APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Janji Selamanya

Janji Selamanya

Hari pernikahan yang dinanti justru diwarnai pengkhianatan saat sahabat kecil tunanganku hadir mengenakan gaun pengantin yang sama persis. Alih-alih membuat keributan saat melihat mereka menyambut tamu bersama, aku justru memuji keserasian mereka. Hal itu membuat sang sahabat pergi dengan malu, sementara tunanganku malah menuduhku picik. Setelah resepsi, ia bahkan nekat pergi berbulan madu bersama sahabatnya itu. Tanpa tangisan, aku segera menghubungi pengacara untuk mengambil tindakan tegas.
Bab
Bagikan

Bab 2

Saat melihatku, wajahnya sempat menunjukkan ekspresi canggung, tapi dia tetap pura-pura tenang dan berkata,

“Masuk bersama?”

Aku tak menolak, langsung mengangguk dan berjalan masuk.

Makan malam terasa canggung, sepertinya orang tuaku masih menyimpan rasa kesal soal kejadian di hari pernikahan. Jadi, sikap mereka terhadap Steve juga tidak ramah.

Jika ini terjadi dulu, mungkin aku akan mencoba mencairkan suasana, tapi sekarang aku biarkan saja dia duduk di sana dengan canggung.

Setelah makan malam selesai, aku baru mau pesan taksi untuk pulang, Steve sudah lebih dulu menghentikan mobilnya di depanku. Begitu masuk, mataku langsung tetuju pada stiker yang menempel di kursi penumpang depan [Kursi khusus Cindy].

Steve berdeham pelan, lalu agak canggung menjelaskan,

“Cindy yang maksa pasang di sana, lagipula kamu juga menyetir sendiri biasanya.”

Aku mengangguk dan menjawab datar,

“Iya, semuanya berawal seperti ini.”

Steve mengernyit, seperti masih ingin bicara, tapi ponselku berbunyi.

Aku tidak menanggapi Steve lagi, langsung menunduk dan fokus membalas pesan.

Begitu urusanku selesai, Steve sudah menghentikan mobil di depan sebuah rumah mewah.

Begitu aku turun, Cindy langsung berlari ke arah Steve dan memeluknya.

“Steve, aku kangen sekali denganmu, kamu kangen aku nggak?”

Mungkin karena ada aku di sana, ekspresi Steve jadi agak canggung. Dia buru-buru menahan gerakan Cindy yang mau mencium pipinya.

“Sudahlah, sudah dewasa, masih saja seperti dulu.”

Cindy sempat melirikku dengan tatapan kemenangan, lalu dengan manja berkata,

“Emangnya kenapa? Meskipun sudah dewasa, aku tetap adikmu, ‘kan?”

Aku malas menanggapi drama mereka, langsung masuk ke dalam rumah.

Begitu sampai di depan pintu, mataku langsung tertuju pada layar elektronik yang sedang memutar beberapa foto. Semuanya adalah foto Steve dan Cindy.

Ada yang sedang duduk bersama menikmati senja, ada yang makan malam romantis dan foto terakhir adalah foto mereka sedang berciuman mesra.

Baru sempat kulihat, Steve langsung buru-buru lari ke arahku untuk menjelaskan,

“Luna, semua foto itu palsu, percayalah padaku. Jangan marah, ya.”

Aku menoleh menatap Cindy, jelas kulihat rasa bersalah di matanya walau hanya sekilas.

Aku mengangguk pelan.

“Iya, fotonya bagus kok.”

Cindy langsung mengernyitkan dahi.

“Luna, kamu nggak marah?”

Aku menjawab dengan tenang,

“Nggak kok.”

Baru saja menjawab, ponselku kembali berdering.

Kali ini dari dokter, mau membahas soal rawat inap besok.

Ternyata, hasil pemeriksaan kesehatanku beberapa waktu lalu menunjukkan ada masalah di paru-paru. Hasilnya baru keluar sekarang.

Aku menjauh sebentar untuk menerima telepon, tak menghiraukan ekspresi Steve.

Begitu selesai, aku kembali ke ruang pesta, kulihat Steve sedang melindungi Cindy sambil membentak seseorang.

Dari percakapan mereka, aku bisa menangkap bahwa pria itu hanya tak sengaja menumpahkan sedikit minuman ke ujung gaun Cindy, tapi Steve bersikeras menyuruh dia meminta maaf.

Melihat itu, pikiranku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu. Beberapa tahun lalu, aku dan Steve pernah menghadiri acara serupa. Di tengah keramaian dekat menara sampanye, aku sengaja didorong Cindy hingga terjatuh ke arah menara.

Aku kehilangan keseimbangan dan langsung jatuh menimpa menara sampanye.

Suara gelas pecah terdengar nyaring, cairan sampanye bercampur darah mengalir di tubuhku.

