APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel KAHINA

KAHINA

Kematian tragis Kahina di tangan perempuan tua gila pada 1982 menyingkap tabir hitam keluarga Laksmi. Tragedi ini menyeret Laksmi melakukan perjalanan raga sukma ke tahun 1881, mengungkap dosa leluhurnya yang bersekutu dengan sekte pemuja setan dan konspirasi Logi Persahabatan. Sejak era VOC, kolonial, hingga pandemi 2021, jaringan kriminal keji tersebut rupanya terus beroperasi secara rahasia, mengiringi lembaran sejarah Indonesia yang penuh pertumpahan darah.
Bab
Bagikan

Bab 2

Jalanan desa yang gelap dan berbatu, ditambah lagi dengan kabut embun. Suasana desa malam itu terasa mencekam. Di bawah lolongan suara anjing malam, jenazah Kahina digendong oleh kakeknya. Semua tubuhnya yang terpisah-pisah, dijadikan satu dalam kain kafan. Tidak lagi berbentuk jenazah, melainkan seperti bentuk buntelan yang dibungkus dengan kain putih.

Pemakaman Kahina di malam hari, dilakukan atas saran dari warga, serta beberapa tokoh desa. Mereka meminta agar Kahina dikuburkan malam itu juga. Mereka khawatir, apabila potongan tubuh itu dibiarkan didalam rumah sampai esok pagi, itu akan memancing datangnya binatang buas seperti macan tutul atau anjing liar yang memang banyak di desa ini. Para binatang liar itu, memang kerap menampakkan diri di malam hari. Tak jarang sudah ada beberapa warga, yang sudah menjadi korban serangan dari binatang buas tersebut. Binatang-binatang itu bisa saja datang masuk, menyerang ke rumah. Mengingat bau manusia memiliki ciri bau yang khas, dan lebih tajam dari pada bau daging sapi.

Para penggali kuburan malam itu, bekerja lebih ekstra. Mereka bekerja secara bergantian membuat lubang kuburan, tempat terakhir bersemayamnya gadis kecil Kahina.

Para pekerja penggali kubur malam itu, bekerja seakan tidak mengenal lelah. Meskipun malam itu sangat pekat, berbekal satu-satunya pencahayaan. Mereka bekerja hanyalah dengan pantulan cahaya api dari obor.

Usai jenazah Kahina selesai disalatkan, puluhan orang laki-laki dan wanita mengikuti pengiringan jenazah. Mereka mengantar Kahina menuju peristirahatan yang terakhir. Anak yang malang itu meninggal di usianya yang masih 3,5 tahun.

Di tempat lainnya. Mbah Kawol dikeluarkan dengan cara diseret, dari dalam kandang anjing. la dikeluarkan dengan kondisi lengan yang masih terikat.

Usai acara penguburan jenazah Kahina, warga desa bersepakat menggiring Mbah Kawol. Dia dibawa untuk digiring berjalan, menuju balai desa. Hanya dengan berjalan kaki, karena jaman dahulu masih belum ada mobil yang masuk ke desa itu. Sulitnya akses, serta pegunungan yang terjal, dan ditambah lagi lembah tinggi disebelah kanan kiri jalan.

Perjalanan yang jauh malam itu, hanya bisa dilewati dengan cara berjalan kaki. Perjalanan mereka melewati perkebunan karet dan kopi yang rimbun. Belum lagi tidak ada penerangan jalan, karena akses kabel listrik masih belum sampai di desa.

Di malam itu puluhan laki-laki dan wanita yang mengiringi perjalanan, mengikuti dari belakang. Mbah Kawol, dibawa masih dengan tangan yang terikat ke belakang. Bagian leher dan dada juga diikat dengan seutas tali sebesar jali telunjuk orang dewasa. Wanita tua itu benar-benar diikat sekuat mungkin, agar tidak bisa kabur.

