APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel JandA

JandA

Ketidakhadiran Aline Anderson membuat perusahaan penerbitan raksasa yang dipimpinnya goyah. Begitu kembali memegang kendali, ia langsung dihadapkan pada krisis besar. Penulis emas andalannya secara mendadak memutuskan menarik seluruh karya, membawa bisnis Aline ke ambang kehancuran. Di tengah ancaman kebangkrutan dan badai konflik yang terus berdatangan, Aline harus menanggung kerugian finansial yang masif sekaligus mengungkap rahasia mengejutkan di balik identitas asli sang penulis.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Anda?? Nona Aline??" Melda langsung terperanjat ketika melihat Aline berdiri tepat di hadapan mereka.

"Selamat pagi, Bu Melda, Pak Georgio." Sapa Aline dengan senyum mengembang.

"Selamat siang, Nona Aline." Balas Georgio dengan senyuman santai.

"S--selamat siang, No--Nona Aline." Melda membalas sapaan Aline sambil tertunduk.

"Siang? Kupikir ini pagi. Ternyata sudah siang, ya?" seloroh Aline bernada menyindir.

"Ada perlu apa Nona datang ke lantai 8? Bukankah Anda bisa memanggil kami untuk datang ke tempat Anda? Tak perlu repot-repot Anda yang harus datang, Nona." Melda berucap.

"Hahahhahaa, Bu Melda ini lucu sekali, ya. Memangnya kenapa jika saya sekali-sekali mengunjungi lantai panas di perusahaan ini? Apa salah jika saya ke lantai ini?" tanya Aline lagi-lagi terkesan menyindir.

"Ti--tidak, Nona. Maaf." Melda menundukkan kepalanya.

"Pak Georgio, Anda … apa Anda tahu jam berapa harus masuk kantor?"

"Saya tahu, Nona. Hanya saja saya ada beberapa urusan yang harus segera diselesaikan, tapi saya sudah meminta Bu Sarah untuk meng-handle selama saya tak ada di tempat."

"Oh, maksud Anda wakil Anda yang baru bekerja empat bulan itu?" Aline menyunggingkan senyumnya.

"Jadi Anda sudah bertemu dengan wakil saya, Nona Aline?"

"Bukan hanya bertemu, tapi saya juga sudah mengenalnya dengan 'baik'."

"Apa ada yang bisa saya bantu, Nona Aline?" tanya Georgio santai.

"Apa di lantai ini tak ada tempat nyaman untuk mengobrol?" sindir Aline.

"Oh, m-maafkan saya, Nona Aline. S-silakan masuk ke ruangan saya." Melda membukakan pintu ruangannya dan hal itu memancing perhatian para karyawan lain di tempat itu.

"Bu Melda sampai membukakan pintu untuk wanita itu? Gila! Siapa sebenarnya dia? Apa dia orang yang sangat berpengaruh?" celetuk salah satu karyawan sembari melihat ke arah mereka bertiga.

"Ruanganmu, Nona Melda? Untuk seseorang dengan posisi penting seperti Anda, harusnya Anda tahu dan LEBIH PAHAM mana yang baik dan mana yang salah!" pekik Aline tepat di depan wajah Melda.

Sang wakil hanya tertunduk menahan malu dan bersalah. "M-maafkan saya, Nona. Saya janji ini terakhir kalinya saya seperti ini." Ucap Melda lirih.

"Saya orang yang perhitungan, Nona Melda! Saya tak mau perusahaan ini mengeluarkan uang percuma hanya untuk menggaji atasan yang tak becus dan pandai mengurus karyawannya! APA KALIAN SEMUA DENGAR ITU! AKU, ALINE ANDERSON, PEMILIK SEKALIGUS PEMIMPIN ALINE PUBLISHING AKAN SEGERA MEROMBAK SEMUA KEPALA DEPARTEMEN YANG ADA DI PERUSAHAAN INI!"

Sontak, semua karyawan yang ada di lantai itu tercengang dan terkesiap!

"Ja-jadi wanita itu adalah CEO Aline Publishing!?" kejut salah satu karyawan yang tadi berhadapan dengan Aline.

Sarah langsung keringat dingin. Tangannya gemetar dan tak berani menoleh ke arah Aline berdiri.

"Bagaimana, Nona Melda. Apa yang mau Anda katakan sekarang?" Aline merendahkan volume suaranya.

"T-tidak ada, Nona." Sahutnya tertunduk.

"Bagaimana dengan Anda, Tuan Georgio?"

"Saya percaya apa yang Anda lakukan adalah demi kebaikan perusahaan ini. Jadi, saya ikut saja," balasnya santai.

