APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jerat Pesona Ayah Anakku

Jerat Pesona Ayah Anakku

Kehilangan kesucian dalam satu malam menghancurkan hidup Kara. Diasingkan dan menderita, ia berjuang sendirian demi membesarkan anaknya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukannya kembali dengan pria yang menjadi dalang kehancurannya. Kini, pria tersebut kembali hadir untuk menjerat kehidupan Kara lebih dalam. Kara didera ketakutan hebat. Sanggupkah ia bertahan ketika buah hatinya terancam direbut oleh pria yang dahulu merusak dunianya?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Ughh!"

Suara lenguhan itu seketika membuat seorang gadis cantik terbangun dari tidurnya. Dengan kepala yang terasa pening, Kara berupaya bangkit. Ia mengerjap beberapa saat melihat sekitar yang terasa asing, hingga sedetik kemudian kedua netranya membulat sempurna ketika merasakan sebuah tangan kekar yang memeluk pinggangnya dengan begitu posesif.

Deghh!

"Astaga! Apa yang telah terjadi? Siapa dia? Kenapa dia bisa tertidur di sini bersamaku? Apa yang sudah .... "

Drrrtt!

"Bapak?" gumam gadis tersebut semakin tak berdaya.

Belum selesai dengan keterkejutannya, tiba-tiba saja Kara dikejutkan dengan hal lain. Sang ayah menelepon, sehingga dirinya semakin bingung hendak melakukan apa.

Sesak sudah napas Kara saat ini, dirinya tak sanggup membayangkan bagaimana ekspresi ayahnya nanti ketika mengetahui dirinya yang sedang berada di pelukan lelaki asing dengan pakaian yang entah tercecer ke mana.

"Maafkan Kara, Pak! Maaf, karena Kara sudah mengecewakan Bapak!" lirihnya pelan hampir tak bersuara.

Dengan meremas kencang ponselnya, tangis Kara akhirnya pecah. Kedua netranya kian memanas, seiring dengan semakin nyatanya mimpi buruk yang ada di hadapannya. Ia sama sekali tak menyangka, bahwa kesucian yang selama ini sangat dijaganya tiba-tiba terenggut begitu saja dalam satu malam.

"Kau yakin tidak akan menyesalinya? Kalau memang maumu seperti itu, dengan senang hati aku akan mengabulkannya!" ujar suara bariton yang seketika terdengar sangat mengalun di benaknya.

Setelahnya, Kara bisa kembali merasakan sebuah kecupan dan sentuhan yang sangat melenakannya. Bayangan itu, entah kenapa masih terasa sangat nyata. Kara benar-benar masih bisa merasakannya, hingga semakin lama tetes air matanya kian deras tak tertahankan.

Andai saja ia tak gegabah menerima ajakan berpesta teman-temannya, semua kejadian ini pasti tidak akan pernah terjadi di kehidupannya.

"No, Kara! Kamu harus segera keluar dari tempat ini! Dia bukan lelaki baik, karena telah memanfaatkan keadaanmu semalam!" desis gadis itu pelan memperingati diri sendiri.

Dengan mencengkram erat selimut yang telah menjadi saksi percintaannya, Kara akhirnya berusaha bangkit. Cepat-cepat ia menyeka bulir air matanya, dan beranjak. Namun sayang, pergerakan yang dibuatnya itu malah membuat seseorang yang tak diharapkan bangun. Kedua netra lelaki tersebut seketika memicing ke arahnya, hingga sedetik kemudian tangan kekarnya kembali menarik tubuhnya dan mengungkungnya tanpa celah.

"Mau ke mana kau, Sayang? Setelah semalam kau mendapatkan kepuasan dariku, lalu sekarang kau mau pergi begitu saja? Heumm?" tanya pria itu dengan salah satu alis tebalnya yang mengangkat ke atas.

Walau baru saja terbangun, aura intimidasi lelaki tersebut terasa kuat. Tatapan matanya yang tajam dan sedikit sayu, cukup membuat Kara mengatupkan bibirnya ketakutan. Hingga perlahan, degup jantungnya semakin bergerak cepat dengan peluh keringat yang mulai membasahi sekujur tubuhnya.

"Aku mohon! Tolong lepaskan aku! Ini sebuah kesalahan! Tidak seharusnya aku di sini!" lirihnya terpejam dengan tetes air mata yang kembali turun.