Aku menoleh ke arah Steve, berharap bantuannya. Tapi, dia malah memarahiku dengan lantang di depan semua orang.

“Kamu buta?! Menara sampanye sebesar itu saja nggak kelihatan?”

“Malah sengaja menabrak, kamu tahu nggak seberapa pentingnya acara ini? Aku benar-benar nggak habis pikir, orang nggak berguna sepertimu hidup untuk apa, sih?!”

“Kalau aku jadi kamu, mending langsung menabrak tembok dan mati sekarang juga!”

Pikiranku perlahan kembali fokus. Melihat semua ini, aku hanya merasa konyol dan menyedihkan. Aku pun langsung berbalik dan pergi.

Steve tidak pulang semalaman. Aku tidak kaget, karena ini bukan pertama kalinya.

Namun, saat aku sedang mencuci wajah, aku melihat Steve pulang membawa sarapan dan dibelakangnya ada Cindy.

Melihatku keluar, dia menaruh sarapan di atas meja dan agak tidak biasa, dia langsung memberi penjelasan,

“Kami bermain terlalu malam kemarin, aku takut sendirian, jadi menginap di rumah Cindy semalam.”

“Kamu nggak marah, ‘kan?”

Cindy langsung merangkul bahunya dan bicara dengan nada menantang,

“Iya, Kak Luna, kamu nggak marah, ‘kan?”

Aku hanya mengangguk dan tak menjawab.

Sepertinya Steve juga menyadari sikap dinginku. Dia meletakkan sarapan di atas meja, lalu berbicara dengan nada lembut,

“Kemarin kamu pengin sekali menonton film bioskop yang baru tayang itu, ‘kan?”

“Kebetulan aku ada waktu hari ini, ayo kita pergi.”

Film itu memang langsung banjir pujian sejak tayang perdana. Aku sudah pernah beberapa kali mengajaknya nonton, tapi selalu ditolak oleh Steve.

Steve bilang sibuk kerja dan banyak urusan. Tapi beberapa hari kemudian, aku melihat postingan dari instagramnya Cindy.

[Film terbaik tentu pantas ditonton dengan orang terbaik.]

Memang fotonya tidak menunjukkan wajah, tapi dari tangan mereka yang saling menggenggam, aku tahu betul itu Steve.

Saat mencium samar-samar aroma parfum wanita dari tubuh Steve, aku langsung menolak.

“Nggak perlu, aku ada urusan hari ini.”

Melihat sikapku, wajah Steve sempat tampak canggung, tapi dia masih mencoba membujuk lagi.

Cindy yang sudah duduk di sofa, mencoba menantangku,

“Kak Luna, kamu bilang ada urusan? Jangan-jangan mau bertemu teman SMA?”

Aku memandangnya dengan bingung.

Tidak ada yang tahu soal rencana perceraianku, selain aku dan pengacara. Apalagi soal pengacaraku yang ternyata adalah teman SMAku.

Melihat ekspresi bingungku, Cindy kembali memasang ekspresi seolah khawatir Steve tersakiti.

“Steve, kamu jangan marah dulu. Beberapa hari lalu aku dengar dari temanku, katanya dia melihat Kak Luna lagi bersama teman SMAnya di kafe, kelihatannya….”

Cindy sengaja berhenti sebentar, lalu pura-pura menghela napas khawatir.

“Mesra….”

“Tapi mungkin temanku salah lihat, soalnya Kak Luna begitu sayang denganmu, mana mungkin selingkuh?”

Begitu dia selesai bicara, ekspresi Steve langsung berubah muram. Dia mengangkat tangannya dan melempar vas bunga di meja. Wajahnya penuh amarah saat menatapku.

“Luna! Kamu menoleh pergi menonton bioskop karena mau bertemu laki-laki lain di belakangku?!”

“Kamu nggak malu seperti itu?”

Aku menunduk melihat pecahan vas di lantai, belum sempat bicara, Cindy sudah sok bijak dan melanjutkan,

“Steve, jangan marah dulu, semua ini bisa dibicarakan baik-baik.”

“Nggak bisa salahkan Kak Luna juga, bagaimanapun juga, ibunya dulu juga pernah selingkuh….”

Belum sempat dia selesai bicara, aku langsung mengambil kotak tisu di samping dan melempar ke arahnya.

Fitnah aku tak masalah, tapi jangan pernah menghina ibuku.

Bagian yang tadi terkena kotak tisu langsung memerah. Steve buru-buru mengangkat lengannya dan memeriksa dengan penuh kekhawatiran.

Melihat wajah Cindy yang seolah demi kebaikan dirinya, Steve langsung menunjuk ke arahku dan memarahiku,

“Luna, kamu benar-benar mengecewakanku!”

“Meski yang dikatakan Cindy itu bohong, kamu tetap nggak seharusnya main tangan!”

“Kamu nggak tahu kalau….”