"Rosaline! Kapan jadwalku akan kosong?"

"Minggu ini Anda memiliki dua hari jadwal kosong, Nona. Rabu dan Jumat."

"Hmm, aku mengerti. Segera adakan rapat untuk seluruh kepala divisi depertemen yang ada di perusahaan ini! Aku tak ingin ada satu pun orang yang tak hadir di rapat tersebut!" perintah Aline tegas.

"Baik, Nona."

"Dan Anda, Tuan Georgio, apa tak ada yang ingin Anda sampaikan padaku? Misalnya, progress buku si Penulis Bertopeng itu dan berapa keuntungan yang kita peroleh." Jelas Aline menatap tajam Georgy dan melirik Melda.

"S--sejauh ini bagus, Nona. Progress yang dihasilkan oleh Penulis Bertopeng mampu menutup biaya produksi dan operasional kita. Saya telah membuat laporannya," Melda menjelaskan.

"Benarkah? Ternyata isi kepala Anda juga bisa dipakai untuk hal berguna, ya." Sindir Aline langsung menuju ruang Georgio.

Georgio hanya menggelengkan kepalanya melihat sang wakil direktur yang biasanya garang dan buas layaknya singa betina yang sedang hamil kini berubah menjadi kura-kura dalam tempurung.

"Nona Aline, bolehkah saya bicara sebentar?" tanya Georgio di sela-sela langkah Aline yang cepat.

"Silakan."

"Menurut saya, Nona Melda tak sepenuhnya salah. Dengan jabatan dan posisi yang diembannya sekarang serta lingkup kerja beliau yang mengharuskan bertemu banyak klien, tak seharusnya Anda bersikap demikian."

Seketika Aline menghentikan langkahnya dan berbalik badan menghadap Georgio.

"Bisa Anda jelaskan padaku apa maksud ucapan Anda, Tuan Georgio?" Tatap mata Aline tajam.

"Nona Melda, mengambil alih peran Anda sebagai Ketua di perusahaan ini. Sedangkan Anda, kehadiran Anda yang jarang di tempat ini membuat para calon investor menjadi ragu. Jika bukan karena Nona Melda, mungkin Aline Publishing hanya tinggal nama."

"Tuan Georgio!" seru Melda berusaha menghentikan ucapan Georgio.

Aline terdiam. "Nona Melda, bisakah kembali ke ruangan Anda? Tuan Georgio, bisa kita bicara empat mata?"

"Baik, Nona--,"

Langkah Aline terhenti di sebuah ruangan yang tak terlalu lebar namun juga tak terlalu sempit di mana di dalam ruangan itu banyak terdapat tumpukan buku, kertas juga beberapa naskah dari calon penulis yang ingin bergabung dengan Aline Publishing.

"Ini ruangan Anda, bukan?" tanya Aline sambil melihat-lihat isi dalamnya.

"Benar, Nona."

"Tinggalkan kami berdua, Rosaline. Ada hal penting yang ingin aku bahas dengan Tuan Georgio." Perintah Aline mengangkat salah satu tangannya memberi tanda.

"Baik, Nona. Saya mengerti."

Tak lama, hanya ada Aline dan Georgio di ruangan itu. Aline yang duduk duduk di sofa bergaya letter sofa itu kemudian membuka pembicaraan untuk menghilangkan kekakuan di antara mereka.

"Apa Anda tahu kenapa saya tiba-tiba datang ke perusahaan?" tanya Aline mengatupkan kedua tangannya, menatap Georgio tajam.

"Tidak, saya tak tahu," sahut Georgio dengan santai.

Aline kemudian mengalihkan pandangannya di sudut lain ruangan Georgio. "Koleksi buku Anda banyak juga, ya. Apakah salah satunya adalah koleksi novel Penulis Bertopeng?" Aline mulai memancing.

"Ada. Dan saya suka dengan gaya dia bercerita dan menumpahkan seluruh emosinya di dalam suatu tulisan. Apa Anda belum membacanya, Nona Aline?"

Netra Aline kembali fokus pada Georgio. Dengan senyum khasnya, Aline berkata, "Tuan Georgio, bagaimana hasil penjualan novel 'Eindeloze Liefde' yang ditulis oleh Penulis Bertopeng kesayangan kita? Apakah ada kendala di lapangan atau justru sebaliknya?"

"Seperti yang dikatakan oleh Bu Melda, semua baik-baik saja, Nona Aline. Tidak ada kendala, hanya ada beberapa saja, tapi itu pun bukan sesuatu yang patut dirisaukan."

"Seperti apa?" tanya Aline.

"Maaf?"

"Seperti apa kendala 'kecil' yang tak perlu dirisaukan?" pancing Aline.

