
Istri yang Tak Diinginkan
Istri yang Tak Diinginkan Bab 1
1. Malam Pertama
Feli beranjak dari tepian ranjang saat seorang pria berkemeja putih memasuki kamar mewah nan luas ini. Bibir Feli mengulas senyuman lebar. Menyambut pria itu yang sudah berganti status menjadi suaminya sejak siang tadi.
Dia Archer Space Ivander. Pria tampan berwajah campuran Indonesia-Rusia. Tingginya yang hampir mencapai 190 cm membuat siapapun yang ada di dekatnya seketika menciut. Archer disukai banyak orang karena sifatnya yang baik dan hangat.
Hal itu jugalah yang membuat rasa cinta di hati Feli untuk pria ini mengakar kuat di hatinya sejak beberapa tahun yang lalu.
“Archer, aku udah nyiapin air hangat buat kamu. Mau mandi sekarang?” tawar Feli.
Ia mendekati suaminya. Mengulurkan kedua tangan, berinisiatif untuk melepas kancing kemeja Archer. Feli ingin menjadi istri yang baik untuk suaminya ini.
Namun, saat jemari Feli baru membuka kancing teratas kemeja putih itu, tangannya tiba-tiba ditahan oleh Archer.
“Kamu pikir, aku menikahi kamu karena mencintaimu?”
Feli tersentak. Tatapan Archer mendadak berubah tajam dengan suaranya yang dingin. Tak ada lagi suara lembut dan tatapan hangat yang semula Archer tunjukkan padanya.
“Archer… apa maksud kamu? Bukannya sebelum kita menikah, kamu selalu bilang kalau kamu mencintai aku?”
“Lalu kamu percaya begitu saja?” Archer tersenyum samar, senyuman yang tampak sinis dan menakutkan. Ia maju perlahan, yang membuat Feli mundur secara spontan. “Naif sekali kamu, Feli. Seharusnya kamu nggak mempercayaiku sejak awal.”
Feli mendadak linglung. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menghalau rasa pusing yang tiba-tiba menderanya. Ada apa ini? Kenapa Archer berubah dalam sekejap?
“Jadi semuanya palsu?” gumam Feli, “sikap manis yang kamu perlihatkan sebelum menikah sampai pesta pernikahan kita siang tadi, semuanya hanya sandiwara?”
“Ya.” Archer berhenti tepat di hadapan Feli yang sudah terpenjara di dinding. Kedua tangannya tersembunyi di kantong celana.
“Aku bukan orang yang mudah melupakan kesalahan di masa lalu, Feli. Kekasihku cacat karena kamu. Apa menurutmu, aku mau mencintai orang yang sudah menghancurkan masa depan wanita yang kucintai?”
Feli membeku. Sudut hatinya terasa nyeri begitu mendengar Archer masih menyalahkannya atas kejadian tiga tahun lalu. Rupanya dendam itu masih ada. Archer masih membencinya. Feli merasa bodoh karena mudah terbuai dengan sikap dan ucapan manis Archer selama satu bulan terakhir ini.
“Lalu kenapa kamu mau menerima perjodohan ini, Archer? Kenapa kamu nggak nolak sejak awal?”
“Karena aku ingin memberi kamu pelajaran!”
“Pelajaran?” Feli tersenyum perih. “Maksudmu, kamu ingin balas dendam sama aku? Begitu?”
“Ya.” Archer menarik dagu Feli agar mendongak ke arahnya. “Kamu sudah menghancurkan masa depan Belvina, Feli. Kedua tangannya cacat dan ginjalnya rusak akibat ulahmu. Tiga tahun yang lalu kamu malah kabur seperti seorang pengecut, tanpa bertanggungjawab sedikit pun atas kesalahan yang kamu lakukan,” ujar Archer dengan suara dingin.
Feli terdiam. Tangannya terkepal di sisi tubuh sembari meremas kain pakaiannya. Ia tak bisa mengelak. Archer benar, memang dirinyalah yang menyebabkan Belvina cacat permanen. Perasaan bersalah itu masih menggelayuti hati Feli. Setiap saat dan setiap waktu selama tiga tahun ini.
Bahkan Feli merasa malu saat berhadapan dengan Archer seperti sekarang. Sejak kejadian tiga tahun yang lalu Archer sangat membencinya. Dan bodohnya Feli, ia percaya begitu saja terhadap sikap manis yang Archer tunjukkan di depan kedua orang tuanya saat perjodohan mereka yang dimulai sejak satu bulan lalu.
Tiga tahun yang lalu, Feli melakukan kesalahan yang membuat Archer marah dan berbalik membencinya. Feli tanpa sengaja menabrak Belvina—kekasih Archer. Akibat kecelakaan itu kedua tangan Belvina mengalami cacat permanen dan satu ginjalnya rusak. Belvina memiliki cita-cita ingin menjadi violinist terkenal. Namun, karena tangannya cacat, ia bahkan tak bisa memainkan biola lagi. Seumur hidupnya.
Feli sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Itu kecelakaan yang tidak dia inginkan dan tidak disengaja. Feli tidak mengerti kenapa Archer bisa semarah dan sebenci itu kepadanya. Padahal dulu mereka berteman baik.
“Makanya sekarang aku datang padamu, Feli. Aku nggak suka melihat kamu berkeliaran bebas, melakukan aktifitas sesuka hati dan menjalani karirmu sebagai seorang designer yang sukses.”
Rahang Archer berkedut. Raut wajahnya tampak mengeras.
“Sedangkan Belvina? Hari-harinya dia habiskan dengan meratapi nasibnya, tangannya cacat dan dia kehilangan cita-citanya jadi violinist. Aku rasa, kamu cukup pintar untuk menyadari siapa yang bersalah dalam hal itu.”
Mata Feli terpejam ketika Archer tak berhenti menyalahkannya. Pria itu seakan tidak pernah puas memojokkan Feli. Seolah-olah Feli adalah penjahat dan manusia hina yang paling berdosa di muka bumi.
“Jadi apa maumu sekarang?” Tenggorokan Feli tercekat. Ia memberanikan diri membalas tatapan Archer yang tengah menatapnya dengan penuh kebencian. “Apa aku harus memotong kedua tanganku juga, Archer? Begitu maumu?”
“Anak manja dan pengecut seperti kamu nggak akan sanggup melakukannya.”
“Kalau memang dengan memotong tanganku bisa membuatmu puas. Lakukanlah. Aku bukan anak manja dan pengecut seperti yang kamu kira.”
Archer mendengkus pelan. Ia menarik tangan Feli dan membawanya ke dekat ranjang. Tubuh Feli terhempas ke atas kasur. Feli mundur saat Archer mendekat dengan tatapan paling dingin yang pernah Feli dapatkan dari pria yang dulunya hangat dan humble itu.
Archer benar-benar berubah. Feli tak mengenali sosok di hadapannya ini. Selain wajahnya yang semakin tampan dan maskulin, sifat Archer benar-benar berbeda. Dan Feli tahu, kesalahan yang ia perbuatlah yang menyebabkan Archer berubah jadi sosok yang tak berperasaan.
“Bukan tanganmu yang akan aku ambil darimu. Tapi kebahagiaan kamu.” Archer melepaskan dasinya. “Mulai hari ini status kamu sudah jadi istriku, Feli. Kebebasan kamu ada di tanganku. Aku yang akan mengendalikan kebahagiaanmu. Selama Belvina nggak bahagia, kamu pun nggak boleh bahagia.”
Feli tercenung. Ia tahu dirinya salah. Bahkan rasa bersalah itu semakin menggerogoti hatinya. Tetapi apakah harus ia diperlakukan seperti ini oleh Archer?
“Apa yang kamu lakukan? Menjauh dariku, Archer!” Feli beringsut mundur ketika Archer naik ke atas ranjang dengan bertelanjang dada.
“Apa yang akan aku lakukan?” ulang Archer, satu sudut bibirnya berkedut. Ia menarik kedua kaki Feli agar mendekatinya. “Tentu saja memberi orang tuaku cucu yang manis dan lucu dari menantu kesayangannya ini. Aku nggak mau mengecewakan mereka," ucap Archer, penuh intimidasi. Kata-katanya yang manis berbanding terbalik dengan ekspresinya yang kelam.
