APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kala Hidup Mengalir dengan Damai

Kala Hidup Mengalir dengan Damai

Pernikahan tiga tahun Calista Lisano diwarnai kebencian dari suaminya, Kayden Farista. Begitu Nadia Farista kembali, Kayden berencana memalsukan kematiannya demi melepas status pewaris dan kawin lari. Setelah tidak sengaja mendengar rencana tersebut di ruang operasi, Calista mengambil keputusan besar. Ia segera menghubungi pengacara untuk mengurus perceraian dan bersiap menyusul kakaknya ke luar negeri. Calista akhirnya menyerah mempertahankan hubungan sepihak ini demi kedamaian hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Calista pindah keluar dari kamar utama dalam satu malam. Selain dokumen-dokumen penting, dia tidak mengambil apa pun, bahkan sepotong pakaian juga tidak. Dia langsung menyuruh pembantu untuk membuang semua barangnya supaya bisa mengosongkan tempat untuk Nadia.

Setelah kembali ke kamar, Calista merasa sangat lelah. Dia bahkan tidak bertenaga untuk pergi ke rumah sakit dan langsung beristirahat.

Sampai tengah malam, kepala Calista terasa berat dan pusing. Seluruh tubuhnya sangat panas bagaikan sedang berada di dalam oven. Ini jelas-jelas bukanlah hal yang normal setelah memasuki awal musim gugur.

Calista merasa tidak beres dan membuka matanya dengan kesulitan. Tak disangka, dia malah melihat Kayden duduk di sisi tempat tidur. Kayden sedang mengolesi obat ke luka bakar lengannya dengan serius.

Melihat Calista sudah bangun, Kayden meliriknya, lalu mengambil sebutir obat dari meja samping tempat tidur. Dia menyodorkan obat beserta air ke sudut mulutnya.

“Lukamu infeksi, makanya kamu demam. Minum dulu obat penurun panasnya sebelum tidur,” ujar Kayden dengan nada rendah yang bercampur dengan sedikit rasa khawatir.

Setelah Calista menelan obat yang disodorkannya, Kayden berkata, “Ini obat yang sengaja dibeli Nadia untukmu. Habis minum, istirahatlah. Kelak, jangan bermusuhan dengannya lagi.”

Selama tiga tahun pernikahan, ini adalah pertama kalinya Kayden merawatnya ketika sakit. Namun, Kayden malah menyuruhnya untuk tidak bermusuhan dengan Nadia, padahal ini semua jelas-jelas bukanlah salahnya.

Hanya saja, memangnya kenapa meskipun begitu? Kayden hanya peduli pada Nadia.

Calista merasa sangat ironis. Kesadarannya mulai kabur dan dia ingin tidur untuk menghilangkan pusingnya. Akan tetapi, tubuhnya terasa seperti terbakar dan makin panas. Kelopak matanya juga sangat berat hingga dia tidak bisa membukanya.

Entah sudah berapa lama Calista berjuang, dia akhirnya dapat membuka matanya dengan susah payah. Dia memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidur, lalu menyentuh lehernya yang terasa sangat panas. Dia juga menyeret tubuhnya yang berat ke depan cermin. Matanya terlihat sangat merah.

Demam Calista tidak turun. Sebaliknya, malah makin parah.

Mengetahui bahwa dirinya tidak bisa menunda lebih lama lagi, Calista berjalan keluar dengan terhuyung-huyung. Tepat ketika mencapai pintu, dia tiba-tiba teringat sesuatu dan berbalik untuk mengambil obat penurun panas di meja samping tempat tidur.

Ketika tiba di rumah sakit, demam Calista telah mencapai 40 derajat. Pada satu titik, dia bahkan merasa kesulitan bernapas dan segera dilarikan ke ruang gawat darurat. Dokter mengatur agar dia dirawat di rumah sakit, melakukan tes darah, mengobati luka bakar di lengannya, dan memberinya infus sepanjang malam sebelum suhu tubuhnya perlahan turun.

“Apa yang terjadi? Lenganmu sudah infeksi sampai begini, tapi kamu nggak oles obat. Sudah demam, masih asal minum obat lagi. Kamu mau mati?”

Calista mengerutkan kening, jantungnya berdebar kencang.

“Dokter bilang aku nggak oles obat ke lenganku? Aku jelas sudah obati lukanya. Aku juga minum obat penurun demam yang dikasih keluargaku. Kenapa bisa begini?”

Saat bertanya, sebuah pemikiran perlahan muncul di benak Calista.

Mata Calista menjadi kelam dan dia mengerutkan bibirnya. Dia berbalik dan mengambil pil dari tasnya, lalu menyerahkannya kepada dokter. “Ini obat yang diberikan kepadaku. Coba Dokter bantu aku periksa apa ini obat penurun demam atau bukan?”

Dokter mengambil pil itu dan melihat tanda di atasnya dengan hati-hati. Ekspresinya tiba-tiba menjadi serius.

“Sembarangan! Ini obat yang sudah dilarang di negeri ini! Selain nggak bisa turunkan demam, efek sampingnya bisa sebabkan keracunan ginjal dan pendarahan lambung. Siapa yang kasih ke kamu? Orangnya sengaja mau celakai kamu!”

Calista menatap pil itu. Panasnya yang baru reda itu pun menyerang lagi hingga membuat ujung jarinya mati rasa.

Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Itu adalah pesan dari Kayden. Saat mengklik pesan masuk itu, Calista melihat video Nadia yang tersenyum cerah.

