APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Janda Laila

Janda Laila

Pernikahan Laila selama lima tahun terancam hancur karena belum juga dikaruniai anak. Kini, suami dan ibu mertuanya memberikan tuntutan yang sangat berat. Laila dipaksa memilih antara mengizinkan suaminya berpoligami atau menyetujui perceraian. Menghadapi dilema yang menguras emosi ini, ia harus segera mengambil keputusan besar bagi hidupnya. Apakah Laila akan menerima kehadiran istri kedua, atau memilih pergi dan memulai hidup baru sebagai seorang janda?
Bab
Bagikan

Bab 3

Rasanya baru kali ini malas pulang rumah. Ibu pasti akan membahas hal yang sama. Apalagi tadi pagi aku sudah bilang, membahasnya nanti malam selepas pulang kerja.

Kuhembuskan napas. Membuka ponsel. Barang kali Bang Haris masih memberiku perhatian seperti dua minggu lalu.

Astaghfirullah ... aku baru sadar, ternyata dia sudah jarang mengirim pesan whatsapp atau menelepon. Banyaknya pekerjaan membuatku lupa urusan pribadi.

Kurapikan berkas-berkas, memasukkan ponsel ke dalam tas, kemudian keluar ruangan.

“Bu Laila!” Suara laki-laki memanggil. Aku menoleh. Ternyata Adam, karyawan yang bekerja di bagian Eksekusi Iklan.

“Iya, ada apa?”

“Cuma mau bilang, gambar untuk iklan yang tadi pagi kita bahas sudah ada.”

“Lho kok bisa? Bukannya harus nunggu kreatifnya dulu?”

“Harusnya emang gitu. Tapi kan Merry lagi cuti, udah gitu calon penggantinya juga belum berpengalaman. Jadi ya ... nanti bilamana udah ada, orang kreatif itu harus ikuti gambar yang sudah saya buat.”

Aku masih belum mengerti maksud Adam. Kenapa mendahului tugas kreatif? Ah sudahlah, terserah saja. Yang penting hasilnya membuat klien suka. Kepalaku sudah pusing dengan masalah Bang Haris dan ibunya.

“Kamu atur aja deh. Saya pulang duluan ya?”

“Iya, Bu.”

***

Benar saja, saat aku keluar mobil. Ibu mertua duduk di kursi depan rumah. Dia seolah sedang menunggu kepulanganku.

Usai menguruk salam, Ibu mertua mengulurkan tangannya untuk aku cium. Aiiih ... sebenarnya aku sudah malas. Tapi ya sudahlah, saat ini statusnya masih ibu mertua. Yang semestinya harus aku hormati.

“Pulangnya malam amat?” tanya Ibu mertua sambil tangannya membuka kipas lepit yang selalu dibawa.

“Banyak kerjaan,” sahutku singkat, bergegas masuk ke dalam.

“Laila, tunggu!” panggil ibunya Bang Haris. Aku menghentikan langkah tanpa menoleh.

“Bagaimana?” tanya Ibu mertua. Kini tubuhnya sudah berada di hadapanku.

“Laila mau mandi dulu, mau salat isya dulu, mau makan dulu. Nanti ya Bu bahasnya,” pintaku sambil melanjutkan langkah.

“Kamu bilang kita bahas habis kamu pulang kerja? Sekarang malah banyak alasan. Dasar mantu tukang bohong!!”

Degh!

Dia bilang aku tukang bohong? Enak saja. Mereka berdua yang selalu membohongiku. Bang Haris dan Ibunya pikir mungkin aku gak tahu tentang ia yang selalu menggelapkan beberapa persen dari hasil perkebunan teh warisan Abi dan Umi.

Aku selalu diajarkan untuk tidak berbohong sepahit apa pun kenyataan itu. Dan sekarang, seenak jidat Ibu mertua melabeliku tukang bohong!

Aku membalikkan badan. Menghampiri ibu mertua yang berkacak pinggang. Kedua mataku mulai terasa panas menahan amarah.

Aku dan ibu mertua saling berhadapan. Kutelisik kedua netranya, apa masih ada kelembutan dan kasih sayang di sana, dari seorang mertua terhadap menantunya? Nihil! Yang terlihat hanya tatapan keangkuhan dan sok berkuasa.

“Kalau Ibu gak sabar ....” Aku menggantung kalimat. Menelan saliva, menghela napas, kemudian

“Silakan keluar!” Tubuh Ibu mertua bergetar, mundur beberapa langkah. Tangan kanannya spontan memegang dada.

“Menantu lancang! Percuma kau punya wajah cantik, pake jilbab, suka salat, kalau sama orang tua gak ada sopan santun! Pantas saja Tuhan menghukummu dengan tidak memberikan anak!”

