APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Janda Bertemu Dengan Duda

Janda Bertemu Dengan Duda

Demi menghapus duka setelah kepergian Rizal, Sonia memboyong Alif dan Hana ke sebuah apartemen sederhana. Di hunian baru itu, takdir mempertemukannya dengan Yudha, duda menawan yang juga berjuang mengasuh putrinya, Mira, pasca-tragedi memilukan. Pertemuan tak sengaja di lorong apartemen perlahan memantik getaran rasa di hati mereka yang sama-sama terluka. Kini, keduanya dihadapkan pada pilihan sulit: terus meratapi masa lalu atau berani membuka hati bagi cinta yang baru.
Bab
Bagikan

Bab 3

Malam itu, hujan akhirnya mereda, meninggalkan langit yang gelap dengan serpihan awan yang tampak seperti potongan-potongan kain hitam. Sonia duduk di kursi kayu tua di teras apartemennya, memandangi jalanan yang basah di bawah. Ada bau tanah yang segar, bercampur dengan aroma hujan yang baru reda. Ia memejamkan mata, membiarkan angin malam yang sejuk membelai wajahnya, seolah ingin menghapus semua lelah dan kekhawatiran yang menghantui.

Hana sudah tertidur di kamarnya, terbungkus selimut biru muda dengan boneka kelinci di sampingnya. Alif masih duduk di ruang tamu, memandangi gambar-gambar di buku cerita. Sonia tahu, anak-anaknya berusaha mengerti tentang dunia yang berputar cepat ini, yang kadang tampak begitu rumit bagi mereka. Tapi, di setiap senyum mereka, Sonia merasa seperti dia menemukan alasan untuk bertahan. Meskipun malam-malamnya sepi, ia merasa tetap punya tujuan, sebuah alasan untuk membuka mata dan menghadapinya.

Namun, malam itu ada sesuatu yang berbeda. Sonia merasa ada sesuatu yang menggelitik, seolah ada energi di udara yang membuatnya gelisah. Seperti ada sesuatu yang menunggu untuk diungkap, sesuatu yang menunggu di luar jangkauan, menunggu untuk dihadapi.

Keesokan harinya, suasana di apartemen sedikit lebih hidup. Ada keramaian di koridor saat para penghuni apartemen mulai berbicara tentang acara komunitas yang akan diadakan sore itu. Sonia bisa mendengar suara tawa dan obrolan ringan dari luar pintu. Anaknya, Alif, berlarian ke sana ke mari, mempersiapkan diri dengan antusias. Hana sudah menyiapkan beberapa camilan yang akan mereka bawa, seperti kue kecil yang dibuatnya dengan bantuan Sonia.

"Sudah siap, Ibu?" Hana bertanya, suaranya ceria. Sonia menatap anaknya, merasa hangat di dalam dada. Ada keceriaan di wajah Hana, yang membuatnya sadar betapa pentingnya saat-saat seperti ini. Ia ingin anak-anaknya merasakan kebahagiaan, bahkan jika dunia mereka masih penuh dengan bayang-bayang kesedihan.

"Siap, sayang. Ayo kita berangkat," jawab Sonia dengan senyuman yang tulus. Mereka berjalan menuju ruang komunitas di lantai bawah, di mana suara musik dan tawa sudah terdengar jelas. Sonia merasakan kegugupan kecil di dalam hatinya. Ini adalah pertama kalinya ia benar-benar bergabung dengan acara di apartemen, di mana semua orang berkumpul dan berbagi kebersamaan. Di satu sisi, ia merasa senang bisa memberi anak-anaknya kesempatan untuk bersenang-senang. Namun, di sisi lain, ia juga merasa cemas. Apa yang akan ia hadapi? Bagaimana jika suasana di sana membuatnya teringat pada masa lalu yang menyakitkan?

Di ruang komunitas, suasananya penuh warna. Ada dekorasi balon beraneka warna, meja-meja kecil dengan camilan dan minuman, serta anak-anak yang berlarian, bermain dan tertawa. Sonia melihat sekeliling, mencoba menenangkan dirinya, tetapi pandangannya tertuju pada Yudha yang berdiri di sudut ruangan. Ia sedang berbicara dengan seorang pria bertubuh kekar yang sepertinya merupakan salah satu pengurus apartemen.

Sonia merasa detak jantungnya semakin cepat. Yudha mengenakan kaus berwarna abu-abu yang membuatnya terlihat santai dan sedikit misterius. Matanya yang tajam berkilau saat ia tertawa, membuat Sonia teringat pada sore itu ketika mereka pertama kali bertemu, saat Yudha menanyakan kabarnya dengan suara yang penuh perhatian. Seolah-olah, di balik pria yang tampak tenang itu, ada sesuatu yang ingin ia sembunyikan.