Sepanjang jalan, umpatan serta kemarahan bersamaan dengan makian dari seluruh warga diterima oleh Mbah Kawol. Meskipun ia sadar berada dalam status salah, namun dari mimik wajahnya sama sekali tidak terlihat ada rasa bersalah ataupun menyesal. la terkesan biasa-biasa saja. Seperti tidak takut menghadapi puluhan warga yang kapan saja bisa berbuat kekerasan terhadap dirinya.

"Dasar Iblis!" seorang wanita meludah ke wajah Mbah Kawol.

"Kalian yang Iblis!" sahut Mbah Kawol.

"Kamu bilang aku Iblis?" Wanita tersebut memaki sambil menarik rambut Mbah Kawol yang berantakan. Sampai-sampai wanita tua itu terhuyung-huyung.

"Udah, Lek Ndemi. Jangan memperlambat jalan, ini perjalanan kita masih jauh." kepala desa menegur Lek Ndemi. Wanita yang memiliki dendam kesumat pada Mbah Kawol.

Kesal karena mendapat teguran, wanita itu langsung meninju hidung Mbah Kawol, hingga mengeluarkan setetes darah dari hidung.

"Awas kamu, kalo sudah di balai desa," Ancam Lek Ndemi.

Bukannya marah atau berusaha balas mengumpat, Mbah Kawol justru malah tertawa terbahak-bahak. Tawanya terdengar sangat mengerikan. Membuat siapa saja mendengarnya akan bergidik merinding ketakutan. Suara tawanya, telah membuat kumpulan anjing mengaung. Seolah-olah anjing-anjing itu, mendengar tawa seorang iblis.

"Aku, merasa wanita ini punya ilmu hitam," bisik salah seorang dari mereka. la berbicara pada kawannya, yang berjalan persis di sebelah kiri dirinya. Sedang tangannya memegang lampu obor, yang terbuat dari bambu dengan ujung sumbu yang sudah dilumuri dengan minyak.

"Dari tadi, aku juga ingin mengatakan seperti itu. Rasanya sepanjang perjalanan ini, kita seperti diperhatikan oleh puluhan pasang mata. Hanya saja tidak terlihat," Ucap kawannya yang bernama Thoyib, sedang matanya sejak tadi melihat ke arah kanan dan ke kiri kebun yang gelap.

Awan yang mendung malam itu, seakan sengaja menutup cahaya sinar bulan. Malam terasa hitam dan pekat. Belum lagi ditambah oleh bunyi-bunyian khas malam. Sahutan jangkrik, suara kodok, bunyi burung hantu, bahkan suara musang, yang sedang birahi pun terdengar jelas bagai suara kuntilanak yang sedang menangis.

"Apa aku saja yang sejak tadi mendengar ada suara orang menangis?" tanya Thoyib.

"Aku juga mendengarnya," Ucap kawannya. Kemudian menyentuh belakang leher, ia merasakan bulu kuduknya berdiri. Puluhan warga lainnya pun juga merasa perasaan was-was yang sama.

Setelah 1 kilometer perjalanan rombongan warga Desa Sumber Wangi, masih berjalan secara beriringan. Mereka merasakan perasaan yang sama, ngeri dan juga bergidik merinding. Apalagi jarak yang mereka tempuh, jauhnya lumayan sangat panjang sekitar lima kilometer perjalanan lagi.

Tinggal di desa-desa seperti itu, sebenarnya tidaklah aneh apabila mendengar suara jangkrik dan jenis serangga lain. Desa yang terpencil, serta tidak adanya listrik, membuat suara mahluk malam seperti serangga berlomba saling bersahutan. Mereka membuat melodi suara bising di malam hari, terdengar nyaring dan memekakkan telinga. Suara dari wingit khas pedesaan terdengar jelas di balik lembah curam, ditambah lagi suara arus sungai, di bawah kaki gunung Argopuro.

