APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri yang Tak Kau Percaya Ternyata Kaya Raya

Istri yang Tak Kau Percaya Ternyata Kaya Raya

Dituduh tidak suci dan dihina karena latar belakangnya, pernikahan Analea dengan Hamid dipenuhi kebekuan. Puncak keretakan terjadi saat Analea memergoki suaminya berselingkuh. Bertekad menuntut cerai, ia menyusun strategi hukum hingga berhasil bekerja di Eternal Group dengan gaji fantastis. Namun, kehidupan barunya dipenuhi kejanggalan. Mengapa Kaisar, sang presdir, selalu melindunginya? Apa hubungan Ibu Maira dengan masa lalunya? Di tengah misteri itu, Fabian, pengusaha matang rekan Kaisar, menawarkan bantuan dengan syarat yang tak biasa.
Bab
Bagikan

Bab 1

. Gosip Para Tetangga

"Eh, dengar-dengar si Hamid habis nikah sama istrinya itu jadi jarang pulang ya?”

Langkah Analea terhenti saat mendengar nama suaminya disebut ketika ia ingin keluar membeli sayur.

Wanita sederhana berusia 24 tahun yang mengenakan daster murahan itu terpaku di balik pintu. Rambut panjangnya yang hitam ia selipkan di balik telinga, ingin mempertajam pendengaran tentang obrolan itu.

"Beneran, Mbak?” Suara lain menyahut. “Tapi nggak heran sih. Aku malah dengar kalau istrinya Hamid itu anak pelacur!"

Dada Analea semakin sesak mendengar kalimat yang keluar dari mulut para tetangganya itu. Tubuhnya yang tadi tegak, seketika lemas.

"Ih, kalau ibunya pelacur, jangan-jangan anaknya nggak perawan lagi."

Terdengar suara tawa mengejek dari beberapa tetangga lain yang sedang memilih sayuran.

"Wah, kalau gitu kasian Hamid, dong. Dapat istri udah nggak perawan. Duh, mana anaknya Bu Irma itu gantengnya selangit, kerja kantoran pula. Sayang banget malah nikah sama pelacur."

"Waduh! Jangan-jangan si Hamid jarang pulang karena punya istrinya udah gak rapet," cetus seorang ibu-ibu.

"Oh! Jangan-jangan si Hamid jarang pulang karena sudah punya wanita lain di luar sana," timpal tetangga lainnya, kembali berasumsi.

Tubuh Analea semakin menegang. Tidak hanya menghina ibu angkat yang telah membesarkan dirinya, para tetangga itu juga menjadikan urusan rumah tangga Analea sebagai bahan gunjingan. Di depan rumahnya, pula!

Namun, Analea tidak mungkin marah dan membuat keributan di depan rumah mertuanya ini. Apalagi ia baru tiga minggu tinggal di rumah itu sebagai menantu.

Baru saja, Analea hendak membuka pintu, kembali terdengar suara salah satu tetangganya bicara sedikit pelan, tapi tetap terdengar jelas olehnya.

"Sssttt ... denger-denger nih, katanya mereka tidurnya udah nggak satu kamar, loh!"

Betapa terkejutnya Analea mendengar ucapan tetanggaanya itu.

"Bagaimana bisa …?" gumam Analea, tidak menyangka. Meskipun kabar tersebut benar, tetapi hal itu tidak seharusnya diketahui oleh para tetangga di sekitar rumahnya.

Sedetik kemudian, wanita berhidung mancung itu menarik napas panjang seraya memejamkan netra bulatnya, menenangkan diri.

Setelah tenang, Analea membuka mata dan melanjutkan langkahnya, menghampiri para tetangga yang sejak tadi sibuk membicarakannya.

"Selamat pagi, Ibu-Ibu!" sapa Analea dengan senyum manisnya.

Para tetangga yang tadi membicarakannya spontan terdiam dan terkejut. Ada yang saling colek, ada pula yang saling mencibir dengan lirikan sinis ke arah Analea. Wanita berwajah oval itu pura-pura tidak tahu. Ia tetap berusaha fokus memilih belanjaannya.

"Eeh ..., Mbak Ana. Tumben belanja. Biasanya Bu Irma yang belanja dan masak."

Analea hanya membalas dengan senyuman pertanyaan seorang ibu yang berdiri di sebelahnya. Ada serenteng gelang emas di pergelangan tangan kanannya, terpampang saat ibu itu meraih satu papan tempe di hadapan Analea.

