APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jadi Istri Kedua Sang Ceo

Jadi Istri Kedua Sang Ceo

Kematian tragis Fero demi menyelamatkannya dari kecelakaan membuat Lania Herbert begitu terpukul. Di tengah keputusasaan, ia mencoba bunuh diri dengan menabrakkan diri ke mobil. Bukannya tewas, Lania justru terlempar ke dimensi asing yang mengerikan, tempat monster-monster ganas keluar dari Dungeon dan menghancurkan peradaban modern. Demi bertahan hidup di dunia baru yang kacau ini, ia terpaksa menjalani peran tak terduga sebagai istri kedua dari seorang CEO yang sangat kuat.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Bagaimana keadaannya Dok?" tanyaku mengabaikan si suster, dan memegang bahu Dokter di depanku. Berharap agar ia akan memberikan jawaban sesuai yang kuminta. Tapi, lama waktu berlalu, tak ada jawaban darinya.

Suasana hening terasa hening. "Dok? Operasinya berhasil kan?" lirihku tersenyum, menatap wajah dokter yang masih mengenakan masker dan pakaian operasinya.

"Maaf Nona ... kami tak bisa. Pasien sedang meregang nyawa saat melakukan perjalanan dari TKP ke rumah sakit." Deg! Kalimat dari dokter meremas bagian terdalam dari lubuk hatiku. Napasku tercekat, dengan pandangan buram dipenuhi kristal bening dengan bentuk cair. Tanganku mengepal, dan bergerak mengayun memukul dada. Berharap bisa menepis semua rasa.

Itu semua tak mungkin benar! Ya, tak mungkin! Fero tak akan pernah meninggalkanku semudah ini. Bertahun-tahun memendam rasa sendirian, penuh luka dan siksaan untuk berjuang agar terus hidup. Kini telah dibalas, dan aku sadar. Sedari awal, aku tak memendam rasa ini sendiri. Fero juga sama.

Ingatan tentang masa-masa sebelumnya ....

Kepala Fero terangkat ke langit, sinar mentari yang berada di samping membuatnya bercahaya dalam pandanganku. Setiap melihat wajahnya, jantungku selalu berdebar tak karuan, seakan ingin loncat. Dulu, selalu bertanya-tanya, perasaan apa ini. Namun secara perlahan, kutahu ini adalah cinta.

"Lan, kamu tau? Aku suka sama seseorang yang dulu sangat biasa di mataku, namun kini terlihat sangat spesial setiap detik saat bersamanya." Waktu itu, aku mengira kalimat itu, jika dia menyukai orang lain. Dadaku terasa diremas, kepalaku menunduk. Netraku terasa basah.

"Andai suatu saat aku mati, kuberharap bahwa perasaan ini sudah terungkap. Dan dia tau tentang itu. Aku masih belum berani mengungkapkannya. Bahkan, aku merasa tak layak untuk berada di sisinya."

Aku menoleh, melihatnya memegang dada dan tertunduk, kedua sudut bibirnya terangkat ke atas, membentuk senyuman yang mengibaratkan rasa sedih, senang dan sakit secara bersamaan. Sungguh beruntung orang yang dicintai olehnya.

Setiap titik sudut ekspresi pada wajahku terasa berat dan penuh rintangan untuk tersenyum. Tapi aku tetap berusaha. Karena ingin menguatkannya, bergantian setelah dia menguatkanku untuk terus hidup dan berjuang. "Aku adalah orang pertama yang mengaminkan do'amu dengan kencang dan sungguh-sungguh!" seruku tersenyum, dengan mata menyipit.

Menyembunyikan perasaan sakit setiap kalimat itu terucap melalui bibirku. "Terima kasih Lan. Sebenarnya ... orang yang aku suka telah mengetahui perasaanku, tapi mungkin tak menyadarinya," balas Fero menolehkan kepala ke arahku dan tersenyum.

Degg! Mungkin dia akan segera menjadi milik orang lain, apa aku harus membuang perasaan ini? Bibirku bergetar. Tanganku menyangga tubuh, dan segera bangkit, lalu berbalik ke arah pintu keluar rooftop satu-satunya. "Eh, udah dulu nih. Aku ... aku mau ke toilet bentar, kebelet pipis!" seruku tanpa melihatnya.