"Itu---hanya hal kecil saja, Nona. Tak perlu Anda--"

"Makanya aku tanya, hal kecil apa yang tak perlu dirisaukan? Karena menurutku sekecil hal apa pun itu jika dianggap remeh, akan menjadi sesuatu yang besar. Atau … selama ini Anda selalu menganggap hal kecil sama sekali tak penting?" tanya Aline bernada menyindir.

Georgio terdiam, "Maaf, Nona Aline. Sebenarnya apa yang ingin Anda katakan pada saya?"

Menyeringai, Aline kemudian berujar, "Menurut Anda apa yang akan terjadi jika sebuah perusahaan kehilangan salah satu penulis andalan mereka?" pancing Aline melirik sambil tersenyum ke arah Georgio.

"Hanya ada dua kemungkinan, bertahan atau bangkrut. Jika perusahaan tersebut adalah perusahaan yang telah settle, mereka pasti memiliki banyak penulis di bawahnya. Tapi jika perusahaan itu adalah perusahaan minor, saya bisa pastikan mereka akan bangkrut."

"Banyak bintang di langit, tapi hanya satu dari milyaran bintang yang paling bersinar terang, Tuan Georgio. Apa Anda paham maksud saya?"

Georgio yang duduk berhadapan dengan Aline menyandarkan tubuhnya dan melihat wanita itu sembari memegang dagunya pelan seakan berpikir dan ragu menjawab pertanyaan Aline. "Nona Aline, tolong langsung saja ke intinya, ada perlu apa Anda sampai repot-repot mau datang ke lantai panas ini?"

"Baiklah jika Anda memaksa, saya juga bukan tipe yang senang membuang waktu." Aline yang kini menyandarkan tubuhnya pada sofa kulit mewah itu. "Tuan Georgio, saya mendapat kabar jika salah satu penulis yang berada di bawah bendera Aline Publishing akan menghentikan penulisan novelnya. Apa itu benar?" Mode serius Aline kini benar-benar ditunjukkan.

"Benar. Salah satunya ada yang berbuat demikian. Apa Anda ingin tahu siapa, Nona Aline?" tanya Georgio seakan menantang Aline.

"Menurut Anda? Sebagai seorang CEO apa saya tak boleh tahu tentang operasional perusahaan? Apa Anda kira selama saya tak berada di kantor, saya tak tahu apa yang telah atau sedang terjadi? Tuan Georgio, perlu Anda ketahui, saya paling tidak suka dengan orang yang memberikan saya pertanyaan jika saya sedang mengajukan pertanyaan. Biasanya saya akan langsung memecat orang itu!"

"Lalu bagaimana dengan saya? Bukankah saya mengajukan pertanyaan pada Anda ketika Anda sedang bertanya, Nona Aline?" tanya Georgio tersenyum.

Aline hanya mengumbar senyum. "Penulis Bertopeng, pertemukan aku dengannya!" Perintah Aline mengalihkan pertanyaan Georgio.

"Kenapa Anda tiba-tiba ingin bertemu dengan Penulis Bertopeng, Nona Aline? Boleh saya tahu alasannya?" tanya Georgio penasaran.

"Apa Anda punya hak untuk bertanya seperti itu padaku?"

Georgio terdiam. "Saya mengerti, Nona. Maaf."

"Aku minta malam ini kau sudah memiliki kabar bagus mengenai Penulis Bertopeng. Jika tidak, bersiaplah, Tuan Georgio. Kemasi barangmu dan pergi dari negara ini!" lirik Aline tajam.

"Akan segera saya usahakan, Nona." Sahut Georgio menundukkan kepala.

"Aku tak terima kata 'usahakan' Tuan Georgio. Aku hanya terima kata 'kepastian'! Selain itu, jangan coba-coba menginjakkan kaki di perusahaan ini jika kau belum berhasil menyelesaikan perintahku!" tegas Aline langsung berdiri dan mengulurkan tangannya tiba-tiba.

"Senang bertemu dan bicara dengan Anda, Tuan Georgio." Tukas Aline mengunggah senyumnya.

"Sayalah yang justru merasa terhormat dan tersanjung atas kedatangan Anda, Nona Aline." Sahut Georgio membalas jabatan tangan Aline.

"Baiklah, saya akan menunggu kabar baik Anda, Tuan Georgio. Semoga Anda tak mengecewakan saya."

"Akan saya usa--pasti, Nona Aline. Saya akan memberi kabar pada Anda."

Georgio segera mengantar Aline keluar ruangannya bersama dengan Rosaline. Para karyawan yang melihat sang CEO hanya bisa tertunduk dan terdiam, tak satu pun dari mereka yang berani menegakkan kepala, walau hanya satu inci sekali pun.

