APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Janda Bertemu Dengan Duda

Janda Bertemu Dengan Duda

Demi menghapus duka setelah kepergian Rizal, Sonia memboyong Alif dan Hana ke sebuah apartemen sederhana. Di hunian baru itu, takdir mempertemukannya dengan Yudha, duda menawan yang juga berjuang mengasuh putrinya, Mira, pasca-tragedi memilukan. Pertemuan tak sengaja di lorong apartemen perlahan memantik getaran rasa di hati mereka yang sama-sama terluka. Kini, keduanya dihadapkan pada pilihan sulit: terus meratapi masa lalu atau berani membuka hati bagi cinta yang baru.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sonia berdiri di depan pintu apartemen yang tertutup, memandang gagang pintu yang mulai berkarat. Hujan masih turun, membuat suasana di luar semakin kelam. Ia tahu, Yudha hanya mencoba bersikap ramah, tapi kata-katanya yang sederhana tadi terasa begitu berat di hatinya. Begitu banyak yang ingin ia katakan, begitu banyak yang ingin ia tumpahkan, namun semuanya terbungkus rapat dalam hatinya. Ia merasa terjebak, seolah ada dinding tak terlihat yang menghalangi dirinya untuk bergerak maju.

Langkah kaki Sonia terdengar di lorong sepi itu, bergema di antara deru hujan dan suara angin yang menderu. Ketika ia kembali ke apartemen, Alif sudah bangun, duduk di sofa kecil di ruang tamu dengan boneka beruang di pangkuannya, menatap kosong ke layar televisi yang menampilkan gambar-gambar penuh warna yang tak menarik perhatiannya.

"Pagi, Ibu," Alif menyapa, suaranya yang ceria seperti selalu. Sonia mendekat, menyentuh rambutnya yang kusut dengan lembut. Hati Sonia terasa sesak. Alif tidak tahu betapa sulitnya hidup yang mereka jalani, bagaimana ia berjuang setiap hari untuk menjaga hidup mereka tetap utuh.

"Halo, sayang. Sudah sarapan?" Sonia bertanya, berusaha membuat suaranya terdengar ringan. Alif mengangguk, menunjukkan sepotong roti yang masih di tangan. Ia menatap ibunya dengan mata bulatnya yang penuh rasa ingin tahu, seolah ingin tahu apa yang terjadi di balik ekspresi murung ibunya.

"Kenapa, Ibu? Kenapa Ibu kelihatan sedih?" tanya Alif, mengalihkan perhatian Sonia. Tanyaannya yang polos itu seperti pisau tajam yang menembus dinding pertahanan Sonia. Ia tidak bisa menahan air mata yang mulai menetes, dan Alif hanya memandangnya dengan kebingungan. Sonia menunduk, mencoba meredakan rasa sakit yang semakin menghimpit.

"Tidak, sayang. Ibu hanya... hanya lelah. Tapi Ibu baik-baik saja, kamu jangan khawatir," katanya, berusaha meyakinkan Alif dan dirinya sendiri. Di luar, hujan masih turun dengan deras, tetapi di dalam apartemen, ada kehangatan yang muncul dari keberadaan anak-anaknya. Meski tidak sempurna, mereka adalah dunia bagi Sonia, segala-galanya yang ia miliki.

Sonia duduk di meja makan yang sederhana, menatap secangkir kopi hitam yang sudah mendingin. Pikiran-pikirannya berlarian, membayangkan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Hari itu adalah hari pertama ia akan pergi ke kantor baru, tempat di mana ia berharap bisa menghidupi keluarganya dengan lebih layak. Pekerjaan yang didapatkannya dari teman lamanya, Maya, yang tahu betapa sulitnya hidup yang dijalani Sonia setelah kehilangan suaminya.

Sonia menyusuri lorong apartemen yang sepi, memandangi setiap pintu yang berderit saat dibuka. Ia tidak tahu harus merasa takut atau bersemangat. Kehidupan di apartemen ini masih terasa asing, dengan para tetangga yang terkadang mengintip dari balik jendela, mencoba mempelajari siapa Sonia dan anak-anaknya. Ia menghela napas, lalu menatap pintu apartemen sebelah. Beberapa hari lalu, saat ia pertama kali bertemu dengan Yudha, Sonia merasa ada sesuatu yang belum pernah ia rasakan sejak lama-rasa ingin tahu.