Astaghfirullah ... Ya Allah ampuni kekhilafanku. Aku merunduk lesu. Ya aku emang salah. Sudah terpancing emosi.

“Ada apa ini ribut-ribut?” Bang Haris menghampiri kami.

“Itu si Laila. Sekarang sudah berani ngebentak Ibu. Dia mau ngusir Ibu Haris.” Ibu mertua dengan lancar mengadu pada anaknya. Bang Haris langsung memeluk Ibu.

“Apa-apan kamu, Laila? Berani kurang ajar sama Ibu mertua.” Aku tak menjawab. Memilih masuk kamar, mandi, salat, lalu makan. Percuma meladeni mereka. Yang ada, aku bisa lepas kendali lagi.

Nanti saja baru bicaranya. Kalau memang mau mereka Bang Haris menikah lagi, silakan. Aku tidak akan mencegah atau memberi pilihan lain. Yang terpenting ceraikan aku lebih dulu.

***

Usai makan malam sendiri, aku berencana membicarakan keputusanku pada Ibu dan Bang Haris.

“Non Laila?” panggil Bi Inah. Asisten rumah tangga keluarga sejak aku masih kecil.

“Iya, Bi?”

“Boleh Bibi bicara sebentar?” tanya Bi Inah sambil kepalanya melongok ke ruang televisi.

“Boleh.”

“Tapi ... kalau Non gak keberatan, kita bicaranya di kamar Bibi aja. Maaf Non.”

Aku mengerti ke mana arah pembicaraan Bi Inah. Kayaknya apa yang akan Bi Inah bicarakan itu soal Bang Haris dan ibunya.

Aku mengangguk. “Laila mau bicara di kamar Bibi. Ayok!” ajakku berjalan mendahului Bi Inah.

“Kunci aja pintunya, Bi!” titahku. Aku yakin, yang dibicarakan Bi Inah nanti adalah suatu hal yang penting.

Aku duduk di tepian ranjang. Begitu pun dengan Bi Inah.

“Non maaf ... bukan maksud Bibi ikut campur, atau mengadu domba.” Aku tersenyum mendengar penuturannya.

“Bicara saja, Bi. Gak usah sungkan. Insyaallah apa yang Bibi omongin nanti, Laila percaya.”

Bi Inah membetulkan tempat duduknya. Kentara sekali dia begitu gugup.

“Non, seminggu lalu ... Bibi mendengar obrolan nyonya besar sama Tuan Haris di kamar nyonya besar. Nyonya besar bilang, dia punya teman arisan seorang wanita cantik keturunan Korea. Katanya ... uangnya banyak, perhiasannya juga banyak. Wanita ... sos-sos- ....” Bi Inah berpikir sejenak.

“Sosialita?” tanyaku.

“Nah itu Non.”

“Terus, Bi?”

“Nyonya besar bilang, dia pengen ngenalin Tuan Haris sama wanita itu. Malahan ... nyonya besar pengen Tuan Haris menikah sama wanita itu.”

Ternyata benar dugaanku. Ini bukan masalah anak. Perkara anak Cuma alasan mereka saja.

“Terus, Bi? Eh sebentar, kok Bibi bisa denger obrolan mereka?” tanyaku penasaran. Sebab aku tahu, Ibu mertua paling tidak mau kalau sedang ngobrol ada Bi Inah di dekatnya. Dia bilang, “Bau bawang.”

“Waktu itu Nyonya nyuruh Bibi bersihin toilet yang di kamarnya. Nyonya besar itu kan kalau bicara keras suaranya. Jadi kedengeran.”

“Oh gitu. Terus mereka ngomong apalagi, Bi?”

“Sebenarnya ... nyonya gak mau Tuan Haris sama Non Laila cerai. Tuan Haris suruh mempertahankan rumah tangga sama Non Laila, tapi harus juga nikahin wanita itu. Biar dapat uang dari sana-sini.”

Astaghfirullah ... menghadapi mertuaku itu memang harus banyak-banyak istigfar. Matrenya nauzubillah.

“Tapi kenapa mereka nyuruh Laila pilih dicerai atau dipoligami?”

“Nah itu Non ... kata Nyonya besar lagi, itu cuma ancaman. Karena Nyonya pikir, Non Laila gak bakal mau kehilangan Tuan Haris. Soalnya Non Laila udah gak punya orang tua. Mereka pikir, Non Laila sangat butuh kehadiran mereka.”

Aku menutup mulut menahan tawa. Ada-ada aja mereka!

“Laila rasa ya, Bi. Ibu dan anak itu kegeeran. Kepedean. Emangnya mereka siapa? Laila gak selemah itu. Lagian kan, ada Bibi yang selalu temenin Laila.”

“Iya Non, alhamdulillah ... Gusti Allah masih ngasih Bibi umur panjang. Moga saja ... Bibi bisa lihat anak Non Laila kelak.”