Feli menggeleng tak setuju. “Kamu memang suami aku, tapi aku nggak mau melakukannya dengan pria yang membenciku.”
“Sayangnya, kamu nggak bisa menolak.”
Feli berusaha menghindari Archer. Tangannya gemetar. Sorot mata pria itu masih sama tajamnya dengan tiga tahun lalu, saat Belvina terkapar bersimbah darah di tengah jalan. Lalu Archer menudingkan telunjuk ke arah Feli. Menyalahkan Feli atas semua yang terjadi kepada Belvina hari itu. Pertemanan Feli dan Archer hancur lebur. Yang tersisa hanyalah kebencian.
“Archer, aku mohon….” Feli berusaha memberontak ketika Archer memenjarakannya di atas kasur. Kedua tangan Feli terkunci di atas kepala oleh satu tangan Archer. “Biarkan aku menebus kesalahanku dengan cara lain.”
“Kamu terlambat, Feli.” Satu tangan Archer yang terbebas melepas paksa pakaian istrinya. “Kalau ingin bertanggungjawab, seharusnya kamu lakukan dari dulu. Bukannya malah lari seperti seorang pengecut!”
***
2. Tak Pernah Berubah
Empat tahun kemudian.
“Papi…? Halo? Papi kapan pulang?”
Feli menghela napas berat saat menyaksikan Kimberly—anaknya dan Archer yang baru berusia tiga tahun, tengah berbicara sendiri dengan pelafalan yang masih cadel pada telepon mainan, yang Kimberly tempelkan di telinga kanannya.
Feli merasa iba melihat Kimberly yang begitu merindukan ayahnya, yang selama satu bulan ini tidak pulang ke rumah.
“Papi…,” rengek Kimberly lagi dengan mata berkaca-kaca.
Feli menghentikan kegiatannya yang tengah membuat sketsa gambar gaun pengantin salah satu kliennya. Ia menaruh buku gambar dan pensil ke atas meja. Kemudian meraih Kimberly yang duduk di sampingnya, ke atas pangkuannya.
“Kimmy kangen sama Papi, hm?”
“Iya, Mi. Aku mau Papi.”
Feli tersenyum lembut seraya mengusap puncak kepala putrinya dengan sayang. “Papi lagi kerja dulu, Sayang. Sebentar lagi Papi pulang, kok. Kimmy mau bersabar sebentar lagi?”
Kimberly cemberut. Matanya semakin berkaca-kaca, lalu mulai menangis. Mungkin Kimberly kesal, karena setiap kali dia ingin bertemu dengan ayahnya, Feli selalu menjawab dengan kata-kata yang sama. Namun pada kenyataannya Archer tak kunjung pulang.
Semakin lama tangisan anak berpipi chubby itu semakin kencang bahkan Feli kesulitan menenangkannya. Feli bangkit sembari menggendong Kimberly. Lalu mencoba menghubungi Archer, akan tetapi nomor teleponnya tidak aktif.
[“Kapan pulang? Kimmy nangis pengen ketemu sama kamu.”]
Feli sempat menimbang-nimbang, apakah ia harus mengirimkan pesan tersebut kepada Archer atau tidak?
Karena Kimberly terus menerus menangis, Feli tak punya waktu untuk banyak berpikir, ia lalu mengirimkan pesannya kepada Archer.
Feli berharap Archer akan segera mengaktifkan ponselnya dan membaca pesan tersebut. Setidaknya rasa rindu Kimberly akan terobati setelah melakukan video call dengan ayahnya.
Namun, sampai Kimberly capek menangis hingga terlelap satu jam kemudian, ponsel Archer masih belum aktif. Feli menaruh Kimberly ke atas kasur dengan hati-hati, lalu menyelimutinya sebatas dada.
“Maafin Mami sama Papi ya, Nak,” gumam Feli sembari mengelap sisa-sisa air mata di pipi Kimberly yang tampak merah. “Kami belum bisa jadi orang tua yang baik buat kamu.”
Feli memandangi putrinya dengan sedih.
Wajah Kimberly adalah Archer versi perempuan. Rupa mereka bak pinang di belah dua. Feli beryukur karena Archer masih mau menyayangi anak mereka, kendati sikapnya terhadap Feli masih sama seperti empat tahun lalu. Dingin dan tak pernah menganggap Feli ada. Bahkan untuk sekadar menatap Feli pun Archer tampak enggan.
Berbeda sekali saat di hadapan orang tua mereka berdua. Archer berubah menjadi sosok yang manis dan hangat, layaknya suami dan ayah yang menyayangi keluarga kecilnya. Hingga orang tua mereka pun tidak menaruh curiga sama sekali dengan kondisi rumah tangga mereka yang tidak harmonis.
Feli tak pernah mengeluh dan selalu menutupi masalah rumah tangganya dari orang tuanya sendiri. Nicko dan Leica—orang tua Feli, bukanlah orang tua yang suka ikut campur urusan rumah tangga anaknya.
Namun, Feli yakin, jika dirinya mengadu kepada sang ayah terkait sikap Archer selama empat tahun ini, Nicko pasti akan marah besar dan mengecam Archer. Tetapi Feli tak melakukannya. Biarlah, ia menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri. Ia akan membuktikan kepada Archer bahwa dirinya bukan anak manja yang terus bergantung kepada orang tua.
“Selamat malam, Sayang,” gumam Feli setelah mengecup kening Kimberly cukup lama.
Ia mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur. Kemudian menutup pintu kamar putrinya dengan perlahan.
Tenggorokan Feli terasa kering dan ia berniat turun ke dapur. Ia menuruni tangga sembari merapatkan cardigan yang melapisi piyama tidurnya.
Begitu menuruni tangga, langkah kaki Feli seketika terhenti di anak tangga terbawah, saat sosok yang dirindukan Kimberly akhirnya pulang.
Feli tertegun.
Jika ada penghargaan untuk wanita paling bodoh di dunia, maka Feli yakin dirinyalah pemenangnya. Ya, Feli merasa dirinya memang bodoh. Ia tetap merindukan Archer setelah satu bulan tak bertemu, padahal Feli tahu ke mana pria itu pergi selama sebulan itu.
“Oh. Kamu pulang?” tanya Feli basa-basi dengan ekspresi datar.
Archer menatap Feli sesaat, sebelum akhirnya berpaling ke arah lain dengan malas.
“Di mana Kimberly?” Suara Archer terdengar dingin.
“Tidur.”
Feli berlalu menuju dapur. Archer mengikutinya dengan satu alis terangkat. “Baru jam delapan dan dia sudah tidur?”
“Memangnya harus menunggu jam dua belas malam dulu baru dia boleh tidur?”
Feli menyindir Archer. Sebab biasanya pria itu pulang larut malam ke rumah. Archer adalah CEO muda yang menjalankan perusahaan orang tuanya. Di mata kalangan pebisnis, Archer termasuk CEO yang ‘bersih’ dan berperangai baik.
Mereka tak tahu bahwa di balik topeng malaikatnya itu tersimpan sisi iblis yang Archer sembunyikan rapat-rapat. Ya, satu sisi yang hanya ditunjukkan kepada Feli saja. Karena pada dasarnya Archer memang orang baik terhadap siapapun. Kecuali kepada Feli.
Archer mendengus. Ia menuangkan air putih ke dalam gelas, lalu meneguknya hingga habis.
“Bagaimana kabar wanita itu?”
Alis Archer terangkat, lalu menoleh ke arah Feli dengan ekspresi datar. “Apa maksudmu?”
“Bukankah kamu pergi ke Singapura untuk menemani kekasihmu yang lagi sakit?”
Feli tersenyum pahit saat Archer tampak terkejut dengan pertanyaannya. Feli yakin, Archer pasti tak menduga ia akan tahu, bahwa sebenarnya pekerjaan hanya menjadi alasan bagi Archer untuk pergi ke Singapura.
Feli tahu itu karena satu hari setelah kepergian Archer, Kimberly sempat menghilang dan membuat Feli kelabakan mencarinya. Setelah sepuluh menit mencari di seisi rumah, anak itu ternyata ditemukan tengah bersembunyi di ruangan kerja Archer. Kimberly sedang mencari Archer karena malam harinya Archer tidak sempat sounding dulu dengannya. Archer pergi dadakan dan terburu-buru.
