APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Janda Laila

Janda Laila

Pernikahan Laila selama lima tahun terancam hancur karena belum juga dikaruniai anak. Kini, suami dan ibu mertuanya memberikan tuntutan yang sangat berat. Laila dipaksa memilih antara mengizinkan suaminya berpoligami atau menyetujui perceraian. Menghadapi dilema yang menguras emosi ini, ia harus segera mengambil keputusan besar bagi hidupnya. Apakah Laila akan menerima kehadiran istri kedua, atau memilih pergi dan memulai hidup baru sebagai seorang janda?
Bab
Bagikan

Bab 2

Tiba di ruang meeting, semua mata menatapku. Mungkin merasa aneh, kenapa kali ini aku telat. Biasanya datang lebih dulu atau tepat waktu. Semua ini gara-gara membahas omongan ibu mertua semalam. Aku mengatur napas, mengembuskan, lalu berdehem.

“Maaf saya terlambat tujuh menit. Silakan meeting-nya dimulai,” ucapku melirik arloji. Menyimpan tas, Kemudian duduk.

Seperti biasa, Siska mengawali pembahasan. Wanita seumuran denganku itu menceritakan tentang pertemuannya kemarin dengan salah satu pengusaha pabrik Mi Instan untuk mengiklankan produknya. Alhamdulillah, perusahaan itu mempercayakan produknya pada perusahaan Advertising kami.

Aku mendirikan perusahaan Advertising atau periklanan bekerja sama dengan Siska. Dia adalah sahabat karib sejak sekolah menengah dahulu. Sampai kuliah kami tetap bersama.

“Masalahnya kita belum punya pengganti Merry yang cuti melahirkan. Jadi, siapa yang akan gantiin Merry di bidang kreatif?” tanya Siska, bimbang.

“Kenapa gak buka lowongan kerja? Gimana sih kalian?” tanyaku kecewa. Tujuh karyawanku saling pandang.

“Sudah, Bu. Tiga hari yang lalu,” sahut Rano yang bekerja di bagian Riset Pemasaran.

“Sudah ada yang melamar?”

“Baru satu orang. Tapi baru diwisuda tahun ini. Belum ada pengalaman.”

“Ah, ribet. Cari yang sudah berpengalaman,” tolakku langsung. Kalau menerima karyawan yang belum berpengalaman, bakal menyita waktu lama. Khawatir mengecewakan Klien.

“Gak keburu, Laila,” jawab Siska dengan suara lemah. Dia memang aku larang memanggil dengan panggilan formal. Bahkan perusahaan ini pun dapat berdiri atas kerja sama dengannya. Hanya saja, aku dan kedua orang tuaku yang lebih banyak menanam saham.

“Klien minta dalam seminggu iklannya sudah bisa tayang. Jadi tiga hari lagi kita harus presentasi. Apalagi perusahaan itu udah ngasih uang di muka setengah dari harga yang disepakati,” lanjut Siska menyerahkan cek ke hadapanku. Aku mengambil cek tersebut dan melihat nominal tersebut.

“Astaghfirullah ....” Aku mendesah frustrasi. Menyandarkan kepala pada sandaran kursi yang aku duduki. Bukan tidak bersyukur, tapi aku takut mengecewakan klien. Apalagi bagian kreatifnya orang baru. Tapi kalau menunggu pelamar lainnya, bisa rusak reputasi perusahaan ini karena tidak profesional.

“Ya sudah, panggil saja pelamar itu. Besok aku sendiri yang mengujinya. Ada lagi yang mau disampaikan?” tanyaku memandang satu persatu mereka.

“Kayaknya udah selesai. Nanti meeting lagi pas bagian kreatifnya sudah ada.” Sahut Siska mewakili yang lain. Aku mengangguk, mengucapkan salam, kemudian keluar ruang meeting menuju ruang kerjaku.

“Laila!” seru Siska.

“Napa?” sahutku sembari membuka pintu. Siska mengekor saat aku masuk ruangan. Wanita itu duduk di kursi yang berseberangan dengan meja kerja.

Aku pun duduk, menyimpan tas di atas meja, kemudian menutup wajah. Pikiranku penat luar biasa. Kalau soal pekerjaan sudah biasa menghadapinya tapi kalau soal rumah tangga sangat menyita pikiran.

