APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel JEJAK CINTA DI SISIKU

JEJAK CINTA DI SISIKU

Anindita kebingungan mencari Zack, kekasihnya yang lenyap secara misterius. Saat mencari, ia bertemu Dirgantara, sosok pelindung yang masih berduka atas kematian tragis istrinya. Ketika Anindita mulai jatuh hati pada Dirgantara, Zack mendadak kembali membawa rahasia besar. Takdir pun perlahan membongkar hubungan kelam masa lalu Zack, Dirgantara, dan mendiang istrinya. Siapakah yang akhirnya akan dipilih oleh Anindita?
Bab
Bagikan

Bab 1

Anindita terpaksa menemani Mega ke Lapas untuk membesuk Hosen. Mereka bertiga berteman dekat sejak kecil, jadi Anindita tak bisa menolak saat Mega merengek meminta Anindita pergi bersamanya membesuk Hosen yang sudah dua tahun ini berpacaran dengan Mega.

"Hubungan kalian terlalu rumit. Kau masih saja membela Hosen yang tak bisa berhenti jadi pemakai narkoba. Kalau saja kalian berdua bukan sahabatku sejak masih memakai popok mungkin aku memilih untuk membiarkanmu pergi sendiri." Anindita bersungut-sungut sembari membawa dua kantong belanjaan berisi berbagai pesanan Hosen yang harus dibawa oleh Mega dan Anindita.

"Siapa tahu dengan perhatian dari kita berdua, pacar dan sahabat kesayangannya ini nanti setelah bebas dari penjara maka si Hosen akan berhenti jadi pemakai narkoba." Mega menenangkan Anindita.

"Kau ini selalu membelanya. Kalau nanti dia justeru jadi pengedar bagaimana? Kau masih akan membelanya sampai ke langit biru?" Anindita mulai hampir meledak.

"Sudah.. tenangkan dirimu. Aku akan membawa barang-barangnya. Berat ya?" Mega mengambil alih kantong belanjaan berisi kebutuhan yang dipesan Hosen dari kedua tangan Anindita.

Kedua gadis itu memasuki Lapas yang dijaga ketat oleh sipir bertampang sangar. Anindita merasa risih harus melewati penjagaan yang sangat ketat, wajah kesalnya membuat Mega menahan tawa. Setelah melewati dua pintu penjagaan, di mana mereka digeledah dengan sopan dan barang bawaan mereka pun diperiksa dengan begitu teliti maka tibalah Anindita dan Mega di sebuah ruangan tempat mereka bisa bertemu dengan narapidana yang akan dibesuk.

Hosen terlihat sumringah saat berjalan mendekati Mega dan Anindita. Seorang lelaki ikut bersama Hosen di belakangnya mengenakan pakaian berwarna biru cerah dengan tulisan di punggungnya 'warga binaan'. Hosen memperkenalkan lelaki itu kepada Mega dan Anindita.

"Ini Zack, teman satu kamarku. Dia berasal dari Bogor, jadi jarang dibesuk keluarganya makanya aku bawa kemari biar ikut ngerasain dibesuk." Hosen nyengir sambil memeriksa barang bawaan Mega.

"Aku bawakan handuk dan sikat gigi baru. Kalau beli di sini kan lebih mahal. Juga ada rendang buatan ibuku. bisa dibagi-bagi untuk teman sekamarmu." Mega dan Hosen memeriksa barang bawaan bersama-sama.

"Namaku Anindita. Teman Hosen dan Mega." Anindita berinisiatif memperkenalkan dirinya pada Zack.

"Iya aku tahu. Hosen selalu menceritakan tentang kalian berdua." Zack tersenyum kepada Anindita, ada lesung pipi di kedua belah pipinya yang membuatnya terlihat sangat manis.

"Dia titip salam beberapa kali buat kamu Nin, katanya terakhir kamu ke sini dua Minggu lalu dia lihat kamu dari jauh. Aku sih gak yakin kalau dia beneran naksir kamu makanya gak aku sampaikan salamnya. Mana ada sih cowok naksir cewek jutek bin judes kayak Anindita." Hosen menggoda Anindita yang tersipu malu di hadapan Zack yang baru ia kenal.

"Jadi kamu sendirian di sini Zack? Kasus narkoba juga ya? Kok bisa ketangkap di sini?" Mega bertanya pada Zack penuh penasaran.

