APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel KAHINA

KAHINA

Kematian tragis Kahina di tangan perempuan tua gila pada 1982 menyingkap tabir hitam keluarga Laksmi. Tragedi ini menyeret Laksmi melakukan perjalanan raga sukma ke tahun 1881, mengungkap dosa leluhurnya yang bersekutu dengan sekte pemuja setan dan konspirasi Logi Persahabatan. Sejak era VOC, kolonial, hingga pandemi 2021, jaringan kriminal keji tersebut rupanya terus beroperasi secara rahasia, mengiringi lembaran sejarah Indonesia yang penuh pertumpahan darah.
Bab
Bagikan

Bab 3

Orang-orang yang malam itu membawa dan menggiringi perjalanan Mbah Kawol, semakin lama mulai merasakan rasa takut serta resah. Penerangan di jalan sudah mereka usahakan dengan maksimal. Namun tetap saja tidak menghilangkan, perasaan takut serta was-was. Selama dalam perjalanan, rasa kekhawatiran mereka sangat besar. Takut akan diganggu oleh mahluk halus, ataupun mendapat serangan dari binatang buas. Para warga sangat merasa takut, mengingat sudah ada beberapa orang yang sudah menjadi korban dari serangan macan pohon/macan tutul.

"Serem, ini sudah tengah malam. Biasanya di jam seperti ini, kuntilanak, demit, macan pohon bakal keluar semua."

"Hush, omonganmu. Hati-hati, jangan sembarangan ngomong! Jangan sampai penunggu hutan mendengarnya, atau mereka benar-benar datang mengganggu kita."

"Aku takut lah, Bang!" keluh seorang anak muda berkopiah hitam. Memakai sarung berwarna hijau, sedangkan ditangan kanannya memegang puntung rokok yang masih menyala, padahal ia tidak merokok.

"Loh, kamu sekarang merokok Yib?"

"Enggak!" geleng Thoyib mengelak.

"Tuh, di tanganmu ada rokok."

"Ini, buat pegangan aja. Kata Lekku, merokok itu bisa bikin hantu takut."

"Takutnya, dimana?"

"Hantu, kan tercipta dari api. Kalau dia ngeliat aku makan api, dia pasti takut," Ucapnya. Wajahnya yang polos, tampak begitu serius.

"Emang, kamu pikir hantu itu bodoh! Dia juga punya akal kaya manusia," Sahut kawannya, sambil menjitak kepala Thoyib.

"Aduh, mana masih masih jauh lagi."

"Kenapa harus malam, kaya gini," keluh salah seorang lagi. Kawannya yang diajak berbicara, hanya mengangkat bahu.

"Ini semua, idenya dari pak kades."

"Kenapa enggak dieksekusi disana saja tadi, kan beres."

"Eh mas, dia itu manusia. Gak bisa sembarangan asal eksekusi."

"Manusia, tapi kalau kelakuannya kaya binatang buat apa? Tetap saja, bukan manusia," bantah salah seorang lagi.

Malam itu ada sekitar 30 orang lebih, yang ikut dalam iring-iringan berjalan mengawal Mbah Kawol menuju ke balai desa. Diantara mereka, ada yang menaiki sepeda onthel. Dari banyaknya yang menggiring, sebagian ada juga dari kaum wanita. Mereka ikut mengiringi perjalanan. Perjalanan mereka malam ini, sengaja dilakukan dengan cara berkelompok. Apabila terpisah mereka khawatir, akan mendapatkan serangan macan tutul, karena macan tutul juga termasuk binatang yang aktif di malam hari.

Sepanjang perjalanan, diantara mereka ada yang sambil bercerita, dan bergosip tentang Kahina. Bahkan ada juga ada yang meyakini, bahwa Mbah Kawol sedang mendalami praktek ilmu hitam. ltulah mengapa, selama ini wanita tua itu terlihat aneh, padahal sebenarnya waras. Sampai para warga mengira, Mbah Kawol mengalami gangguan jiwa.

"Aku sama sekali gak nyangka, Mbah Rawon bakal berbuat seperti itu."

Langkah terus berjalan. Kobaran api dari lampu obor kadang bergoyang digoda oleh angin. Beberapa diantara mereka memperhatikan semak-semak, khawatir akan ada macan yang mengintai.

"Matamu, kenapa sih dari tadi petelengan kesana kemari."

"Wedi macan aku, Kang."

"Cuman macan doang, takut."

"Itu masalahnya, Kang."

Ada banyak cara sebenarnya, agar bisa terhindar dari binatang buas, seperti macan tutul Jawa yang terkenal beringas.

Jika kita pernah belajar tentang bagaimana cara bertahan, saat akan diserang hewan buas. Seperti singa, kita akan disuruh menatap matanya. Agar si singa merasa diancam, tapi apabila bertemu dengan macan tutul, maka teorinya akan berbeda. Jika menatap mata macan tutul, hewan buas itu malah akan menganggapnya, sebagai sebuah tantangan beradu serangan.

Satu-satunya cara adalah jangan pernah tatap bola matanya. Tapi, buatlah posisi tegap supaya terlihat besar, jangan membungkuk apalagi membelakangi. Satu-satunya cara adalah membuat gaduh, supaya macan tutul merasa tidak nyaman dan takut.

