APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jadi Istri Kedua Sang Ceo

Jadi Istri Kedua Sang Ceo

Kematian tragis Fero demi menyelamatkannya dari kecelakaan membuat Lania Herbert begitu terpukul. Di tengah keputusasaan, ia mencoba bunuh diri dengan menabrakkan diri ke mobil. Bukannya tewas, Lania justru terlempar ke dimensi asing yang mengerikan, tempat monster-monster ganas keluar dari Dungeon dan menghancurkan peradaban modern. Demi bertahan hidup di dunia baru yang kacau ini, ia terpaksa menjalani peran tak terduga sebagai istri kedua dari seorang CEO yang sangat kuat.
Bab
Bagikan

Bab 3

Mengingat masa lalu yang terkenang dalam ingatan, bolehkah aku teriak menyesal, karena waktu itu sama sekali tak terpikirkan bahwa gadis yang dia maksud adalah aku. Tak ada lagi yang bisa kulakukan.

Mendorong dokter, dan masuk ke dalam ruang operasi. Duniaku terasa semakin hancur dan tak lagi hidup seperti sebelumnya, ketika dia masih tertawa, curhat, senyum dan menarik tanganku untuk berkeliling taman.

Bergerak meraih tangan pucat dari tubuh yang tak lagi bernyawa. Bulir cairan bening luluh lantak menyusuri setiap jengkal pipi mulus. "Bangun!" pintaku pelan, walau kutahu bahwa dia tak akan lagi bangun.

Suara tangis perlahan menggema di dalam ruangan. Suara itu berasal dari diriku sendiri yang tak menerima kenyataan bahwa Fero telah pergi. Berkali-kali kuguncang bahunya. Fero tak bangun ataupun merespons permintaanku.

Bergerak menyusuri kulit pipi putih pucat yang masih bisa terlihat tampan, walau sudah tak bernyawa. Kakiku bergetar tak kuat berdiri di depannya. Mengulurkan tangan yang lain untuk menangkup pipinya secara bersamaan.

Kubiarkan kening kami mendekat satu sama lain. "Fero ... bangun, jangan tidur seperti ini dan membuatku takut. Di mana janjimu yang pernah kamu ucapkan? Bangun dan bertahanlah di sisiku. Kulit putih pucat yang terasa dingin ini menyebarkan hawanya, hingga aku merasa duniaku redup tanpa ada kamu sebagai cahayanya," ungkapku dengan nada begitu lirih.

Ibu jari bergerak menelusuri kedua sudut bibirnya, pandanganku terfokus pada bagian benda kenyal itu. Perlahan memberanikan diri untuk melumatnya. Kering, dingin dan kaku. Ini tak seperti bibirnya.

Sebelumnya terlihat begitu lembut dan penuh pesona, hingga setiap saat harus menahan diri untuk tidak menciumnya. Bayangan-bayangan masa lalu muncul. "Bangunlah Fero, katakan sekali lagi, bahwa kau benar-benar mencintaiku!" pintaku setelah melepaskan tautan bibir satu pihak.

Benar-benar tak ada respons. Seluruh bagian tubuhku bergetar, dengan kepala perlahan mendongkak menatap langit. "Apa sekarang kau puas Tuhan? Telah merebut seseorang yang menjadi cahaya satu-satunya dalam hidupku ... apa yang bisa aku lakukan sekarang ... aku ingin mati," lirihku mengepalkan tangan.

Kata-kata itu terucap, tapi kemudian aku tak tahu harus apa, aku hanya bisa menyalahkan-Nya atas segala sesuatu yang pergi dari sisiku. Aku selalu, dan terus bertanya bagaimana bisa dia melukiskan takdirku di atas lembaran buku takdir dengan begitu kejam.

Kebahagiaan itu ada. Namun hanya menjadi beberapa paragraf, kemudian diteruskan oleh kejamnya dunia. Di mana aku kembali bertahan, berdiri dan meringkuk di bawah sunyinya malam.

Semua orang menyukai bulan, karena sinarnya begitu indah, tapi tidak denganku. Aku membenci bulan, sinarnya seakan menertawakanku dalam kesunyian malam, tanpa ada yang mau meraih atau menghangatkan hati.

"Nona ... maaf, tapi sebentar lagi kami harus membawanya ke kamar mayat." Tubuhku tersentak, menengok ke arah dokter yang baru saja menyadarkanku atas lamunan penuh kebencian dan kesepian.

