APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jovanca Sang Penggoda

Jovanca Sang Penggoda

Jovanca, yatim piatu berparas menawan, lelah berjuang sendirian melawan kerasnya kemiskinan dengan kerja serabutan. Demi mencari hiburan, ia mulai memanfaatkan kecantikannya untuk memikat para pria. Sialnya, permainan ini berbalik menjadi petaka saat ia diburu banyak pria beristri. Di tengah kemelut tersebut, Jovanca justru jatuh hati pada sosok lelaki lain. Akankah ia berhasil keluar dari jerat intrik asmara ini demi meraih kebahagiaan sejati?
Bab
Bagikan

Bab 2

Bab 2

Dua rombongan bus telah tiba di Kota Mayoral dengan wajah-wajah yang lelah, dan mengantuk. Semua mahasiswa, dan mahasiswi itu keluar dari kendaraannya. Tidak semua orang merasa bosan, ada dari mereka juga yang sangat menikmati perjalanan, dan juga tour amal ini.

"Baiklah, kita sudah sampai, kalian bisa beristirahat di kamar sesuai nomor yang sudah dibagikan. Kita akan makan malam tepat pukul tujuh nanti malam. Lalu— sesuai dengan kesepakatan bahwa besok seharian penuh kita akan melakukan atau membuka bazar di alun alun kota ini," tutur salah satu dosen.

Pria berusia sekitar tiga puluh tahun, berkulit putih dengan freckle, di bagian wajahnya. Bibirnya sangat seksi menurut Jovanca.

Wanita itu tidak peduli dengan pidato membosankan dia justru asyik dengan earphone yang tersemat di telinganya. Menikmati aliran musik, bergenre rock.

"Okay, selamat istirahat semuanya!" Pesan terakhir dari Tuan Hudson.

Semua orang membubarkan diri dengan menyeret koper masing-masing. Mereka mencari kamar yang telah terbagi di dalam bis sebelumnya. Satu persatu dari mereka menghampiri resepsionis untuk mengambil kunci. Satu kamar akan ditempati oleh tiga sampai lima anak.

Karena terbatasnya ketersediaan kamar motel itu. Jovanca, sialnya dia harus satu kamar dengan para wanita yang rempong, tingkat nasional. Wanita wanita senang dandan, dan heboh.

"Jo, aku duluan. Kamar kita diujung, aku akan buka pintunya! Hu! Ini akan seru!" teriak Steacey.

Jovanca hanya memutar bola matanya dengan malas. Sehingga tidak fokus dengan jalan yang dilewati. Terlebih suara keras di telinganya, sejujurnya tidak membuat ucapan wanita tadi terdengar.

Hanya teriakan mereka yang terngiang oleh Jovanca. Hingga gadis itu harus bertabrakan dengan sepasang kekasih, mungkin—

Brak!

Berhamburlah barang bawaan milik mereka, Jovanca, segera melepaskan earphonenya, dan berjongkok guna membantu memungut semua barang barang mereka.

"Maafkan, saya. Saya tidak menyadari keberadaan kalian," sesal Jovanca.

"Tidak apa, ini hanya musibah," sahut wanita itu. Jovanca memperlihatkan wajah memelas, dan berempati. Dia memberikan barang bawaan yang ada ditangannya kepada mereka.

Beberapa buku serta ponsel milik wanita itu. "Di sini, semakin ramai, itu hebat. Kamu salah satu rombongan tadi?" tanyanya.

"Ya— saya... bagian dari mereka," jawab Jovanca dengan memiringkan kepalanya. Sebenarnya dia enggan mengakui kalau dia adalah rombongan bis sialan itu.

"Kenalkan aku Ainsley, dan— dia adalah suamiku, kami berbulan madu di sini." Ainsley memperkenalkan suaminya pada Jovanca. Apakah wanita selalu seperti itu? Mudah sekali bergaul? Sepertinya yang mudah beradaptasi hanya lelaki, ternyata tidak

Jovanca terkejut, setelah mengetahui bahwa ternyata pria disebelahnya adalah Suaminya.

"Hai, saya Jovanca." Mereka menjabat tangan.

"Jeffrey," jawabnya singkat, sembari membalas uluran tangan Jovanca.

Bukan Jovanca, jika dia hanya menjabat tangan dengan formal. Dia memainkan ujung jari telunjuknya juga kedipan mata, ketika Ainsley menatap suaminya.

Tentu saja itu membuat Jeffrey, terlihat gugup. Karena terang terangan Jovanca melakukannya.