Kara mengigit kuat-kuat bibirnya, sambil terus mencengkram selimut yang ada di sampingnya. Ia mencoba menahan isak tangis, dan menghindar dari lelaki yang ada di atasnya. Namun sayang, semua usahanya itu nampak sia-sia saja. Tenaganya jauh lebih lemah dari lelaki tersebut, hingga membuatnya semakin tak berjarak.

"Kau pikir, kau bisa lepas begitu saja dariku?" bisik suara bariton itu setelahnya.

"Aku mohon, lepaskan ak...."

Belum sempat Kara menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba saja lelaki itu telah bergerak maju dan meraup bibir merahnya lebih dulu. Lelaki tersebut terus menyesapnya tanpa jeda, seolah sedang kecanduan permen manis. Dan terus membungkamnya, hingga hampir membuatnya kehabisan napas.

"Kau tentu tidak akan bisa pergi begitu saja dariku, Sayang! Kau sudah masuk ke dalam kehidupan seorang Barra Piterson! Dan kau tidak akan bisa keluar begitu saja, tanpa aku biarkan!" tekan lelaki itu sekali lagi, hingga membuat sekujur tubuh Kara kembali terasa merinding.

Deghh!

Barra Piterson? Rasanya Kara pernah mendengar nama itu. Entah di mana persisnya, akan tetapi yang jelas nama tersebut sepertinya pernah berseliweran di beberapa portal berita.

Tanpa memberikan jeda untuk Kara berpikir, lelaki yang bernama Barra itu seketika kembali bergerak menyesap lembut bibir menggoda yang ada di hadapannya. Ia benar-benar terus melakukannya dengan sangat bersemangat, seolah tak mau melewati satu bagian apa pun yang ada di dalam sana.

Barra, memanglah bukan lelaki biasa. Rupa wajah dan bentuk tubuhnya bagai pahatan sempurna yang menggambarkan tokoh para dewa, akan tetapi sayang sikap dan sifatnya bagai iblis yang tak kenal kata ampun.

"Balas kecupanku seperti semalam! Aku lebih suka dirimu yang liar dibandingkan yang cengeng seperti ini!" titah Barra semakin memaksa, seraya sedikit menghentakkan tubuh mulus di bawahnya.

"Barra! Tolong! Aku harus pulang! Bapakku sedang sak...."

Kara tak sanggup melanjutkan kata-katanya, karena lagi-lagi Barra telah lebih dulu melakukan semua yang diinginkannya. Segala pemberontakannya bagai angin belaka. Lelaki itu semakin tanpa ampun membuatnya tak berdaya, hingga sekujur tubuhnya kian bergetar ketakutan.

"Cukup sudah sandiwaramu! Kau pikir, aku akan tertipu begitu saja dengan aktingmu? Heumm?" geram lelaki itu sekali lagi, hingga membuat Kara semakin menggeleng takut.

"Semalam kau sendiri yang datang dan menggodaku, akan tetapi sekarang? Kenapa tiba-tiba saja sikapmu berubah, seolah aku yang sudah memaksamu lebih dulu? Mimpi apa yang telah merubahmu seperti ini?" lanjut Barra kian tertahan dengan semakin mencengkram erat tangan Kara yang memberontak.

Dengan deru napas yang semakin menggebu, Barra kian menatap tajam kedua netra hitam Kara secara bergantian. Ia seketika merasa aneh, hingga setelahnya salah satu tangan kekarnya langsung mencengkram erat wajah cantik itu dengan kasar.

"Apa kau adalah salah satu orang suruhan musuhku untuk merusak nama baikku? Siapa namamu? Dan siapa juga nama orang yang telah mengirimkanmu ke sin—"

Bughh!

"Sia! Kau!"

Barra kehilangan kata-kata, tepat setelah Kara membenturkan kening di ujung hidung mancungnya. Darahnya mendidih, hingga membuat rahang tegasnya mengeras. Namun ketika hendak mencengkram kembali, sosok yang telah menghangatkan ranjangnya itu malah lebih dulu bergerak lincah meloloskan diri.

Dengan segera Kara merebut paksa sebuah selimut untuk menutupi dirinya, hingga lantas bergerak cepat meraih beberapa pakaiannya yang tercecer di atas lantai. Ia langsung membawanya berlari masuk ke dalam sebuah ruangan yang diyakininya sebagai toilet, sampai akhirnya ....