Saat itulah Feli melihat selembar kertas berisi informasi salah satu rumah sakit di Singapura. Awalnya Feli tidak curiga. Namun keesokan harinya, Binar—sahabat Feli, mendapat informasi bahwa Belvina pergi ke Singapura untuk melakukan pengobatan. Dari situ Feli menyimpulkan bahwa Archer memang ke Singapura untuk menemani Belvina.
“Kamu mencari tahu rupanya.” Archer mendengkus pelan. “Bukankah sudah aku bilang padamu untuk nggak mencampuri urusanku?”
“Aku sama sekali nggak berniat mencampuri urusanmu, Archer. Dan sampai kapanpun aku nggak tertarik dengan urusan kalian,” timpal Feli sarkastik. “Silahkan lakukan saja apapun yang kalian mau. Sekalipun kalian mau menikah di belakangku, aku nggak peduli.”
Karena sejatinya rumah tangganya dengan Archer tak pernah benar-benar ada. Feli hanya digunakan sebagai sasaran balas dendam Archer yang sakit hati karena kekasih yang dicintainya harus mengalami kecelakaan hebat, akibat ulah Feli.
Bahkan selama empat tahun ini, Archer masih terus berhubungan dengan Belvina.
Feli tersenyum ironi mengingatnya.
Tanpa Feli sadari, Archer terlihat mengepalkan tangan usai mendengar ucapannya barusan.
“Dia cacat karena kamu, Feli. Ingat itu baik-baik,” desis Archer, membuat Feli yang akan pergi seketika menghentikan langkahnya. Feli berbalik, menatap Archer dengan ekspresi datar.
“Jangan khawatir, aku nggak lupa,” timpal Feli, “terima kasih karena hampir setiap hari sudah mengingatkan aku pada kesalahan yang aku lakukan.”
“Bagus kalau kamu nggak lupa.”
Feli segera berbalik dan ingin segera menjauh dari pria itu. Berhadapan dengan Archer selalu membuat energinya terkuras habis.
“Mau ke mana kamu? Aku belum selesai bicara.”
Ucapan bernada dingin itu mampu membuat Feli menghentikan langkahnya lagi. Archer menghampiri Feli seraya menatapnya dengan tatapan tajam.
Feli benar-benar tak mengerti, apakah Archer tidak bosan selalu menatapnya penuh kebencian setiap kali mereka sedang berdua?
“Apa lagi? Aku lelah. Ingin istirahat,” ucap Feli seraya menghela napas berat.
“Feli, apa karena aku nggak ada di rumah, kamu jadi sesuka hati berkencan dengan selingkuhanmu?!”
***
3. Lebih Percaya Bukti
“Feli, apa karena aku nggak ada di rumah, kamu jadi sesuka hati berkencan dengan selingkuhanmu?!”
Feli mengerutkan kening. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa Archer bisa menuduhnya berselingkuh. Bukankah di antara mereka Archer-lah yang berselingkuh?
“Selingkuhanku apa maksudmu, Archer?”
“Jangan pura-pura nggak mengerti,” timpal Archer seraya mengetatkan rahangnya. “Bagaimanapun juga kamu tetap istriku, Feli. Kamu harus menjaga nama baik suamimu di depan orang lain!”
Feli tersenyum kecut. Archer ingin dihargai sebagai suami, tetapi dia sendiri tidak pernah menghargainya sebagai seorang istri.
Sejujurnya Feli mengakui, Archer tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai suami dalam memberi nafkah lahir. Archer juga menyayangi Kimberly dan menjadi sosok ayah yang baik.
Hanya saja, Feli tidak mendapatkan hak batinnya. Hingga Feli merasa menjadi wanita yang tidak dicintai dan tidak diinginkan kehadirannya. Karena yang ada di hati Archer adalah wanita lain.
“Masih belum mengerti di mana letak kesalahanmu?” tanya Archer, yang membuat Feli keluar dari lamunannya.
“Terlalu banyak kesalahan yang aku miliki di matamu.” Feli mengesah panjang. “Sampai aku nggak tahu kesalahan apa lagi yang aku lakukan sekarang.”
Archer terdiam sesaat. Sorot matanya tampak suram. Sebelum akhirnya ia melemparkan dua lembar foto ke atas meja makan yang ada di samping mereka. Feli mengambilnya dengan kening berkerut. Itu adalah foto dirinya sedang bersama Rafi yang tengah menggendong Kimberly.
Tak butuh waktu lama bagi Feli untuk mengingat kapan foto ini diambil. Dilihat dari pakaian semi formal bermotif bunga yang ia kenakan, foto ini pasti diambil kemarin di Blossom Boutique—butik milik Feli.
Namun yang jadi pertanyaannya, kenapa Archer memiliki foto ini? Apa dia memerintahkan seseorang untuk memata-matainya? Kalau memang iya, sejak kapan Archer mengirim mata-mata? Bukankah selama ini Archer tidak pernah peduli pada kehidupan Feli sama sekali?
Laki-laki yang bersama Feli di foto ini adalah Rafi. Dia CEO perusahaan yang bergerak dalam bidang fashion. Perusahaan Rafi dan Blossom Boutique memang sedang bekerjasama. Kemarin Rafi datang ke butik untuk mendiskusikan beberapa hal. Kebetulan saat itu Kimberly terjatuh tepat di hadapan Rafi, maka dari itu Rafi langsung menggendong Kimberly yang menangis lalu menenangkannya.
“Sekalipun kamu nggak pernah bersikap baik sama aku selama pernikahan kita, aku nggak pernah punya niat untuk mencemarkan nama baik kamu,” ucap Feli dengan ekspresi datar.
“Sayangnya, aku lebih percaya bukti daripada ucapanmu.”
“Aku sama sekali nggak berharap kamu mempercayaiku.”
Rahang Archer tampak berkedut. Jari jemarinya terkepal. “Apa bisa sekali saja kamu nggak menimpali ucapanku, Feli?”
Archer benar-benar tidak suka dengan sikap Feli yang selalu membantah dan menimpali ucapannya. Berbeda sekali dengan Belvina yang lembut dan penurut. Belvina tak pernah sekalipun berani menimpali ucapannya ataupun melawan.
“Nggak ada alasan bagiku untuk menuruti ucapan pria, yang nggak pernah menganggapku sebagai seorang istri.”
Archer seketika terdiam. Sorot matanya berubah semakin kelam dan ekspresinya tampak keruh.
“Nggak menganggapmu sebagai seorang istri kamu bilang?” Archer bertanya dengan nada dingin. “Berhenti bersikap seolah-olah akulah penjahat dalam hubungan kita, Feli! Padahal di sini kamulah yang bersalah. Kamu sudah merenggut masa depan Belvina tanpa merasa bersalah sedikit pun!” cecar Archer lagi tanpa perasaan.
Sakit?
Tentu saja.
Namun, Feli sudah terbiasa dengan ucapan Archer yang selalu menyalahkannya setiap kali mereka bertemu. Feli sudah tak tahu yang mana lagi rasa sakit dan bukan. Hatinya terasa kebas dan mungkin… akan mati rasa jika tidak segera diselamatkan.
Feli tersenyum kecut. Memangnya siapa yang mau menyelamatkannya? Satu-satunya pria yang membuat Feli jatuh cinta adalah pria yang justru menorehkan luka setiap waktu.
“Kalau sudah puas memarahiku lebih baik kamu temui Kimmy. Dia selalu bertanya tentang kamu sejak dua minggu yang lalu,” ujar Feli dengan suara lelah.
Energinya selalu terkuras setiap kali berhadapan dan bertengkar dengan Archer.
Feli menaruh kembali foto dirinya dan Rafi ke atas meja. Sebelum akhirnya berlalu pergi dari hadapan Archer yang masih menatapnya dengan tajam.
Feli menaiki tangga. Ia bisa merasa tatapan tajam Archer terus mengikutinya, seakan-akan ingin menusuk punggungnya.
