APKDock Logo
Sampul Novel Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan

Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan

8.9 / 10.0
Hidup miskin bersama Randi, seorang kuli bangunan berpenghasilan minim dan berwatak keras, membuat Lina frustrasi. Di tengah impitan ekonomi, ia berpaling pada Damar, tetangganya yang mapan. Meski bantuan materi dan perhatian dari Damar diam-diam menyelesaikan masalah keuangannya, rasa bersalah perlahan menyiksa Lina setiap kali melihat perjuangan suaminya. Kini, ia terjebak dalam dilema besar antara mengejar kelayakan hidup atau menjaga kesetiaan pernikahannya.

Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan Bab 1

Pagi itu matahari baru saja naik ketika Lina sudah berdiri di dapur sempit rumah kontrakannya. Dapur yang catnya mulai mengelupas, dengan meja kayu yang sudah retak di ujungnya, dan kompor gas tua yang api birunya sering berubah jadi kuning. Aroma kopi hitam menguar, bercampur dengan bau minyak goreng dari wajan yang mulai gosong di pinggirannya.

Di atas meja hanya ada dua butir telur dan segenggam sayur kangkung yang layu. Lina menatapnya cukup lama sebelum menarik napas panjang.

"Dua butir telur buat empat orang... ya, paling aku kasih buat anak-anak aja," gumamnya pelan.

Ia mengaduk kopi di gelas kecil, kemudian meletakkannya di atas meja ruang tamu yang sederhana. Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah kaki berat dari kamar-Randi, suaminya, keluar dengan wajah masam dan rambut acak-acakan.

"Belum siap juga makanannya, Lin?" suaranya agak tinggi, meski belum sepenuhnya marah.

Lina menoleh cepat, menahan diri agar tidak menjawab dengan nada yang sama. "Sebentar, aku lagi masak, Mas. Telurnya tinggal digoreng."

Randi mendengus kecil. Ia duduk di kursi plastik dekat pintu, membuka dompet lusuhnya, lalu mengambil selembar uang dua puluh ribu. "Ini buat belanja hari ini."

Lina menatap uang itu tanpa bergerak. "Cuma ini, Mas?"

"Cuma itu," jawab Randi datar. "Kemarin upahku baru cair separuh, sisanya minggu depan. Jangan banyak tanya, Lin. Uang nggak bisa tumbuh sendiri."

Lina menggigit bibirnya. Rasanya ingin sekali menjawab bahwa dua puluh ribu tidak cukup untuk membeli beras, sayur, minyak, dan kebutuhan anak-anak yang harus sekolah. Tapi ia tahu, percuma berdebat. Ujung-ujungnya hanya akan membuat Randi tersinggung.

"Baik, Mas," jawabnya pelan sambil menerima uang itu.

Randi berdiri, meminum kopinya seteguk, lalu mengenakan topi lusuh dan jaket kusamnya. "Aku berangkat dulu. Nanti sore pulangnya agak malam, ada lembur di proyek."

Lina hanya mengangguk. Begitu suara motor suaminya menghilang di tikungan, ia duduk di kursi ruang tamu dan menatap uang dua puluh ribu itu lama sekali.

"Bagaimana aku bisa cukupin semuanya..." bisiknya, lirih sekali.

Siang hari, Lina pergi ke warung langganannya membawa uang itu. Ia membeli beras sekilo, minyak goreng setengah liter, dan sedikit tahu tempe. Uang di tangannya nyaris habis, bahkan tanpa sempat membeli kebutuhan anak-anak. Ia menatap sisa koin di telapak tangannya dengan getir.

Saat ia berjalan pulang melewati halaman rumah tetangga, matanya tak sengaja bertemu dengan seorang pria yang sedang memperbaiki kabel di depan rumahnya. Pria itu tinggi, berkulit sawo matang, dan memakai seragam berwarna oranye bertuliskan PLN.

"Pagi, Bu Lina," sapa pria itu sambil tersenyum ramah.

Lina terkejut sedikit. "Oh, Pak Damar... pagi. Lagi perbaiki listrik, ya?"

"Iya, kabelnya korslet sejak semalam," jawab Damar santai. "Istri saya sudah teriak-teriak tadi malam, takut kulkasnya rusak."