Langsung berlari membuka pintu, dan menuruni tangga. Brak! Tubuhku langsung terhempas ke lantai. Rasa sakit mendera bagian kepala, dengan sensasi hangat, bersama bau amis mulai tercium pada hidungku. Aku mulai bangkit dengan menyangga tubuh menggunakan tangan. Saat akan berdiri, nyeri luar biasa menyapa pergelangan kaki. Tak ada pilihan lain selain duduk.

Menoleh ke kanan dan kiri, tak ada orang, hening. Tanganku mengepal di atas keramik, sambil menyangga tubuh. Pandanganku kembali berkaca-kaca, seperti biasa, ada apa-apa, aku selalu memikirkan Fero sebagai penyelamat. Tapi, mulai sekarang tak bisa seperti itu. "Seseorang ... tolong aku," lirihku pelan.

Aku ingin menangis. "Lania!" suara teriakan menggema dari atas, aku langsung mendongkak, menyadari siapa empunya suara.

"Fero," gumamku tak bisa menahan bendungan air mata untuk bisa terus bertahan di balik kelopak mata. Aku ingin move on darimu, tapi ini tak akan mudah. Kau selalu muncul di saat aku butuh. Mau itu penyelamat, sahabat, superhero, sekaligus sosok hangat. Seperti ayah dan ibu orang lain.

Sebab, ayah atau ibuku tak akan seperti itu. Ibu telah pergi, sementara ayah terus menyalahkanku akibat masalah lalu. Kemudian kedua kakak yang terus menyalahkanku dan membenciku. Tak ada yang bisa jadi pegangan untukku. Semua menjauh kala aku butuh. Dan tidak pernah mendekat. Kecuali Fero.

Sebuah tangan langsung memeluk pinggang, dan meraih tanganku untuk bergerak memeluk pundaknya. "Kenapa bisa gini? Suaranya sampai kedengaran di atas lho!" serunya menatapku khawatir. Tak bisa kujawab pertanyaannya. Jadi, hanya bisa terdiam.

"Lan? Bertahan, kalau kamu gak bisa jalan aku gendong!" ungkapnya membuatku tersentak. Sontak saja kepalaku menggeleng. Tapi Fero seakan tak peduli. Dalam sekejab, ia membuatku berada dalam gaya bridal style khas pengantin baru. Permukaan wajahku terasa panas.

"Bertahan! Kita ke UKS!" serunya khawatir, berlari ke UKS di lorong-lorong sepi waktu pelajaran. Di mana kami saat ini membolos. Dari bawah, aku melihat ukiran wajah tampan dengan kacamata aksesoris berwarna hitam yang membuatnya terlihat semakin mempesona dan berdamage, setiap kupandang.

"Bagaimana bisa kamu begitu tampan?" lirihku. Kemudian aku tersentak. Kuharap Fero tak mendengarnya sama sekali. Aku tak ingin hubungan kami menjauh hanya karena dia mengetahui bahwa, aku memiliki rasa terhadapnya.

Tak ada respon sedikit pun terhadap kalimatku. Secara diam-diam, napasku terhela dengan panjang secara lirih, mengisyaratkan bahwa ada perasaan lega, kala dia tak mengetahui kalimatku. Bolehkah aku mengungkapkan.

Sebenarnya, aku sangat nyaman berada dalam posisi ini, walau sangatlah memalukan untuk dilihat orang lain. Di saat-saat seperti ini, aku berharap waktu berhenti. Membiarkanku nyaman dalam pelukan sementara di dada bidangnya. Sambil menikmati debaran jantung yang begitu indah untuk kudengar.

Kembali kutatap wajah tampan dengan kacamata itu, angin berembus dan cahaya kembali berpihak. Di antara lorong-lorong, angin mengajak daun yang rontok untuk bersamba mengiringi perjalanan singkat menuju UKS.

Brakk! Suara gebrakan terdengar membuyarkan lamunanku. Ternyata kami sudah sampai, dan mulai masuk ke dalam UKS. Menggeser salah satu tirai putih khas UKS. Fero meletakkanku dengan emm lembut, atau cuman perasaanku?

"Kenapa gak ada orang sih!" kesalnya mengacak rambut. Lalu menatap padaku. "Jangan kemana-mana, di sini aja dulu oke. Aku cari salah satu guru!" pintanya, kemudian berlari keluar dengan cepat, sampai tak bisa kubalas kalimat itu. Apa aku terlihat seperti orang yang bisa jalan?

Mengabaikan kalimat itu, pikiranku mulai tertuju pada adegan di mana jatuh dari tangga. Sebuah luka bisa membuatnya bertingkah romantis. Apa aku harus banyak terluka untuk mendapatkan perhatian lebih darinya?

