APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jerat Hasrat Tetangga Tampan

Jerat Hasrat Tetangga Tampan

Pernikahan Andini yang terasa dingin dan tanpa gairah seketika terguncang sejak kedatangan Andreas. Tetangga baru yang rupawan dan berusia lebih muda itu berhasil memantik kembali hasrat membara yang telah lama mati di dalam diri Andini. Walau sadar dirinya telah terikat komitmen pernikahan, bayang-bayang keintiman dengan Andreas terus mengusik benaknya. Kini, ia berada di persimpangan jalan, bimbang antara menjaga kesetiaan atau menyerah pada godaan memikat sang brondong.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Siapa wanita itu, Mas?" desakku lagi. Mataku menyorot tajam ke arah Pras yang berusaha untuk tersenyum, walau aku tahu senyumannya begitu kaku.

"Perkenalkan, saya Ratih," sergah wanita itu, berjalan dengan anggun ke arahku. Kini kami saling berhadapan. Rambutnya panjang seperti rambutku, tinggi kami juga sama. Hanya saja wanita yang bernama Ratih ini jauh lebih muda dariku.

Mataku menyipit, memperhatikan penampilan Ratih yang formal.

"Iya, dia Ratih," ucap Pras dari balik punggungku. "Dia–"

"Saya salah satu klien di perusahaan ini. Kebetulan saya bekerja sebagai AE dari salah satu PH yang akan bekerja sama dengan jaringan TV langganan ini," Ratih menjulurkan tangannya.

Terpaksa aku menyambut uluran tangannya.

"Benar, Ndin. Dia salah satu calon klien penting perusahaan," ucap Pras lagi, melempar senyum ke arah Ratih.

Aku manggut-manggut. "Saking pentingnya, sampai mengunci pintu ruangan segala?"

"Yah, begitulah. Kami harus membahas beberapa dokumen confidential, Ndin," terang Pras. Lantas, Ratih membereskan beberapa kertas yang berantakan di atas meja kerja Pras.

"Saya rasa cukup sekian pembahasannya, Pak," Ratih menukas sambil menenteng sejumlah dokumen. "Saya pamit dulu."

"Ah, ya. Makasih ya, Tih," tukas Pras.

Lalu, Ratih berhenti di depanku dan menyunggingkan senyum yang manis. Tapi entah kenapa aku merasa kalau senyum itu palsu.

"Oh ya, selamat ya, Bu Andini, atas perayaan pernikahan kalian yang kesepuluh. Pak Pras banyak bercerita soal keluarganya yang bahagia dan tentu saja istrinya yang cantik."

Aku tahu bola mata Ratih memperhatikan penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Trims," balasku singkat.

"Semoga pernikahan kalian langgeng," lanjut Ratih lagi. Saat wanita itu berjalan keluar, dia meninggalkan wanginya yang khas, semacam wangi mawar yang membuat kepalaku pusing.

*

"Sepertinya dia wanita yang ambisius," ucapku setelah menata makan siang di atas meja di ruangan Pras.

Pras duduk di sofa di seberangku. "Siapa?"

"Ratih."

"Yah, begitulah. Dia wanita muda yang pintar," Pras menyeruput kopi dari tumbler yang kubawa.

"Dia bukan selingkuhanmu kan?"

"Uhuk!" Tiba-tiba saja Pras tersedak kopinya. "Astaga, Sayang! Kenapa kamu bisa berpikiran begitu sih? Lagian tumben-tumbenan kamu cemburu."

"Sayang?" ulangku. "Kamu hanya memanggilku Sayang kalau kita sedang bercinta, Mas."

Tawa Pras berderai kencang. "Masa sih?"

Aku mendengus pelan. "Hitam atau abu-abu metalik. Kamu bahkan enggak tahu warna kesukaanku."

Kedua ujung alis Pras menyatu. "Apa maksudmu?"

"Aku tahu kamu membelikanku sebuah mobil kan? Sales-nya menelepon ke rumah," terangku.