“Iya, Ibu lagi ada urusan, jadi saya yang gantikan,” jawab Analea singkat, membuat para ibu-ibu mengangguk-anggukan kepala penuh arti.

"Ngomong-ngomong, Mas Hamidnya ke mana, Mbak?” Kali ini ibu-ibu di depan Analea bertanya saat Analea hendak membayar belanjaan. Nadanya terdengar menyindir.

Tampaknya, ibu-ibu satu inilah yang menjadi pemimpin perkumpulan gosip ini.

“Kok jarang kelihatan, sih? Padahal pengantin baru, loh!"

"Harusnya tuh, ya. Pengantin baru itu ke mana-mana berdua. Bulan madu, kek. Ini kok yang lakinya malah jarang di rumah." lanjut ibu itu lagi dengan senyuman sinis.

Mendengar ucapan itu, para tetangga yang lainnya menoleh pada Analea yang masih saja tersenyum.

"Suami saya kerja, Bu,” jawab wanita berkulit putih tersebut sembari mengambil belanjaannya. Ia mencoba tetap tampak tenang, meskipun hatinya sudah merasa sangat tidak nyaman. “Maaf Ibu-ibu, Saya sudah selesai. Pamit masuk dulu!"

Analea mengangguk ramah, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah dengan dada bergemuruh. Air mata telah membendung di kedua kelopak matanya, tetapi alih-alih meloloskan emosinya meskipun tidak ada orang di rumah, wanita itu memilih untuk memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.

“Tidak. Itu hanya gosip biasa,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Itu biasa terjadi.”

Setelah berhasil menenangkan diri, Analea melangkah ke dapur dan mulai memilah bahan belanjaan untuk dimasak hari ini.

Akan tetapi, tidak dapat ditahan, ucapan-ucapan para tetangganya tadi terngiang di kepala.

Sebenarnya Analea memang menyadari. Sejak menikah tiga minggu yang lalu, sikap Hamid padanya sangat jauh berbeda dibanding masa mereka pacaran. Hamid kini lebih dingin padanya. Suaminya itu juga kerap kali pulang larut malam.

Selama ini Analea berusaha berpikir positif saja. Mungkin suaminya itu sedang banyak pekerjaan di kantor. Namun, setelah mendengar obrolan tetangganya tadi, Analea sempat menduga-duga sesuatu yang tidak ia harapkan.

Apa benar Hamid punya wanita lain?

Apa benar Hamid mempermasalahkan asal usul Analea?

Akan tetapi, bukankah sejak awal ia tahu asal Analea dari mana?

Yang paling utama dan paling mengganggu adalah … dari mana para tetangga itu tahu kalau mereka tidak tidur di kamar yang sama?!

Wajah Analea mendadak pucat. Rasa khawatir yang amat besar pada pernikahannya mulai menyelimuti hatinya.

"Mas, Aku mau bicara, boleh?" Malam harinya, Analea menghampiri Hamid saat suaminya itu selesai membersihkan diri.

"Aku capek. Mau tidur," sahut Hamid dingin tanpa menoleh pada sang istri . Pria bertubuh gempal itu meraih kaos dan celana pendek yang sudah disediakan oleh Analea di tepi ranjang, lalu memakainya.

Analea merasa dadanya penuh sesak melihat sikap suaminya tersebut.

"Tapi ini penting, Mas. Aku merasa sikap Mas padaku berubah. Kenapa, Mas?"

Ekspresi Hamid seketika menggelap. "Sudah aku bilang aku capek!" sentaknya. Suara pria berumur 27 tahun itu semakin meninggi.

"Tapi, Mas–"

"Berisik! Aku mau tidur di kamar tamu aja!" bentak Hamid pada Analea. Ia membuka pintu kamar dan hendak keluar.

"Tunggu, Mas!” Analea menggenggam lengan Hamid. ”Dengarkan aku dulu. Aku mendengar kabar tidak enak dari tetangga kita. Mereka bilang pernikahan kita bermasalah karena kita tidak akur."

Langkah Hamid terhenti di ambang pintu. Wajahnya menyeringai. Tatapannya sinis memandang wanita yang belum genap satu bulan ia nikahi.