Malam itu alam terasa amat gelap. Seakan sedang menyajikan dunianya sendiri yang menakutkan. lringan pejalan kaki yang berjalan membawa seorang wanita, memang tidak mendapatkan aral rintangan sama sekali. Akan tetapi wanita yang diduga penganut ilmu hitam itu, seolah mengundang datangnya ribuan demit, menyaksikan perjalanan dirinya di tengah malam.

Mbah Kawol sesekali bersiul kecil, seperti memanggil sesuatu yang tidak kasat mata. Orang-orang semakin dibuat ngeri, karena perjalanan malam itu memang harus dilanjutkan, meskipun dengan penerangan lampu seadanya. Tidak ada waktu lain yang tepat, untuk membawa wanita tua itu selain malam itu juga.

Perjalanan ini sebenarnya untuk menghindari ancaman warga dari dusun sebelah. Mereka dengan terang-terangan mengancam nyawanya Mbah Kawol. Atas inisiatif kepala desa lah, Mbah Kawol diungsikan untuk menghindari amukan warga.

Selain melindungi wanita tua tersebut, juga untuk menjaga wanita itu agar tidak lari dari desanya. Tempat yang paling aman, untuk membawa serta menyembunyikannya ialah di balai desa. Sampai besok pagi apabila ada mobil dari kecamatan datang mengangkut penumpang, wanita tua itu akan langsung di-ikutkan ke kecamatan Sumber Sari untuk dibawa ke Polsek setempat.

Malam itu kisah Mbah Kawol, dengan cepat tersebar ke seluruh penjuru desa. Warga dibuat geger, karena wanita itu ingin menjadikan korbannya sebagai santapan pengganti daging rawon. Ejekan warga terhadapnya sejak dahulu, benar-benar telah menjadi kenyataan, karena kegemaran Mbah Kawol memakan daging rawon. Mbah Kawol selalu datang ke rumah orang, apabila dari rumah tersebut ia mencium ada aroma dari masakan rawon. Itulah mengapa sebagian warga mengelari Mbah Kawol, dengan sebutan mengejek dengan nama 'Mbah Rawon'.

Malam yang dingin, berkabut adalah suasana khas pegunungan Argopuro di malam hari. Rasa dingin dari embun bersama angin malam, seakan masuk menusuk ke dalam lubang pori-pori dipermukaan kulit. Desa yang masih belum secanggih seperti jaman saat ini. Hiburan warga masih seputar radio berbaterai, yang lebih sering memutar tembang suara lagu uyon-uyon. Yang pada jaman itu sangat disukai oleh kalangan orang tua. Sedang anak-anak dan remaja masa itu, lebih suka memilih tidur. Para ibu-ibu kalaupun terpaksa suka mendengar radio, memutar acara siaran lain. Para ibu-ibu mencari gelombang dari radio, yang menyajikan siaran-siaran populer, seperti acara sandiwara. Tidaklah heran di jaman itu, setiap rumah setidaknya memiliki radio bisa sampai 2 atau 3 unit. Dikarenakan mereka suka mendengarkan acara siaran radio yang berbeda, pada saat jam-jam tertentu secara bersamaan.

Gambaran masa itu, mungkin sebagaimana gambaran ibu-ibu masa kini, yang keranjingan menonton acara sinetron di televisi. Sementara tembang lagu uyon-uyon, tetap bisa didengarkan dengan khidmat oleh lelaki. Kepopuleran lagu uyon-uyon, merambah sampai kemana-mana. Meski sebagian yang lain, barangkali tak suka mendengarnya. Namun saat malam hari, lagu itu sering diperdengarkan pada anak-anak sebagai pengantar tidur.

