
Janji yang Dikhianati, Cinta yang Terluka
Bab 4
Aku menggeleng dan menjawab pelan, "Nggak apa-apa."
Aku akan segera pergi, Jadi, Samuel tidak perlu tahu.
Samuel merasa lega dan berkata dengan rasa bersalah, "Anna, maaf. A ... aku benar-benar nggak tahu kamu alergi mangga."
'Kamu tahu. Dulu, kamu ingat jelas semua selera dan kesukaanku. Hanya saja, kamu sudah melupakannya sekarang.'
Aku memejamkan mata dan tidak ingin bicara.
Dia tinggal di rumah sakit untuk beberapa saat sebelum pergi karena panggilan dari Sonia.
Aku menyelesaikan infusku dan diperbolehkan untuk pulang. Berhubung ini sudah hari terakhir, aku pun mulai mengemasi semua barangku.
Saat membuka lemari, aku melihat isinya yang dipenuhi pakaian bayi yang kusiapkan dengan gembira. Sayangnya, pakaian-pakaian itu tidak lagi dibutuhkan.
Jadi, aku mengemas semuanya, termasuk beberapa pakaianku sendiri dan hadiah-hadiah ulang tahun dari Samuel setiap tahun. Dulu, aku sangat menghargai semuanya. Sekarang, aku membuang semuanya ke tempat sampah di lantai bawah tanpa ragu.
Samuel kembali pada sore hari. Melihat kamar yang kosong, dia pun merasa bingung.
"Kenapa rumah ini tiba-tiba jadi kosong sekali? Ke mana semua barang-barang bayi? Kenapa kado ulang tahun di lemari juga hilang semuanya?"
Aku meletakkan gelas airku dan berbohong, "Oh, barangnya kebanyakan. Karena cuma taruh di lemari, semuanya berjamur dan sudah kubuang."
Mendengar itu, dia bertanya dengan marah, "Kamu buang semua kado ulang tahun yang kuberikan padamu?"
Kado-kado itu adalah kesepakatan kami. Setiap tahun, dia harus memberiku hadiah. Beberapa tahun sebelumnya, dia selalu memilih dengan cermat. Namun, setelah Sonia kembali, semua kadoku hanyalah barang yang tidak diinginkannya.
Aku mengiakannya dengan pelan.
Samuel mencoba mencari di tempat sampah, tetapi tempat sampah ternyata sudah dibersihkan. Dia pun merasa agak kesal. "Kamu sudah menyimpannya selama belasan tahun. Kenapa kamu membuangnya dengan begitu saja?"
Itu hanyalah barang-barang materi, tetapi dia juga merasa begitu sakit hati. Aku penasaran seperti apa ekspresinya jika tahu aku sudah aborsi dan akan menikah dengan orang lain?
Melihatku yang diam saja, dia tiba-tiba dia menghela napas, lalu menghampiri dan memelukku dari belakang.
"Anna, maaf aku agak kesal barusan. Kalau sudah membuangnya, ya sudah. Kelak, aku akan belikan yang baru untukmu."
Sayangnya, tidak ada kesempatan lain lagi.
Aku mencoba melepaskan diri dari pelukannya, tetapi dia memelukku dengan erat.
"Akhir-akhir ini, meski kamu ada di sisiku, entah kenapa aku selalu merasa sangat jauh darimu. Aku agak gelisah. Apa kamu masih marah padaku?"
Aku menjawab dengan tenang, "Nggak."
Dia merendahkan suaranya lagi dan bertanya, "Anna, ada yang ingin kamu lakukan?"
Aku ragu sejenak sebelum menjawab, "Ayo kita pergi ke pantai bersama."
Ini adalah obsesiku selama bertahun-tahun. Pergi ke pantai bersama Samuel.
Dia menatapku dengan tidak percaya. "Cuma itu? Nggak ada yang lain?"
"Emm."
Dia menatapku dengan heran, lalu langsung setuju.
Kebetulan, aku bisa sekalian menikmati matahari terbenam di pantai. Pada saat itu, aku akan mengucapkan selamat tinggal pada Samuel.
Seusai mengemasi barang-barangku, aku pergi ke pantai untuk menunggu Samuel. Alhasil, aku malah menerima pesan darinya.
[ Anna, aku ada urusan hari ini. Aku akan bawa kamu ke pantai besok. ]
Aku pun mencibir. Hal ini sama sekali tidak mengejutkan.
Pemandangan pantai saat senja sangat indah. Aku menikmati matahari terbenam sendirian. Kemudian, aku menyalakan korek api dan mengucapkan "selamat ulang tahun" pada diriku sendiri.
Setelahnya, aku mengirim pesan terakhir untuk Samuel.
[ Kita putus saja. ]
Seusai mengirim pesan itu, aku tiba-tiba teringat diriku lupa membuang laporan aborsiku. Namun, tidak masalah juga. Semuanya tidak penting lagi.
Kemudian, Sonia menelepon dan tidak lagi bersandiwara.
"Akhirnya kamu tahu diri juga! Kamu bukan cuma mau main tarik-ulur, 'kan? Kamu kira kamu bisa dapatkan kembali hati Sam dengan trik-trikmu itu? Jangan mimpi! Sekarang, dia lagi berbaring di atas tempat tidurku yang hangat. Kamu nggak tahu betapa dia merindukanku tadi."
Sonia mengirimiku foto Samuel dan dirinya di tempat tidur dengan bangga, lalu membentakku lagi, "Kalau bukan karena kamu, Sam pasti sudah nggak sabar untuk menikah denganku. Memangnya kenapa meski aku meninggalkannya selama tiga tahun? Orang yang dicintainya tetap adalah aku."
Aku mencibir, "Baguslah. Kuhadiahkan pria berengsek itu padamu."
Begitu mendengar jawabanku, Sonia langsung menggertakkan giginya. Aku mendengarnya membanting barang-barang dengan marah.
Setelah memutuskan sambungan telepon, aku mengangkat ponselku dan memotret ombak laut di senja hari. Kemudian, aku meraih koperku dan langsung melaju menuju bandara. Baru saja aku naik ke pesawat, ponselku tiba-tiba berdering tiada henti.
Anda Mungkin Juga Suka