Masuk ke dalam kamar, Feli duduk dan bersandar pada headboard ranjang sembari memeluk lutut. Ya, ini kamarnya. Sedangkan kamar Archer ada di lantai tiga. Mereka tidak pernah tidur bersama. Kecuali saat Kimberly meminta tidur didampingi mereka, ketika mereka menginap di rumah orang tua masing-masing, atau… ketika Archer meminta haknya sebagai seorang suami.
Selain karena ketiga alasan itu, mereka selalu tidur di kamar masing-masing.
Suara dentingan ponsel membuyarkan lamunan Feli. Dengan malas diraihnya ponsel di atas nakas. Ia melihat nama Rafi terpampang di layar.
Mengenai Rafi, Feli jadi teringat dengan tudingan Archer beberapa saat yang lalu. Biasanya Archer tak pernah mau peduli dengan siapa dan ke mana Feli pergi. Tetapi hari ini, Archer terlihat marah saat melihat foto tersebut. Benar-benar aneh.
Feli jadi berpikir, mungkinkah selama sebulan bersama di Singapura, Belvina telah mencuci otak Archer hingga pria itu berpikiran bahwa Feli berselingkuh selama ditinggalkan olehnya?
Entahlah.
Feli menghela napas panjang. Ia tidak bisa berpikir positif jika itu mengenai Belvina.
Tak ingin memikirkan selingkuhan suaminya, Feli lantas membuka pesan dari Rafi. Rafi mengirim foto boneka kuda poni.
[“Tadi aku sudah janji sama Kimmy akan memberi dia boneka kuda poni ini. Tolong kasih tahu Kimmy, kalau kuda poninya sudah ada di tanganku.”]
Feli berpikir sejenak. Ia memang sempat mendengar, saat Kimberly jatuh dan menangis tadi siang, Rafi membujuk Kimberly agar berhenti menangis. Rafi berjanji akan membelikannya kuda poni. Mendengar boneka yang diidam-idamkannya, tangisan Kimberly langsung berhenti dan mendadak tersenyum ceria.
[“Terima kasih, Raf. Nanti aku sampaikan pesan kamu ke Kimmy.”] Feli membalas pesan Rafi.
Kerjasama yang terjalin lebih dari satu tahun membuat interaksi Feli dan Rafi terasa jauh lebih akrab. Mereka seumuran. Rafi pernah protes kala Feli memanggilnya dengan panggilan ‘Pak Rafi’. Pria yang sikapnya humble dan menyenangkan itu memaksa Feli agar memanggilnya nama saja jika sedang berdua.
Feli menaruh ponsel ke tempat semula. Saat akan mematikan lampu utama, Feli jadi teringat, bahwa Kimberly pun pernah meminta boneka serupa kepada Archer minggu lalu lewat video call. Feli penasaran, apakah Archer mengabulkan keinginan anaknya atau tidak?
Jika tidak, Feli tidak kuasa membayangkan akan sekecewa dan sesedih apa Kimberly saat mengetahuinya.
***
4. Boneka Aku Mana, Pi?
Ada banyak alasan kenapa Archer tidak menemukan kenyamanan di rumah ini. Salah satunya adalah apa yang baru saja terjadi. Feli selalu punya cara untuk menimpali ucapannya. Bahkan mereka selalu bertengkar setiap kali bertemu. Archer lelah.
Dan satu-satunya alasan Archer masih mau pulang ke rumah hanyalah Kimberly.
Mengingat Kimberly, Archer jadi merasa bersalah karena sudah meninggalkannya terlalu lama.
Archer menyeret langkahnya, hendak menaiki tangga. Namun langkahnya terhenti saat ekor matanya melihat foto Feli dan seorang pria di atas meja makan.
Archer berbalik dan mengambil foto tersebut. Rahangnya tampak mengeras. Ia tidak suka melihat ada pria lain yang menggendong anaknya. Terlebih lagi dia adalah selingkuhan Feli.
Jemari Archer meremas kedua foto itu hingga menjadi bola kecil. Kemudian membuangnya ke tempat sampah.
Tiga puluh menit kemudian, Archer sudah membersihkan tubuh dan berganti pakaian. Ia lantas turun ke lantai dua dan masuk ke kamar Kimberly. Begitu membuka pintu, Archer disambut dengan lampu tidur yang menyorot ke langit-langit ruangan, membentuk bintang-bintang dan bulan berwarna kuning.
Archer tersenyum, duduk di tepian ranjang dan mengecup kening putrinya cukup lama.
Tidur Kimberly terusik. Dia menggeliat dan kelopak matanya perlahan-lahan terbuka. Lalu tersenyum sembari bergumam, “Papi pulang?”
“Iya. Papi pulang.”
Archer menepuk-nepuk punggung Kimberly dengan pelan, hingga akhirnya anak itu kembali tertidur dengan tangan memeluk leher Archer.
Archer tertegun.
Ia tak berani bergerak sedikit pun karena khawatir gerakannya akan membuat Kimberly terbangun lagi.
***
Pagi itu Feli bangun sedikit kesiangan. Sebab semalam ia kembali terserang insomnia.
Setelah melakukan ritual pagi, ia bergegas keluar kamar untuk mengecek kondisi Kimberly. Tidak sedikit pun memedulikan kepalanya yang terasa pening akibat tidurnya yang tidak berkualitas.
“Mamiiii…!”
Seruan riang itu sontak membuat Feli melukiskan senyuman di wajahnya. Ia baru keluar kamar, tapi Kimberly sudah menyambutnya lebih dulu.
Feli berjongkok dan memeluk putrinya yang sudah wangi minyak telon dan bercampur aroma buah-buahan. Lalu mencubit pipi chuby-nya dengan gemas.
“Anak Mami kok udah wangi aja pagi-pagi?”
“Papi mandiin aku, Mi.”
Feli terkejut mendengarnya. Ia kira Kimberly dimandikan oleh Dewi—baby sitter yang sudah mengurus keperluan Kimberly sejak bayi.
Pantas saja wajah Kimberly terlihat lebih ceria daripada sebelumnya. Feli bersyukur karena Archer memperlakukan anak mereka dengan baik. Setidaknya, Kimberly tidak kehilangan sosok ayah kendati hubungan orang tuanya tidak baik.
“Kimmy senang karena papi pulang?”
“Hm!” Kimberly mengangguk cepat. “Mami, ayo kita bikin sarapan buat papi.”
Feli menghela napas tak berdaya saat Kimberly menarik tangannya. Kimberly meniru Feli. Sebab, setiap kali Archer ada di rumah, Feli selalu membuatkan sarapan untuknya. Bukan apa-apa. Hanya saja Feli dan Archer memang sudah berkomitmen untuk terlihat harmonis di depan putri mereka.
Mungkin hal itu jugalah yang membuat Archer malas pulang ke rumah, pikir Feli. Pria itu muak bersandiwara, karena untuk memandang Feli saja Archer tampak enggan.
“Mi! Aku! Aku!”
Kimberly melompat-lompat ingin mengambil pisau dan wortel di tangan Feli.
Feli tersenyum. “Kimmy mau motong wortel?”
“Iya. Mau! Aku mau bikin makanan buat papi!”
“Ini pisaunya Mami, Sayang. Pisau Kimmy disimpan di mana, hem?”
“Oh iya lupa.” Kimberly menepuk jidatnya gemas. “Mami, tunggu!” Kemudian anak itu berlari cepat menuju ruang keluarga untuk mengambil pisau plastik miliknya.
Feli terkekeh sendiri melihat tingkah laku menggemaskan putrinya. Anak itu selalu menjadi penghibur Feli di kala hatinya sedang gundah. Dan menjadi teman baiknya di saat Feli merasa kesepian.
Selagi Kimberly mengambil pisaunya, Feli melanjutkan kembali aktifitasnya memotong wortel.
“Ada luka di lutut Kimmy. Apa yang terjadi?”
Kedatangan Archer yang tiba-tiba membuat pisau nyaris terpeleset ke jari telunjuk Feli. Feli menoleh ke arah Archer sekilas. Pria itu terlihat sudah mandi dan segar tapi masih mengenakan pakaian santai.
“Jatuh.”
“Di?”
“Di butik. Kemaren.”