"Tuan, sepertinya Nona Aline akan segera beraksi. Apa yang harus kita lakukan?"

[Oh, ya? Jadi dia sudah mulai 'panas'? Bagus … sangat bagus! Biarkan Aline dengan kemarahan dan rasa penasarannya. Permainan ini akan semakin menarik.]

"Maaf, Tuan? Maksud Anda?"

[Apa yang dia katakan?]

"Nona meminta bertemu dengan Penulis Bertopeng. Apa--"

[Baiklah, akan kukirimkan alamat hotelnya padamu]

"Anda akan menemui Nona Aline?"

[Bukankah dia sangat penasaran dengan Penulis Bertopeng? Kenapa kita tak mengabulkan permintaannya?]

"Baik, Tuan. Saya mengerti."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Desire of Love CEO
8.0
Kehidupan Alana Handoko berubah menjadi mimpi buruk setelah ia dinyatakan bersalah atas kecelakaan maut yang merenggut nyawa seorang anak perempuan. Insiden tragis tersebut menyulut murka Reynar Adiwangsa, seorang CEO tampan yang kehilangan figur tercinta. Terbakar oleh hasrat membalas dendam, Reynar bersumpah membuat hidup Alana menderita. Ia merancang berbagai rencana kejam untuk menyiksa Alana dan mengubah dunianya bagai neraka demi menuntaskan rasa sakit hatinya.
Sampul Novel Ena-Ena 21+
8.4
Antologi kisah romansa dewasa ini menghadirkan kumpulan cerita pendek yang menyoroti lika-liku hubungan penuh gairah. Pembaca akan diajak menyelami dinamika cinta penuh kuasa dari para CEO dan pengusaha, hingga polemik emosional yang dihadapi janda, duda, serta konflik mertua-menantu. Menampilkan latar profesi beragam mulai dari dokter, tentara, hingga satpam, setiap narasi dikemas memikat untuk memenuhi fantasi Anda akan kisah cinta yang mendalam dan unik.
Sampul Novel Get Pregnant Please!
8.3
Nasib buruk terus membayangi Caca. Seorang peramal lalu menyarankannya untuk hamil agar takdirnya berubah. Masalahnya, sang suami misterius yang menikahinya setahun lalu tidak pernah pulang, meski Caca hidup bergelimang harta di rumah mewah. Mengira suaminya adalah lelaki tua berwajah buruk, Caca nekat pergi ke klub malam demi mencari pria tampan untuk menghamilinya. Siapa sangka, pria tampan yang menjadi targetnya malam itu ternyata adalah suaminya sendiri yang selama ini ia hindari.
Sampul Novel HOT AND DANGEROUS BILLIONAIRE
8.0
Geby harus menjalani pernikahan paksa bersama Jeremy Loghan, seorang miliarder kejam yang dipenuhi rasa dendam. Walau hati Geby masih terpaut pada kakak Jeremy, sang suami justru melampiaskan kebenciannya lewat perlakuan kasar di ranjang. Di balik konspirasi licik para bangsawan Yorkshire, sebuah rahasia besar perlahan terkuak. Jeremy pun mulai bimbang saat benih cinta tumbuh untuk wanita yang ia benci. Akankah ia memilih balas dendam atau perasaannya?
Sampul Novel Istri Pengganti Tuan Muda!
8.8
Demi menyelamatkan kehormatan keluarga Wijaya dan Maduswara, seorang ayah memohon anak perempuannya menjadi pengantin pengganti. Jika pernikahan megah ini batal, nama baik leluhur terancam hancur. Tak hanya itu, kelangsungan bisnis yang dirintis sang ayah selama bertahun-tahun kini berada di ambang kehancuran. Sang putri pun harus menghadapi dilema besar demi melindungi reputasi serta masa depan perusahaan keluarganya.
Sampul Novel Istri yang Tak Kau Percaya Ternyata Kaya Raya
7.8
Dituduh tidak suci dan dihina karena latar belakangnya, pernikahan Analea dengan Hamid dipenuhi kebekuan. Puncak keretakan terjadi saat Analea memergoki suaminya berselingkuh. Bertekad menuntut cerai, ia menyusun strategi hukum hingga berhasil bekerja di Eternal Group dengan gaji fantastis. Namun, kehidupan barunya dipenuhi kejanggalan. Mengapa Kaisar, sang presdir, selalu melindunginya? Apa hubungan Ibu Maira dengan masa lalunya? Di tengah misteri itu, Fabian, pengusaha matang rekan Kaisar, menawarkan bantuan dengan syarat yang tak biasa.