Lina tertawa kecil. "Bu Rina memang cerewet, tapi baik."

"Iya, itu betul," jawab Damar sambil tersenyum lebar. Pandangannya sempat menatap Lina sedikit lebih lama dari seharusnya, sebelum ia kembali fokus pada pekerjaannya.

Tatapan itu membuat dada Lina berdebar aneh. Ia buru-buru berpaling, melanjutkan langkah pulang. Namun entah kenapa, senyum ramah Damar itu terus terbayang di kepalanya.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa-atau setidaknya terlihat begitu dari luar. Tapi dalam diam, ada sesuatu yang mulai berubah di dalam hati Lina.

Setiap kali Damar lewat di depan rumahnya, ia merasa ada kehangatan yang aneh, sesuatu yang membuatnya ingin menyapa. Kadang Damar sekadar melambaikan tangan, kadang hanya tersenyum kecil. Tapi perhatian sekecil itu sudah cukup membuat Lina merasa... dilihat.

Suaminya, Randi, hampir tak pernah bertanya bagaimana harinya berjalan. Pulang kerja hanya untuk makan, mandi, lalu tidur. Setiap keluhan Lina soal kebutuhan rumah tangga selalu dijawab dengan dingin.

"Kalau kurang, ya dihemat. Aku juga capek kerja tiap hari, Lin," kata Randi suatu malam sambil menatap layar ponsel bututnya.

Lina tidak menjawab. Ia hanya menatap wajah suaminya yang semakin asing. Lelaki itu dulu begitu hangat di awal pernikahan mereka. Tapi sekarang, seolah antara mereka hanya ada kewajiban, bukan kasih.

Dan di saat seperti itu, Damar datang seperti angin segar yang membawa kehangatan yang sudah lama hilang.

Suatu sore, ketika Lina sedang menjemur pakaian di halaman, Damar datang menghampiri pagar rumahnya.

"Bu Lina, boleh pinjam ember? Ember di rumah bocor, Rina lagi nyuci," katanya sambil tersenyum.

"Oh, tentu boleh. Tunggu sebentar ya," jawab Lina. Ia mengambil ember biru dari dapur dan menyerahkannya lewat pagar.

"Terima kasih, Bu Lina. Kalau nggak ada ibu, repot juga saya," ujar Damar dengan nada sedikit bercanda.

Lina tersenyum malu. "Ah, biasa aja, Pak Damar. Tetangga kan harus saling bantu."

"Betul," jawab Damar, lalu menatap Lina dengan lembut. "Tapi nggak semua tetangga sebaik Ibu."

Kalimat itu membuat Lina terdiam. Ia tahu Damar tidak bermaksud apa-apa, tapi cara tatapannya membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

Malam itu, ia memikirkan kata-kata Damar berkali-kali. Ada rasa bersalah yang mulai tumbuh, tapi juga ada rasa yang tak bisa ia tolak.

Beberapa minggu kemudian, Lina mulai sering bertemu Damar tanpa sengaja. Kadang di warung, kadang di jalan saat sama-sama mengantar anak ke sekolah. Mereka berbincang ringan, lalu tertawa kecil. Semuanya tampak sederhana... tapi di balik kesederhanaan itu, ada getaran yang makin sulit disembunyikan.

Rina, istri Damar, bekerja di toko pakaian dan sering pulang larut malam. Sementara Randi semakin sibuk dengan proyek barunya. Keadaan itu memberi ruang bagi mereka berdua untuk saling melihat-dan akhirnya, saling mencari.

Suatu hari, hujan turun deras ketika Lina sedang pulang dari pasar. Ia berteduh di teras rumah Damar yang kebetulan paling dekat. Damar yang baru saja pulang kerja melihatnya dan langsung menawarkan masuk.

"Masuk aja dulu, Bu Lina. Hujannya deras banget," katanya sambil mengambil handuk kecil.

Lina sempat ragu. Tapi hujan begitu lebat dan pakaiannya sudah basah kuyup. Ia pun mengangguk dan melangkah masuk ke ruang tamu rumah itu.

"Terima kasih ya, Pak Damar. Saya ganggu aja."