"Bu Sonia! Ayo sini, kita bermain!" Alif menyeret tangannya, mengalihkan perhatiannya dari Yudha. Sonia tersenyum, memandang anak-anaknya yang antusias. Ia melihat Hana sedang duduk di meja permainan, bersama beberapa anak yang sedang bermain kartu. Beberapa orang dewasa sedang berdiskusi di meja dekat pintu keluar, membicarakan berbagai hal, tetapi suasana tetap ceria.

"Saya senang akhirnya kalian datang," suara Yudha tiba-tiba terdengar di dekatnya. Sonia menoleh, terkejut melihatnya sudah berada di sampingnya. Ada senyum kecil di wajahnya, senyum yang menghangatkan suasana di sekitarnya.

"Terima kasih sudah mengundang kami, Pak Yudha," kata Sonia dengan suara lembut. Ia merasa malu, seakan kata-katanya tak cukup untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya. Yudha hanya mengangguk, seolah memahami betapa berarti kesempatan ini bagi Sonia.

"Semua orang di sini butuh kebersamaan, Bu Sonia. Kadang, kita hanya perlu membuka hati dan menerima kehadiran orang lain," jawab Yudha, nadanya penuh keyakinan, tetapi ada keraguan di balik matanya. Sonia merasa ada sebuah cerita yang belum diungkapkan, sebuah cerita yang mungkin mirip dengan kisahnya.

"Mungkin itu benar," Sonia menjawab, mencoba menemukan keberanian untuk melanjutkan percakapan. Namun, sebelum ia bisa berkata lebih lanjut, suara tawa Alif dan Hana memanggilnya. Mereka sedang berlari ke arah Sonia, wajah mereka berseri-seri. Alif memegang sebuah boneka kecil, sedangkan Hana menunjukkan kartu yang baru saja mereka menangkan dalam permainan.

"Ibu, lihat! Kami menang!" teriak Hana, matanya bersinar.

Sonia menunduk, mencium kedua anaknya dengan lembut. "Kalian memang hebat," katanya, suara penuh kebanggaan.

Yudha menatap mereka, senyum lembut di wajahnya. "Anak-anak yang hebat, Bu Sonia. Mereka beruntung punya ibu sebaik Anda."

Sonia merasa dadanya sesak mendengar kata-kata itu. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang menyentuh hati, membuatnya teringat pada kenangan lama saat Rizal, suaminya, pernah berkata bahwa mereka berdua-ia dan Sonia-adalah tim yang tak terkalahkan. Kata-kata itu kini terpatri di hatinya, seolah menjadi suara yang mengingatkan betapa besar cinta dan pengorbanan yang pernah mereka bagi.

Mata Yudha bertemu dengan mata Sonia sejenak, lalu mereka sama-sama mengalihkan pandangan, seakan merasa ada sesuatu yang tak bisa diungkapkan di antara mereka. Sonia tahu, Yudha juga memiliki kisahnya sendiri, rasa sakit yang ia sembunyikan di balik senyum tenangnya.

Ketika acara di ruang komunitas mulai berakhir, para penghuni apartemen mulai berpindah-pindah, saling berbicara dan tertawa. Sonia dan anak-anaknya duduk di kursi, menikmati kue-kue kecil dan teh hangat yang disediakan. Yudha berdiri tidak jauh dari mereka, berbicara dengan seorang wanita yang tampak akrab dengannya. Sonia hanya bisa menebak-nebak apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran pria itu.

"Bu Sonia, kalau tidak keberatan, saya bisa antar kalian pulang," Yudha mendekat, menawarkan diri. Sonia terkejut, tetapi merasa ada kenyamanan dalam tawaran itu. Ia tidak tahu mengapa, tetapi ada sesuatu dalam cara Yudha berbicara, seolah ia mengerti lebih banyak daripada yang diungkapkannya.

"Tentu, Pak Yudha. Itu akan sangat membantu," jawab Sonia, suara yang lebih lembut dari yang ia kira. Yudha mengangguk, memanggil Mira, putrinya yang sedang bermain di sisi lain ruangan.

"Ayo, Mira. Waktunya pulang," Yudha berkata, lalu menatap Sonia, yang hanya bisa membalas dengan senyum penuh terima kasih. Mereka berempat berjalan keluar dari ruang komunitas, berjalan di lorong yang sunyi, di bawah lampu-lampu yang berpendar samar.

Di luar, udara malam terasa lebih dingin. Sonia merasakan angin malam yang membelai kulitnya, membawa serta aroma hujan yang masih menempel di udara. Ia merasa seperti ada sesuatu yang mulai berubah, meski ia belum tahu apa.