Brakkk!

Gadis itu terpeleset, ketika merasakan sensasi perih di area pangkal pahanya. Kara meringis kesakitan, hingga sedetik kemudian dirinya merasa melayang ke udara dengan tangan kekar yang berada di salah satu bahu dan juga lipatan kakinya.

"Sudah aku bilang bukan? Kau tidak akan bisa pergi begitu saja! Kau lupa telah berbuat apa saja semalam? Kau sudah berhasil membangunkan singa buas yang sudah lama tertidur! Jadi sekarang, jelaskan padaku siapa kau sebenarnya?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Kehangatan selimut cinta
8.7
Sophia, seorang wanita berparas unik dengan gairah asmara membara, tiba-tiba dihadapkan pada situasi menegangkan. Saat hendak melangkah keluar dari kamarnya, sebuah tangan misterius mencengkeram bahunya dengan kasar dari belakang. Tubuhnya seketika terdorong hingga terbentur dinding di dekat pintu. Sophia yang terkejut hampir saja berteriak histeris, namun sebuah tangan lain langsung membungkam mulutnya dengan paksa. Pertemuan tak terduga yang penuh desakan ini memicu ketegangan yang begitu mendalam.
Sampul Novel My Adorable CEO
8.6
Yatim piatu sejak kecil, dua bersaudara Van Willem dibesarkan oleh pelayan setia mereka. Kini, sang kakak mengendalikan bisnis keluarga, sedangkan Irish bekerja di sebuah perusahaan raksasa. Takdir mempertemukan Irish dengan atasannya, CEO kaya raya yang populer di kalangan wanita. Hubungan mereka memicu konflik rumit saat deretan mantan kekasih sang bos hadir, memicu kesalahpahaman hebat antar-pimpinan perusahaan yang berujung pada ancaman nyawa.
Sampul Novel Persona
8.5
Safira Riana, seorang gadis polos, jatuh hati pada Gilang Angkasa yang terlihat begitu sempurna dengan pesona dan sikapnya yang memikat. Namun, setelah menjadi kekasihnya, Safira mendapati bahwa Gilang menyembunyikan tabiat buruk serta sisi gelap di balik topeng indahnya. Hubungan asmara mereka pun kini dihadapkan pada godaan berat dan konflik batin yang rumit. Akankah cinta mereka hancur oleh rahasia itu, atau mampukah Safira mengubah kepribadian kekasihnya?
Sampul Novel Seandainya Waktu Bisa Kembali
8.2
Demi menyelamatkan cinta pertamanya, Lolly, yang menderita gagal ginjal, seorang hakim tega mengambil keputusan sepihak untuk merebut ginjal istrinya sendiri. Sang istri mencoba menjelaskan bahwa dirinya juga mengidap penyakit yang sama dan akan mati jika kehilangan organ tersebut. Namun, sang suami justru menuduhnya cemburu dan tidak berhati nurani. Dipaksa menjalani operasi transplantasi, kondisi sang istri terus memburuk hingga akhirnya ia meninggal sendirian di sudut rumah sakit yang sepi.
Sampul Novel Sugar Baby Milik Mafia Tampan
8.0
Max tidak pernah menduga bahwa keputusannya membawa pulang Ella dari tempat pelelangan akan mengubah hidupnya. Meski mulanya Max membenci gadis polos berpenampilan kurang gizi itu, kehadiran Ella perlahan membawa kehangatan di kediamannya yang dingin. Berbagai kejutan dari Ella menumbuhkan benih cinta di hati Max. Kini, hubungan mereka harus menghadapi ujian berat, mulai dari konflik internal hingga pertaruhan hidup dan mati. Sanggupkah cinta mereka bertahan?
Sampul Novel THE DEVIL WIFE
8.3
Gaby merasa tertipu dan menolak keras dinikahi Gibran, pria yang dianggapnya penyakitan. Namun, tekanan keluarga membuatnya tak berdaya untuk membatalkan rencana tersebut. Di sisi lain, Gibran yang muak akan keangkuhan Gaby mulai menyerang balik dengan mengungkit rumor kehidupan liar calon istrinya. Pertikaian mereka pun pecah hingga berujung pada aksi saling hina dan tampar, mempertegas kebencian mendalam di tengah ikatan pernikahan paksa ini.