
Kakak Tiriku adalah Pasanganku
Bab 2
"Kamu sudah bangun."
James sama sekali tidak mengetuk pintu, langsung masuk begitu saja dengan santai. Di tangannya tampak ada sebotol salep. Dia duduk di pinggir tempat tidur seolah itu adalah hal yang wajar.
Aku tanpa sadar mundur, tetapi ada sebuah dinding di belakangku. Tatapan James terlihat tidak senang, tubuhnya yang penuh tekanan makin mendekatiku.
Aku memanggilnya dengan canggung, "Kakak."
Dalam hati, aku buru-buru mencari-cari alasan untuknya. Mungkin dia sudah melupakan kejadian semalam setelah sadar dari mabuknya, jadi sekarang dia bisa bersikap ... setenang ini.
Namun, dia mengernyitkan kening, lalu membalas dengan suara pelan, "Nggak perlu memanggilku seformal itu."
Memanggil Kakak dianggap terlalu formal? Aku langsung merasa ada firasat buruk. Kejadian berikutnya pun membuktikan firasatku.
James langsung menarik selimutku. Harus diketahui bahwa aku belum sempat mengenakan apa-apa!
"Ah!" Aku menjerit penuh keterkejutan, tetapi pria itu justru menatapku seolah aku sudah bertingkah berlebihan. Dia mengambil sedikit salep di tangannya, lalu mulai mengoleskannya ke area sensitifku dengan sikap tegas.
"Uh ...."
Wilayah rahasia itu diserang secara tiba-tiba, membuat tubuhku langsung lemas seperti genangan air. Mataku mulai kabur, sementara aku dengan susah payah mengumpulkan tenaga.
Namun, James mengancam dengan nada dingin.
"Ini bagian sensitif. Aku nggak ingin ini terluka lagi. Tapi kalau kamu merasa sudah pulih, kita bisa melanjutkannya."
Melanjutkan?
Melanjutkan apanya?
Kenapa James yang biasanya dingin dan pendiam, seakan tidak bisa mengendalikan diri setelah merasakan rasanya berhubungan intim!
Si penyerbu itu masih terus menjelajahi area rahasiaku, menyebarkan salep ke setiap sudutnya. Untuk membuat salep tersebar merata, James memasukkan dengan lebih dalam lagi, terus mengulang gerakannya.
Napasku terengah-engah, suara eranganku tidak bisa aku kendalikan. Dari sudut mataku, aku bisa melihat senyuman di mata James. Aku yang merasa malu sekaligus kesal, langsung menutupi wajah dengan bantal, berharap bisa lenyap dari dunia ini.
Pada saat itu, ponsel yang ada di atas meja samping tempat tidur tiba-tiba berdering keras.
Tangan James dengan gesit meraih ponsel itu. Saat melihat nama Ibu yang tertera di layar ponsel, dia langsung menjawab panggilannya.
Aku melotot marah padanya.
Namun, penyerbu di wilayah rahasiaku itu masih belum pergi. Meskipun salepnya sudah tersebar dengan rata, dia masih bertahan di gerbangnya, memainkan kenop pintu seolah sedang berpikir ingin masuk lagi.
"Candice, aku dan pamanmu sedang berjalan-jalan. Ada banyak sekali hal seru yang bisa dilakukan di Parston. Apa kamu ingin aku membawanmu sesuatu?" tanya ibuku.
Aku tidak menginginkan apa-apa. Asalkan ibuku bisa berbahagia bersama dengan ayah tiriku, itu sudah cukup bagiku.
Namun, tiba-tiba kenop pintu di wilayah rahasiaku dicengkeram dengan kuat. Aku tidak bisa menahan suara napasku yang terkesiap.
"Hm .... Apa saja boleh."
Ibuku tidak bisa menahan diri untuk mengeluh dengan manja, "Jangan selalu menjawab seperti itu."
"Uh .... Ah!"
Si penyerbu sempat mundur sepenuhnya, tetapi kini kembali lagi dengan perlengkapan yang baru. Rambut lembutnya menyapu pahaku, sementara lapisan pelindungnya bergesekan lembut dengan bagian dalam dan luar, membuatku benar-benar kehilangan kendali.
Aku buru-buru menutup panggilan ketika ibuku bertanya apa yang terjadi dengan nada penuh kebingungan. Tanganku tidak lagi memiliki tenaga, membuat ponselku langsung terjatuh ke bantal.
Setelah keran air benar-benar dibuka, James akhirnya mendongak dengan santai, menatapku dengan mata gelapnya yang dalam. Lidahnya menjilat pelan bibirnya yang masih basah, tatapan matanya tampak gelap.
Ini sama seperti saat dia mendengarku menelepon mantan pacarku semalam.
"Kenapa kamu nggak menceritakan tentang kita pada Bibi?" tanya pria itu.
Bagaimana mungkin aku bisa menceritakan hal seperti ini? Apa yang harus aku katakan? Bahwa aku terlibat dalam hubungan terlarang dengan kakak tiriku dari keluarga konglomerat? Kepalaku masih kosong, pusing tidak terkira. Aku bergumam lemah, "Aku nggak akan bilang ...."
"Lalu, aku ini apa?" tanya James.
Aku mencoba meredam suasana dengan ragu, "Kakakku?"
Dia menganggukkan kepala, lalu berdiri sambil membuka kancing kemejanya satu per satu.
"Kalau begitu, aku ucapkan selamat. Kamu sekarang memiliki seorang Kakak yang ingin menidurimu."
Aku bahkan belum sempat mencerna ucapannya, tetapi semua pertanyaan di kepalaku langsung buyar.
Anda Mungkin Juga Suka