"A-apa?" Pras membenarkan posisi duduknya.

"Kenapa kamu enggak bilang sih, Mas? Maksudku, aku belum butuh mobil baru. Lagian, mobil yang kupakai ini kan belum ada lima tahun. Terus, besok mobil itu bakalan datang ke rumah. Yah, bukannya aku enggak bersyukur. Aku senang sih. Tapi mobil itu mau ditaruh di mana, Mas? Garasi kita hanya cukup dua mobil. "

"Soal itu..." Pras mengusap tengkuknya berkali-kali.

Mataku menyipit curiga. "Itu mobil untukku kan?"

"Astaga! Tentu saja, Sayang! Maksudku, Andini, Sayangku. Aku hanya sedikit kesal saja. Bisa-bisanya sales itu menelepon ke rumah. Padahal aku mau memberimu kejutan. Tapi ya sudahlah." Pras menepiskan tangannya. "Sebenarnya, mobilmu mau kujual. Ada salah satu temanku yang ingin membelinya."

"Kenapa kamu enggak bilang, Mas? Aku suka mobil itu soalnya warnanya merah, warna kesukaanku."

Pras menggaruk-garuk pelipisnya. "Tadinya, aku mau cari yang warna merah tapi enggak ada. Cuma ada warna hitam dan abu metalik. Tapi kamu tahu kan kalau mobil itu keluaran terbaru dan lebih mahal?"

"Aku tahu kok."

"Sistem keamanannya juga lengkap. Ada dua airbag di belakang dan di depan. Pokoknya aku merasa aman kalau kamu nyetir pakai mobil baru itu."

"Makasih ya, Mas. Aku enggak nyangka kamu bakal memberiku hadiah mobil," ucapku.

Pras tertawa. "Kamu satu-satunya wanita yang kucintai di dunia ini, Ndin. Ingat kan, betapa besar perjuanganku untuk mendapatkanmu? Sampai akhirnya, kamu menerima cintaku, menikah denganku, dan memberiku dua anak yang lucu. Jadi, kurasa mobil baru itu memang layak untukmu."

Lantas, Pras mulai menyantap makan siangnya bersamaku. Namun seperti biasa, kami hanya makan dalam diam karena aku dan suamiku memang jarang ngobrol.

*

Aku menghela napas pelan saat melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Sepertinya aku tidak akan keburu mengejar kelas baking.

Jadi, aku berjalan santai saja melewati lobi. Namun, aku langkahku terhenti begitu melihat Ratih yang duduk di lobi gedung. Maksudku, dia masih berada di sini? Padahal sudah satu jam selepas dia pamit dari ruangan Pras.

"Ratih?" Tukasku yang kini berdiri menjulang di depannya.

Kepala wanita itu mendongak dan matanya langsung membulat. "Lho, Bu Andini?"

"Seharusnya aku yang kaget. Kenapa kamu masih ada di sini? Apa masih ada keperluan dengan suamiku? Apa aku sudah mengganggu waktu kalian?" cerocosku.

"Ah, enggak kok, Bu. Saya...sebenarnya sedari tadi saya sedang menunggu taksi online, tapi di-cancel terus. Mungkin karena daerah sekitaran sini memang macet kalau jam makan siang," terang Ratih.

Lalu aku menghempas diri di sampingnya. Dari gelagatnya aku tahu dia risih akan keberadaanku.

"Hm, bukannya kalau AE itu biasanya dapat fasilitas mobil kantor ya?" tanyaku.

"Iya, tapi mobilnya lagi di bengkel. Lagi pula, saya juga belum punya mobil pribadi."

"Ah, atau jangan-jangan kamu ya temannya Mas Pras yang mau membeli mobilku?" Tebakku asal.

"Eh?"

Aku menepiskan tangan. "Itu hanya asumsiku saja kok. Soalnya Mas Pras baru saja memberiku hadiah mobil baru. Dan mobil lamaku mau dibeli oleh temannya Mas Pras. Bisa saja kan itu dirimu? Tapi sepertinya bukan sih."