Ia tahu, Yudha adalah pria yang seolah tak ingin diganggu, namun di balik ekspresi itu, ada sisi lain yang membuat Sonia penasaran. Mungkin, mereka berdua sama-sama terluka, sama-sama berusaha untuk melawan bayang-bayang masa lalu. Di dalam dirinya, Sonia merasakan sesuatu yang samar, seolah ada kesempatan yang tak terungkap, sebuah pintu yang menunggu untuk dibuka.

Hari pertama di kantor baru berjalan dengan cepat, meskipun Sonia harus mengatur ulang prioritasnya, memikirkan bagaimana mengatur waktu untuk mengantarkan anak-anak ke sekolah dan menjemput mereka. Wajah bosnya, Pak Dedi, yang berkumis tebal, menyambutnya dengan ramah, dan beberapa rekan kerja yang lain menunjukkan simpati yang tulus, membuat Sonia merasa sedikit lebih ringan. Ia tahu, mereka tidak tahu cerita lengkapnya, tetapi itu sudah cukup.

Sonia pulang dengan kelelahan yang hampir melumpuhkan. Jalanan di Jakarta yang macet semakin memperparah rasa lelahnya. Mobil-mobil yang berhenti di lampu merah, suara klakson, dan hujan yang masih mengguyur dari sore tadi membuat suasana di luar semakin menekan. Namun, saat ia mendekati pintu apartemen, ada rasa nyaman yang datang begitu ia melihat Alif dan Hana duduk di ruang tamu, bermain bersama dengan ekspresi bahagia yang sederhana.

"Sudah pulang, Ibu!" teriak Alif dengan mata berbinar, berlari kecil ke arah Sonia saat ia membuka pintu. Sonia merasakan sejumput kebahagiaan yang membuatnya ingin menangis. Kehadiran anak-anaknya adalah hadiah terindah, satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup. Ia merangkul Alif, mencium kepalanya, lalu memeluk Hana yang sudah berdiri di samping mereka.

"Sudah makan malam?" tanya Sonia, memeriksa wajah Hana yang terlihat lelah tapi ceria.

"Sudah, Bu. Ibu pasti lelah ya? Kalau Ibu lelah, kita bisa beristirahat bersama," Hana berkata, senyum kecil menghiasi wajahnya. Sonia hanya bisa mengangguk, menyadari bahwa anak-anaknya tahu lebih banyak tentang dunia ini daripada yang ia kira.

Beberapa hari berlalu dengan cepat. Sonia mulai mengenal rekan-rekannya di kantor, yang membuatnya merasa seakan hidupnya mulai kembali normal. Namun, malam itu, saat hujan turun kembali dengan deras, Sonia teringat akan pertemuan singkatnya dengan Yudha. Ia tidak tahu kenapa, tetapi pikirannya selalu kembali kepada pria itu, pada kata-kata yang sempat diucapkannya.

"Kadang, kita hanya perlu tahu bahwa kita tidak sendirian."

Tiba-tiba, ketukan di pintu membuat Sonia terkejut. Ia berjalan ke pintu, hati yang berdetak cepat, dan membuka pintu. Di sana, berdiri Yudha dengan ekspresi yang sulit dibaca. Di tangannya, ada selembar kertas.

"Maaf mengganggu, Bu Sonia. Ada sesuatu yang mungkin bisa membantu," katanya dengan suara yang lebih dalam dari biasanya. Sonia menatapnya, mencoba membaca ekspresi di wajah pria itu.

"Terima kasih, Pak Yudha. Ada apa?" Sonia bertanya, suaranya hampir tidak terdengar.

"Ini tentang acara komunitas di apartemen, beberapa kegiatan yang bisa membuat kita lebih dekat dengan tetangga lain. Saya hanya ingin mengundang Ibu dan anak-anak untuk bergabung. Kadang, kita hanya perlu sedikit kehangatan," jawab Yudha, suaranya tegas namun penuh empati.

Sonia menatapnya, lalu menunduk, melihat undangan itu. Ada sesuatu yang membuatnya merasakan getaran di dalam dada, seolah kesempatan kecil ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar. Tanpa sadar, senyum kecil terbentuk di bibirnya.

"Terima kasih, Pak Yudha. Kami pasti datang," kata Sonia, suaranya penuh rasa terima kasih.

