APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jovanca Sang Penggoda

Jovanca Sang Penggoda

Jovanca, yatim piatu berparas menawan, lelah berjuang sendirian melawan kerasnya kemiskinan dengan kerja serabutan. Demi mencari hiburan, ia mulai memanfaatkan kecantikannya untuk memikat para pria. Sialnya, permainan ini berbalik menjadi petaka saat ia diburu banyak pria beristri. Di tengah kemelut tersebut, Jovanca justru jatuh hati pada sosok lelaki lain. Akankah ia berhasil keluar dari jerat intrik asmara ini demi meraih kebahagiaan sejati?
Bab
Bagikan

Bab 1

Bab 1 Prolog.

Seorang wanita dengan perut yang membuncit, dengan rambut yang dikucir kuda, membawa tongkat bisbol. Berjalan dengan kencang, tidak peduli dengan kondisi perutnya. Dia menggedor pintu rumah seorang wanita.

"Keluar kamu! Hei! Dasar jalang sialan! Aku akan mendobrak pintumu dan menghancurkan rumahmu jika kamu tidak segera membuka pintunya!" Wanita itu berteriak hingga otot lehernya terlihat.

Dari dalam gadis anggun itu berjalan degan malas dan membuka pintu.

"Ap..." Belum sempat dia selesai menyelesaikan ucapannya tongkat bisbol itu sudah melayang dikepalanya.

"Akh!" Gadis itu kesakitan dan terhuyung. Wanita bunting itu tetap ingin menyerangnya. Hingga pria yang diduga suaminya itu merebut tongkat bisbol tersebut dan membuangnya.

Sementara itu, gadis yang menjadi korban memegangi kepalanya yang terasa pening.

"Sialan! Bawa pergi wanitamu! Dasar, gila!" umpatnya.

Meski mulutnya tetap menteriaki gadis yang terluka itu, tetapi pria disampingnya berhasil membawa istrinya pergi dari rumah bercat putih itu.

Apa yang sebenarnya terjadi?

***

Sepasang heels dan tas beserta isinya berserakan di atas lantai. Suara gebrakan pintu tertutup dengan kasar memenuhi ruangan berukuran enam kali enam meter itu.

Seorang gadis berpostur tinggi dan memiliki kulit putih meremas rambut lurusnya yang kini berantakan akibat ulah perempuan baru saja keluar dari kamarnya tadi. Sebab, menganggap dia, Jovanca. Telah merebut kekasihnya yang sebentar lagi akan dinikahinya.

Dia menghempaskan tubuhnya pada kursi bulat diatas lantai. Penampilannya yang tidak karuan membuatnya terlihat mengerikan.

"Sial! Kenapa harus aku? Tidak bisakah, meminta mahasiswa lain? Gila!" umpatnya.

Wanita itu menatap sekeliling kamar sempit, sangat berantakan, dan tidak layak disebut dengan kamar. Dia bangkit, dan menghampiri koper yang ia letakkan di sudut ruangan.

Bersiap untuk mengikuti tour tahunan yang selalu diadakan di kampusnya. Dengan dalih mengadakan bazar amal. Namun, yang sebenarnya terjadi, adalah semua mahasiswa harus membayar uang berjumlah fantastis. Entah, ke mana perginya uang itu nantinya.

Bukan dia tidak mampu membayar, tetapi dia hanya malas harus berkumpul dengan banyak orang. Jovanca adalah tipe wanita yang suka menyendiri, dan bertindak seenaknya sendiri.

Dia tidak mau diatur, dan tidak akan bisa diatur. Hidup sendiri, di kota besar, bergaul dengan siapapun yang dia sukai. Meninggalkan mereka sesuka hatinya pula.

Beberapa barang telah siap dia kemas. Masih dengan baju yang sebelumnya, dia kenakan. Dia berkelit, untuk mengumpulkan, donasi, uang pembayaran, bus, dan juga jatah makan siang. Mengetuk kamar demi kamar asrama.

Namun, bukannya mengetuk, Jovanca, lebih pantas disebut, dengan menggedor, bak seorang rentenir yang menagih hutang.

Brak! Brak!

"Woy Buka!" teriakanya.

Wanita berkacamata, dengan rambut panjang, membuka pintu, salah satu mahasiswa, yang paling cupu dengan dandanan seperti anak TK. Rambutnya tidak pernah lepas dari kepangan.

"Bayar!" Jovanca, mengulurkan tangannya, meminta bayaran untuk tour dadakan itu. Ah– apa pantas disebut rekreasi, jika hanya sehari, semalam?

"Ehm– say– saya...." Gadis itu, tergagap, dia terlalu takut untuk menjawab pertanyaan, Jovanca.

"Apa?! Ikut tidak?! Tunggu– tidak ada yang boleh tinggal! Semua harus ikut, dan bayar padaku, cepat!"

Pinky, dia berlarian masuk ke kamarnya, dan mencari dompetnya dia mengambil beberapa lembar uang kertas, dan memberikan lima puluh dolar pada Jovanca. Tangannya masih sangat bergetar.

