APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kaka Iparku Brengsek

Kaka Iparku Brengsek

Nadia Pamungkas menghadapi petaka setelah memilih menetap di kediaman kakaknya, Tasya, di Jakarta. Kesibukan Tasya membuat Nadia sering berinteraksi dengan kakak iparnya, Aldo. Pria blasteran yang semula bersikap ramah itu lambat laun menunjukkan ketertarikan tak wajar pada Nadia. Keduanya pun terjebak dalam hubungan terlarang hingga melakukan kekhilafan fatal. Kini, keutuhan keluarga mereka berada di ambang kehancuran. Akankah skandal gelap ini terbongkar?
Bab
Bagikan

Bab 2

“Ada kecoak di kamar mandi, kak Aldo Nadia takut.”

Sumpah Nadia benci yang namanya kecoak, baru saja wanita masuk ke dalam kamar mandi dia muncul dari WC Nadia menjerit lalu kembali keluar dari kamar mandi, dan dia lebih terkejut karena kakak iparnya ternyata kembali ke kamar dalam keadaan tubuhnya yang hanya mengenakan sehelai handuk saja, Nadia malu dengan penampilannya namun rasa takut mengalahkan segalanya. Kak Aldo akhirnya membuka kamar mandi dan memeriksanya, Nadia pun mengikuti Aldo dari belakang.

“Mana kecoaknya?” tanya Aldo saat masuk memeriksa kamar mandi, sementara Nadia lihat kecoak tersebut seolah mempermainkannya, Nadia menggenggam tangan kak Aldo karena takut. Namun sosok makhluk menjijikkan itu tidak terlihat lagi.

“Tadi di WC, Kak, Nadia takut.”

Aldo melangkah menghampiri WC, dia menggeleng dan tidak menemukan kecoak.

“Tidak ada Nadia, kecoaknya tidak ada.”

“Tapi Kak.” Nadia bergelayut manja menggenggam tangan kanan Aldo karena memang Nadia sangat takut.

Aldo melirik tubuh Nadia dari atas sampai bawah seketika Nadia menjadi salah tingkah di buatnya, dia pun tersenyum dan menggeleng.

“Kamu mau mandi? Sekarang sudah aman tidak ada kecoak lagi.”

Aldo memegang kedua bahunya, meyakinkan agar Nadia tidak takut lagi, sebelum akhirnya dia keluar dari kamar mandi.

Nadia menghela napas sambil menatap dinding kamar mandi tersebut melihat apakah makhluk itu ada di sekitar kamar mandi atau memang sudah pergi. Nadia mulai menyalakan shower untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket setelah selesai, dia langsung menjatuhkan diri di kasur untuk beristirahat.

Sore harinya setelah Nadia bangun dari tidur, Nadia mencium aroma bau makanan masuk ke indra penciumannya, sambil menguap Nadia menggeliat bebas, rasanya dirinya sudah tidur cukup lama, karena Nadia merasakan tubuhnya remuk, akibat lamanya perjalanan tadi dengan kak Aldo.

Nadia melihat jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul lima sore, namun belum tampak kehidupan terdengar, Nadia tidak melihat Ka Tasya masuk menemuinya. Nadia pun bangkit dengan malas kemudian membersihkan diri dan berniat akan turun ke lantai bawah untuk memastikan kak Tasya sudah pulang atau belum.

Seperti biasa saat mandi Nadia pasti bernyanyi dan memang paling lama, Nadia belum bisa mengubah kebiasaan buruk itu dan bisa jadi Nadia menghabiskan waktu lama bila di kamar mandi. Nadia mengenakan kaos santai dan celana panjang begitu menuruni anak tangga, mungkin saja kak Tasya memang sedang sibuk memasak di dapur sehingga belum sempat menemuinya ke lantai atas.

Nadia memeriksa dapur, namun Nadia mengerutkan kening saat melihat bukan kak Tasya melainkan kak Aldo Kakak iparnya sedang memakai celemek seperti koki dan seperti tengah sibuk.

Nadia menghela napas sebelum akhirnya menghampiri kakak iparnya.

“Kak, memang kak Tasya belum datang, Ini Kak Aldo masak apa?” tanya Nadia sambil mendekatinya. Kak Aldo hanya melirik sekilas kemudian menjawab pertanyaan itu.

“Kak Tasya mendadak bilang mau lembur, Kakak sudah beli bahan sebelumnya untuk biar dia masak supaya kita makan sore sama-sama tapi barusan dia kabari Kakak bakalan pulang malam.”

Nadia melihat Kak Aldo seperti sudah terbiasa masak, terlihat pria itu tampak tidak ragu lagi, bahkan dia seperti semangat memasak sesuatu, Nadia pun jadi tidak enak karena mungkin saja semua ini gara-gara kedatangannya, jika tidak ada Nadia, mungkin saja kak Aldo bisa makan di luar tanpa harus masak banyak.