"Panjang ceritanya. Yah namanya juga pertemuan hidup. Kalau kata orang penjara mah, yang masuk penjara pasti udah ada janjinya jauh sebelum kita lahir. Jadi menghindar seperti apa pun ya pasti masuk juga." Zack berusaha mengelak untuk menceritakan kisahnya.

Hosen mencoba mencairkan suasana dengan banyolannya yang selalu dibalas Anindita dengan nasihat dan ceramah panjang lebar. Anindita begitu perduli pada Hosen dan Mega. Ia sangat ingin agar Hosen menyadari kesalahannya dan berhenti menggunakan narkoba.

"Nanti setelah bebas mending kalian nikah aja deh. Kamu, Hosen cari kerja yang bisa kamu kerjakan supaya bisa menghidupi Mega nantinya." Omelan Anindita mulai membuat Hosen gerah.

"Iya ustadzah. Aku di sini belajar di bimker.. belajar membuat meubel. Alhamdulillah bisa belajar dengan cepat."

"Kamu kan ada bakat terpendam dalam bidang seni lukis dan pahat. Cocok itu belajar membuat lemari dan tempat tidur. Nanti bisa jadi mas kawin kita." Mega yang dimabuk cinta kalau bicara soal menikah begitu antusias dan penuh semangat.

"Kamu kalau bicara soal kawin aja semangat. Pikirkan nanti setelah menikah kalian mau hidup seperti apa, tinggal di mana, kerja atau usaha apa. Yang penting harus berhenti pake narkoba. Denger ya Hosen." Anindita tak kalah bersemangat memberi nasihat untuk Hosen.

"Iya. Aku ngerti. Udah kamu ngobrol sama Zack aja deh. Aku mau ngobrol sama Mega berdua." Hosen mengajak Mega untuk mengobrol di salah satu meja yang kosong meninggalkan Zack dan Anindita berdua.

Zack memandang Anindita dengan tatapan mata teduh. Ia mengamati Anindita yang terdiam menunduk.

"Aku boleh meminta nomor ponselmu? Kalau aku punya kesempatan aku akan meneleponmu." Zack memulai pembicaraan dengan Anindita.

"Aku tak punya kertas untuk menuliskannya." Anindita berkata dengan sedikit ketus.

"Kau bisa menyebutkannya, aku akan menyimpannya." Zack mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya dengan hati-hati dan sembunyi-sembunyi. Beberapa sipir yang mengawasi orang-orang di ruang besukan tampak sedang mengobrol seru tentang pertandingan sepak bola liga Eropa.

Anindita tak punya alasan lain untuk menghindari Zack. Ia menyebutkan nomor ponselnya dan Zack bersegera menyimpan di ponselnya.

Mereka tak banyak bicara setelahnya, Anindita hanya terdiam sambil sesekali melirik ke arah Mega dan Hosen yang asyik bercengkerama.

Setelah waktu besukan habis, Anindita dan Mega pamit untuk pulang. Hosen kelihatan begitu berat hati membiarkan Mega dan Anindita melangkah keluar dari ruang besukan. Anindita menemukan Zack mengedipkan sebelah matanya saat pandangan mata keduanya bertemu. Anindita tersipu dan menggandeng lengan Mega terburu-buru menuju ke pintu besar yang terbuat dari besi berat. Anindita seperti kehabisan napas ketika mereka melangkah keluar menghirup udara di luar lapas.

"Aku melihatnya." Mega memasang tampang imutnya.

"Kau ini.. melihat apa sih? Berhenti menggodaku." Anindita menuju parkiran dengan tergesa-gesa.

"Dia mengedipkan matanya padamu. Zack menyukaimu kan? Hosen beberapa kali menceritakan padaku kalau Zack menanyakan banyak hal tentang dirimu. Aku merasa skeptis saat Hosen menyuruhku menyampaikan salam darinya kepadamu. Bukankah kau tidak menyukai pecandu narkoba. Zack itu ditangkap saat mencoba menyelundupkan narkoba di bandara."

Anindita menyembunyikan wajahnya yang memerah dari Mega sembari mencoba menstarter motor dan mengeluarkannya dari parkiran. Ia berpura-pura tak mendengar Mega bicara.

"Kau sudah lihat wajah tampannya kan? Kau pasti tertarik padanya, senyumannya manis banget."