“Aamiin. Terus, masih ada lagi gak yang mereka omongin?”

“Ada Non. Menurut Bibi ini sangat penting.”

“Apaan, Bi?”

“Apa Non Laila pernah tanda tangan di map yang Tuan Haris sodorkan sebulan lalu?” Aku mengingat-ingat apa yang Bi Inah sampaikan.

Seingatku, waktu itu aku buru-buru pergi buat nemuin klien. Bang Haris menyuruh aku tanda tangan di atas kertas yang belum sempat aku baca. Katanya, itu persetujuan kontrak panen setahun hasil kebun teh pada pengusaha teh kemasan. Dan harus ditanda tangani pagi itu juga. Sebab siangnya Bang Haris harus ke Bogor.

“Kayaknya pernah. Kenapa emang, Bi?”

Wajah Bi Inah terlihat lesu. Pundaknya melorot ke bawah.

“Kata Nyonya Besar ... itu surat pemindahan sertifikat perkebunan di Bogor menjadi atas nama Tuan Haris.”

“Apa?”

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 18 Kali Gagal Nikah
9.0
Tiga tahun pasca-resepsi, seorang istri belum juga terdaftar resmi karena suaminya yang pilot telah 18 kali membatalkan pendaftaran pernikahan mereka. Dari urusan uji terbang hingga panggilan telepon mendadak, murid perempuan suaminya selalu menjadi alasan pembatalan yang mengacaukan segalanya. Menolak terus ditelantarkan, sang istri akhirnya memutuskan untuk pergi jauh. Namun, ketika dia menaiki pesawat menuju Doma, sang suami justru nekat menyusul dan mengejarnya hingga ke sana.
Sampul Novel Balas Dendam Manis Sang Ratu Miliarder
9.0
Setelah diusir, Helen baru menyadari identitas aslinya yang bukan bagian dari keluarga tersebut. Rumor menyebut ia kembali ke pelukan keluarga miskin yang akan mengeksploitasinya, namun fakta justru berbanding terbalik. Ayah kandung Helen rupanya seorang miliarder yang siap memanjakannya. Helen sendiri memegang paten desain bernilai fantastis dan menjadi mentor astronomi nasional. Di saat publik menantikan kejatuhannya, ia melesat menjadi sosok legendaris dan memikat pria misterius yang sangat berkuasa.
Sampul Novel Cinta Setelah Perceraian: Mantan Suami Ingin Aku Kembali
8.6
Tiga tahun Kirana bertahan dalam pernikahan penuh hinaan bersama Reza. Begitu cinta lama sang suami datang lagi, ia memilih mundur demi mencari kebahagiaan baru. Reza yang angkuh yakin mantan istrinya akan berlutut memohon rujuk. Dugaan itu meleset saat ia melihat Kirana justru asyik merayakan kebebasan dan dikelilingi banyak pria di bar. Sadar Kirana telah berpaling, kepanikan mulai melanda Reza. Kini giliran dirinya yang harus berjuang keras merebut kembali hati Kirana.
Sampul Novel "Gita Cinta dari Gadjah Mada"
8.1
Kisah cinta membara hadir di Universitas Gadjah Mada antara Gita, seorang mahasiswi berbakat, dan Mada yang penuh ambisi. Di tengah dinamika dunia perkuliahan yang padat, jalinan asmara mereka harus menghadapi berbagai tantangan nyata. Pembaca akan dibawa merasakan perjuangan emosional sepasang kekasih ini dalam mempertahankan hubungan mereka. Sebuah potret romansa masa muda yang berjuang bertahan melewati kerasnya rintangan di lingkungan akademis kampus.
Sampul Novel Hati Lunara
8.4
Kisah Lunara Ustman menyoroti kehangatan kasih keluarga dan persahabatan, di tengah jerat cinta segitiga unik yang menuntut pengorbanan. Menghadapi kerinduan mendalam pada orang tuanya serta cobaan hidup yang perih, Luna memilih berserah pada takdir Tuhan. Ia terus berjuang melewati badai demi meraih kedamaian dan kebahagiaan sejati, sembari meyakini bahwa setiap rahasia di balik kepedihannya akan berakhir indah.
Sampul Novel Jodoh Pilihan Oma
8.5
Kehidupan Dion berbalik arah setelah menolong Kayla dari ancaman bahaya bersama Nenek Melati. Kagum akan ketegaran Kayla, sang nenek bertekad menjodohkan mereka. Rencana ini ditentang keras oleh Bu Ratna yang lebih memilih Amara, sosok ambisius pengejar status, untuk Dion. Demi menyingkirkan Kayla, Amara merancang intrik licik untuk membongkar masa lalu kelam sang rival. Kini, Dion harus berjuang menghadapi tekanan keluarga dan konspirasi jahat demi melindungi cintanya.