Perjalanan malam itu, awalnya lancar-lancar saja. Tiba-tiba dikejutkan, oleh suara teriakan seorang lelaki. la datang berlari kearah rombongan, sedang tangan kanannya terlihat mengangkat celurit tajam.

"Cucuku mati!! Kamu juga, harus mati!" Suara itu terdengar lantang.

Ternyata lelaki itu telah sejak tadi berlari, mengejar rombongan untuk mendatangi Mbah Kawol. Dari raut wajahnya terlihat geram, sedang ditangan kanannya menggenggam erat celurit, yang sudah diasah sebegitu tajam. Lelaki yang berlari tersebut, adalah kakek dari gadis kecil, Kahina atau bapak dari Laksmi.

"Awas! Awas! Jangan ada, yang coba-coba berani mendekatinya." Salah satu rombongan memperingati.

Orang-orang yang menyaksikan, nampaknya tidak ada yang berusaha untuk menahan amarah Lek Min. Dari wajahnya terlihat jelas aura marah bergejolak. Siapa saja yang coba menghalangi, bisa jadi bernasib naas.

Kehadiran Kakek Kahina, membuat beberapa orang wanita yang ada dalam rombongan ketakutan. Sedangkan para lelakinya, bersikap hati-hati.

"Pak, uwis Pak. Uwis!" Tahan salah seorang pemuda yang bernama Bani. Menarik lengan lelaki tua yang telah gelap mata tersebut.

Melihat Bani menahan Bapak Laksmi, beberapa orang lainnya yang tadi berusaha menjaga jarak, akhirnya juga bertindak menolong Bani. Mereka berusaha menahan tubuh lelaki tua itu, agar tidak sampai mendatangi Mbah Kawol. Bila dibiarkan, si wanita tua itu bisa dipastikan akan tewas mengenaskan, oleh sabetan celurit tajam.

Celurit tajam tersebut, mengayun tidak karuan. Seolah ingin mencari korbannya. Akan tetapi Bani seakan tidak memiliki urat takut. la terus berusaha, menahan lengan Bapak Laksmi. Agar celurit yang diayunkannya itu, lepas dari genggaman bapaknya Laksmi.

Pemuda lainnya, ikut bergulat menolong Bani. Semua berusaha menahan tubuh, lelaki yang sudah berusia 58 tahun itu. Anehnya tubuh lelaki itu terasa jauh lebih kuat dari biasanya, tenaganya menjadi luar biasa. Bahkan 3 orang, yang menahan badan Bapak Laksmi yang kurus itu, sampai sempoyongan karena tak kehabisan tenaga.

"Lek Min, sudah Lek!" Bentak oleh salah seorang ponakannya, yang tidak lain adalah sepupu Laksmi. Akan tetapi, lelaki itu tetap tidak menggubris. Kemarahannya sudah berada dipuncak kepala. Wajar apabila seseorang marah, maka darah yang harusnya mengalir ke kepala, teralihkan langsung ke frontal cortex. Sehingga membuat seseorang kurang mampu berpikirnya secara rasional, sehingga kemarahannya sama sekali tidak bisa dikendalikan.

Sudah 4 orang yang berusaha menahan dan merebut celurit, namun mereka benar-benar di buat tidak berdaya. Seharusnya untuk ukuran tenaga 4 orang anak muda, sudah mampu menumbangkan tubuh yang telah renta tersebut. Akan tetapi tubuh tua itu, sangat kuat dan tangguh . Bahkan, sampai membuat mereka semua harus jatuh ke tanah.

" Lek, eling. Lek, eling."

Lelaki yang lebih sering disapa Lek Min tersebut, seakan tidak perduli dan tak mau mendengarkan himbauan warga. Lek Min seakan memiliki kekuatan, tenaga yang berlapis-lapis. Orang-orang berkata, Lek Min sepertinya telah kerasukan setan, karena kekuatannya benar-benar tidak wajar.

Efek dari kemarahan, biasanya akan menyebabkan kelenjar adrenal di otak akan memproduksi hormon adrenalin atau hormon stres, berupa cortisol. Hormon itu, diproduksi secara lebih oleh tubuh. Kemudian darah yang biasanya mengalir ke bagian perut dan usus, akan berubah mengalir ke otot. Seakan menyiapkan tubuh Lek Min, untuk siap bertarung pada siapapun. Karena itu, kadangkala kenapa orang yang sedang berada pada puncak kemarahan, bisa menjadi jauh lebih kuat dari biasanya. Fisiknya, seakan di luar kemampuan tubuhnya ketika marah.

Empat pemuda yang menahan Lek Min, tak kuasa lagi melawan. Sehingga Lek Min mampu lolos dan mengejar iringan paling depan. Dua orang yang memegang Mbah Kawol, tidak mau ambil resiko. Mereka melepas Mbah Kawol. Akhirnya Mbah Kawol dan Bapak Laksmi pun saling berhadapan.

