APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Janda Rasa Melon

Janda Rasa Melon

Kisah romansa dewasa ini mengupas gejolak batin para tokohnya secara mendalam. Pembaca akan diajak memahami arti cinta sejati dan keraguan yang lebih dari sekadar ketertarikan fisik. Buku ini menjadi refleksi penting bagi pasangan dalam memahami satu sama lain. Jauh dari hiburan biasa, setiap bab menyajikan pesan mendalam yang memicu perenungan tentang kesetiaan dan kasih sayang yang tulus.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sore itu, matahari tak terlalu terik. Langit berwarna jingga kusam seperti kain lap tua yang terlalu sering dijemur.

Di bawah pohon jambu belakang rumah, Ryan dan Andri duduk bersila, berbagi segelas kopi dan dua batang kretek yang menyala pelan. Angin bertiup malas, hanya cukup kuat menggoyang daun jambu, menciptakan bayangan yang bergerak pelan di tanah, seperti penonton setia dua sahabat yang saling menguji kata.

Andri menyandarkan tubuh ke batang pohon. Pandangannya menyapu halaman belakang sebelum berhenti pada wajah Ryan yang sedang mengaduk kopi dengan gerakan lambat, nyaris melamun.

"Yan," katanya santai, "istrimu makin ke sini makin segar aja, ya. Wajahnya cerah terus. Senyumnya itu, adem banget. Cocok jadi selegram jualan skincare."

Ryan hanya mengangguk kecil, tak menoleh. "Mungkin karena Vina kerja di toko, jadi harus tampil cantik dan rapi terus."

Andri tertawa kecil, suara geli yang menggantung di udara. "Istriku dulu kerja di toko juga, tapi malah makin kusut. Toko mainan, pula. Tapi Vina emang beda, cantiknya alami pedesaan, tapi sikap dan gaya berdandannya, ngota banget. Ada kelasnya gitu."

Ryan menoleh perlahan. Senyumnya tidak ramah, tidak juga marah. Datar. Tapi matanya menatap dalam, seperti hendak mengupas isi dada orang di hadapannya.

"Kamu naksir istriku, Ndri?"

Andri tersedak tawa. Ia buru-buru mengangkat dua tangan, defensif.

"Waduh, jangan salah paham. Cuma menyampaikan kebenaran. Lagian bukan cuma aku yang sering bilang gitu. Orang kampung sini juga pada muji istrimu, Yan."

"Kenapa gak muji istri masing-masing aja?" suara Ryan tetap rendah, tapi nadanya seperti tali yang ditarik sedikit lebih kencang dari biasanya.

Andri tersenyum, tapi rona wajahnya berubah. Sedikit merah. Sedikit kaku. "Ya itu tandanya kamu emang harus bangga, Yan. Mana ada orang kampung kayak kita bisa dapetin cewek kota secantik Vina. Rezeki besar itu."

Senyum Ryan muncul tipis, tapi lebih mirip sayatan. "Pujian boleh. Tapi kadang yang awalnya cuma kagum, bisa jadi lain, Ndri."

Andri mencoba tertawa lagi, tapi nadanya tak lagi lepas.

"Ah, kamu serius amat, Yan. Aku ini temanmu sejak bocah. Walau usiaku lebih tua, kita udah sama-sama tahu batas. Masa iya aku ganggu rumah tanggamu."

"Semua laki-laki punya potensi ke situ, Ndri. Kadang rumput tetangga kelihatan lebih hijau, apalagi kalau tiap hari diojekin."

Kening Andri sedikit berkerut. "Aku cuma bantu. Lagian Vina juga selalu sopan. Aku nggak pernah macam-macam, Yan."

"Ya. Aku tahu. Tapi gak semua niat baik berakhir baik. Aku cuma minta satu hal, jangan terlalu sering bawa-bawa nama istriku dalam obrolanmu, Ndri."

Andri diam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baik, Yan. Aku paham maksudmu. Nanti malah salah paham, ya sudah. Aku pamit dulu."

Andri berdiri, menepuk celana, dan melangkah pergi. Tapi langkahnya tak seenteng biasanya. Ada kegugupan di punggungnya, dan mungkin sedikit rasa malu atau bersalah.

Ryan memandangi sisa rokok yang hampir habis. Puntungnya masih mengepulkan asap, tapi pikirannya tak sejernih uap yang menghilang ke udara. Kata-kata Andri menggugah potongan-potongan ingatan yang semula dianggap remeh: betapa sering Vina menyebut nama Andri belakangan ini, tawa mereka saat bercakap di teras, caranya berdandan lebih rapi padahal hanya ke pasar.