Steve masih terus menuduhku, tapi aku langsung memotong ucapannya,

“Jadi, kamu juga tahu kalau dia sedang berbohong!”

Wajah Steve langsung berubah canggung, tapi dia langsung bersikap sok benar dan menunjukku sambil berkata lantang,

“Iya, aku juga lihat sendiri hari itu.”

“Tapi kamu tetap salah karena main kekerasan.”

“Cepat minta maaf sama Cindy! Kalau nggak, kita langsung cerai sekarang juga!”

Rasa dingin langsung menjalar ke seluruh tubuhku. Aku menatapnya dengan tak percaya dan dengan ragu berkata,

“Steve, kamu sadar apa yang sedang kamu ucapkan?”

Steve malah menertawakanku seolah aku sedang bercanda.

“Luna, tentu saja aku tahu apa yang sedang kuucapkan.”

“Tapi, apapun alasannya, kamu nggak boleh main tangan. Cepat minta maaf ke Cindy!”

“Kalau nggak, kita langsung cerai sekarang juga!”

Aku langsung tertawa sinis sangking kesalnya, lalu mengambil surat perceraian yang sudah lama kusiapkan dan melempar ke depannya.

“Ayo, kita bisa langsung cerai sekarang juga.”

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata yang Kutumpahkan
9.0
Demi menjaga nama baik keluarganya, Keira Prawirajaya bersedia menikahi Panji Wicaksana setelah kembaran identiknya, Keisha, melarikan diri. Namun, situasi berubah pelik ketika Keisha kembali dan menyebarkan fitnah kejam. Panji, yang masih terpikat oleh cinta masa lalunya, tega menuduh Keira berselingkuh demi bisa bercerai. Di tengah kepungan dusta, Keira kini dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan kehormatan keluarga atau memperjuangkan harga dirinya dari kekejaman suami dan saudaranya.
Sampul Novel BILIK LAIN DI RUMAH SUAMIKU
8.6
Kecurigaan langsung menyelimuti hatiku begitu menempati rumah Mas Yusuf. Suamiku menyimpan rahasia besar di balik satu kamar yang selalu terkunci rapat. Kejanggalan kian nyata saat aku melihatnya mengendap-endap setiap malam, membawa baki berisi makanan dan minuman ke ruangan misterius itu. Apa yang sebenarnya Yusuf sembunyikan dariku? Misteri di balik bilik terlarang tersebut kini mulai mengancam ketenanganku.
Sampul Novel Cute Little Wife
9.2
Satu malam intim mengubah hidup Timmy dan Li Xiao Ke selamanya setelah mereka mendadak memiliki kekuatan supranatural misterius. Di tengah kehidupan modern, kemampuan baru ini menguji kekuatan cinta mereka yang baru tumbuh. Akankah keajaiban tersebut mempererat hubungan mereka atau justru memicu kehancuran? Saksikan perjuangan asmara penuh rintangan tak terduga ini saat keduanya menghadapi konsekuensi dari kekuatan baru mereka.
Sampul Novel Dari Pembantu Menjadi Ratu
8.2
Dalam kondisi gemetar dan mata tertutup rapat, Scarlett berupaya menjangkau celana Ethan. Keheningan mendadak buyar ketika Scarlett berteriak histeris lantaran tidak sengaja memegang sebuah objek yang sangat keras. Jeritan lantang yang memekakkan telinga itu pun seketika mengejutkan Ethan. Sambil menahan malu dengan wajah yang memerah padam serta didera rasa takut, Scarlett langsung menunjuk ke arah benda tersebut guna menerangkan pemicu kepanikan mendadaknya.
Sampul Novel I Hate You With Love
9.7
Tepat di hari pernikahan, Aldo menghilang dan membuat dunia Aletta hancur. Demi menjaga nama baik keluarga, ia terpaksa menikah dengan Bian Dirgantara. Alih-alih bahagia, hidup Aletta justru dilingkupi penderitaan karena sikap kasar dan semena-mena dari suaminya. Kepedihan itu kian memuncak saat sebuah rahasia besar yang disimpan rapat oleh Bian akhirnya terkuak. Akankah kebenaran ini menghancurkan pernikahan mereka, atau justru memunculkan maaf di tengah dendam?
Sampul Novel I Love You Pak Tua
8.7
Viona jatuh cinta pada bosnya, Raka, pria berumur 47 tahun. Benih asmara itu tumbuh saat ia menyamar sebagai kekasih sewaan demi membahagiakan ayah Raka yang sedang sakit. Walau cintanya tak berbalas, ia tidak menyerah. Kendala besar muncul saat orang tua Viona menolak keras hubungan beda usia ini karena cemas akan masa depannya. Mereka lalu menjodohkannya dengan Revan, sahabat dekatnya. Kini, Viona harus memilih: terus mengejar Raka atau pasrah pada perjodohan.