"Jangan khawatir, Bu Sonia. Kadang, hidup memang seperti hujan. Kadang datang deras, kadang hanya rintik-rintik. Tapi selalu ada pelangi setelahnya," kata Yudha, dengan suara yang penuh keyakinan.

Sonia menatap Yudha, melihat dalam matanya ada kekuatan yang sama seperti yang ia miliki-kelembutan yang terbungkus dalam rasa sakit. Di malam yang sunyi itu, di tengah sepi yang menyelimuti mereka, Sonia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Mungkin, hanya mungkin, ada harapan di ujung hujan itu.

Mereka berempat berjalan kembali ke apartemen, dalam keheningan yang penuh makna. Sonia tahu, perjalanannya belum berakhir, tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Sebuah awal, sebuah kemungkinan yang menunggu di depan.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Pernikahan Impian
8.2
Sebuah tragedi memaksa Zaura Mazna Maziya, seorang gadis yang ceria, untuk menikah tanpa rasa cinta dengan Ezar Shafar Dhiaurrahman. Ezar sendiri merupakan pria gila kerja yang berwatak tegas sekaligus keras kepala. Perbedaan kepribadian yang mencolok ini membuat keduanya terjebak dalam hubungan pernikahan yang dingin dan kaku. Akankah kebersamaan menumbuhkan rasa cinta di antara mereka, atau justru perceraian yang menjadi akhir dari kisah pernikahan ini?
Sampul Novel Dibuang oleh Keluarga
9.7
Hari pernikahan Cindy Marissa berubah menjadi mimpi buruk saat Thomas Samono membatalkan upacara demi Yana Amerta yang baru kembali. Tak hanya kehilangan calon suami, kakak kandung Cindy pun tega meninggalkannya di altar dengan alasan Yana lebih membutuhkannya. Pengkhianatan mereka semakin nyata saat Yana memamerkan foto dirinya mengenakan gaun pengantin dan kalung yang seharusnya menjadi milik Cindy. Merasa hancur dan ditinggalkan sendirian oleh orang-orang terdekatnya, Cindy akhirnya memutuskan untuk menyerah dan memilih pulang kepada kedua orang tuanya.
Sampul Novel Gadis Penghibur Tuan CEO
8.5
Nasib malang menimpa Ajeng Kirei Aswari yang dijual ayahnya ke dunia malam sejak usia delapan belas tahun. Satu dekade berlalu, hidupnya bergantung pada sosok CEO sukses, Reynold Bill Timur. Hubungan mereka terhalang restu keluarga Bill yang menuntut pernikahan setara. Meski terpaksa menikahi wanita pilihan keluarga, Bill enggan melepas Ajeng dan menyeretnya ke pusaran skandal. Kini, Ajeng terjebak dalam dilema moral antara bertahan atau menyakiti istri sah Bill.
Sampul Novel Gairah Terlarang
9.7
Seorang pemuda tampan yang masih muda, perlahan terjerumus ke dalam lubang hitam nafsu yang tak terkendali. Ketika godaan hadir dari sosok guru dan bahkan keluarganya sendiri, batas-batas moral mulai terkikis satu per satu. Setiap pertemuan menjadi semakin intim, setiap rahasia semakin dalam, membawanya ke dalam kecanduan seks yang sulit dilepaskan. Kisah ini mengungkap sisi gelap manusia yang tersembunyi, di mana hasrat terlarang menuntun pada kehancuran sekaligus kepuasan yang membara. Berani menelusuri kegelapan tersebut?
Sampul Novel Jebakan Utang Mafia
8.8
Evelyn Rossi harus menanggung utang peninggalan sang kakek kepada bos Kartel La Sanguina yang kejam, Riccardo Valentini. Saat bekerja di kedai pizza kedok mafia, Evelyn justru memicu obsesi gelap Riccardo. Ia sempat melarikan diri dan dilindungi oleh kepala mafia Rusia, Nikolai Volkov, selama empat tahun. Namun, Riccardo berhasil menculiknya kembali. Kini, Evelyn terjebak di tengah perseteruan maut antara obsesi posesif Riccardo dan ketulusan cinta Nikolai.
Sampul Novel Perselingkuhan Liar Istriku
8.0
Bayu mengerahkan seluruh kemampuannya demi memicu gairah Dokter Mirza. Usai menanggalkan pakaian bawah sang dokter, jemari dan lidah Bayu mulai menjelajahi area sensitif wanita itu. Walau sempat merasa sesak akibat posisi yang menyulitkan, ia pantang menyerah demi menyuguhkan kepuasan tertinggi. Dokter Mirza yang terus mengerang hebat kini tak sanggup lagi membendung hasratnya. Bayu pun bergegas mempercepat ritme gerakannya demi mengantar sang dokter menuju puncak kenikmatan.