Aku menggeleng tidak terima. "Jangan," pintaku lirih, saat dokter ini mencoba melepaskan alat yang mendeteksi detak jantung. Masih tak bisa kuterima bahwa Fero telah tiada. "Jangan bawa dia," sambungku pelan.

"Maaf Nona, tapi tolong terimalah kenyataan. Saya tahu ini semua berat untuk Anda ditinggal orang yang terkasih. Namun, tolong jangan membuat pihak lain ikut merasa berat dan kesusahan!"

Aku terdiam mendengar kalimat pria dengan jas berwarna putih ini. Sekarang semua mengetahui, tak ada yang mau berdiri di sisiku kecuali Fero. Tak ada yang mau meraih tanganku kecuali Fero.

"Sungguh saya tak berharap apa-apa darimu, ataupun dari-Nya, tapi bisakah aku meminta satu hal. Biarkan dia tetap di sini, biarkan aku bersama dengan Fero sedikit lebih lama," pintaku menengok ke arah Fero yang terbaring kaku.

Dokter di hadapanku ini terdengar menghela napas pasrah. Aku menengoknya, dia melangkah keluar pergi dari ruangan. "Saya hanya memberikan Anda waktu sedikit lebih lama, jika kemudian Anda meminta untuk waktu lebih lama, saya mohon maaf, itu tidak bisa saya lakukan!" tegasnya berhenti melangkah, ketika pintu terbuka.

Aku mengangguk sebagai tanda terima kasih atas waktu yang lebih lama ini, setelah itu, hanya ada bunyi pintu yang tertutup secara perlahan. Suasana diiringi keheningan. Kembali aku mendekat ke brankar Fero.

Meraih jari-jemarinya yang pucat, aku kecup punggung tangan itu, dan menggerakkan telapak tangannya untuk menempel pada pipi. Menutup mata untuk menghayati elusan telapak tangan kaku ini, dan mencoba mencari kehangatan di setiap gerakannya.

Fero ... aku tak tahu harus berkata apa. Satu hal yang kuingin untuk saat ini adalah, terus bersama denganmu. Membuka mata menatap wajahnya dengan ratapan pilu nan sayu, kukecup lagi telapak tangannya.

"Fero ... aku ingin menangis, tapi tak bisa. Aku tahu, setelah ini tak bisa lagi kita bertemu dan menggenggam tangan satu sama lain, mengelilingi pasar malam sambil bermanja. Namun, bolehkah aku meminta satu hal darimu. Datangi aku di mimpi ... jika boleh, lakukan setiap malam," lirihku menggerakkan kepala agar terlihat seperti dielus, sambil memejamkan mata.

Rasa sakit kembali terasa, tapi bukan pada fisik. Melainkan hati, seperti diremas dan dihancurkan, kemudian ditinggalkan tanpa ada perbaikan untuk bisa dipulihkan kembali. Mencoba memuaskan diri hanya dengan elusan pada pipi. Aku membuka mata.

"Untuk selanjutnya, aku tak akan berharap pada pria lain. Aku tak ingin ditinggalkan untuk kesekian kalinya oleh orang yang kusayang," sumpahku pelan, membuat janji yang langsung terucap dari lubuk hati.

Ceklek! Suara gagang pintu berputar, aku menengok ke asal suara. Melihat dokter itu kembali dengan beberapa suster di belakangnya. Mengukir senyum terpaksa, aku bangkit dari posisi elusannya, dan berjalan melewati dokter.

"Dok, tolong beritahukan pada kedua orang tua kekasih saya. Saya meminta maaf." Setelah mengatakan itu, langsung saja aku mempercepat langkah keluar rumah sakit. Pandanganku berkaca-kaca.

Memejamkan mata dengan cepat, berharap agar bulir cairan bening ini tidak turun. Namun, bukannya berhenti, tapi, semakin kencang ketika kembali berusaha untuk membuatnya tidak turun.

Membuka mata, dan kemudian berbelok ke lorong di samping kanan. Aku melihat sebuah pintu keluar. Menghentikan gerakan berlari, aku mulai berjalan dan menarik pintu kaca itu, lalu keluar dengan rasa sakit yang mengiringi setiap langkahku yang menjauh dari rumah sakit.