Dengan disaksikan puluhan orang, Lek Min mengayunkan celuritnya yang tajam tepat ke kepala Mbah Kawol. Semua orang sontak berteriak histeris, terutama kaum wanita. Mereka membayangkan kepala ditebas, darah akan mengucur. Akan tetapi, semua yang mereka pikirkan diluar dugaan. Celurit Lek min, bahkan tak mampu menggores kulit nenek tua tersebut meskipun hanya sedikit.

Merasa musuhnya bukan orang biasa, Lek Min justru semakin menggila. Mbah Kawol bukannya meringis kesakitan, justru tertawa terbahak-bahak. Orang-orang yang meyaksikan adegan itu, mulai dibuat takut.

Tebasan demi tebasan, tak mampu merobohkan Mbah Kawol. Sampai akhirnya Lek Min pun, menyerah.

Mbah Kawol tertawa, suaranya sangat keras. Suaranya melengking, dan menakutkan. Orang-orang yang melihat kejadian itu, sebagian dibuat lari tunggang langgang. Wanita tua yang mereka giring itu, ternyata bukanlah manusia biasa. la seperti telah bersekutu dengan setan. Di dalam badannya, seakan telah terisi dengan kekuatan magis.

Semua warga berlari. Tidak perduli lagi dengan kawan ataupun saudaranya yang tadi berjalan beriring bersama. Mereka terpencar, ke berbagai arah. Mereka pergi meninggalkan tempat itu. Mereka tidak memperdulikan lagi Lek Min dan Mbah Kawol, yang saling berhadapan.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA DITOLAK DUKUN SANTET BERTINDAK
9.7
Pernikahan Nagita Wangi Kuncoro dan Rusdi Pratama Habsy yang harusnya bahagia justru berubah mencekam akibat teror gaib misterius. Penasaran dengan kejanggalan ini, sahabat Rusdi mulai menyelidiki dalang di balik gangguan mistis tersebut. Penyelidikan mengungkap bahwa pelaku kiriman santet mematikan ini adalah Listiowati Dewi, mantan karyawan yang sakit hati karena cintanya ditolak. Kini, nyawa pasangan pengantin baru ini terancam dan mereka harus berjuang bertahan hidup.
Sampul Novel HILANGNYA JASAD KEMBARANKU
9.5
Kematian Micail menyisakan duka hebat bagi kembarannya, Mecca. Namun, situasi menjadi mengerikan saat jasad sang saudara mendadak hilang tanpa jejak. Kejadian ganjil ini mulai mengikis kewarasan Mecca. Di tengah cekaman teror yang kian pekat, ia terobsesi memecahkan misteri hilangnya jenazah tersebut. Mecca pun nekat menelusuri berbagai petunjuk samar demi menemukan jasad sang kembaran sekaligus memberikan ketenangan bagi arwahnya.
Sampul Novel Lawon Abang (Kafan Merah)
9.4
Mbah Karso didera dendam hebat usai Mawar, cucunya yang bermata merah, tewas mengenaskan di tebing akibat kejaran dan fitnah warga Ledokombo. Demi membalas kematian keji sang cucu, ia nekat membangkitkan iblis kuno bernama Nyai Larapati yang telah lama tertidur. Jasad Mawar yang tak bernyawa pun dipaksa bangkit kembali untuk mengobarkan aksi balas dendam berdarah tanpa ampun, menyasar seluruh penduduk desa yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut.
Sampul Novel Pemburu Darah Perawan
9.7
Demi keluar dari kemiskinan, Japri menjalani ritual pesugihan di Karang Nini. Meski menjadi kaya raya, ia harus menumbalkan darah perawan setiap Selasa Legi. Kewajiban kelam ini kini diwariskan kepada putra tunggalnya, Indra, sesuai perjanjian gaib mereka. Terjebak dalam kutukan tersebut, Indra kini menghadapi situasi pelik saat ia hampir melanggar pantangan sakral yang dapat merenggut nyawa serta seluruh harta bendanya.
Sampul Novel Saya Pembunuh
7.9
Sinta Amelia dan Lembayung Rindu bersaing ketat demi memikat Aditya Bagaskara, putra direktur rumah sakit yang bergelimang harta. Sayangnya, Aditya malah jatuh hati pada kesederhanaan Dewi Utari. Hubungan persahabatan Sinta dan Lembayung pun hancur, berubah menjadi dendam yang membara. Di saat amarah Sinta memuncak, hanya dokter Hanum Permatasari yang mampu menenangkannya. Kepatuhan misterius Sinta pada sang dokter menyimpan sebuah rahasia besar yang menyelimuti mereka.
Sampul Novel WURAKE
8.3
Wurake adalah penganut ilmu hitam yang mengincar janin, bayi, serta ibu hamil dan nifas demi memuaskan dahaga mereka. Berbeda dengan Kuyang, sosok Wurake bisa berupa pria maupun wanita, dengan ancaman nyata yang mengintai siapa saja tanpa memedulikan umur atau gender korban. Kisah misteri berbalut horor fantasi ini merupakan karya fiksi belaka, sehingga jika terdapat kesamaan nama tokoh ataupun lokasi, hal tersebut hanyalah unsur ketidaksengajaan.