“Boleh Nadia bantu, Kak.”

Nadia mulai mengambil pisau dan mengambil alih bawang yang berada di tangan kak Aldo, pria itu mengangguk dan membolehkan membantunya, sore ini ternyata kakak iparnya membuat gurami saus lada hitam dan ukurannya pun sangat besar, dia juga memasak cumi goreng kesukaan kak Tasya dan Nadia pun sangat menyukainya.

Semua terlihat istimewa dan kak Aldo terlihat senang saat menghidangkan hasil masakannya di meja makan, walau Nadia melihat ada bulir keringat di dahi kakak iparnya itu.

“Kak Maaf,” Nadia mengambil tisu dan mengelap keringat di dahi Kak Aldo, seketika pria itu terdiam dan kemudian mencegah untuk mengelap keringatnya.

“Terima kasih Kakak memang sangat gerah.”

Dirinya duduk di meja makan sambil melihat Kak Aldo merapikan dapur, Nadia suka dengan pria seperti kak Aldo yang seolah tidak gengsi mengerjakan apa pun dan bisa segalanya, padahal pria itu bukan pria pengangguran dia sama sibuknya jika hari kerja.

“Kamu sudah melihat kampusnya? Kapan mulai masuk Nadia.” Kak Aldo bertanya sambil membuka celemeknya. Dia ikut duduk sambil memegang gelas yang berisi air putih.

“Belum sih, Nadia baru saja ke sini, Kapan Nadia ke kampus, besok bilangnya sudah mulai ospek Kak, tapi Nadia sudah diberitahu lewat grup mahasiswa baru oleh pihak kampus.”

“Bagus, kalau begitu. Dari sini jaraknya memang tidak terlalu jauh tapi kayanya kak Tasya dan kak Aldo tidak bisa mengantar kamu.”

“Tidak masalah, Kak. Nadia bukan anak kecil lagi.”

Saat Nadia dan Aldo sedang mengobrol, tiba-tiba saja suara mobil terdengar berhenti di depan. Nadia pikir itu pasti kak Tasya, karena memang ini sudah mendekati magrib.

“Kayanya Kak Tasya datang,” ucap Aldo, pria itu bangkit dan menghampiri ke depan, dan Nadia pun mengikutinya dari belakang karena sudah tidak sabar bertemu dengan kakaknya.

Kak Tasya tersenyum sambil menutup pintu mobilnya, dia berjalan mendekat dan langsung memeluk suaminya.

“Maaf aku telat, Pak Burhan sedikit resek hari ini aku sangat lelah.” Tampak Aldo membalas pelukan erat kak Tasya, lagi-lagi bagi Nadia keduanya memang pasangan yang sangat serasi Nadia senang melihat kak Aldo terlihat begitu menyayangi kak Tasya.

“Aku buatkan makanan spesial sore ini untukmu.” Kak Tasya mengangguk terlihat senang dia menoleh ke arah adiknya dan langsung memeluknya, ada bulir air mata yang tumpah begitu saja, dia meminta maaf karena terlalu mementingkan pekerjaan dibandingkan pulang menjemput adiknya dan menemui Ibu.

"Ibu maklum kok, Kak. Kak Aldo sudah mengatakanya dan dia juga bilang jika ada waktu Ibu akan ke sini apa lagi Nadia sekarang sudah di sini.”

Aldo langsung mengajak kak Tasya ke meja makan, terlihat Kak Tasya sangat senang karena semua menu makanan adalah makanan kesukaannya.

“Begini Nadia, Kakak Iparmu ini memang telaten kalau di tinggal, dia tidak pernah mengeluh dan selalu banyak inisiatif.”

“Aku dibantu Nadia juga, ternyata dia sudah pandai masak.”

“Kamu sudah dewasa Nadia bukan anak SMA lagi, harus serba bisa apa lagi perempuan, bentar lagi kamu punya pacar dan menikah.”

“Nadia belum memikirkan itu, pacar aja belum punya.”

“Ibu masih melarang kamu pacaran?”

Nadia mengangguk, memang kenyataannya seperti itu. Kak Tasya tersenyum seolah menertawakan Nadia.

“Sekarang Kakak sudah boleh izinkan kamu pacaran, tapi kamu harus tahu batasan,” kata kak Tasya sambil tersenyum pada Nadia, dia mengatakan jika pacaran hal yang wajar.

“Tidak, Nadia masih ingin fokus kuliah, Kak.”

Mereka pun makan malam bersama, setelah selesai, Nadia duduk di sofa santai sambil menonton televisi sementara kak Tasya dia lihat masuk ke kamarnya  bersama kak Aldo mungkin keduanya tengah beristirahat, dirinya pun tahu jika kak Tasya mungkin sangat lelah.

