatinya dan memberi tahu semua yang terjadi kepadanya, tetapi arwahku menembus tubuhnya.
Aku baru ingat bahwa aku sudah mati. Kenyataan ini membuatku sedih.
Hesti mengenakan seragam hotel berwarna hitam. Dia berdiri tegak sambil memperhatikan sepasang kekasih yang bermesraan dengan tatapan sinis.
Hesti menyindir, "Pak Erino beruntung sekali, punya istri di rumah, tapi juga punya simpanan di luar. Kamu pasti bahagia sekali. Hanya saja, terlalu banyak wanita, nanti kamu sendiri yang kesulitan. Aku penasaran, apa Pak Erino nggak kewalahan?"
Ekspresi Erino terlihat muram, tetapi dia tidak berkomentar apa-apa.
Salsa berhenti tertawa. Dia maju dan berdiri di depan Erino seperti sedang melindunginya. "Hesti, jangan ikut campur dalam masalah kami bertiga."
"Lima tahun lalu, Mirna menggunakan kekuasaan keluarga untuk memaksa Erino menikahinya. Andai Mirna nggak merebut Erino, aku dan Erino nggak mungkin berpisah. Karena keegoisan Mirna, Erino menjadi bahan tertawaan dan ejekan orang di Kota Amerta."
Hesti menantang balik. "Jadi bahan ejekan? Yang mana maksudmu? Dia diejek karena menumpang hidup kepada istri atau diejek sebagai suami yang kejam?"
"Diam!" Salsa menatap Hesti dengan marah, lalu berkata, "Aku yang paling mengenal kepribadian Erino. Aku melarang kamu menghina dia!"
"Kamu melarang? Memangnya apa hakmu melarangku? Karena kamu adalah wanita simpanannya?"
Salsa berkata kepada Hesti, "Aku yang mengenal Erino duluan. Mirna yang merusak hubungan kami berdua."
"Benarkah?" Hesti mengejek, "Seingatku, dulu kamu mencampakkan Erino dan pergi dengan pria kaya."
Salsa melirik Erino dengan perasaan berdosa. Salsa segera menjelaskan, "Kalau Mirna nggak merusak hubungan kami, aku nggak mungkin meninggalkan Erino."
"Kamu memutarbalikkan fakta, ya," cibir Hesti.
Lima tahun lamanya, aku sudah sangat baik kepada Erino, tetapi aku tidak mendapatkan perhatian sedikit pun dari pria itu.
Hesti tidak menatap Salsa sama sekali, dia hanya menatap Erino sambil mencibirnya, "Semoga kamu memang nggak mencintai Mirna. Kalau nggak, kamu akan menyesal seumur hidup setelah mengetahui yang sebenarnya."
Sahabatku sangat melindungiku. Aku teringat betapa sedihnya Hesti ketika melihat jasadku di rumah sakit. Aku ingin sekali memberitahunya, tidak perlu buang-buang waktu menjelaskan kepada pria itu karena pria itu tidak akan peduli.
Saat ini, Hesti terlihat ingin membunuh mereka berdua.
Aku paham dengan kebencian yang dirasakan Hesti. Hesti pasti membenciku karena mencintai pria seperti Erino, dia juga membenci Erino yang tidak tahu diri.
Sambil menatap dingin ke arah Hesti, Erino menjawab dengan tegas, "Aku nggak mencintainya."
Hesti tertawa sinis. "Ingat terus kata-katamu barusan. Kalau nggak, kamu akan menyesal seumur hidup."
Setelah mengatakan itu, Hesti berbalik dan pergi.
Sebelum pergi ke kantor, Erino mengantarkan Salsa dulu ke rumah.
Sesampainya di kantor, Erino sibuk dengan pekerjaannya seperti biasa.
Setelah mabuk semalam, Erino merasa sakit kepala. Selesai rapat, dia istirahat sebentar. Erino menyuruh sekretarisnya membuatkan kopi untuknya.
Sambil menunggu kopi, Erino memeriksa ponselnya yang tidak berbunyi sejak semalam.
Aku mendekatinya dan mengintip isi ponselnya. Ada pesan dari Salsa, wanita itu mengajak Erino makan bersama malam ini. Namun, Erino menolaknya dengan alasan dia sibuk malam ini.
Setelah membalas pesan dari Salsa, Erino memeriksa semua pesan masuk dan riwayat panggilan masuk. Apa yang sebenarnya Erino cari? Siapa yang dia tunggu?
Erino hanya menunduk dan terdiam. Pada saat yang bersamaan, Brigitta masuk sambil membawa secangkir kopi.
"Pak Erino, ini kopi Anda."
"Ya." Erino menatap ponselnya sebentar, kemudian dia menoleh ke arah Brigitta dan bertanya, "Apa Mirna menghubungiku?"
Anda Mungkin Juga Suka