Andri memang tampan. Tegap. Lebih tinggi dan kekar dari diri Ryan. Gayanya meyakinkan, mulutnya manis. Dan entah kenapa, rasa tidak nyaman itu kini menekan seperti pisau tumpul yang terus mengikis dada.

Ryan mengusap wajah. Angin sore terasa lebih dingin dari biasanya. Di sudut hatinya, muncul rasa yang aneh—antara curiga, takut, dan pasrah. Ia belum tahu apakah ini hanya perasaan cemburu biasa… atau pertanda akan datangnya badai yang lebih besar.

Belum habis pikirannya melayang, langkah kaki dari arah samping rumah membuat Ryan menoleh cepat. Dayat muncul dengan gayanya yang khas, jaket lusuh tergantung di bahu, dan rambutnya yang disisir ke belakang tampak sedikit berminyak. Lelaki itu melirik Ryan sambil menyunggingkan senyum yang tak bisa ditebak maknanya.

"Sendiri aja, Yan?" sapanya, setengah ramah, setengah menyelidik.

Ryan hanya mengangguk, matanya masih menyimpan jejak keresahan setelah obrolan barusan dengan Andri.

Dayat duduk di akar pohon, sedikit lebih dekat dari yang biasanya dilakukan teman. Ia mengeluarkan rokok dari kantong celananya, menyalakan, lalu menyemburkan asap ke arah langit yang mulai berubah jingga.

"Aku tadi liat si Andri dari kejauhan. Ngobrol sama dia ya?" tanyanya pelan.

"Ngopi doang bentar," jawab Ryan singkat.

Dayat tertawa kecil, seperti menyimpan sesuatu. "Hati-hati, Yan. Temen lama belum tentu niatnya lama."

Ryan menoleh cepat, alisnya naik. "Maksudnya?"

"Ya, aku cuma ngingetin aja. Si Andri itu, dari luar keliatan sopan dan enak diajak ngobrol. Tapi kamu tau sendiri, dia tipe yang... kalau liat sesuatu menarik, bisa jadi lupa sama batas." Dayat menghembuskan asap lagi, kali ini perlahan.

Ryan terdiam. Kalimat itu mengiris, karena terdengar terlalu pas dengan rasa curiga yang tadi baru saja ia coba lupakan.

"Aku bukannya mau ngadu domba," lanjut Dayat, "tapi kamu tahu sendiri, aku juga sering nganterin istrimu. Kamu juga tau istrimu memang luar biasa. Nah apakah kamu gak curiga sama si Andri. Istri secantik Vina, jangan terlalu dibiarkan deket sama orang seperti si Andri, Yan," Dayat bicara pelan, tapi ada nada geli yang tak mengenakkan.

Ryan mengepalkan tangan di pangkuannya, tapi tetap menahan emosi.

"Vina itu, tipe perempuan yang gampang bikin laki-laki mikir yang bukan-bukan," lanjut Dayat, masih dengan senyum yang terlalu santai. "Kadang aku sendiri suka mikir, kamu dapet dia tuh rejeki atau ujian, ya?"

“Yat, kamu sadar nggak, kalau kamu barusan ngomong kayak orang mabok?” suara Ryan pelan tapi tajam.

Dayat terkekeh, “Jangan baperan, Yan. Aku cuma bilang yang nyata. Dan aku cuma pengin kamu waspada aja. Soal si Andri, soal siapa aja. Termasuk aku juga."

"Aku catat itu," kata Ryan pendek, lalu berdiri.

Dayat menatapnya dari bawah, masih dengan senyum separuh. “Aku gak bermaksud jahat, Yan. Cuma kadang suami memang butuh masukan dari luar, sebelum semuanya kejadian.”

Ryan tak menjawab. Ia melangkah pelan ke dalam rumah, tapi di dalam dadanya, amarah, rasa malu, dan ketakutan mulai saling berebut tempat. Ia tahu, kampung kecil ini penuh bisik-bisik, dan istrinya, wanita yang ia banggakan—justru jadi pusat dari semua kemungkinan buruk yang mulai mengintainya.

Siang berganti senja, dan malam pun tiba setelahnya.

