
Jejak Cinta di Atas Abu
Bab 2
Aku membelalak tidak percaya. Baru sekarang aku sadar, Sandi ternyata membenciku sedalam ini.
Begitu bencinya sampai kematianku menjadi hal yang layak dirayakan baginya.
Namun, Sandi, aku benar-benar sudah mati, hanya saja kamu tidak percaya.
Mobil berhenti di depan sebuah toko gaun pengantin. Sandi melangkah masuk dengan langkah lebar dan cepat.
Dia terlihat begitu antusias, persis seperti hari ketika kami diam-diam menikah, lalu dia mengajakku ke toko gaun pengantin ini.
Saat itu, dia tidak sabar ingin melihatku mengenakan gaun pengantin.
Dia memelukku dengan penuh semangat, berkata bahwa aku adalah pengantin tercantik di dunia ini.
Namun kini, dia memandang Irene yang mengenakan gaun pengantin dengan tatapan lembut yang sama.
Dia menyibakkan rambut yang jatuh di telinga Irene dengan penuh perhatian, lalu berkata dengan suara lembut, "Cantik."
Irene menunduk malu-malu dan tersenyum. Ketika dia mendongak, matanya sudah penuh dengan air mata.
"Sandi, penantianku berakhir."
Aku terpana menyaksikan Irene mencium pipi Sandi.
Aku ingin segera menghentikan semua ini.
Namun, tanganku justru menembus tubuh Sandi, dan aku hanya bisa menatapnya dengan linglung saat dia menyematkan cincin ke jari tengah Irene.
Bagaimana bisa?
Kenapa harus Irene?
Bukannya Irene yang menyebabkan kematian ibu Sandi?
Sandi!
Aku membuka mulut, suara serakku dipenuhi kemarahan dan kesedihan.
Namun tubuhku terasa mati rasa. Aku hanya bisa menyaksikan semua ini dengan putus asa.
Irene dengan penuh semangat memandang cermin, lalu tiba-tiba bertanya, "Omong-omong, Sandi, dia nggak apa-apa, 'kan?"
Kita semua tahu siapa "dia" yang dimaksud.
Ekspresi Sandi berubah dingin, bahkan tampak agak jengkel.
"Bisa apa dia? Itu cuma trik kecil."
"Kalau begitu, apa kita akan mengundangnya ke pernikahan kita?"
Sandi menundukkan pandangannya, menyembunyikan emosi di dalamnya. Lalu, senyum jahat tiba-tiba muncul di sudut bibirnya.
"Tentu saja harus diundang. Dia orang penting, 'kan."
Saat itu aku langsung mengerti, Sandi ingin aku menyaksikan pernikahannya dengan mata kepalaku sendiri.
Bagaimanapun, ini adalah adegan yang selama ini aku nantikan.
Dulu, karena belum mendapatkan restu dari ibunya, kami hanya menikah tanpa mengadakan pesta pernikahan.
Kemudian, pesta pernikahan pun menjadi harapan yang terlalu mewah bagiku.
Karena ibunya meninggal terkena serangan jantung dan tidak tertolong.
Pada malam saat ibunya meninggal, panggilan telepon terakhirnya adalah untukku.
Karena itu, Sandi merasa wajar mencurigai bahwa akulah yang menyebabkan kematian ibunya.
Pada hari pemakaman ibunya, Sandi memaksaku berlutut di depan makam selama sehari semalam.
Hari itu hujan sangat deras. Kami saling menatap di bawah hujan.
Matanya penuh dengan kekecewaan dan kebencian.
Dia berkata, "Yulia, mulai sekarang, kamu dan aku tidak akan berhenti sampai salah satu dari kita mati."
Sejak saat itu, aku yang sebelumnya menjadi kekasihnya, berubah menjadi musuhnya.
Dia membenciku, mempermalukan aku, tetapi tidak mengizinkanku pergi darinya.
Bahkan dia membawa wanita lain pulang untuk bermalam.
Ketika dia melihat mataku memerah, dia hanya tertawa kecil sambil menepuk wajahku dengan mengejek, "Yulia, rasanya sakit, ya? Tapi, ini semua salahmu sendiri. Siapa yang bisa kamu salahkan?"
Aku berusaha menjelaskan, tetapi itu hanya membuat Sandi makin kejam.
Dia tidak pernah meragukan kesimpulannya, karena dia tahu ibunya tidak menyukaiku.
Bahkan ibunya pernah berkata bahwa seumur hidup aku tidak akan pernah diizinkan masuk ke rumah Keluarga Subowo.
Untuk itu, Sandi sering bertengkar dengannya, bahkan rela memutus hubungan dengan Keluarga Subowo, hanya demi bersamaku.
Namun, wanita yang dia cintai menjadi penyebab kematian ibunya.
Bagaimana mungkin Sandi bisa menerima itu?
Tak lama, Irene pun pergi.
Sandi seperti baru teringat padaku.
Dengan baik hati, dia menghapusku dari daftar hitamnya. Lalu, dengan satu tangan mengetuk-ngetuk setir, dia menekan nomorku dengan tangan yang lain.
Beberapa saat kemudian, aku melihat alisnya yang tadinya santai kini mulai berkerut.
Dia memukul setir dengan kesal untuk melampiaskan amarahnya.
"Yulia, berani-beraninya kamu nggak menjawab teleponku. Apa kamu cari mati?"
Namun, dia tidak tahu, aku bukan tidak ingin menjawab teleponnya.
Aku sudah tidak bisa menjawabnya lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