Selama hampir tujuh tahun berumah tangga, jarang sekali dilanda masalah apalagi masalah yang rumit. Meskipun rumah tangga sudah tidak terlalu harmonis karena kesibukan masing-masing tapi aku dan Bang Haris tetap menjaga komunikasi. Setidaknya saat kami sedang di rumah.

“Lu lagi ada masalah?” Siska bertanya, seolah tahu apa yang sedang kualami. Aku menghela napas berat. Menyandarkan punggung di kursi.

“Soal ibunya Bang Haris,” jawabku malas.

“Kenapa lagi dia? Minta dibeliin perhiasan? Mobil baru?” cecar Siska yang sudah tahu watak ibu mertuaku yang sangat matre.

Aku menggeleng.

“Kalau soal itu gue gak sepaneng kayak sekarang.”

“Udahlah ... jangan lu manjain mertua matre kayak gitu. Ngelunjak tau! Lama-lama dia bakal minta lu buat dipoligami.” Aku melebarkan mata mendengar ucapan Siska.

Tahu dari mana dia? Aku kan belum cerita. Kalau Bang Haris atau ibunya yang cerita gak mungkin. Karena dua manusia itu dari dulu tidak suka aku dekat-dekat dengan Siska. Mereka bilang, takut ketularan tomboi.

Siska memang agak tomboi. Selama kenal dengannya belum pernah satu kali pun melihat dia mengenakan rok. Mungkin Cuma sewaktu wisuda saja.

“Lu tau dari mana?” tanyaku penasaran.

“Tau apaan?”

“Kalau ibunya Bang Haris nyuruh gue milih dipoligami atau dicerai.” Siska terlonjak. Dia hampir terjatuh dari tempat duduk.

“Hah? Serius nenek sihir bilang gitu?” tanya Siska. Bola matanya membulat seketika.

“Jadi bener, tadi lu cuma nebak?”

“Hooh! Gimana ceritanya dia berani bilang gitu? Halah gak tau diri amat sih? Udah numpang, dikasih makan, laki dikasih kerjaan, apa-apa lu turutin. Sekarang nyuruh lu milih dicerai apa dipoligami! Sarap dua orang itu!! Makanya Laila ... dari dulu gue sering bilang ke lu, jangan terlalu manjain dua manusia itu!” omel Siska panjang lebar. Napasnya memburu. Matanya melirik ke arahku. Lalu menumpu kedua tangan di atas meja.

“Sorry gue emosi. Sekarang lu cerita dah dari awal. Gedein dulu tuh AC, mendadak panas nih hati gue. Rasanya pengen banget makan orang pake sambel geprek!” pungkasnya.

“Ngaco, lu!” Kuraih remote AC, lalu menuruti permintaan sahabatku, Siska.

“Udah, segitu. Sekarang lu mulai cerita dah!”

“Semalam pas gue baru balik kerja, tuh mertua tiba-tiba bilang, ‘kau pilih dicerai atau dipoligami’, edan kan?”

“Idih amit-amit jabang orok. Ya Tuhan ... tolong jauhkan hamba dari mertua macam mertuanya Laila. Aamiin. Terus-terus?”

Aku pun menceritakan semua yang terjadi malam itu hingga kejadian tadi pagi sebelum berangkat ke kantor.

“Dasar parasit! Dugaan lu kemungkinan besar bener! Tuh nenek sihir pasti udah nemuin cewek yang lebih tajir dari lu. Soal anak, itu mah alesan mereka doang.” Siska menanggapi dengan yakin. Sebelah kakinya ia naikkan ke atas kursi.

“Turunin kaki. Cewek gak pantes kayak gitu!”

“Elah ... yang beginian lu urusin. Lanjut dah ceritanya.”

Aku memutar bola mata malas.

“Masalahnya gue belum tau siapa cewek itu.”

“Gampang! Kita punya anak buah banyak. Ngapain pusing? Tinggal suruh, beres!”

Aku menimang perkataan Siska. “Gak segampang itu kali, Sis!”

Siska menghadapku intens. “Terus lu mau pilih yang mana? Dicerai? Apa dipoligami?”

“Ngapain lu nanya? Jelaslah gue pilih cerai!”

“Bagus. Biar nyaho tuh bekas laki ama bekas mertua lu! Gembel-gembel dah! Hidup cuma numpang aja banyak tingkah!” gerutu Siska.

“Tapi, Sis ... gue ngeri juga kalau sampe jadi janda.” Mataku menerawang. Membayangkan ada orang yang bilang.