"Ah, nggak apa-apa. Rina belum pulang, anak-anak juga di rumah ibunya. Cuma saya sendiri," jawab Damar sambil menuang teh hangat ke cangkir.

Suasana menjadi canggung sejenak. Hanya suara hujan yang terdengar di luar.

Lina menatap foto keluarga Damar di dinding. Rina tampak bahagia dalam foto itu, memeluk dua anak kecilnya. Ada rasa iri yang tiba-tiba menyelusup ke dada Lina-sesuatu yang tak seharusnya ia rasakan.

"Keluargamu kelihatan bahagia," katanya pelan.

Damar tersenyum tipis. "Bahagia itu kadang cuma di foto, Bu Lina. Nyatanya nggak sesederhana itu."

Lina menoleh, menatap wajah Damar yang tampak letih. Tatapan mereka bertemu, dan waktu seolah berhenti sesaat. Ada keheningan panjang yang tak nyaman tapi juga tak ingin diputus.

Sampai akhirnya, Damar memalingkan wajah dan berkata lirih, "Kadang kita cuma butuh seseorang buat didengar. Bukan dihakimi."

Lina tidak tahu kenapa hatinya bergetar saat mendengarnya. Ia tahu percakapan itu berbahaya, tapi entah kenapa terasa begitu hangat.

Malam itu menjadi awal dari hubungan yang berbeda. Setelah kejadian itu, mereka mulai sering bertukar pesan singkat. Awalnya hanya sapaan biasa, lalu menjadi obrolan panjang setiap malam. Mereka mulai curhat, saling mengeluh tentang pasangan masing-masing, dan perlahan... saling menenangkan.

Beberapa bulan berlalu, dan perubahan dalam hidup Lina mulai terlihat. Ia tidak lagi kebingungan soal uang belanja. Ada saja alasan setiap kali ia bisa membeli sesuatu yang sebelumnya mustahil.

Ketika Randi pulang membawa nasi bungkus dari warung murah, Lina sudah menyiapkan lauk ayam goreng dan sambal terasi yang menggoda. Randi sempat heran, tapi tidak menanyakan lebih jauh. Ia hanya berpikir mungkin istrinya mendapat tambahan uang dari saudara.

Namun bagi Lina, setiap suap makanan kini terasa seperti dosa yang manis. Ia tahu sumbernya bukan dari kerja keras suaminya, melainkan dari pertemuannya yang makin sering dengan Damar.

Kadang Damar memberinya uang "pinjaman" untuk alasan sederhana-membeli susu anak, memperbaiki atap bocor, atau sekadar mengganti sandal anaknya yang putus. Tapi Lina tahu, tidak ada pinjaman tanpa maksud. Ia tahu, ia telah melewati batas.

Malam-malamnya sering diisi penyesalan, tapi setiap kali Randi kembali dengan wajah letih tanpa senyum, hatinya justru merasa semakin dingin.

"Kalau aja kamu mau berubah, Mas," bisiknya suatu malam sambil menatap punggung suaminya yang tertidur. "Aku nggak akan sejauh ini..."

Hari demi hari, perasaan bersalah itu tumbuh bersama ketergantungan. Lina tak bisa berhenti bertemu Damar, meski hatinya tahu itu salah. Damar pun semakin berani. Kadang ia datang membawa makanan, kadang uang belanja, dan selalu dengan alasan yang terdengar logis.

Sampai suatu sore, saat matahari mulai tenggelam, Rina-istri Damar-melihat sesuatu dari balik jendela rumahnya. Lina dan Damar sedang berbincang terlalu lama di depan rumah Lina, terlalu dekat, terlalu akrab.

Tatapan Rina menajam, bibirnya mengepal. Ia tidak bicara apa pun malam itu. Tapi sejak hari itu, tatapannya kepada Lina tak lagi sama.

Sementara Lina, tanpa sadar, telah menanam benih kehancurannya sendiri.

Di malam yang sunyi, Lina duduk sendirian di ruang tamu. Di tangannya, ada uang beberapa lembar yang baru diberikan Damar sore tadi. Ia menatapnya dengan pandangan kosong, lalu menunduk.

Tangannya bergetar, hatinya gemetar. Ia tahu ia sedang bermain api yang bisa membakar seluruh hidupnya kapan saja. Tapi ketika bayangan wajah Randi melintas di pikirannya-wajah lelah, dingin, tanpa perhatian-ia justru merasa hampa.