"Nice, cepat berkemas, dan turunlah!" Jovanca menyeringai, dan pergi. Menggedor pintu disebelah kamar Pinky.

Satu persatu dari mereka membayar. Benar benar tidak ada yang tertinggal karena Jovanca memaksa. Dia tidak mau mengeluarkan uang sendirian. Sementara salah dari mereka tidak dipungut biaya apapun.

Sebagai wanita yang mandiri ini sangat tidak adil untuk Jovanca. Jika, dia tidak diperintahkan untuk hal itu tadi. Gadis itu akan memilih untuk pergi ke kafe, dan bekerja.

Tepat, di kamar paling ujung, dan ditempati, oleh pria bertubuh gemuk. Jovanca bersiap mengangkat tangan, dan mengayun untuk mengetuk tetapi sesuatu terdengar dari balik pintu itu.

Jovanca mengurungkan niatnya untuk mengetuk ia memilih untuk memiringkan kepalanya, dan menempelkan telinga. Berniat menguping aktivitas di dalam kamar tersebut.

Bunyi keciplukan terdengar dengan jelas, bahkan napas yang memburu, sangat jelas didengar oleh gadis berambut merah itu. Jovanca, memicingkan matanya menajamkan pendengarannya guna mengetahui aktivitas apa yang dilakukan pria gendut.

Hah– Sialan! Terdengar lelaki itu menghembuskan napas lega disusul dengan umpatan. Jovanca semakin penasaran dia tanpa mengetuk pintu nekat langsung membukanya.

Begitu memasuki kamar itu betapa terkejutnya gadis badung itu. Mark berdiri di balik pintu kamar mandi, dan memegang sebuah cairan berwarna, putih. Celananya telah basah, dan pria itu pun berkeringat dengan hebat.

"Woy!" teriak, Jovanca.

Apa yang dilakukan oleh Mark si pria gendut?

Jovanca menerobos masuk kamar milik Mark, gadis itu berhasil mengejutkan pemilik kamar mereka saling tatap beberapa saat. Tatapan Jovanca tertuju pada benda yang dipegang oleh Mark.

"Sedang apa kamu?! Oh– aku tahu kamu– astaga! Fix. Aku akan sebar, bahwa kamu sering bermain main dengan sabun!" Jovanca membelalakkan matanya guna untuk menakut-nakuti Mark.

"Jo?! Sedang apa kamu di sini?" Mark terkejut dengan keberadaan wanita brutal itu.

Jovanca masih tertawa pikiran liarnya mulai menguasai diri. Matanya sampai berair karena tawanya tidak bisa dia hentikan.

"Wait! What do you think?! Jo? Ini tidak seperti yang kamu kira. Ak– aku...." Jovanca memotong ucapan pria gentong itu.

"Stop, semua sudah terbukti. Aku kira kamu sangat polos." Jovanca sama sekali tidak mau mendengar penjelasan lelaki itu.

Mulutnya masih terus mengejek tanpa mau mendengar apa yang lawan bicaranya ucapkan. "Jo, listen! Aku membersihkan kamar mandiku yang sudah sebulan tidak aku bersihkan. Keraknya membandel, dan– ini? Ini sabun yang aku gunakan untuk membersihkan lantainya. Aku terpeleset! Shit! Ini menyebalkan bukan? Buang pikiran burukmu itu!" sungut Mark.

Pria itu melemparkan sikat lantai juga sabunnya begitu saja. Acara membersihkan kamar mandi telah usai dia merasa begitu lelah. Tidak peduli dengan celana atau baju yang basah. Ia menghempaskan tubuhnya pada ranjang sempit miliknya.

Namun, Jovanca masih asyik tertawa dengan pikirannya apakah wanita seperti itu? Selalu tidak jauh pikirannya dari seks? Memalukan!

"Terserah! Apa yang kamu lakukan dikamarku?" Pertanyaan itu menyadarkan tujuan Jovanca akan tujuannya.

"Ups! Right! Bayar. Aku bertugas menarik semua uang tour buta' yang diadakan kampus ini," ucapnya sembari mengulurkan tangan.

Mark menatap telapak tangan gadis itu, dan mendengus dia baru saja membayar kelas private bahasanya. Kini laki laki itu harus kembali mengeluarkan uang lagi.

"Bolehkah aku tidak ikut? Please?" pinta Mark memelas. Meski dia tahu jawabannya adalah tidak. Jovanca tidak akan membiarkan temannya kaya sendirian.

"No!" Ia menjawab dengan singkat, dan menggeleng.

"Ck, come on Jo. Please, aku tahu kamu baik Please," bujuknya. Tanpa menyerah.

"No!" Jovanca kembali menolak. "Bayar sekarang atau aku akan mencari sendiri di tasmu?" Jovanca menoleh di mana tas Mark berada.

"Oh– menyebalkan." Pria itu bangkit, dan mendekati tasnya. Dia terpaksa membayar untuk hal yang tidak dia ketahui fungsinya.

"Memang, apakah kamu baru menyadari bahwa kuliah di sini sangat menyebalkan." Jovanca menyahut selembar uang kertas seratus dolar itu dan berlalu.

"Jo! Kembalian!" teriak Mark. Jovanca menoleh, dan hanya menyunggingkan senyum misterius yang entah apa artinya.

"Nanti!" balasnya kemudian. Semua itu membuat lelaki obesitas semakin merengut kesal.

***

Semua mahasiswa telah siap. Mereka membutuhkan dua bus untuk pergi ke tempat tujuan. Sebuah kota di ujung provinsi. Kota Mayoral. Tujuannya hanya sebuah motel kecil, dan keesokan harinya mereka akan membuka bazar di sebuah taman.

Hal yang bagi sebagian orang itu sangat tidak berguna termasuk Jovanca. Bazar amal, mereka tidak harus melakukan itu untuk membantu sesama. Bisa dengan langsung menunjukan bantuan pada yang bersangkutan bukan? Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh, Jovanca.

Namun, dia juga harus ikut serta. Sambil menyelam minum susu. Dia berharap ada sesuatu yang bisa mengalihkan kebosanan dari acara itu nantinya.

Butuh sekitar tiga jam untuk mereka tiba di motel terpencil Mayoral. Benar, terpencil karena itu sebuah sudut kota bahkan bisa disebut dengan perkampungan desa terpencil. Jarang dimasuki wisatawan atau orang dari luar kota.

Apa yang akan didapatkan oleh Jovanca di sana?

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Pertama Sumber Penderitaanku
8.9
Setelah tewas mengenaskan akibat persalinan macet di kehidupan lalu, aku menyadari pengkhianatan kejam Fred. Anak yang kukandung rupanya hasil hubungan Fred dengan mahasiswi simpanannya yang dikandung berkat obat ciptaanku. Kini, setelah terlahir kembali, aku menolak menikahi Fred dan memilih kakak tirinya, Zico. Aku membiarkan Fred bersanding dengan kekasihnya tanpa bantuanku demi melihat kehancuran mereka. Namun, Fred justru menjadi gila saat melihat cincin Zico melingkar di jariku.
Sampul Novel Istri Kesayangan Tuan Presdir Tampan
8.4
Niana Fradella memilih kabur demi menghindari pernikahan paksa yang diatur keluarganya. Siapa sangka, keputusan itu membawanya bertemu lelaki sempurna yang menjadi cinta sejatinya. Namun, di saat kebahagiaan baru saja ia rasakan bersama sang kekasih, takdir kejam justru menghampiri. Kondisi kesehatannya terus memburuk akibat penyakit parah yang kian menggerogoti tubuhnya, memicu keraguan besar apakah ia masih memiliki waktu untuk bertahan hidup.
Sampul Novel Kisahku dalam Pelukan Gigolo dan Brondong
8.4
Kehidupan pernikahan yang menjemukan mendorong Amanda, seorang wanita paruh baya, mencari pelarian pada jasa gigolo. Walau menemukan sensasi baru, kehampaan hatinya baru terusik setelah bertemu Alex, pemuda cerdas yang memikat. Hubungan intim mereka memicu konflik keluarga dan benturan ambisi. Di bawah tekanan sosial, Amanda akhirnya menyadari bahwa kebahagiaan sejati bukan dari lelaki lain, melainkan kedamaian batin serta kendali atas hidupnya sendiri.
Sampul Novel Pernikahan Tanpa Perasaan dengan Tuan Atasan
9.5
Sejak sang ayah tiada, Niela harus berjuang sendirian menjalani kerasnya hidup. Ia sangat mendambakan kehadiran suami yang bisa melindunginya dan menjadi tempat bersandar. Namun, impian itu hancur ketika ia terikat pernikahan tak terduga dengan bosnya sendiri yang menaruh kebencian mendalam padanya. Bukannya kehangatan, Niela justru menerima sikap dingin dan tekanan dari suaminya yang acuh. Kini, ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta yang begitu menyiksa batinnya.
Sampul Novel Sopirku Mantan Kekasihku
9.5
Kehidupan Andini Larasati berjalan sempurna bersama sang suami, Danar, seorang dokter bedah yang sangat menyayanginya. Namun, kedamaian itu terusik saat Revan hadir kembali. Mantan kekasih yang dulu mencampakkannya demi harta kini menjadi sopir pribadinya setelah jatuh miskin. Tanpa sepengetahuan Danar, Andini kini terjebak dalam dilema besar antara membalas dendam masa lalu atau menghadapi perasaan lama yang perlahan tumbuh kembali untuk sang sopir.
Sampul Novel Terjebak Peran Figuran
9.4
Azalea mendambakan kedamaian di desa terpencil setelah bereinkarnasi dari kehidupan masa lalunya yang melelahkan. Sayangnya, tipu muslihat sang saudara tiri memaksa dirinya menggantikan posisi sebagai calon permaisuri. Azalea pun terseret ke istana, tepat di pusaran takdir Putra Mahkota Xavierth yang sedang didera kutukan penyihir jahat. Di tengah intrik berbahaya ini, ia harus berjuang sekuat tenaga untuk bertahan hidup sekaligus menghindari akhir tragis yang mengancamnya.