"Naik cepat! Atau mau kutinggal di sini?" Anindita menggertak Mega yang tergopoh-gopoh naik ke atas boncengan motor.

Anindita tak mau terlalu cepat mengambil kesimpulan, dia baru hari ini bertemu Zack meskipun menurut pengakuan Zack sejak awal Anindita datang mengunjungi Hosen lelaki itu sudah memperhatikan dirinya dari kejauhan. Entah mengapa Anindita takut membayangkan jika harus bersama lelaki dengan catatan hitam seperti Zack. Lagipula lelaki itu bukan asli berasal dari kota ini. Anindita takut untuk berharap lebih jauh jika terjadi suatu hubungan spesial di antara keduanya, membayangkannya saja membuat napas Anindita terasa sesak.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gairah Liar dan terpendam Sang CEO
9.3
Nindy terperangkap dalam situasi menegangkan bersama Devien. CEO yang terobsesi dengannya itu bertekad menguasai Nindy secara paksa. Teriakan histeris Nindy mencari bantuan berakhir sia-sia, karena ruangan kedap suara mengunci semua jeritannya dari dunia luar. Hasrat liar yang telah lama dipendam Devien kini meledak sepenuhnya. Ia bertindak tanpa kendali untuk memuaskan nafsunya, mengabaikan setiap penolakan keras yang disuarakan oleh Nindy.
Sampul Novel Guruku Suamiku
8.4
Demi menyelamatkan warisan keluarga Darmawan, Arjuna harus memenuhi wasiat mendiang ayahnya untuk menikahi Asmara, siswi SMK berumur 17 tahun. Penolakan akan membuatnya kehilangan segalanya, sementara ayah Asmara, Pak Banu, terancam bui akibat kasus kecurangan bisnis masa lalu. Kini, Arjuna harus membujuk gadis muda tersebut agar bersedia menikah demi masa depan mereka berdua. Mampukah pernikahan akibat paksaan ini berjalan dengan lancar?
Sampul Novel MENGEJAR MIMPI KE NEGERI SAKURA
9.3
Tumbuh tanpa ayah membuat Aisyah Rana, gadis keturunan Jepang, kerap dihina sebagai anak haram di sekolah. Kemarahan Abah dan tangis Ibu setiap kali ia bertanya justru memicu tekadnya untuk kuliah di Jepang demi mengungkap kebenaran. Walau ditentang keras oleh orang tuanya, Rana pantang menyerah memperjuangkan impiannya tersebut. Di tengah perjuangan yang penuh luka ini, hadir seorang pemuda tulus yang diam-diam selalu setia melindungi dan menjaga hatinya.
Sampul Novel Proses kedewasaan
9.1
Cerita pendek romantis modern khusus pembaca 18 tahun ke atas ini mengupas kedewasaan dalam hubungan pria dan wanita. Kisahnya menyoroti dinamika intim di balik pintu tertutup secara jujur dan berani. Berfokus pada proses pendewasaan serta hasrat mendalam, alurnya menyajikan interaksi penuh gairah bagi audiens dewasa yang mencari narasi sensual.
Sampul Novel Sang Pelakor Istimewa
8.9
Dunia Kala runtuh usai ayahnya tewas tertembak dan ibunya mengalami cedera otak berat. Saat dikhianati kekasihnya, Robert sang paman malah menjadikannya jaminan bagi keluarga konglomerat Keller. Demi membiayai pengobatan sang ibu, Kala terpaksa menjadi istri kedua William dan Esmeralda untuk memberikan mereka keturunan. Terperangkap aturan kuno keluarga tersebut, ia terjebak intrik rumit dan mulai mendambakan cinta tulus dari William di balik setiap sentuhan dinginnya.
Sampul Novel Terjebak Pesona Seuami Tanteku
8.4
Baru sebulan membina rumah tangga dengan Dion, Luna Valleryn justru didera kesepian akibat suaminya yang terlalu sibuk bekerja. Saat berkunjung dan menginap di kediaman tantenya, Maya, Luna merasa iri menyaksikan kehangatan hubungan sang tante dengan suaminya, Berend. Ia pun berharap bisa memiliki sosok suami seperti Berend. Tanpa diduga, Berend justru mulai mendekati dan menggoda Luna, hingga akhirnya membawa mereka terjerumus ke dalam jalinan perselingkuhan yang terlarang.