"Okay, sekali lagi maafkan saya. I have to go." Meninggalkan mereka dengan senyum manisnya. Jovanca, menjauhi kedua pasangan muda itu.

Berlalu dengan segudang senyuman aneh antara heran juga bertanya-tanya. Kenapa di usia yang masih terlihat muda, mereka mau menjalin sebuah hubungan yang tidak main main.

"Mungkin hamil— oh, sayang sekali," gerutu Jovanca. Dia mencoba mengalihkan pikirannya dengan memasuki kamar. Namun, bukannya lebih tenang justru pemandangan didalam semakin menggila.

Apa yang dilakukan oleh teman teman satu kamar Jovanca?

Ainsley, dan Jeffrey mereka keluar dari motel, mencari pemandangan bagus di Kota Mayoral.

Banyak yang bilang, bahwa kota itu, adalah surga yang tersembunyi. Banyak sekali tempat wisata yang memang tidak tereksplorasi oleh masyarakat. Penduduk benua Eropa. Mereka lebih memilih, untuk berlibur di kota yang terkenal, Madrid, Barcelona, Italia, dan sejenisnya.

Namun, pasangan muda itu, memiliki selera berbeda, sama seperti halnya rombongan, Jovanca. Tujuan mereka bukan hanya untuk bulan madu, berlibur atau sekedar menguras isi rekening, tetapi mencari keluarga yang tidak mampu, untuk diberikan materi yang cukup banyak.

Makan siang di tamat, adalah hal yang menyenangkan. Seperti piknik, pikir Ainsley.

"Kamu suka di sini?" tanya, Ainsley, pada suaminya yang sibuk dengan laptop dihadapannya.

Meski berlibur, rasanya pekerjaan, sudah mendarah daging dalam tubuh Jeffrey.

"Ya! Sure, kemana pun, aku pergi. Jika bersamamu, semua terasa indah, babe."

Berkata, tetapi tidak menatap lawan berbicara. Itulah, yang terjadi pada mereka berdua. Terlebih Jeffrey.

"Aku ingin kita di sini satu Minggu, lagi, bisa?" Ainsley, terkenal dengan wanita yang lembut, dan manja. Dia selalu mengandalkan apapun pada Jeffrey. Semua kebutuhan, semua aset yang dia miliki, telah dia percayakan pada suaminya. Alasannya, simpel, karena dia mencintai, dan Jeffrey adalah suaminya.

"Sure, what ever you want," jawab Jeffrey.

Gadis itu, mendekati suaminya, dan merebahkan tubuhnya pada dadaa bidang pria yang telah dia nikahi baru satu bulan itu.

Akan tetapi, rasa berbeda, dihadapi oleh Jeffrey, dia terbayang aroma yang keluar dari rambut gadis yang, dia temui di motel sebelumnya. Sunggingan senyum, hampir tidak terlihat, di wajah itu. Namun, jelas, pria itu tengah tersenyum.

"Ehm— kamu tersenyum? Apa yang kamu pikirkan?" tanya, Ainsley, dia menengadah untuk melihat, senyum tipis suaminya.

"Nothing, hanya sesuatu yang begitu lucu," sangkalnya.

"What? Tentangku?" Jeffrey mengangguk.

"Yes, sure. Mengingat, bagaimana kamu memintaku, untuk selalu tidur dan mendekapmu sepanjang malam. Ains, you're so beautiful," pujinya. lelaki itu membelai Surai panjang coklat milik istrinya.

"Thanks, apa saja yang kamu suka dariku?" Mereka bercakap cakap, memutar, mengulang kembali memori di mana keduanya saling menyukai. Memutuskan untuk menikah, di usia dini. Karena— ya! Ainsley hamil.

"Baby, siapa nama yang akan kamu berikan pada bayi kita? Jika itu perempuan?" Ainsley kembali menatap suaminya. Ia memainkan kancing baju milik Jeffrey.

"Aku mau bayi lelaki," jawabnya dengan singkat.

"Kita tidak bisa memilih, bukan?" Gadis itu menarik diri, dan duduk melipat kakinya, menghadap suaminya.

"Maaf, tapi aku tidak suka, bayi perempuan," tutur Jeffrey, dengan enteng.

"What?! Are you crazy?! Jeffrey, kita tidak biss menentukan, jenis kelamin. Bukankah, laki laki, atau perempuan sama saja. Dia tetap anakmu, anak kita!" jelas Ainsley. Dia mulai tertarik tuas emosinya.