"Setidaknya... aku merasa dihargai," bisiknya lirih, seolah membenarkan kesalahannya sendiri.

Namun jauh di dalam dirinya, ia tahu, tidak ada kebahagiaan yang benar-benar lahir dari kesalahan. Hanya waktu yang menunggu untuk membongkarnya.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Antara Aku, Kau dan Ibu Tiriku
9.6
Ibu tiriku menikah dengan ayah 8 tahun lalu, dia dari keluarga yang sangat kaya, entah mengapa dia bisa menikah dengan Ayah yang pekerjaannya hanya bermain wanita dan menikahi yang dia sukai, tetapi Ayahku memang terlihat tampan, dengan badan yang kekar dan aura wajah yang sangar, mungkin itu menjadi daya pikatnya terhadap wanita-wanita, entahlah, aku tidak begitu jelas, dan Ayah pun jarang pulang. dia tidak berada di rumah selama berhari-hari dan tidak tahu cara mengurus keluarga. Aku hanya tinggal berdua dengan Ibu tiriku, aku di anggap anaknya sendiri, tetapi kebiasaan Ibu berpakaian Sexy sangat menggangguku. AKu menyukai seorang gadis, dia teman SMA ku dulu, Nama nya Rania. AKu sangat menyukainya, tetapi Ibu tiriku?...
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai dari Laurence Andrews untuk ke-99 kalinya. Bukannya peduli, Laurence malah mengusir Josie dari mobil demi menerima telepon dari sang mantan, Rosalie Harris. Laurence terus meremehkan Josie dan yakin istrinya tidak akan pernah pergi. Namun, ia tidak sadar bahwa kesabaran Josie telah habis akibat terus diabaikan. Di saat yang sama, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie agar segera bercerai dan pergi dari negara itu selamanya.
Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan kampus Bunga mendadak gempar setelah ia mengetahui kebenaran yang mengejutkan. Ezza, pria yang dijodohkan dengannya dan kini sah menjadi suaminya, tiba-tiba hadir sebagai dosen baru di sana. Kemunculan Ezza yang tidak disangka-sangka ini langsung memicu kecurigaan besar dalam benak Bunga. Ia pun mulai menyangsikan tujuan sebenarnya dari sang suami. Apakah ada rencana rahasia yang disembunyikan Ezza, ataukah semua ini murni ketidaksengajaan?
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Niat tulus Rheina menyelamatkan sahabatnya dari tuan tanah malah berujung pelik. Sang ayah justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat, menyeret Rheina ke dalam lingkaran konflik keluarga yang kelam dan merusak hidupnya. Di tengah kerasnya tekanan hidup yang dipenuhi kata kasar dan adegan dewasa, gadis lugu ini terjebak dalam cinta segitiga yang rumit. Saksikan perjuangan emosional Rheina menghadapi takdirnya yang sarat liku.
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Nasib malang menimpa seorang gadis setelah dikhianati dan dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Begitu beranjak dewasa, ia dipaksa menghadapi kenyataan pahit demi menjalani takdir kelam yang tak terhindarkan. Tanpa ada pilihan lain, ia harus bersedia menjadi istri dari seorang gembong narkoba yang sangat ditakuti. Kini, kehidupannya sepenuhnya terperangkap dalam pusaran dunia hitam mafia yang sarat akan intrik berbahaya serta ancaman maut yang terus mengintai.
Sampul Novel Kekasihku Meninggalkanku di Hari Pernikahan
8.0
Hari pernikahan Cherish hancur seketika saat Diego pergi begitu saja setelah menerima sebuah telepon. Kejadian itu membuat nenek Cherish murka hingga muntah darah dan akhirnya meninggal di rumah sakit tanpa ada yang membantu. Di tengah kedukaan di kamar mayat, Diego justru menghubungi Cherish untuk meminta donor darah bagi Zoey yang terluka. Dengan tegas, Cherish mengakhiri hubungan mereka dan pergi. Kini, Diego bersujud di bawah guyuran hujan, memohon kesempatan kedua dan rela memberikan segalanya demi Cherish kembali.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan