APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jatuh Cinta Pada Luka

Jatuh Cinta Pada Luka

Pascapengkhianatan perebutan wilayah yang nyaris merenggut nyawanya, bos mafia kejam Damian Verano hanyut di sungai selama tiga hari. Ia diselamatkan oleh Alira, gadis desa sederhana berusia delapan belas tahun. Walau bayang-bayang Sierra masih menghantui Damian, kepolosan Alira justru menumbuhkan benih cinta baru di hatinya. Mampukah sang penguasa dunia bawah tanah bersatu dengan gadis polos yang tidak tahu apa-apa tentang masa lalu kelamnya?
Bab
Bagikan

Bab 1

Hujan mengguyur hutan sepanjang malam. Petir menggelegar sesekali, menyambar udara yang sudah pengap oleh aroma lumpur dan akar-akaran yang membusuk. Sungai yang biasanya tenang, kini meluap liar, menghantam batu-batu besar dan merobohkan dahan-dahan tua.

Dan di antara arus deras yang tak bersahabat itu, tubuh seorang pria hanyut, tenggelam dan muncul kembali, wajahnya pucat, luka terbuka di bahunya terus mengucurkan darah yang mulai bercampur dengan air sungai. Namanya Damian Verano, kepala mafia dari keluarga Verano yang paling ditakuti di selatan.

Tiga hari lalu, dia adalah raja. Hari ini, dia hanyalah bangkai yang belum mati.

Peluru bersarang di bahunya, menghantam dekat tulang selangka. Dia tertembak oleh orang kepercayaannya sendiri. Di pengkhianatan itu, Damian kehilangan segalanya. Kendalinya. Kekuatannya. Bahkan harga dirinya.

Mentari pagi muncul malu-malu dari balik kabut pegunungan. Di sebuah desa terpencil yang nyaris tak terjamah peradaban, seorang gadis muda sedang berjalan menyusuri pinggiran sungai dengan keranjang anyaman bambu di tangannya. Namanya Alira. Usianya baru delapan belas tahun, tetapi sorot matanya menyimpan kedewasaan yang dibentuk oleh kerasnya hidup.

Ia hendak mencuci beberapa lembar pakaian, seperti yang biasa dilakukan setiap pagi. Tapi langkahnya terhenti mendadak saat melihat sesuatu di tepi sungai. Lebih tepatnya, seseorang.

Seorang pria tergeletak, setengah tubuhnya di dalam air, bajunya compang-camping, darah mengering menodai bagian dada dan lengan. Wajahnya asing, tak seperti warga desa mana pun yang pernah ia lihat.

Alira mendekat pelan-pelan, degup jantungnya makin cepat. Apakah dia sudah mati? pikirnya panik. Tapi saat hendak menyentuh tubuh itu dengan sebatang kayu, pria itu mengerang pelan. Kepalanya bergerak sedikit.

Dia hidup.

"Ya Allah..." bisik Alira, segera meletakkan keranjangnya dan mendekat lebih hati-hati. "Pak? Halo? Anda bisa dengar saya?"

Tak ada jawaban. Pria itu hanya menggertakkan gigi, matanya sedikit terbuka. Pandangannya buram, tapi cukup untuk menangkap sosok perempuan muda di hadapannya.

Wajah itu... berbeda dari yang pernah ia lihat. Mata yang tulus. Suara yang tak bergetar oleh rasa takut, tapi oleh kepanikan yang jujur.

"Jangan bergerak. Saya akan panggil Pak Rasim... Anda butuh pertolongan," gumam Alira sambil mencoba menopang tubuh besar pria itu, meski jelas tubuhnya sendiri terlalu kecil untuk itu.

Damian hanya sempat berbisik pelan, suaranya nyaris hilang, "Jangan... polisi..."

Kalimat itu membuat Alira terpaku. Siapa pria ini sampai begitu takut pada aparat?

Tapi kemudian ia sadar-entah siapa dia, ia tetap manusia yang hampir mati.

Dan Alira bukan tipe yang tega meninggalkan orang seperti itu.

Butuh dua orang laki-laki dewasa untuk mengangkat tubuh Damian ke pondok pengobatan milik Pak Rasim, satu-satunya mantri yang tinggal di desa. Butuh empat jam dan tiga jahitan besar untuk menutup luka tembaknya. Selama itu, Damian terus setengah sadar, hanya sesekali menggeram menahan sakit.

"Ini luka tembak," kata Pak Rasim pelan sambil menyeka keringatnya. "Kita harus lapor aparat."

"Tidak, Pak..." Alira buru-buru menolak, entah kenapa hatinya terasa berat. "Dia... takut polisi. Mungkin ada alasan."

Rasim memandangnya dengan dahi berkerut. "Alira, kita enggak bisa sembunyiin orang kayak gini. Kita enggak tahu siapa dia."

"Saya yang akan jaga dia, Pak," jawabnya mantap. "Sampai dia bisa bicara, kita jangan ambil kesimpulan."

Dan dengan itu, Alira pun mulai merawat Damian secara diam-diam.

Hari ketiga, Damian membuka matanya dengan lebih jernih. Atap jerami. Bau kayu bakar. Dan suara lembut dari seseorang yang sedang mengganti perban di bahunya.

Dia menyipitkan mata. Perempuan itu lagi.

"Siapa kamu?" suaranya serak, dalam.

Alira menoleh cepat, sedikit terkejut, tapi tak gentar. "Saya Alira. Saya yang temukan Anda di sungai. Anda sudah tiga hari di sini."

"Kenapa... kamu tolong aku?"

Alira mengangkat bahu. "Saya bukan orang yang suka melihat orang mati sia-sia."

Damian diam beberapa detik. Matanya menilai, menelusuri wajah gadis itu. Rambut hitam panjang, mata coklat lembut, kulit sawo matang yang bersih. Terlihat seperti perempuan desa pada umumnya. Tapi sorot matanya... berbeda.

"Nama kamu siapa?" tanya Alira, mencoba tersenyum.

Damian tak langsung menjawab. Dia masih menimbang. Dunia tempatnya berasal bukan dunia yang bisa dipercaya. Tapi untuk saat ini, ia terlalu lemah untuk bohong.

"Damian."

"Damian apa?"

"Verano."

Alira mengangguk pelan, meski jelas tak kenal. "Nama yang bagus."

Damian hanya mengerang kecil, memalingkan wajah. Dia bahkan tak tahu siapa aku... pikirnya, setengah lega, setengah heran.

Hari berganti. Damian mulai bisa duduk, lalu berdiri dengan bantuan. Alira yang memasak untuknya, mencuci pakaiannya, dan mengajarinya nama-nama pohon di sekitar desa. Damian-yang biasanya hidup dengan senjata dan darah-mulai mengenal dunia yang tak pernah ia sentuh. Dunia yang sunyi, bersahaja, tapi... menenangkan.

Dan setiap kali Alira tersenyum padanya, ada sesuatu dalam dada Damian yang terasa asing.

Perasaan ini... tidak seharusnya ada, pikirnya. Aku harus pergi sebelum semuanya jadi rumit.

Tapi entah kenapa, kakinya seperti tak ingin melangkah ke mana-mana. Seolah, gadis itu... adalah satu-satunya rumah yang pernah ia rasakan.

Di luar pondok, malam mulai turun. Alira menyuapi api di tungku dengan potongan kayu kecil.

"Damian," katanya pelan. "Kamu punya keluarga?"

Pertanyaan itu menghantam Damian seperti peluru lain. Ia memalingkan wajah ke jendela, ke arah gelap yang tak berujung.

"Tidak ada yang penting," jawabnya pendek.

Alira tak bertanya lebih jauh. Tapi malam itu, saat ia menatap wajah Damian yang tertidur, ada firasat aneh di hatinya. Bahwa pria ini membawa luka yang lebih dalam dari sekadar luka di bahunya.

Dan ia... ingin menyembuhkan semuanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Hasrat Tuan Muda Adalrich
8.9
Hans, penerus takhta Adalrich yang terlihat sempurna, sebenarnya memendam trauma mendalam terhadap wanita. Untuk menyembunyikan rasa jijiknya, ia selalu berlagak sombong dan dingin. Namun, dinding pertahanannya runtuh sejak berjumpa Sashenka, anak dari musuh bebuyutan bisnisnya. Sosok gadis tersebut rupanya sanggup menyalakan kembali gairah Hans yang telah lama padam. Di tengah sengitnya konflik keluarga, Hans kini harus berjuang keras demi mendapatkan cinta Sashenka.
Sampul Novel Buku Harian TKW
8.6
Impian pernikahan indah Rendra Pradhana dan Maya Septa dibayangi masa lalu kelam. Tragedi kematian Lastri yang melibatkan ayah Rendra memicu kebencian mendalam dari keluarga Maya. Walau berhasil bersatu, badai ekonomi dan konflik tiada henti menguji kesetiaan mereka, hingga memaksa Maya mengadu nasib sebagai TKW di Malaysia. Apakah kutukan leluhur Mbah Karso yang menentang hubungan mereka benar-benar nyata? Mampukah kekuatan cinta mereka bertahan melawan takdir yang begitu kejam?
Sampul Novel Cinta Terhalang Restu Abi
8.2
Tujuh tahun berlalu sejak Aisyah Putri Rasyid terpaksa mengakhiri hubungannya dengan Malik Putra Narendra demi mematuhi sang ayah. Kenangan pahit di hari kelulusan SMA itu mendadak terkoyak saat tasbih yang dulu ia kembalikan kepada Malik tiba-tiba muncul di depan pintu rumahnya. Kehadiran benda tersebut membawa kembali sosok sang mantan kekasih ke dalam hidup Aisyah. Akankah takdir menyatukan kembali cinta lama mereka yang sempat terhalang restu?
Sampul Novel Ketagihan dengan anak tiri
8.2
Steiner Limson memutuskan menikahi seorang janda demi memulai hidup baru. Ia berkomitmen penuh untuk menyayangi istri serta anak tirinya dengan tulus. Namun, pernikahan mereka justru dilanda prahara hebat hingga berada di ambang kehancuran. Di tengah konflik rumah tangga yang kian retak, Steiner malah terjebak dalam dilema moral yang fatal. Ia jatuh cinta pada putri tirinya sendiri, memicu gejolak batin yang merusak batas hubungan keluarga.
Sampul Novel Masa Puber Naldo
9.4
Naldo, putra konglomerat yang kesepian, tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Ayahnya, Tuan Anggoro, adalah sosok yang sangat baik, namun kesibukan bisnis membuatnya jarang berada di rumah. Praktis, Naldo hanya dirawat oleh asisten rumah tangganya sejak bayi. Ketika sang ayah memintanya memilih ibu baru, Naldo justru teringat sosok wanita misterius dari mimpinya. Begitu takdir mempertemukan mereka di dunia nyata, Naldo bertekad mengejar cintanya meski terhalang perbedaan usia.
Sampul Novel Penyiksaan Cinta
8.8
Setelah bertahan melahirkan tanpa bius demi sang suami, Surya Ciptadi, wanita ini justru dikhianati secara kejam. Janji manis Surya sirna saat ia berselingkuh hingga memiliki putra dengan wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, selingkuhan tersebut dibiarkan menyiksa putri kandung yang dilahirkannya dengan taruhan nyawa. Di balik penderitaan itu, sang istri menyembunyikan rahasia besar tentang penyakit kanker yang diderita Surya. Kini, saatnya ia membalas rasa sakit sang anak dengan nyawa suaminya sendiri.