Itu adalah gambaran jaman saat itu, karena satu-satunya hiburan yang menghubungkan dunia luar hanyalah radio. Mendengarkan radio sangat terdengar akrab di telinga semua warga desa. Suasana seperti itu terbangun, diantara tahun 1970 sampai 1980an. Dengan sendirinya radio pun menjadi barang wajib, yang dimiliki oleh tiap keluarga di Desa Sumber Wangi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Genderang Perang Manusia Elektrokinesis
8.2
Gian selalu dirundung oleh keluarga dan teman-temannya. Hanya Alicia yang setia menemani, walau itu membuat Gian makin diintimidasi. Nasibnya berubah usai menolong seekor kucing, di mana ia mendapat kekuatan elektrokinesis dari sosok misterius lewat mimpi. Dipandu mentor berwujud tikus putih, Gian pun memulai misi balas dendam. Namun, saat dirinya dicap sebagai monster dan Alicia mulai menjauh, mampukah Gian memenangkan pertempuran ini?
Sampul Novel Kelahiran Kembali
9.1
Dianggap bodoh dan lemah, nona keempat keluarga Lu tewas tragis di tengah saudara-saudaranya yang berbakat. Namun, takdir berubah saat jiwa pembunuh bayaran abad ke-21 merasuk ke raganya. Terjebak di zaman kuno yang penuh konflik kekaisaran, ia harus bertahan hidup dengan prinsip membunuh atau dibunuh. Di tengah intrik istana yang rumit dan berbahaya ini, sebuah kisah romansa yang sangat unik pun dimulai.
Sampul Novel Luna Jatuh Cinta pada Alpha Lain Setelah Pasangannya Mengkhianatinya
9.2
Saat pesta ulang tahun Alpha Marc Dale, ia membawa kembali mantan pasangan sejatinya, Lucy Burton, yang dahulu disiksanya. Namun, tepat pada hari jadi kami, saya menyaksikan Marc memeluk dan menandai Lucy di kamar. Meski Marc berdalih itu adalah hukuman, Lucy justru mengejek saya dengan memamerkan cincin pernikahan yang persis seperti kepunyaan saya. Pengkhianatan keji ini seketika menghancurkan jiwa serigala saya dalam kepedihan yang teramat sangat.
Sampul Novel Menaklukkan Duda Dingin
8.7
Demi berguru pada desainer legendaris Adam Smith, Amber Lim, sosialita bereputasi buruk yang ingin bertobat, nekat menembus musim dingin utara yang mematikan. Sialnya, ia dirampok dan terdampar di hutan beku. Kini, satu-satunya harapan hidup Amber bergantung pada Tuan Dingin, seorang duda misterius pembenci wanita yang dicap kanibal oleh warga. Akankah Amber berhasil meluluhkan hati pria itu, atau justru menjadi korban kebenciannya?
Sampul Novel Omega-nya yang Terbuang, Kehancuran Raja Alpha
9.1
Lima belas tahun mendampingi Baskara Adijaya, sang Alpha mematikan, hancur begitu saja saat aku menyadari pengkhianatannya. Aroma wanita lain dan pesan vulgar dari asistennya, Jasmine, membongkar perselingkuhan mereka. Akibat ikatan yang tercemar, kondisi 'Penolakan Jiwa' menyerangku, diperparah klaim kehamilan Jasmine. Kini, aku melepaskan peran sebagai penenang monster di dalam dirinya. Tanpa menuntut harta, aku memilih bebas dan bersiap meruntuhkan dunianya.
Sampul Novel Perjalanan Melawan Dunia
7.8
Tewas akibat tembakan, Shua Xie terbangun dalam tubuh Putri Langit di dimensi lain. Terlempar ke masa lalu, gadis ini kini memikul tanggung jawab besar sebagai Ratu segala Ratu. Demi merebut kembali haknya yang telah dirampas, ia memulai misi balas dendam. Berbekal kecerdasan serta pengalaman masa lalu, Shua harus melawan musuh-musuh licik. Bukan sebagai pahlawan suci, ia memilih menyelamatkan dunia yang abai padanya dengan caranya sendiri yang dingin.