"Oh, begitu ya. Bukan saya kok yang mau membeli mobil Bu Andini," dia tersenyum kecut. "Sepertinya Pak Pras memang benar-benar mencintai Bu Andini ya, sampai dibelikan mobil baru segala. Menyenangkan sekali."

Aku hanya mengedikkan bahu. Dia tidak tahu kenyataan sebenarnya. "Yah, begitulah. Ngomong-ngomong, kamu sudah punya pacar?"

"Pacar?" Mata bulat Ratih mengerjap-ngerjap.

"Kurasa perempuan secantik kamu enggak mungkin jomlo kan?"

Ratih tertawa kecil sambil mengibaskan rambut panjangnya. "Well, aku bahkan sudah menikah."

"Oh ya?" Kini giliran mataku yang membelalak lebar.

Rambut Ratih bergoyang saat mengangguk pelan. "Aku sangat mencintai suamiku dan aku bahkan rela melakukan apa saja demi bersamanya."

Yah, seharusnya aku tidak berpikiran macam-macam tadi. Ternyata Ratih sudah menikah. Namun, dahiku mengerut melihat jari manisnya.

"Tapi, kenapa enggak ada cincin yang melingkar di jarimu?"

"Bu Andini juga enggak pakai cincin kawin kan?" Tembaknya.

"Ah, iya sih. Itu karena pernikahanku sudah berjalan sepuluh tahun dan kami saling percaya satu sama lain. Lagi pula cincin kawinku juga sudah enggak muat."

"Sama denganku. Aku dan suamiku juga saling percaya. Jadi, cincin itu enggak perlu."

Aku kembali mengecek pergelangan tanganku. "Mau kuantar? Aku masih punya banyak waktu sebelum menjemput kedua anakku."

"Terima kasih, Bu Andini. Tapi saya enggak mau merepotkan."

Aku lantas bangkit. "Yah, senang berkenalan denganmu, Ratih."

Ratih menyunggingkan senyum simpul dan aku pun segera menghilang dari pandangannya.

*

Saat kembali ke rumah, aku mendapati dapur yang masih berantakan. Aku berdecak kesal karena biasanya Miyem selalu membereskan dapur setelah memasak.

"Miyem!" panggilku sambil mengarah ke balik pintu yang menghubungkan dapur bersih dengan dapur kotor. Namun, ART-ku itu tidak kunjung menyahut.

"Miyem?!" panggilku lagi. Kali ini dengan nada yang sedikit jengkel. Aku berdecak heran. Kuputuskan untuk mengecek keberadaannya. Ternyata dia tidak ada di dapur kotor.

Aku lalu mendapati kantung belanjaannya dari pasar yang masih tergeletak di lantai.

"Astaga..." desisku sambil geleng-geleng kepala. Sayuran-sayuran ini kalau tidak langsung dicuci dan dimasukkan ke kulkas pasti akan layu. Heran, tidak biasanya Miyem lalai seperti ini.

Aku berkacak pinggang dan memperhatikan keadaan sekitar.

Lalu, mataku tertuju ke arah kamar Miyem. Jangan-jangan dia sakit? Aku pun jadi cemas.

Namun saat aku hendak melangkah ke kamar Miyem, aku mendengar suara aneh dari arah gudang.

"Ah, Om..."

Dahiku mengerut dalam sambil melangkah perlahan ke gudang.

"Om, enak banget. Terus Om..."

Napasku tercekat. Aku yakin benar itu suara Miyem. Tapi kenapa dia mendesah seperti itu, di gudang pula?

Langkahku semakin dekat dan melalui celah pintu gudang yang sedikit terbuka, aku menyaksikan tubuh Miyem yang tanpa busana bergoyang-goyang seirama.

Jantungku berdegup-degup tidak karuan. Astaga, Miyem!

Sambil menahan napas, aku menyipitkan mata, berusaha menangkap sosok pria yang menghentak ART-ku dari belakang.