Udara kampung terasa lebih dingin dari biasanya, seakan menyimpan rahasia yang belum sempat disampaikan. Ryan melangkah keluar rumah, niatnya sederhana—sekadar membeli rokok di warung Bu Susi, mertuanya Andri. Tapi langkahnya terhenti saat melewati pos ronda.

Dari balik pohon nangka, samar terdengar suara dua lelaki yang sangat ia kenal: Andri dan Dayat sedang asik berbicang.

“Gak heran sih kalau si Ryan makin betah di rumah,” gumam Dayat, tawa kecilnya terdengar geli. “Tapi jujur ya, aku yakin istrinya itu kurang kepuasan. Lihat aja cara dia senyum kalau jauh dari si Ryan. Beda banget, menggoda dan... seolah ngajak gitu.”

Andri ikut tertawa pendek. “Wajar. Istrinya si Ryan itu, auranya kayak api dalam sekam. Gerak-geriknya… lirikan matanya, cara dia bawa diri—kayak cewek yang butuh rasa wortel yang lebih beragam. Ngerti kan maksud gue?”

“Rasa wortel yang beragam?” Dayat tergelak, nyaris tersedak kopinya. “Buset, itu wortel apa es krim!”

Andri menyeringai. “Kalau Vina es krim, dia rasa melon campur cabe rawit. Sekali nyoba, mendesah kepedesan namun bikin nagih, hahahaha.”

Tawa mereka meledak, bebas, tanpa sadar sedang menyalakan api di dada seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka.

Ryan mematung di balik semak. Tangannya mengepal. Mulutnya ingin bicara, tapi lidahnya terasa lumpuh. Bukan karena takut—tapi karena malu. Sebab sebagian dari kata-kata itu... menyakitkan karena mengandung setitik kebenaran yang lama ia sangkal.

Suara Andri kembali terdengar, kali ini nadanya lebih serius. “Menurut aku, Vina tuh udah pengen banget punya anak. Tapi ya… lihat sendiri suaminya. Istrinya penuh gairah dan semangat, sementara suaminya letoy, peragu, penakut. Gimana mau nyambung coba?”

Dayat mengangguk, sambil terkekeh licik. “Kalau aja dia minta bantuan buat buntingin istrinya, siapa tahu kan jadi berkah….?”

“Haha, jangan ngomporin gua, Yat,” balas Andri. “Jangankan satu anak, Sepuluh kali ngehamilin juga siap, hahahaha!”

Tawa mereka menggema di tengah malam yang sepi. Di balik semak, Ryan terasa makin kecil. Ucapan mereka seperti belati: tidak langsung membunuh, tapi mengiris perlahan, meninggalkan luka yang mendalam.

Dan yang paling menyakitkan, bukan hanya karena dihina... tapi karena di dalam hatinya sendiri, ia juga mulai bertanya-tanya—apakah Vina memang benar-benar bahagia bersamanya?

Langkah Ryan goyah. Tak jadi ke warung. Rokok kini terasa sepele. Yang lebih mendesak adalah menjawab pertanyaan yang tiba-tiba menggelegar dalam pikirannya: "Masih adakah tempat untukku... dalam hidup istriku?"

Ia berbalik arah, pulang dalam diam. Rumahnya sunyi, tapi pikirannya ribut. Kata-kata Andri dan Dayat terngiang seperti gema buruk yang tak bisa dipadamkan. Dalam hati, ia mencatat: Dayat memang ular kepala dua. Tapi Andri... serigala berbulu kucing. Dan keduanya mengincar sesuatu yang seharusnya tak mereka sentuh.

Saat membuka pintu rumah, aroma sabun dan kayu menyambutnya. Ia langsung menuju kamar. Di sana, Vina duduk santai di atas ranjang, ponsel di tangan, senyum-senyum sendiri. Wajahnya bersih tanpa make-up, tapi ada rona segar yang terasa asing.

Ryan berdiri lama di ambang pintu, memandangi istrinya dalam diam. Ingin bertanya, “Sedang chat sama siapa?” Tapi lidahnya kelu. Pemandangan ini tak asing, tapi malam ini terasa lebih menusuk.

Pelan-pelan, ia duduk di tepi ranjang. Kasur memantul pelan, tapi sang istri tak menoleh. Jemarinya tetap sibuk di layar ponsel—seolah dunia nyata tak lagi penting.

“Vin…” suara Ryan serak, “Boleh aku tanya sesuatu?”

Vina menoleh, mengunci ponsel. “Apa, Mas? Tumben serius.”