Archer berdecak lidah. Ia melipat tangannya di depan dada dan menatap Feli penuh selidik. “Karena kamu terlalu asyik ngobrol sama lelaki bernama Rafi itu? Jadi kamu mengabaikan Kimmy sampai dia jatuh, begitu?”
Feli menghentikan kegiatannya, lalu menghela napas berat dan menjawab, “Karena kamu menganggapku begitu, ya anggap saja begitu kenyataannya.”
Karena sekalipun Feli membantah dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya bahwa Kimberly terjatuh sebelum Rafi masuk butik, Archer tak akan mempercayai ucapannya.
Rahang Archer mengeras. Ia baru akan membuka mulut hendak menimpali ucapan Feli, akan tetapi langkah kaki kecil yang berlari ke arah mereka membuat Archer mengurungkan niatnya.
“Mami, mana wortel aku?”
Feli menarik kedua sudut bibirnya ke atas, lalu menyerahkan satu batang wortel pada putrinya.
“Yeay! Potong wortel buat papi!” Kimberly melompat-lompat kegirangan, lalu membawa pisau dan wortelnya ke meja makan.
Archer mengikuti Kimberly dan duduk di sampingnya. Matanya mengawasi tangan anak itu karena khawatir kulitnya yang putih tergores pisau mainan.
“Kok, Papi kemaren kerjanya lama banget, sih?” celetuk Kimberly tiba-tiba, yang membuat Archer nyaris tersedak salivanya sendiri.
“Papi kerjanya jauh, Sayang.” Archer mengacak rambut panjang nan lurus milik Kimberly. “Jadi Papi nggak bisa bolak-balik ke rumah seperti biasanya.”
“Oooh. Papi capek nggak?”
“Nggak dong. Papi cari uang buat kamu, jadi nggak ada yang capek kalau untuk anak Papi yang cantik ini.”
Kimberly terkikik sembari menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Anak itu paling senang kalau digombali ayahnya.
Di lain pihak, Feli berusaha menarik napas dalam-dalam untuk melonggarkan dadanya yang sesak. Ia tak dapat membayangkan, akan sekecewa apa Kimberly kalau tahu ayahnya pergi selama itu demi wanita lain.
Feli menoleh ke arah meja makan, memperhatikan interaksi anak dan ayah itu yang terlihat akrab. Mereka tertawa bersama. Gelak tawanya terdengar menggema di seisi ruang makan dan dapur yang tak bersekat.
Dalam kondisi dan penampilan seperti apapun, Archer selalu terlihat tampan dan rapi. Hidungnya yang tinggi, senyumannya yang memukau dan mampu melelehkan siapa saja yang menatapnya, serta tubuhnya yang tinggi dan kekar membuat siapapun yang ada dalam pelukannya merasa aman dan nyaman.
Namun sayang, Feli tak pernah mendapatkan pelukan itu. Feli tak tahu bagaimana rasanya dipeluk dan bermanja di atas dada bidang suaminya sendiri.
Lalu… Feli teringat dengan Belvina. Rasa penasaran itu tiba-tiba memenuhi relung hatinya. Apakah setiap kali mereka bertemu, Belvina selalu mendapat pelukan dari Archer? Selain berpelukan, apa lagi yang mereka lakukan di belakangnya? Sudah sejauh mana hubungan mereka berdua?
Sorot mata Feli seketika meredup.
Namun ia tak berhak merasa iri, bukan? Karena sejak awal, Feli hanya orang ketiga di dalam hubungan Archer dan Belvina.
“Pi?” panggil Kimberly sembari memotong wortel dengan sekuat tenaga.
“Ya, Sayang? Butuh bantuan?”
“Nggak! Aku bisa sendiri.”
Archer tersenyum kecil. “Iya, anak Papi memang hebat,” pujinya, “jadi? Ada apa kamu panggil Papi barusan?”
Kimberly menghentikan kegiatannya, kedua bola mata jernihnya menatap Archer dengan tatapan polos. “Boneka kuda poni aku mana, Pi? Papi beliin aku kuda poni, ‘kan?”
***
5. Terlalu Sibuk
“Boneka kuda poni aku mana, Pi? Papi beliin aku kuda poni, ‘kan?”
Seketika Archer terdiam. Tatapan polos dan penuh harap dari bola mata jernih Kimberly membuat lidahnya mendadak terasa kelu.
“Pi, kok nggak jawab?”
Feli tersenyum ironi. Ia sudah bisa menebak bahwa pria itu pasti melupakan janjinya lagi. Ini untuk ketiga kalinya di tahun ini Archer melupakan janjinya kepada Kimberly.
Belvina.
Jemari Feli terkepal ketika nama itu melintas di pikirannya, hingga wortel dalam genggamannya terlihat bergetar.
Semua ini karena Archer terlalu mengurusi hidup wanita itu, sampai-sampai dia melupakan permintaan putrinya sendiri.
“Sayang.” Suara Archer terdengar serak. Dielusnya kepala Kimberly dengan lembut. “Papi... nggak nemu boneka kuda poninya di Singapura,” dustanya dengan tenggorokan tercekat. “Maaf. Siang ini Papi baru akan beli di—”
Kalimat Archer seketika terhenti saat Kimberly tiba-tiba turun dari kursi dengan bibir cemberut. Bola matanya berkaca-kaca. Dia lari meninggalkan ruangan makan dan menaiki tangga ke lantai dua.
Kimberly kecewa padanya. Archer tahu itu. Dadanya mendadak terasa sesak, apalagi ketika ia melihat wortel dan pisau mainan tergeletak begitu saja di meja makan. Padahal beberapa saat yang lalu Kimberly semangat sekali ingin membuatkan sarapan untuknya.
“Puas?” Feli menghampiri Archer dengan tatapan dingin.
Archer menatapnya sesaat. Bibirnya terkatup rapat.
“Mau berapa kali lagi kamu mengecewakan dia, Archer?”
“Aku terlalu sibuk di Singapura.”
Feli mengeluarkan suara seperti setengah mendengus dan setengah tertawa. “Ya. Aku percaya. Kamu terlalu sibuk ngurusin satu orang wanita!” desisnya, “lain kali nggak perlu pulang ke rumah. Urusi saja wanita pesakitan itu dan nggak usah memedulikan anakmu sendiri!”
Feli kembali ke dapur dan berusaha mengatur napasnya yang terasa memburu akibat emosi yang tak tertahankan.
Archer mengepalkan tangannya hingga urat-uratnya terlihat menonjol. Rahangnya mengetat. Ia menghampiri Feli dan menatap punggungnya dengan tatapan dingin.
“Jaga mulutmu.” Archer berkata penuh penekanan. “Apa kamu lupa, dia jadi pesakitan karena siapa?”
Feli terdiam. Ia sudah bisa menebak ujung dari pertikaian ini akan bermuara ke mana.
“Karena kamu!” tuduh Archer tanpa perasaan. “Kalau saja saat itu kamu nggak menabrak Belvina, dia nggak akan jadi perempuan cacat dan pesakitan! Dia akan jadi vialinist terkenal. Dan dia nggak harus menderita seperti ini akibat keegoisanmu! Dia—”
“Cukup!” Feli memotongnya seraya berbalik, menatap Archer dengan tatapan sengit. “Apa belum puas kamu terus-menerus menyalahkanku selama empat tahun ini, Archer? Kamu membenciku, bukan? Lalu kenapa kamu tidak menceraikanku saja?!”
Archer terdiam. Sorot matanya terlihat semakin suram.
“Nggak semudah yang kamu kira, Feli,” timpal Archer dengan suaranya yang mampu membekukan apapun yang ada di dekatnya. “Seumur hidupnya, Belvina harus menanggung derita karena keegoisanmu. Lalu kamu pikir, aku akan melepaskanmu begitu saja?”
Archer menggeleng seraya tersenyum miring. “Kamu harus ada dalam ‘genggamanku’. Karena kamu nggak boleh lebih bahagia dari Belvina.”
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Archer langsung berbalik dan pergi dari hadapan Feli.
Feli tercenung.
Sudut hatinya terasa nyeri sekalipun Feli sudah berusaha untuk tidak sakit hati. Tidak ada kata ‘baik-baik saja’ setiap kali mereka bertemu. Archer seolah punya seribu cara untuk meninggalkan luka di hatinya. Lagi dan lagi. Entah akan sampai kapan Archer merasa puas lalu berhenti menyakiti istrinya sendiri.