Yudha mengangguk dan berpaling, tetapi sebelum ia melangkah pergi, Sonia memanggilnya. "Pak Yudha, terima kasih. Benar-benar."

Yudha berhenti sejenak, lalu menatap Sonia, lalu tersenyum dengan kehangatan yang langka. "Kita semua butuh sedikit cahaya, Bu Sonia. Sampai jumpa."

Ketika pintu tertutup, Sonia hanya bisa memandangi undangan itu, perasaan yang dulu ia kira sudah lama hilang kini mulai hidup kembali di dalam hatinya. Ini bukan akhir, tapi mungkin, hanya mungkin, ini adalah awal dari sesuatu yang baru.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BOYFRIEND?
8.1
Bagi Raina, persahabatan lawan jenis tak pernah lepas dari cinta, namun ia pantang mengencani teman sendiri agar hubungan awet. Sayang, pengkhianatan tunangannya merusak segalanya, hingga ia terpaksa menikahi sahabat sendiri demi menyembuhkan luka. Kini Raina terjebak dilema antara akal sehat dan perasaan. Sanggupkah ia mencintai sang suami, atau justru kembali pada mantan kekasih yang masih dirindukannya?
Sampul Novel Bukan Pernikahan Kontrak Satu Bulan
9.2
Kayana, wanita karier yang antipati terhadap komitmen cinta, terpaksa menyewa pria miskin bernama Dirza untuk menjadi suami bayarannya demi menuruti tuntutan sang ayah. Ia merancang skenario pernikahan kontrak yang hanya berdurasi satu minggu hingga satu bulan. Walau Dirza dirundung rasa bersalah karena memanipulasi kesakralan pernikahan, Kayana tetap bergeming. Mengapa ia justru memilih pria biasa dibanding pria mapan untuk mendampinginya?
Sampul Novel Cinta dari CEO Sombong: Dingin Sekarang, Sayang Kemudian
9.1
Tiga tahun Wenny Cladia merawat suaminya, Hendro Jamil, miliarder Kota Livia yang terbaring koma. Namun setelah siuman, Hendro justru berpaling pada cinta pertamanya yang baru kembali, membuat Wenny sadar bahwa ia hanya dimanfaatkan. Enggan terus dihina, Wenny melayangkan gugatan cerai dengan alasan sang suami impoten. Saat Hendro yang murka datang melabrak, ia terkejut mendapati Wenny yang dulu dianggapnya jelek kini menjelma menjadi dokter ahli medis yang menawan dan siap menantangnya.
Sampul Novel Gulai Daging Ibu
9.1
Demi menghidupi anak-anak dan suaminya yang lumpuh, Parni mengambil langkah nekat. Wanita empat puluh tahun ini terhimpit beban hidup yang berat hingga terseret ke dalam dosa yang sangat mengerikan. Tindakan ekstrem apa yang sebenarnya ia lakukan sampai membuat seluruh warga desa dicekam ketakutan luar biasa? Simak kisah kelam penuh misteri tentang pengorbanan tragis yang berujung pada teror mencekam bagi seluruh penduduk kampung.
Sampul Novel Ijinkan Aku Mencintaimu
7.8
Masa kontrak pernikahan Sheeree dan Arvid kini telah berakhir. Namun, Sheeree enggan menyerah begitu saja. Ia pun mengajukan kesepakatan baru demi memikat hati sang suami dalam waktu satu bulan. Jika usahanya gagal, ia siap pergi dengan tangan kosong. Di balik keputusan nekat ini, tersimpan sebuah rahasia besar yang ia jaga rapat-rapat. Demi peluang terakhir ini, Sheeree rela mempertaruhkan segalanya. Sanggupkah ia meluluhkan Arvid, atau rahasia itu justru mengubah takdir mereka?
Sampul Novel Kurang dari tiga
9.2
Hubungan cinta Raka dan Cherry kini terancam retak akibat kehadiran Nadia. Raka merasa terus dikesampingkan oleh sang kekasih, yang selalu mendahulukan sahabat berkacamata tebalnya tersebut. Emosi Raka akhirnya memuncak begitu menyadari dirinya cuma menjadi prioritas kedua bagi Cherry. Namun, rasa cemburu yang membakar ini malah mengantarkan Raka pada sebuah titik balik tak terduga dalam hidupnya. Sanggupkah jalinan asmara mereka bertahan di tengah renggangnya prioritas Cherry?