Tidak-tidak! Kepalaku menggeleng tidak setuju dengan pemikiranku barusan. Apakah akal sehatku tertinggal saat jatuh di tangga? Tentu aku tak boleh berpikir seperti itu. Itu bukan cinta, tapi obsesi. Karena yang kutahu, cinta itu tulus tak mengharapkan apa-apa.

"Cepetan dikit coba! Lihat! Ada teman saya terluka, tapi UKS gak ada orang!" suara Fero membutku mengalihkan perhatian. Hatiku kembali hancur, saat ia mengatakan kalimat teman. Ternyata kami hanya sebatas teman.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Indra, Reinkarnasi Tiga Dewa
9.6
Dunia sihir Nobel terancam punah akibat virus mematikan kiriman Raja Iblis untuk membasmi manusia. Indra, seorang yatim piatu yang tumbuh di kalangan ras Triton, harus kehilangan tempat tinggalnya yang hancur diserang monster terinfeksi. Demi melawan kegelapan, ia memulai perjalanan bersama Aruna yang misterius dan Rai, pendekar yang bertekad membangun kembali kerajaannya. Akankah Indra berhasil menguak jati dirinya sekaligus menghentikan wabah iblis ini?
Sampul Novel Jalan Jodoh Sang Koki
8.1
Max, seorang juru masak terkenal, terpaksa melarikan diri setelah dituduh membunuh perdana menteri lewat hidangannya. Di tengah pelarian, jiwanya merasuk ke raga seorang wanita korban tenggelam. Dalam wujud baru ini, Max justru terpikat pada Wulan, sahabat Nadia. Saat berhasil pulang ke tubuh aslinya, Max bertekad kuat untuk melamar Wulan. Namun, perjuangan meyakinkan sang pujaan hati ternyata sangat sulit. Mampukah koki ini memenangkan cinta sejatinya?
Sampul Novel Kekasih Dari Dunia Lain
9.0
Vania yang hancur setelah berpisah dari Kevin berniat mengakhiri hidup di jembatan. Beruntung, Rangga menyelamatkannya dan langsung mengutarakan perasaan. Di balik kebahagiaan itu, Rangga rupanya sesosok hantu yang menyembunyikan jati dirinya. Kebohongan ini akhirnya dibongkar oleh Viola di rumahnya. Kini, Vania dihadapkan pada pilihan sulit. Akankah ia tetap bersama sang kekasih dari alam gaib, atau justru ada lelaki lain yang akan datang menggantikan posisinya?
Sampul Novel SAMSARA
9.3
Sejak menginjak umur tujuh belas tahun, hidup Larasati Sinta tidak lagi sama karena berbagai kejadian ganjil terus menerornya. Situasi kian rumit dengan munculnya Erland Altair Januar. Walau hubungan mereka diawali kejadian buruk yang menciptakan jarak, senior idola sekolah itu justru pantang menyerah mendekati Laras demi menjadikannya pacar. Kini, Laras terjepit di antara teka-teki misterius yang membayangi dan obsesi Erland yang membingungkan.
Sampul Novel Segitiga Penguasa - Sudut Pertama
8.5
Demi melindungi keluarganya dan bayi titipan sahabatnya dari kejaran prajurit, seorang pria mengungsi ke desa asal setelah tragedi memilukan. Sialnya, empat tahun kemudian ia tewas di depan istrinya yang baru melahirkan. Dua dekade berlalu, Marcapada tumbuh tanpa sosok ibu. Kini, ia harus berjuang bersama pemuda yatim piatu bernama Soma. Mereka harus bersaing ketat dengan puluhan pemuda lain dalam sebuah kompetisi sengit untuk memperebutkan gelar Penjaga.
Sampul Novel Tumbal Rumah Bersalin
9.6
Di balik sosok ramahnya sebagai bidan Desa Tlogo Ungu, Warni menyimpan misteri kelam. Trauma akibat kemiskinan dan pengucilan masa lalu mendorongnya bersekutu dengan siluman ular putih bernama Nyai Sukma lewat perantara Romlah. Demi kejayaan bisnis dan kekayaan instan, kesepakatan mistis pun terjalin. Namun, ritual pesugihan ini menuntut bayaran mengerikan: ibu melahirkan di malam Jumat Kliwon dan darah daging Warni sendiri sebagai tumbal pertama. Sanggupkah ia menumbalkan bayinya?