"No! Buatku tidak! Aku ingin anak lelaki, karena, dia harus meneruskan mimpiku yang kacau! Kamu tahu, aku hampir saja menjadi pembalap! Tapi— sekarang apa?! Aku harus terjebak, dalam pernikahan konyol ini!" sungut Jeffrey tidak kalah keras.

"Jeff, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas ini lagi. I'm sorry. Tapi kita melakukan semuanya karena cinta bukan? Dan kamu sudah berjanji akan menikahiku," suara Ainsley melemah.

"Tapi, tidak menghancurkan mimpiku! Kamu mengurungku, dengan semua perusahaan, yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu!" Jeffrey, hendak beranjak.

Namun, Ainsley, menahannya.

"Jeff— wait—"

Apa yang akan dikatakan oleh, wanita itu?

Bagaimana hubungan mereka selanjutnya?

Benarkah begitu alasannya, atau itu hanya sebuah omong kosong, yang di buat buat oleh Jeffrey?

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Mau Dimadu
9.7
"Aku menolak dipoligami!" tegas diriku. Tidak ada istri yang sudi berbagi cinta, begitu pula denganku. Keadaan terasa kian menyiksa karena calon maduku ternyata perempuan dari masa lalu yang pernah mengisi hati suamiku. Naya, ingatlah ini: sampai embusan napas terakhirku, aku bersumpah takkan membiarkanmu merebut suamiku. Aku akan berjuang mempertahankan pernikahan ini dan memastikan kau tidak akan pernah bisa memilikinya kembali.
Sampul Novel Andai Aku Boleh Memilih
7.9
Kenanga Wulan, mahasiswi berprestasi, terus menderita akibat tekanan ibu tirinya, Mirna, hingga akhirnya diusir dari rumah. Demi memisahkan Bastian dari bayang-bayang mantan istrinya, Mirna sengaja menyembunyikan kekayaan kiriman ibu kandung Kenanga. Sementara itu, Firda mendesak putranya, Ghaffarel, untuk menikahi Kenanga demi menyelamatkannya dari hubungan tak wajar dengan Raiya. Meski Kenanga mencintai Arkatama, ia terjebak dalam skema pernikahan yang penuh rahasia dan pengkhianatan.
Sampul Novel Dua Titik (Dilamar CEO Dinikahi Dosen)
8.2
Tanpa proses pengenalan yang lama, Asoka memberanikan diri melamar Riri walaupun terbentur restu orang tua. Perjuangan cintanya terhenti saat ia harus pergi ke London untuk waktu yang lama. Sekembalinya ke tanah air demi mendapatkan Riri, Asoka harus menerima kenyataan pahit bahwa pujaan hatinya telah dinikahi oleh Kris. Kini, ia terjebak dalam pusaran cinta segitiga yang rumit, di mana sosok Kris justru menjadi penengah tak terduga di tengah konflik asmara penuh pengorbanan ini.
Sampul Novel Kepingan Hati
9.5
Rafa Dwindra Athaya harus menghadapi kenyataan sulit saat jatuh hati pada gurunya sendiri, Khafa Aseanda Zayn. Meski Khafa terus menolak karena perbedaan usia dan status sosial, takdir justru menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan yang tak terduga. Kini, Rafa berjuang keras memenangkan hati sang istri yang masih menutup diri. Baginya, mencintai Khafa adalah pilihan hidup, namun membangun masa depan bersama perempuan itu adalah tujuan akhirnya yang paling utama.
Sampul Novel Menjalin Cinta Dengan Musuh Pacarku
8.4
Akibat tindakan kejam kekasihnya yang mendorongnya ke laut demi wanita lain, sang protagonis mengalami trauma hebat hingga tak sadarkan diri di ICU. Setelah siuman, ia didiagnosis kehilangan ingatan tentang pria tersebut. Enggan menerima klaim sang mantan yang bersikeras mengaku sebagai pacarnya, ia akhirnya menyanggah dan menyatakan bahwa Shawn, musuh bebuyutan pria itu, adalah kekasihnya yang asli.
Sampul Novel PERNIKAHAN DINI
8.8
Akibat satu malam tanpa rencana, Anara Quinzy Prayoga dan Andika Surya Gutama terpaksa membina rumah tangga di usia belia. Jurang status sosial begitu nyata; Anara hanyalah anak buruh pabrik, sedangkan Dika adalah pewaris kaya. Demi mempertanggungjawabkan kehamilan Anara, Dika rela melepas semua kemewahannya. Setelah diusir oleh sang ayah yang murka, kini Dika harus berjuang keras sendirian demi menghidupi istri kecilnya tanpa bantuan keluarga.