Feli menghela napas berat untuk melonggarkan dadanya yang sesak. Bahkan setiap tarikan napasnya terasa menyakitkan.
Sejujurnya, ada satu hal yang Feli tidak mengerti hingga saat ini. Archer selalu bilang, bahwa Feli menabrak Belvina karena unsur sengaja akibat keegoisan Feli sendiri.
Keegoisan apa maksudnya? Feli bertanya-tanya dalam hati.
Apa ada sesuatu yang tidak Feli ketahui? Atau… ada hal lain yang Belvina ceritakan kepada Archer, yang membuat Archer marah dan berakhir membenci Feli?
Entahlah.
Feli menghela napas lelah. Apapun itu, Feli tak ingin membahasnya atau bertanya kepada Archer. Pria itu tidak akan pernah mempercayai apapun yang keluar dari mulutnya.
***
Blossom Boutique tak hanya butik biasa. Itu merupakan butik terkenal yang pelanggannya kebanyakan dari kalangan artis atau para konglomerat. Feli merintis usaha butiknya dari nol. Meski berasal dari keluarga kaya raya, Feli tak pernah mengandalkan nama belakang keluarga ‘Ferlando’ untuk mengembangkan butiknya. Ini pure hasil usahanya sendiri.
Hasil goresan tangannya tak pernah gagal. Pakaian apapun yang Feli desain, selalu berhasil memuaskan para pelanggan. Setidaknya, mereka yang pernah memesan pakaian di Blossom Boutique akan kembali datang untuk kedua kalinya.
Lalu siang ini, Feli menghabiskan waktu makan siangnya bersama Binar—sahabatnya semasa sekolah, di café yang ada di Blossom Boutique.
“Anak lo kenapa?”
Menanggapi pertanyaan Binar, Feli pun menoleh ke arah meja di sebelah mereka. Kimberly terlihat sedang menggoreskan crayon ke buku gambar dengan ekspresi sendu.
Sejak kejadian tadi pagi, anak itu menjadi tidak bersemangat. Usianya memang masih tiga tahun, tetapi Kimberly tumbuh menjadi anak yang peka dan hatinya sensitif sekali. Apalagi jika itu sesuatu yang berhubungan dengan ayahnya. Seperti boneka kuda poni itu contohnya.
Feli sudah berusaha membujuknya, lalu membawa dia bersamanya ke butik dengan harapan kekecewaan Kimberly teralihkan. Namun, sampai siang ini mood anak itu tidak ada perubahan.
“Biasa. Ada sedikit masalah sama bapaknya.”
“Ooh. I see.”
Binar mengangguk dan tak bertanya lebih jauh. Ia tak mau terkesan ikut campur urusan rumah tangga sahabatnya.
“Nar, dugaan lo benar. Dia pergi ke Singapur buat nemuin cewek itu.”
Binar nyaris tersedak oleh matcha latte yang baru ia sesap. “Dia… maksud gue Archer, jujur sama lo?”
Feli mengangguk.
“Terus? Lo diem aja di saat suami lo sebulan pergi buat—”
“Rendahin suara lo.” Feli memotong karena khawatir Kimberly mendengar percakapan mereka.
“Oops! Sorry.” Binar lantas memelankan suara dan mencondongkan badannya ke depan Feli. “Fel, lo nggak berbuat apa-apa di saat suami lo pergi nemuin cewek itu selama sebulan? Sebulan, Fel. Satu bulan.”
Binar jadi gemas sendiri karena selama ini Feli selalu berusaha sabar menghadapi suami gilanya.
“Memangnya apa yang bisa aku lakukan?” Feli tersenyum pahit. “Bahkan, sekalipun aku mencegah atau marah, ujung-ujungnya Archer bakal nyalahin aku.”
“Tapi seenggaknya Archer harus tahu kalau cewek seperti Belvina itu nggak sebaik yang dia kira. Belvina tipe orang yang manipulatif, Fel.”
“Aku tahu.”
Feli menghela napas panjang. Ya, Belvina memang tipe manipulatif. Feli tahu itu.
Dulu, saat Feli kuliah di Paris bersama Archer, Belvina sempat menghalalkan segala cara untuk mendapat perhatian Archer.
Hingga akhirnya pertemanan Feli dan Archer perlahan-lahan rusak dan menjauh satu sama lain. Archer yang semula selalu ada waktu untuk Feli, semenjak berpacaran dengan Belvina dia semakin menjauh. Seolah-olah Belvina adalah prioritas utamanya. Archer selalu memperlakukan Belvina layaknya barang antik yang sangat berharga.
“Tapi nggak ada gunanya gue kasih tahu Archer sekarang.” Lagi-lagi Feli tersenyum miris. “Itu hanya akan membuat dia makin benci sama gue.”
Kalau sudah begini Binar tak bisa berkata-kata lagi. Ia salut pada Feli yang mampu bertahan selama empat tahun ini. Jika itu wanita lain, Binar tak yakin akan bertahan dalam rumah tangganya yang tak pernah benar-benar ada.
“Anak gue mana?” Feli terkejut saat tak menemukan Kimberly di seluruh sudut café. Hanya ada crayon dan buku gambarnya saja, tergeletak di meja. “Tunggu sebentar. Gue cari Kimmy dulu.”
Feli beranjak dari kursinya, lalu keluar untuk mencari Kimberly. Ia selalu khawatir jika membiarkan anak itu keluar sendirian. Apalagi kasus pelecehan terhadap anak di bawah umur kini semakin marak terjadi.
“Mami…!”
Seruan ceria dari arah parkiran membuat Feli bisa menghela napas lega.
“Mami! Aku punya boneka kuda poni!” seru Kimberly lagi dengan riang.
Feli terkejut. Ia segera menyongsong putrinya yang tengah memeluk boneka kuda poni. “Cantik banget bonekanya. Ini… dari papi? Papi datang, ya?”
***
6. Terciduk
Feli segera menyongsong putrinya yang tengah memeluk boneka kuda poni yang seukuran nyaris sama dengan tubuh mungilnya.
“Cantik banget bonekanya. Ini… dari papi? Papi datang, ya?” tanya Feli sembari berjongkok untuk mensejajarkan tinggi mereka.
Kimberly menggeleng cepat hingga tirai poni di dahinya yang lurus dan rapi ikut bergerak. Raut wajahnya sempat suram kala mendengar ayahnya disebut-sebut. Lalu tersenyum lagi sembari mengeratkan pelukannya pada boneka berwarna pink dan ungu itu.
“Bukan, Mi. Om Rafi yang ngasih. Ini bonekanya dari Om Rafi!” seru Kimberly dengan riang.
Feli tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Om Rafi?”
“Hm! Itu Omnya.”
Mata Feli yang berwarna hazel itu bergerak mengikuti arah telunjuk putrinya. Benar saja, seorang pria dengan penampilan rapi yang dibalut jas abu-abu, tengah menghampiri mereka sembari tersenyum.
“Kimmy udah ngucapin terima kasih sama Om Rafi?”
“Sudah, Mi.”
“Pintar.” Feli tersenyum sembari mengusap kedua pipi Kimberly. “Sekarang Kimmy temenin Aunty Binar, ya. Kasihan Aunty ditinggal sendiri. Mamu mau ngobrol dulu sama Om Rafi.”
“Siap, Mami!”
Suara Kimberly terdengar melengking, kemudian berlari kecil ke dalam café sembari memeluk bonekanya dengan erat. Seolah-olah anak itu takut ada yang akan merampas bonekanya.
Feli berdiri, menatap punggung Kimberly yang perlahan menjauh. Ada senyum miris tersungging di bibirnya. Alih-alih mendapatkan boneka itu dari ayahnya yang sangat diharapkan sejak beberapa minggu lalu, Kimberly justru mendapatkannya dari pria lain.
“Hai. Ganggu?”
Sapaan Rafi membuat Feli meluruskan kembali pandangannya. Ia menggeleng, tersenyum kecil. “Nggak. Kebetulan lagi istirahat siang.”
“Syukurlah. Berarti aku datang di waktu yang tepat,” timpal Rafi seraya melirik arlojinya sekilas. “Mau makan siang bareng?”