“Calista, habis minum obat yang kukasih, apa kamu merasa nyaman di rumah sakit? Itu obat yang kubeli untukmu. Aku jamin jantungmu akan berdebar kencang sepanjang malam. Oh iya, aku juga aku salah ambil obat untuk lenganmu. Aku baru sadar yang kuberikan itu air. Kamu harus segera mengatasi lukanya. Kalau nggak, lukanya akan tinggalkan bekas.”

Sebelum Calista sempat mengambil tangkapan layar pesan, orang di ujung telepon telah menarik kembali pesan itu. Calista tahu bahwa Kayden-lah yang melakukannya. Dia takut Calista akan membaca pesan tersebut, lalu meminta pertanggungjawaban dan menimbulkan masalah bagi Nadia.

Nadia tersenyum mengejek, menunduk, dan menarik napas dalam-dalam sebelum menelepon polisi.

“Halo? Aku mau buat laporan, Ada orang yang mencoba membunuhku.”

Setelah menelepon polisi, Calista kembali tertidur lelap. Saat terbangun lagi, dia dibangunkan oleh dering telepon yang tidak berhenti. Itu adalah panggilan dari Kayden. Berhubung tahu kenapa Kayden menelepon, dia tidak punya energi untuk berdebat dengannya.

Tepat saat Calista hendak memblokir nomor Kayden, teleponnya berdering lagi. Kali ini, kakaknya yang menelepon. Jadi, dia menjawab panggilan itu.

“Calista, prosedur imigrasi sudah lagi dalam proses dan akan makan waktu sekitar setengah bulan. Aku sudah pesan tiket pesawat untuk pulang dan menjemputmu. Apa urusanmu sudah bisa diselesaikan?”

Mungkin karena takut Calista menyesal, suara Vincent yang biasanya terdengar malas menjadi tegang. Mendengar kehati-hatian Vincent, Calista tersenyum lembut.

“Bisa. Kak, jangan khawatir. Aku nggak akan menyesal. Aku pasti akan pergi seusai mengurus semuanya.”

Baru saja Calista selesai berbicara, pintu kamar rawat inapnya didorong buka dari luar. Kayden berdiri di depan pintu dengan ekspresi masam.

“Pergi? Kamu mau pergi ke mana? Sampai masalah Nadia terselesaikan, kamu nggak boleh pergi ke mana pun!”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Cinta Yang Kandas
8.7
Demi Damian, Aveline rela memendam bakat arsitekturnya selama tiga tahun pernikahan yang dingin. Namun, pengkhianatan sang suami di depan umum menjadi titik balik hidupnya. Aveline memutuskan bercerai lalu bangkit mendirikan firma de la Fontaine. Kini, ia terlahir kembali sebagai arsitek elite dunia yang sukses meruntuhkan dominasi bisnis Blackwood. Di tengah kesuksesan besar ini, mampukah ia membuka kembali pintu hatinya untuk cinta yang baru?
Sampul Novel CEO & Sekretaris
8.0
Dengan penuh keyakinan, Tasya mendatangi kantor pusat Adityaswara demi mengadu nasib. Sambil menepis rasa gugup, ia langsung bertanya ke resepsionis tentang peluang kerja yang ada di sana. Tasya sangat berharap dewi fortuna membantunya agar bisa bergabung dengan perusahaan ternama ini. Keputusan berani tersebut akan menjadi titik awal yang sangat menentukan kelanjutan karirnya di bawah arahan sang CEO yang terkenal sangat berpengaruh.
Sampul Novel Cinta dan Dendam Andara
9.8
Demi membalas penderitaan ibunya dahulu, Andara nekat mengadu nasib ke kota besar. Saat bekerja sebagai petugas kebersihan, takdir mempertemukannya dengan sang CEO tampan yang menjadi bosnya. Ketulusan Andara perlahan memikat hati sang atasan hingga cinta merebak di antara mereka, meski terhalang jurang status sosial. Namun, saat ikatan mereka kian erat, ujian berat mulai berdatangan mengancam keteguhan cinta mereka.
Sampul Novel FANTASI LIAR MR. DOMINAN
9.5
Jenny Wilson kini terjebak di antara dua pria berpengaruh. Setelah malam penuh gairah dengan bosnya, Ares Martin, batas profesional mereka pun runtuh. Di sisi lain, Liam Anderson hadir dengan sifat dominan yang ingin mewujudkan fantasi liarnya. Mantan sahabat Ares ini bertekad melatih sekaligus memenangkan hati Jenny. Di tengah persaingan yang kian memanas, Liam siap mempertaruhkan segalanya demi memiliki Jenny seutuhnya sebelum sang bos merebutnya.
Sampul Novel Gadis Kesayangan Tuan Muda
9.2
Demi melunasi utang sang ayah, Syaqila Ayu Purnama terpaksa menjadi tunangan Aditya Garrett. Gadis remaja ini kini hidup bergelimang kemewahan dan bersekolah di tempat elit, meski ia membenci takdirnya. Di balik itu semua, Aditya yang berusia 23 tahun sengaja memanfaatkan situasi ini karena sudah lama memendam rasa pada Syaqila. Ia terus memanjakannya, namun usahanya diuji oleh kehadiran para pria muda lain yang lebih tampan. Akankah Aditya berhasil memikat hati Syaqila?
Sampul Novel Hamili saya, tuan !
8.3
Chereena Kayona Albern adalah putri kesayangan Bobby Albern yang tumbuh dalam pengawasan ketat sejak ibunya tiada. Meski hidupnya sangat dilindungi, ia berhasil menjadi gadis cerdas yang dikagumi banyak orang. Namun, sebuah langkah tak terduga diambil oleh Chereena. Tanpa diduga, ia justru mendekati seorang CEO asal Rusia bernama Chaiden Barnard dan memintanya untuk menghamilinya. Apa sebenarnya alasan di balik keputusan nekat gadis pintar ini?