“Janda Laila. Oh, Ya Allah ...,” cetusku bergidik. Menutup wajah dengan kedua tangan.

“Mending dibilang Janda Laila. Dari pada lu diomongin, Ya Allah ... si Laila jadi istri tua.” Siska mulai mengejek. Kutimpuk ia dengan pulpen. Sue banget punya teman.

“Tau ah. Gue pusing! Lu keluar deh! Keluar!” Aku mengusir Siska, mengibas-ngibaskan tangan agar ia segera keluar dari ruanganku.

“Iya-iya! Cuma saran gue sebagai sahabat, jangan sampe lu mau dipoligami! Mending lu tendang dua parasit itu!” Siska sudah keluar ruangan. Pikiranku kembali membayangkan, bagaimana nasibku setelah menyandang status Janda Laila?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Kisah romansa modern ini mengikuti perjalanan emosional David dan Arina dalam menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah keindahan bunga musim semi yang bermekaran, keduanya belajar saling memahami dan mengisi kekosongan hati masing-masing. Hubungan mereka pun tumbuh dengan indah seiring waktu, membuktikan bahwa satu musim yang singkat mampu menyatukan dua jiwa dalam sebuah ikatan cinta yang tulus serta sangat mendalam bagi mereka berdua.
Sampul Novel Hubungan terlarang
9.0
Penyesalan mendalam menghantui Athena usai melewati malam intim bersama kakak tirinya, Theo. Ia bahkan memilih mengasingkan diri selama tiga tahun untuk melupakan segalanya. Namun, kepulangannya justru memantik obsesi Theo yang semakin tak terkendali. Theo menolak melepas Athena dan terus menjeratnya dalam hubungan gelap yang membara. Baginya, ikatan keluarga hanyalah status formalitas, sebab mereka adalah dua orang asing yang terikat takdir keliru.
Sampul Novel Kesempatan Keduaku, Penyesalannya
8.7
Wasiat sang ayah memaksa Alya menikahi salah satu anggota keluarga Adhitama pada usia 22 tahun. Di kehidupan lalu, ia begitu mencintai Bima. Namun, pria kejam itu berselingkuh dengan Jelita dan meracuni Alya hingga tewas setelah pernikahan mereka. Keajaiban membawa Alya kembali ke masa lalu tepat di hari ulang tahunnya. Terbangun dengan ingatan kelam tentang pengkhianatan Bima, kini ia bertekad mengubah takdir hidupnya dan menolak memilih pria keji itu lagi.
Sampul Novel Pemuas Nafsu Tuan Muda 21+
8.6
Demi memperbaiki taraf hidup neneknya, Nada, siswi SMA, rela mengambil pekerjaan tidak biasa untuk menyusui Daffa yang sedang lumpuh. Interaksi ini terus berjalan sampai fisik Daffa pulih total. Begitu tugasnya selesai dan Nada hendak melangkah pergi, Daffa justru menolak melepaskannya. Rupanya, pemuda itu telah terobsesi dan kecanduan pada sosok Nada. Akankah Nada berhasil meloloskan diri, atau justru terperangkap selamanya dalam jerat Daffa?
Sampul Novel Penyesalan Raja Mafia
8.5
Nasib Luna Hayes berbalik sepenuhnya usai menyelamatkan Liam Moretti, calon pemimpin mafia terkuat di Ravenwood. Di balik reputasi Liam yang bengis, ia justru bersikap sangat lembut pada Luna. Sayangnya, kemewahan yang Luna rasakan harus dibayar dengan menjadi kekasih rahasia pemuas nafsu sang raja mafia. Situasi di antara mereka kian rumit ketika Liam menuntut Luna untuk mengandung dan melahirkan anak darinya.
Sampul Novel The Cruel Prince
8.4
Nathasya terjebak dalam penderitaan akibat cinta pertama yang kini berubah menjadi obsesi kelam. Kehidupannya kini dikuasai oleh seorang pria kejam yang gila kendali dan pemenuhan hasrat seksual. Demi memilikinya seutuhnya, sosok maniak itu tidak ragu menggunakan kekerasan fisik maupun batin. Di tengah siksaan keji yang terus menderanya, seluruh impian masa depan Nathasya perlahan hancur dan lenyap. Akankah ia sanggup bertahan melewati segala penderitaan tanpa akhir ini?