“Em… aku dan Binar kebetulan lagi mau makan siang. Kamu mau bergabung bareng kami?” Feli bertanya balik, tak mungkin ia membiarkan Binar begitu saja demi makan siang bersama Rafi. Lagi pula Rafi tipe orang yang mudah bergaul dengan orang baru.
“Oke. Nggak masalah.” Rafi tersenyum kecil.
Kepribadiannya memang ramah dan hangat, membuat siapapun mudah akrab dengannya. Sejak pertama kali mengenal Rafi beberapa bulan lalu, Feli merasa komunikasi mereka nyambung dan menyenangkan. Namun Feli menganggap Rafi tak lebih dari sekadar klien dan teman. Meski hubungannya dengan Archer terbilang buruk, tak sekalipun Feli berniat mencari perhatian pria lain. Ia cukup tahu diri statusnya sebagai seorang istri dan ibu dari satu anak.
“Raf, terima kasih bonekanya. Kimmy kelihatan senang banget,” ujar Feli, “semalam aku nggak sempat ngasih tahu Kimmy kalau kamu udah beli boneka itu, karena dia udah tidur duluan. Tadi pagi juga aku agak sibuk di rumah, jadi dia pasti terkejut banget waktu kamu datang.”
Rafi terkekeh kemudian mengangguk. Dia berjalan di samping Feli memasuki café. “Iya, aku juga bisa lihat dia kaget banget barusan.”
“Om Rafi! Duduk sini bareng aku!” seru Kimberly sembari menepuk kursi kosong di sebelahnya. Kimberly sendiri berhadapan dengan Binar.
“Oke, Cantik. Apa sih yang nggak buat anak semanis kamu?”
Rafi menarik kursi, lalu duduk di samping Kimberly yang tertawa mendengar ucapannya barusan.
Binar menatap Rafi dengan kening berkerut, sekilas, sebelum akhirnya menatap Feli dengan tatapan penuh tanya.
“Rafi. Klien aku,” ucap Feli setelah duduk di samping Binar. Ia mengerti apa arti tatapan sahabatnya itu.
Bibir Binar membentuk hurup o sambil manggut-manggut. Kemudian mengecek ponsel karena ada pesan masuk untuknya. Seorang pelayan menghampiri mereka sembari membawa buku menu.
“Mami aku mau salmon panggang!” seru Kimberly. Suaranya yang keras bisa terdengar di seisi café, beruntung café ini sepi siang ini. Hanya ada dua pegawai butik yang tengah istirahat di sudut ruangan.
“Di sini nggak ada salmon panggang, Sayang. Kan udah Mami bilang berkali-kali.”
“Eh iya. Lupa.” Kimberly menyengir. “Chicken katsu aja deh, Mi.”
“Okey.”
Feli senang melihat Kimberly yang tampak ceria kembali. Ia lantas menyebutkan pesanan Kimberly kepada pelayan. Baik itu salmon panggang ataupun chicken katsu, dua-duanya adalah makanan favorit Kimberly dan Archer.
Mengingat nama Archer, dada Feli selalu terasa sesak meski ia sudah berusaha melupakan apapun tentang pria itu. Nyatanya, Feli tidak bisa. Sekeras apapun ia berusaha membenci Archer, hatinya seakan menolak mentah-mentah untuk membencinya.
“Non, kenapa melamun?”
Feli mengerjap saat Rafi melambaikan tangan di depan wajahnya.
“Huh? Oh. Ng-nggak. Maaf, tadi pesanannya sampai mana, ya?”
“Bu Feli baru pesan chicken katsu,” jawab sang pelayan.
Binar memperhatikan Feli dalam diam. Persahabatan yang terjalin sangat lama membuat Binar mengerti siapa yang barusan Feli lamunkan. Binar tak pernah menduga, hidup Feli yang dulu ia kira akan sempurna, nyatanya malah menyedihkan karena tidak diinginkan oleh suaminya sendiri. Binar ikut merasa sakit dan rumit.
Selain cantik dan baik hati, karir Feli pun sangat sukses dan memiliki keluarga yang kaya raya. Sepintas dari luar, wanita lain akan iri dan tak percaya diri jika berhadapan dengan sosok seperti Feli. Namun, mereka tidak tahu, rupanya Tuhan memberikan Feli kekurangan pada sisi hubungan percintaan yang tidak sempurna.
Makan siang itu pun berlangsung cukup ramai. Kimberly tak berhenti berceloteh dengan boneka barunya. Berpura-pura memasukkan chicken katsu ke mulut si kuda. Sedangkan tiga orang dewasa di dekatnya sibuk berbincang terkait pekerjaan.
Belum sempat Binar menghabiskan makanannya, ia tiba-tiba mendapat telepon dari bosnya yang super otoriter, menyuruh Binar agar segera menghadapnya. Binar bekerja di perusahaan media massa. Dan kantornya kebetulan tak begitu jauh dari Blossom Boutique.
“Sahabat kamu itu, aku sering lihat di televisi. Benar dia, ‘kan?” tanya Rafi saat Binar sudah pamit pulang duluan.
“Hm-hm. Binar seorang reporter.”
“Ah, pantas saja wajahnya familiar.” Rafi meneguk minumannya.
“Om, di sekolah aku mau ngadain family gathering, lho. Om Rafi datang ya!” celetuk Kimberly, yang membuat Feli nyaris tersedak makanan yang tengah ia kunyah.
“Oh ya? Kapan?” tanya Rafi sembari memasukkan makanan lagi ke mulutnya.
“Kapan, Mi?”
Feli berdehem pelan. Ia menatap Rafi sembari tersenyum samar, seolah-olah lewat senyumannya itu Feli ingin bilang ‘Ucapan Kimmy nggak usah dihiraukan’. Feli sudah memberitahu Archer terkait acara itu yang harus dihadiri orang tua. Namun, Feli tak tahu apakah pria itu akan menemani Kimberly, atau justru malah menemui kekasihnya lagi.
“Minggu depan, Sayang,” jawab Feli.
“Ooh.” Kimberly lantas menatap Rafi. “Minggu depan, Om. Om Rafi ikut ya! Please… kan Om Rafi udah kasih aku boneka.”
Rafi tersenyum. Ada banyak hal yang ingin ia ketahui tentang hidup Feli, tentang keluarganya, apalagi tentang… suaminya.
“Em… Om lihat dulu jadwal Om, ya. Tapi Om nggak janji bisa ikut lho,” jawab Rafi. Ia cukup tahu diri. Di mana-mana family gathering harus dihadiri orang tua si anak. Bukan olehnya yang merupakan orang asing di keluarga Feli. “Kimmy belum cuci tangan, ya? Cuci tangan dulu gih,” pintanya, untuk mengalihkan perhatian Kimberly.
“Oh iya lupa.”
Kimberly menyengir, kemudian bergegas pergi menuju wastafel.
“Sorry ya, Raf,” ucap Feli tak enak hati. “Kimmy mudah tersentuh sama kebaikan orang lain. Jadi dia pengen ngajak kamu, tapi—”
“Santai aja.” Rafi memotongnya, kemudian tersenyum kecil. “Aku memaklumi kok.”
Feli mengangguk dan berterima kasih kepada Rafi karena tidak menganggap serius keinginan Kimberly. Feli lantas menyesap minumannya. Sebelum kemudian ia tersedak kala mendengar suara bariton seseorang yang sangat dikenalinya.
“Oh. Jadi ini kelakuanmu di belakangku, Feli!”
***
7. Calon Ayah Baru
“Oh. Jadi ini kelakuanmu di belakangku, Feli!”
Feli yang tengah menyesap minumannya langsung tersedak begitu mendengar suara seseorang yang tak asing di telinga.
Rafi menyambar selembar tisu lalu menyerahkannya kepada Feli, dan hal itu tak luput dari pandangan Archer yang kini berdiri di dekat meja mereka dengan ekspresi dingin.
“Bisa nggak kamu nanyanya nunggu aku selesai minum dulu?” gerutu Feli sembari mengeringkan bajunya yang terkena air menggunakan tisu pemberian Rafi.