"Asap tidak akan muncul jika tidak ada api!" ucap Hamid ketus. Ia kibaskan tangan Analea dan berkacak pinggang. Tatapannya makin tajam pada iris mata Analea. Napasnya mulai naik turun.

"Maksud Mas apa?" Wajah Analea tampak bingung.

"Halah! Jangan pura-pura nggak ngerti kamu!” Hamid mendengus, kemudian menudingkan jarinya ke depan wajah sang istri.

"Kamu telah membohongiku selama ini!” bentak Hamid geram. Pria berambut keriting itu menunjuk wajah Analea yang tampak nyaris menangis. “Dengan wajah sok polosmu itu kamu berbohong kalau kamu masih suci! Padahal saat menikah denganku, kamu sudah tidak perawan!”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Love Betrayal
8.9
Kehidupan rumah tanggaku hancur dalam sekejap setelah menyaksikan suamiku bermesraan dengan seorang wanita asing. Perempuan berambut panjang nan jelita itu merangkul lengannya begitu erat. Keduanya saling melempar tawa bahagia, layaknya pengantin baru yang sedang kasmaran. Siapa sebenarnya sosok wanita misterius tersebut? Rahasia besar apa yang mereka sembunyikan dariku? Inilah kisah penuh misteri tentang kepedihan dan pengkhianatan cinta.
Sampul Novel Gadis Kereta Api
8.2
Perjalanan pulang saat libur nasional menuntun seorang wanita naik ke kereta api malam dengan ranjang standar. Suasana sunyi berubah menegangkan saat pandangannya tertuju pada siluet tubuh kekar di dekatnya, memicu gejolak hasrat yang tak terbendung. Di balik selimut, ia menyerah pada sensasi fisik hingga tubuhnya gemetar dan napasnya memburu. Namun, di balik kegelapan gerbong yang sunyi, tindakan rahasia itu ternyata tidak luput dari sepasang mata tajam yang terus mengawasinya diam-diam.
Sampul Novel Kenapa Kalian Membuang Ibu?
8.2
Kehidupan damai Minah bersama Eliza dan Agung seketika sirna setelah putri bungsunya itu pergi merantau. Terpaksa menumpang di kediaman putra sulungnya, Edo, Minah justru harus menghadapi siksaan batin akibat kekejaman sang menantu. Hari tua yang malang membawa Minah ke sebuah panti jompo, tempat ia menghabiskan sisa hidupnya. Hingga ajal menjemput, ia meninggal dalam kesepian yang mendalam, tanpa didampingi oleh anak-anak kandungnya.
Sampul Novel Pilihan Terakhir
7.9
Demi mengejar takhta karier dan kekuasaan, Bella mengabaikan tugasnya sebagai istri. Padahal, Aris selalu memberikan kebebasan penuh sejak awal pernikahan mereka. Sikap dingin Bella lambat laun memicu kejenuhan mendalam di hati Aris. Di titik terendah rasa lelahnya, Aris mulai mempertanyakan masa depan pernikahan mereka. Apakah salah jika ia berpaling pada Ana untuk menggantikan Bella? Sebuah dilema rumah tangga yang sarat akan luka emosional.
Sampul Novel Setelah Amnesia, Aku Selamanya Berada di Luar Jangkauannya
9.1
Pasca-koma, Leonard Stone pulih dari amnesia dan mengingat wanita impiannya. Ia pun segera mencampakkan Grace Miller karena merasa hubungan mereka bukanlah kehendak sadarnya. Tanpa berniat mempertahankan hubungan itu, Grace mengambil langkah ekstrem. Ia sukarela menjadi subjek uji klinis obat baru demi menghapus seluruh memorinya tentang Leonard secara permanen. Kini, Grace siap melupakannya selamanya.
Sampul Novel Terjebak Pernikahan Dengan Duda Kaya
8.4
Kehidupan Alina berbalik total setelah dinikahi Arjuna, duda kaya yang sangat dingin. Meski bergelimang kemewahan, ia justru hidup dalam kesepian dan terus ditolak oleh anak-anak tirinya. Di pernikahan tanpa cinta ini, Alina hanya diperlakukan layaknya seorang pengasuh. Saat kepedihan hatinya kian tak tertahankan, sebuah kejadian besar terjadi, memaksa Alina mengambil keputusan sulit: tetap bertahan dalam kepalsuan atau pergi menjauh demi kebebasannya.