Berhenti di sebuah toko kaca yang transparan, aku melihat bayangan diriku dengan pakaian compang-camping. Persis sudah seperti gembel pinggir jalan. Memang inilah hidupku, begitu banyak celah yang tampil pada dunia, karena baru saja kehilangan alasan untuk terus bertahan.

Ingin aku tertawa melihat penampilan diriku yang tampil dalam cermin itu. Mengepalkan tangan dan menunduk, sambil kembali berjalan. "Aku memang tak pantas untuk hidup bukan, semua berkorban hanya demi aku. Padahal ... tak ingin kulanjutkan untaian benang takdir yang menjulur entah ke mana ini."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Indra, Reinkarnasi Tiga Dewa
9.6
Dunia sihir Nobel terancam punah akibat virus mematikan kiriman Raja Iblis untuk membasmi manusia. Indra, seorang yatim piatu yang tumbuh di kalangan ras Triton, harus kehilangan tempat tinggalnya yang hancur diserang monster terinfeksi. Demi melawan kegelapan, ia memulai perjalanan bersama Aruna yang misterius dan Rai, pendekar yang bertekad membangun kembali kerajaannya. Akankah Indra berhasil menguak jati dirinya sekaligus menghentikan wabah iblis ini?
Sampul Novel Jalan Jodoh Sang Koki
8.1
Max, seorang juru masak terkenal, terpaksa melarikan diri setelah dituduh membunuh perdana menteri lewat hidangannya. Di tengah pelarian, jiwanya merasuk ke raga seorang wanita korban tenggelam. Dalam wujud baru ini, Max justru terpikat pada Wulan, sahabat Nadia. Saat berhasil pulang ke tubuh aslinya, Max bertekad kuat untuk melamar Wulan. Namun, perjuangan meyakinkan sang pujaan hati ternyata sangat sulit. Mampukah koki ini memenangkan cinta sejatinya?
Sampul Novel Kekasih Dari Dunia Lain
9.0
Vania yang hancur setelah berpisah dari Kevin berniat mengakhiri hidup di jembatan. Beruntung, Rangga menyelamatkannya dan langsung mengutarakan perasaan. Di balik kebahagiaan itu, Rangga rupanya sesosok hantu yang menyembunyikan jati dirinya. Kebohongan ini akhirnya dibongkar oleh Viola di rumahnya. Kini, Vania dihadapkan pada pilihan sulit. Akankah ia tetap bersama sang kekasih dari alam gaib, atau justru ada lelaki lain yang akan datang menggantikan posisinya?
Sampul Novel SAMSARA
9.3
Sejak menginjak umur tujuh belas tahun, hidup Larasati Sinta tidak lagi sama karena berbagai kejadian ganjil terus menerornya. Situasi kian rumit dengan munculnya Erland Altair Januar. Walau hubungan mereka diawali kejadian buruk yang menciptakan jarak, senior idola sekolah itu justru pantang menyerah mendekati Laras demi menjadikannya pacar. Kini, Laras terjepit di antara teka-teki misterius yang membayangi dan obsesi Erland yang membingungkan.
Sampul Novel Segitiga Penguasa - Sudut Pertama
8.5
Demi melindungi keluarganya dan bayi titipan sahabatnya dari kejaran prajurit, seorang pria mengungsi ke desa asal setelah tragedi memilukan. Sialnya, empat tahun kemudian ia tewas di depan istrinya yang baru melahirkan. Dua dekade berlalu, Marcapada tumbuh tanpa sosok ibu. Kini, ia harus berjuang bersama pemuda yatim piatu bernama Soma. Mereka harus bersaing ketat dengan puluhan pemuda lain dalam sebuah kompetisi sengit untuk memperebutkan gelar Penjaga.
Sampul Novel Tumbal Rumah Bersalin
9.6
Di balik sosok ramahnya sebagai bidan Desa Tlogo Ungu, Warni menyimpan misteri kelam. Trauma akibat kemiskinan dan pengucilan masa lalu mendorongnya bersekutu dengan siluman ular putih bernama Nyai Sukma lewat perantara Romlah. Demi kejayaan bisnis dan kekayaan instan, kesepakatan mistis pun terjalin. Namun, ritual pesugihan ini menuntut bayaran mengerikan: ibu melahirkan di malam Jumat Kliwon dan darah daging Warni sendiri sebagai tumbal pertama. Sanggupkah ia menumbalkan bayinya?