“Oh. Anda pasti suaminya Feli.” Rafi bangkit berdiri, tersenyum sambil mengulurkan tangan kanan. Mencoba menghargai suami kliennya ini. “Perkenalkan, saya Rafi,” katanya dengan tenang.
Archer mengalihkan tatapannya dari Feli ke arah tangan Rafi, lalu berpaling lagi ke arah lain seolah-olah tak menganggap kehadiran Rafi sama sekali.
Satu sudut bibir Rafi terangkat. Merasa Archer enggan menerima uluran tangannya, Rafi lantas menarik tangannya kembali dan menjejalkannya ke saku celana.
“Kami hanya makan siang, tadi saya sendiri yang datang ke sini. Tidak ada janji temu dulu sebelumnya,” jelas Rafi, berharap Archer tidak salah paham dengan apa yang dia lihat saat ini. Meski ekspresi Archer tampak datar, Rafi bisa mengerti sorot mata hitam pekat itu tengah menyembunyikan emosi.
“Saya tidak meminta penjelasan apapun dari Anda, Tuan Rafi." Archer menatap Rafi dengan malas.
“Panggil saya ‘pak’ saja.” Rafi tersenyum kecil, meski ia tahu panggilan tuan yang disematkan Archer hanya sebagai sindiran. “Saya tidak terbiasa dipanggil tuan.”
“Kalau sudah tidak ada urusan lagi dengan ISTRI saya, lebih baik tinggalkan kami.” Archer menekankan kata ‘istri’, seolah ingin menegaskan status Rafi yang hanya sebagai orang asing di antara mereka.
“Baik. Kebetulan saya juga sudah selesai makan siangnya.”
Rafi menggeser pandangannya pada Feli yang tengah memperhatikan mereka sejak tadi. Dilihat dari raut wajahnya yang tanpa ekspresi, Rafi sulit menebak apa yang Feli rasakan saat ini. Ada yang sedikit aneh dalam cara berkomunikasi Feli dan Archer, Rafi dapat melihat hal itu. Namun, Rafi tak ingin ikut campur lebih jauh lagi.
“Fel, aku pulang dulu. Terkait rancangan yang tadi kita bahas, kirimkan saja hasilnya melalui email.”
Feli mengangguk. “Oke. Aku akan menyelesaikan desainnya hari ini.”
Rafi lantas pergi meninggalkan café tersebut. Tatapan Archer mendadak berubah tajam saat menatap Feli.
“Ikut aku. Ada yang harus kita bicarakan.” Suara Archer terdengar dingin.
“Ada sesuatu yang penting?”
“Tentu. Urusan kita tidak pernah tidak penting.”
“Sampaikan saja di sini. Nggak ada orang yang bakal nguping pembicaraan kita,” ujar Feli dengan santai.
Rahang Archer berkedut. Ia tidak suka dengan sikap Feli yang terlihat santai dan tak merasa berdosa sama sekali. Padahal apa yang Feli lakukan hari ini tidak dapat ditolerir lagi. Feli secara terang-terangan menunjukkan kedekatannya dengan pria lain di depan umum. Itu bisa merusak reputasi Archer sebagai CEO muda ternama di tanah air.
Archer menggenggam pergelangan tangan Feli. Genggamannya yang keras membuat Feli sempat meringis kesakitan.
“Ikut aku!” titah Archer dengan jauh lebih tegas.
“Mami…! Aku udah selesai cuci ta… ngan.” Suara melengking Kimberly perlahan merendah begitu melihat Archer.
Archer menoleh. Ia langsung terdiam manakala melihat putri semata wayangnya yang masih menatapnya dengan tatapan suram. Ia belum berhasil membuat putrinya memaafkannya.
Melihat Archer yang sedang lengah, Feli lantas menarik tangannya kembali dari genggaman pria itu.
“Om Rafi mana, Mi?”
“Sudah pulang, Sayang.”
“Yaah….” Kimberly tampak kecewa. Ia tak sadar sikapnya ini telah membuat ayahnya juga merasa kecewa sekaligus geram.
Kimberly naik ke kursinya, lantas memeluk boneka kuda poni di atas pangkuan.
Sorot mata Archer menyusut saat dirinya baru sadar bahwa sejak tadi ada boneka yang diinginkan Kimberly di kursi itu.
“Kimmy sudah dapat bonekanya?” tanya Archer dengan tenggorokan tercekat.
Kimberly mengangguk, ekspresinya tak seceria saat sebelum ada Archer. “Dari Om Rafi.”
Sekali lagi Archer terdiam. Kedua tangannya perlahan mengepal hingga urat-uratnya terlihat menonjol. Ia lantas menatap mobilnya yang terparkir di luar sana, terlihat jelas dari dinding kaca café ini. Tatapan Archer berubah kelam mengingat ada banyak boneka kuda poni di dalam mobilnya. Yang rencananya akan ia berikan hari ini kepada Kimberly.
Namun ternyata dia kalah cepat oleh lelaki bernama Rafi itu. Archer lantas tersenyum kecut.
“Baiklah, jadi mau mengobrol di mana? Di sini? Atau di kantorku?” Feli segera mengalihkan perhatian karena ia bisa melihat raut muka Archer semakin suram setelah melihat boneka di pelukan putri mereka.
“Di rumah. Ikut aku pulang.”
Archer berlalu pergi meninggalkan meja itu dan keluar dari café. Helaan napas Feli terasa berat seraya menatap punggung Archer yang perlahan menjauh dari mereka.
“Sayang, ayo kita pulang.” Feli mengacak rambut Kimberly dengan gemas.
“Tapi minuman Mami belum habis.”
“Ah… iya, Mami lupa. Mau Mami habiskan sekarang.”
Feli menghabiskan minumannya saat itu juga. Ia selalu mengajarkan Kimberly untuk tidak menyisakan makanan atau minuman. Tidak etis rasanya jika Feli yang mengajarkan tapi dia juga yang melanggar.
Pada akhirnya Feli memutuskan untuk mengikuti kemauan Archer. Pekerjaannya bisa ia handle dari rumah dan kebetulan hari ini tidak ada jadwal penting yang mengharuskan ada Feli di kantor.
Suasana di dalam mobil terasa kaku. Archer sibuk dengan kemudi, pandangannya lurus ke depan, bibirnya terkatup rapat. Rahangnya sesekali mengeras dan pegangannya pada kemudi begitu kuat saat mendengar suara Kimberly yang asyik mengobrol dengan boneka pemberian Rafi, di kursi belakang.
Sedangkan Feli tak ingin banyak berkomentar, ia hanya menanggapi pertanyaan Kimberly yang penasaran dengan hal-hal baru. Feli tahu Archer sedang marah. Tapi Feli tidak mau ambil pusing.
Sesampainya di rumah, Archer meminta Dewi untuk menjaga Kimberly. Kemudian menarik tangan Feli dan membawanya memasuki kamar Feli sendiri. Ya, Archer memang seperti itu. Ia bebas keluar masuk kamar Feli, sedangkan dia sendiri tidak suka jika Feli masuk ke kamarnya.
“Aku bukan barang yang perlu diseret-seret.” Feli mengentakkan tangannya dengan kasar, tetapi genggaman Archer terlalu kuat.
Archer menutup pintu kamar dan menguncinya. Kemudian memenjarakan tubuh Feli ke dinding dan mengunci kedua pergelangan tangannya di atas kepala. Feli segera membuang muka ketika wajah Archer berada terlalu dekat dengannya.
“Kalau mau bicara, bicara saja dengan cara baik-baik. Nggak perlu memperlakukan aku seperti binatang begini,” ujar Feli dengan suara dingin.
“Kamu mengajarkan Kimberly untuk jadi pengemis, Feli?” desis Archer tajam, yang membuat Feli mengerutkan keningnya tak mengerti.
“Mengemis apa maksudmu, Archer?”
“Boneka itu!” Suara Archer naik satu oktaf seraya menatap Feli dengan tatapan tajam. “Kamu menyuruh Kimberly untuk minta boneka pada pria itu, bukan?” Archer tersenyum kecut. “Atau… kamu sedang mengenalkan dia pada calon ayah barunya, begitu maksudmu?”
***
Daftar Isi Istri yang Tak Diinginkan
Novel Rilisan Baru