“Eum ….” Nadia mengerjapkan mata sebentar menahan kantuk saat tangan seseorang mengguncangkan tubuhnya, rupanya Nadia tertidur di ruang televisi. Dan kak Aldo membangunkannya.

“Bangun, Nadia pindah ke kamar sana.”

Nadia menghirup aroma kopi yang menyeruak ke hidung, Aldo memang menaruhnya tepat di meja dekat dengan wajahnya.

“Boleh Nadia tidur di sini, Kak. Nadia malas jika naik tangga Nadia sangat mengantuk,” jawabnya asal. Nadia bisa melihat samar-samar jika Aldo sedang mencari sesuatu dan dia mendekatinya lalu berjongkok Nadia tersentak kaget apa yang hendak Aldo lakukan pada Nadia, dia menghampiri tubuhnya lalu tangannya menyelinap di belakang tubuh Nadia.

Nadia menjerit ketakutan, dia pun membungkam mulut Nadia dengan tangan kanannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO Tampan dan Gadis Desa
9.2
Demi Angel, putri kecilnya, duda kaya bernama Alaric Athafariz rela menutup rapat pintu hatinya sejak kepergian sang istri. Namun, dinginnya sikap sang CEO perlahan mencair setelah ia bertemu dengan Ashila, gadis desa yang membawa keceriaan baru. Tanpa diduga, takdir menyimpan rahasia besar yang menghubungkan masa lalu Alaric dengan sosok Ashila. Akankah jalinan takdir dan rahasia tersebut menuntun mereka pada kisah cinta yang tak terduga?
Sampul Novel Cerita Penggenjrotan
9.0
Kisah romansa modern ini menyajikan dinamika hubungan yang sangat intens dan eksplisit, khusus bagi pembaca dewasa berusia 18 tahun ke atas. Demi kenyamanan bersama, narasi di dalamnya mengandung konten sensitif sehingga anak di bawah umur sangat dilarang keras untuk mengakses atau membaca buku ini. Pastikan Anda telah memenuhi batasan usia yang ditentukan sebelum menikmati seluruh alur cerita yang disajikan dalam karya ini.
Sampul Novel Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak
8.4
Dua pewaris takhta terkaya di New York, sang pembalap F1 dan genius investasi, telah bersahabat sejak kecil dan setia mengenakan lencana tembaga buatan Mia selama sepuluh tahun. Namun, kehadiran Ella, putri konglomerat baru, mengubah segalanya. Ketika kedua pria itu membuang lencana Mia demi emblem kain pemberian Ella, persahabatan mereka retak. Kecewa dengan pengkhianatan ini, Mia yang menyembunyikan identitas aslinya memutuskan menyerah dan menghubungi ayahnya di Sisilia untuk menerima pernikahan politik demi keluarganya.
Sampul Novel Jika Nanti Jatuh Cinta Lagi
8.6
Kegagalan rumah tangga bersama Irina serta pedihnya kehilangan Elvin Eleanor membuat Ervano Bhalendra enggan membuka hati kembali. Chef tampan ini menganggap pernikahan sebagai masa lalu kelam yang harus dikubur dalam-dalam. Namun, keyakinan Ervan goyah setelah dirinya bertemu dengan Magisa Prastiwi. Kehadiran Magisa secara perlahan meruntuhkan sikap dingin Ervan, menuntunnya kembali menemukan keberanian untuk mengejar cinta sejati yang sempat ia lupakan.
Sampul Novel Jodoh Pilihan Ayah
8.0
Zeva terpaksa mengencani Alex demi menyelamatkan bisnis keluarganya atas desakan sang ayah. Padahal, ia menyembunyikan hubungan asmaranya dengan Darrel dari orang tuanya. Konflik batin pun melanda Zeva ketika daya tarik Alex perlahan-lahan mulai memikat hatinya. Kini, ia berada di persimpangan jalan antara bakti pada keluarga, komitmennya kepada Darrel, serta getaran baru yang kian nyata. Akankah pilihan Zeva membawanya pada kebahagiaan atau justru penyesalan?
Sampul Novel Kau Bersandiwara Seolah Tak Bersalah
8.0
Hari pernikahan Nadira berujung kacau setelah kedok Fadlan, sang calon suami yang ternyata sudah beristri, terbongkar. Guna menghindari aib keluarga, Nadira terpaksa menerima saran sang ibu untuk menikahi Rafli, seorang duda dingin yang usianya terpaut jauh. Walau awalnya merasa asing dan enggan, lambat laun Nadira mulai menyadari kelembutan serta tanggung jawab dalam diri suaminya. Kini, ia harus berjuang menyesuaikan diri demi menemukan arti cinta yang sesungguhnya.