Dan kini jantungku terasa mau copot begitu tahu siapa pria yang bermain gila dengan Miyem.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Orang Kaya yang Hidup Miskin
7.9
Nia terbiasa ditinggalkan sendirian oleh orang tuanya demi uang lembur, bahkan menjelang tahun baru. Enggan kesepian, ia membawa Siomay untuk menyusul mereka. Namun, Nia justru menyaksikan kenyataan pahit saat melihat kedua orang tuanya turun dari mobil mewah dan memasuki hotel bintang lima bersama seorang pemuda sebayanya. Mendengar percakapan yang meremehkan dirinya, Nia sadar bahwa kemiskinan keluarganya hanyalah kebohongan belaka. Kecewa dengan kepura-puraan mereka, ia pun memilih pergi.
Sampul Novel Cinta Dalam Perjodohan
9.4
Sayyidah terpaksa menjalani pernikahan yang tidak pernah ia inginkan karena perjodohan dari orang tuanya. Sang suami, Abbas, sangat jauh dari kriteria pria idamannya. Abbas hanyalah seorang yatim piatu yang sangat pendiam, selalu berpenampilan sederhana dengan gamis, dan kondisi keuangannya pun biasa saja. Di tengah jurang perbedaan ini, mampukah perasaan cinta akhirnya tumbuh di hati Sayyidah untuk sang suami? Saksikan perjuangan emosional mereka dalam menghadapi ikatan pernikahan ini.
Sampul Novel Cinta Sejatimu Kembali
8.7
Pernikahan empat tahun dan kehadiran buah hati tak mampu membuat Lina memiliki hati Rian sepenuhnya. Sang suami masih dibayangi kenangan masa lalu yang belum usai. Luka hati Lina kian mendalam ketika cinta pertama Rian tiba-tiba hadir kembali. Sadar bahwa ketulusannya selama ini tidak pernah berbalas cinta, Lina kini harus mengambil keputusan tersulit. Ia dihadapkan pada pilihan pahit untuk merelakan Rian pergi demi mengejar kebahagiaannya sendiri.
Sampul Novel Cinta Untuk Farisa
8.1
Farisa memutuskan pergi ke kota demi memenuhi pesan terakhir sang ibu untuk melacak keberadaan ayahnya. Dalam perjalanannya, ia diselamatkan oleh seorang lelaki yang tulus membantunya. Namun, saat sang ayah berhasil ditemukan, Farisa mendapati kenyataan pahit bahwa posisinya telah diambil alih oleh sosok lain yang mengaku sebagai anak kandung. Di tengah situasi rumit ini, Farisa dihadapkan pada pilihan sulit: merelakan semuanya atau berjuang merebut kembali hak serta pengakuan yang menjadi miliknya.
Sampul Novel Cinta Yang Sengsara
8.6
Dalam keadaan hamil, Naraya diusir dan dicampakkan oleh suaminya, Alvano. Badai fitnah kejam yang disebarkan oleh perempuan asing bernama Vanya sukses meruntuhkan pernikahan mereka. Tanpa ada satu pun orang yang membantu, Naraya terpaksa berjuang sendirian demi melahirkan serta mengasuh anaknya. Sementara itu, Alvano sama sekali tidak tahu bahwa anak yang dibuangnya adalah darah dagingnya sendiri. Akankah semua kebohongan ini terbongkar dan membawa penyesalan mendalam bagi Alvano?
Sampul Novel Hasrat Liar Polwan
7.9
Kebutuhan biologis adalah hal manusiawi yang tidak bisa diabaikan oleh siapa pun. Tanpa memandang status sosial, jabatan, kasta, ataupun kekayaan, kepuasan batiniah tetap menjadi aspek penting bagi setiap individu. Kisah romansa modern ini menyoroti sisi terdalam manusia di balik seragam profesi. Hasrat dan nafsu yang membara membuktikan bahwa kebutuhan batin tidak akan pernah bisa dibatasi oleh aturan serta hierarki duniawi.