Ryan ragu, lalu mengusap tengkuknya.

“Bang Andri sama Bang Dayat, mereka sering ganggu kamu waktu diojek?”

Vina mendesah, lalu tersenyum tipis. “Ya namanya juga lelaki. Kadang celetuk, goda dikit pas dibonceng, biasalah wajar aja.”

Ryan menunduk. “Tapi kamu… nggak terganggu, kan?”

“Aku nyaman-nyaman aja, kok,” katanya santai. “Asal jangan diladenin, tapi juga jangan dibikin sakit hati. Bisa ribet lanjutannya.”

Jawaban itu menenangkan sekaligus menusuk. Ryan memaksakan senyum. “Iya, aku ngerti.”

Vina menguap. “Kenapa nanyanya aneh-aneh gitu, Mas?”

Ryan menggeleng. “Gak apa-apa. Aku cuma… pengin tahu aja.”

^*^

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Hasrat Liar
8.8
Walau cuma anak angkat, Rey didukung penuh oleh orang tua dan saudaranya untuk menjadi pria perkasa. Keluarga mendorongnya mengasah daya pikat luar biasa agar mampu menaklukkan hati setiap wanita. Simak petualangan Rey mengeksplorasi maskulinitas dan pesona liarnya. Sanggupkah ia memenuhi harapan mereka dan menjadi penakluk ulung dalam dunia asmara?
Sampul Novel Hasrat Terpendam di Gerbong Tidur Kereta
8.3
Dalam novel modern Hasrat Terpendam di Gerbong Tidur Kereta, perjalanan malam di gerbong tidur menjadi penuh ketegangan sensual. Terpikat oleh aroma maskulin para pekerja konstruksi di sekitarnya, seorang wanita tak mampu menahan gejolak gairahnya yang membara hingga nekat memuaskan diri di balik selimut. Namun, tindakan rahasia itu justru berujung fatal saat seorang paman memergokinya. Dengan napas tertahan, pria itu menyingkap selimutnya dan menawarkan kepuasan nyata yang tak terduga.
Sampul Novel Istri Untuk Duda Tampan
8.2
Akibat dikhianati di masa lalu, Adskhan memilih menutup rapat hatinya. Namun, kehadiran Caliana Noushafarina seketika meruntuhkan pertahanan tersebut sejak pandangan pertama. Sayangnya, Caliana justru membenci bos dudanya itu dan menganggapnya sebagai pria buruk. Caliana terus menolak semua perhatian Adskhan karena sosok duda tak pernah ada dalam kriteria pasangan impiannya. Mampukah keteguhan hati Adskhan meruntuhkan kebencian dan meluluhkan hati Caliana?
Sampul Novel Obsesi Mister Daniel
7.9
Daniel, miliarder yang memimpin Walmart di San Francisco, begitu mendambakan Elena, seorang pelayan yatim piatu. Lantaran cintanya terus-menerus ditolak, Daniel nekat menyekap dan merenggut kesucian Elena. Ancaman terhadap keselamatan keluarga pun dilayangkan agar Elena mau menikah dengannya. Elena terpaksa tunduk, namun mengajukan syarat agar pernikahan digelar di masjid dengan paman sebagai wali. Akankah sang CEO menyanggupinya?
Sampul Novel Poison, I'll Kill My Husband
9.4
Aaron telah meninggalkan dunia pembunuh bayaran demi membina rumah tangga dengan Alice. Di balik pernikahan mereka, Alice rupanya seorang agen rahasia yang mengincar Aaron atas kematian orang tuanya. Sambil memanfaatkan ketulusan sang suami, ia menyelidiki sindikat Greenice Group. Kini, Alice didera konflik batin yang hebat antara menuntaskan dendam atau menjaga rasa cintanya yang mulai tumbuh di tengah bahaya yang mengintai.
Sampul Novel Tunangan Ganda
9.5
Demi melunasi utang, Mia, seorang aktris, nekat menyamar sebagai Lara sang pewaris kaya demi menikahi miliarder dingin bernama Hector. Sandiwara yang semula direncanakan singkat ini justru berubah menjadi jebakan rumit seiring berjalannya waktu. Di tengah ancaman pemerasan dan pengkhianatan, Hector mulai mencurigai identitas aslinya sekaligus terpikat oleh pesona Mia yang sebenarnya. Kini, Mia harus memilih: kabur dari dusta ini atau bertahan menghadapi kebenaran mematikan.