APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Yang Diacuhkan

Istri Yang Diacuhkan

Arvin berniat menceraikan Gina, mengabaikan kehadiran putri mereka, Darcy. Pernikahan ini rupanya cuma kedok balas dendam Arvin kepada Felysia, sang mantan pacar yang ternyata kakak kandung Gina sendiri. Walau Gina sudah berjuang keras mempertahankan rumah tangga mereka, pengkhianatan Arvin yang berselingkuh dengan Felysia di belakangnya merusak segalanya. Akhirnya, demi menyembunyikan kepedihan ini, mereka sepakat bercerai saat Darcy berusia tiga tahun.
Bab
Bagikan

Bab 3

Di sekolah anaknya langsung turun dari motor dan meminta Gina membuka helm. Dilihatnya kalau anak-anak sudah datang. Darcy juga ikut belajar di tempat Gina mengajar. Anaknya tidak pernah rewel sedari awal Gina diminta mengajar oleh temannya.

Darcy dia biarkan bergabung dengan anak-anak yang lain sembari diawasi, sebelum jam pelajaran dimulai. Dia mengirim pesan kepada mamanya bahwa dia berterima kasih kepada mamanya atas kue yang telah diberikan tadi.

Bel pertama untuk masuk telah berbunyi. Gina melihat anak-anak sudah mulai masuk ke dalam kelas. Ada pula yang telah tapi dibiarkan oleh Gina. Saat itu mereka telah berbaris dengan rapi untuk diperiksa kerapiannya dan kuku yang tidak boleh panjang.

Dua anak yang kukunya panjang dan Gina berkata. “Nanti duduk di depan, ya. Biar Bu Guru yang potong kukunya.”

Anak muridnya mengangguk. Darcy malah duduk di paling depan dengan Sheila. Usia mereka memang berbeda, tapi Sheila punya sikap pengalah kalau Darcy meminjam sesuatu. Meskipun alat menulisnya sudah lengkap. Tapi Darcy meminjam milik Sheila dan mereka kadang bertukar pinjam.

“Kukunya harus bersih, biar belajarnya juga enak. Ada kotoran di kuku itu nggak baik. Nanti kan pegang makanan juga.” Peringat Gina kepada anak muridnya yang kemudian duduk di tempat masing-masing.

Sebelum pelajaran dimulai mereka berdoa.

Gina mulai menuliskan huruf di papan tulis untuk dilafalkan oleh anak muridnya. Darcy sendiri sudah hafal dengan huruf yang ada di papan tulis.

Gina memang selalu lembut kepada anak-anak yang dia ajari. Anak-anak di sini dititipkan, dididik untuk menjadi anak yang memiliki kepribadian. Orangtua mereka percaya kalau di sekolah adalah tempat menimba ilmu. Tapi tidak sepenuhnya pendidikan harus di dapatkan di sekolah. Peran orangtua juga pasti sangat penting sekali.

Semua anak mendapatkan giliran untuk membaca huruf yang sudah dituliskan Gina. Memang ada beberapa yang kesulitan. Tapi Gina tidak mau melompati mereka, inginnya adalah semua anak bisa berjalan bersama. Dan harus bisa membaca sama-sama juga. Gina perlahan mengajari dan kadang saat mereka sudah dapat giliran. Gina duduk di sebelah anak yang tidak bisa membaca itu lalu mengajarinya langsung. Sedangkan yang lain dia biarkan bermain.

Itu adalah cara pendekatan Gina dengan beberapa anak yang memang sulit sekali memahami pelajaran selama ada di sekolah.

Meskipun ada buku yang sudah diberikan oleh sekolah. Tapi mungkin di rumah anak-anak kurang waktu untuk belajar.

Setiap orangtua punya banyak cara untuk mendidik anak. Gina juga belum merasa dirinya berhasil mendidik sang anak. Meskipun selalu terlihat bahagia di sekolah. Siapa sangka kalau dirinya sebentar lagi akan menyandang status janda satu anak yang harus dia hidupi sendirian.

Sampai jam istirahat dia menemani anaknya mengobrol ketika anak-anak yang lain sedang makan bekalnya. Itu perintah dari Gina untuk membiarkan orangtua membawakan bekal untuk anak-anak dibandingkan harus jajan sembarangan. Karena Gina tidak mau disalahkan. Semua anak-anak wajib membawa bekal.

Jam pulang sekolah. Anak-anak tidak lupa diajarkan berdoa dan juga bernyanyi sebelum pulang.

Para orangtua sudah menunggu di luar. Gina sudah terbiasa dengan orangtua yang menjemput anaknya dengan kendaraan mewahnya. Ini sudah biasa terjadi setiap hari karena sekolah tempat Gina mengajar memang kebanyakan diisi oleh anak-anak yang berada.

Jadi Gina tetap mendapatkan pelatihan juga dari guru yang lain untuk bisa mengimbangi cara mengajar.

Sewaktu dia dihampiri oleh salah satu orangtua. “Permisi, Bu.”

Gina meminta anaknya menunggu di dalam kelas dulu. “Ya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?”

“Bisa kita mengobrol sebentar?”

Gina mengiyakan lalu dirinya pergi ke taman bersama ayah dari salah satu anak. “Saya mau tanyakan soal anak saya Roland. Apa dia kesulitan membaca?”

Roland? Anak yang tadi diajari oleh Gina tapi tidak bisa membaca satu huruf yang diajarkan oleh Gina. “Ya, tapi kita ajarkan pelan-pelan saja, Pak.”

“Mohon maaf sebelumnya. Ini tidak harus saya katakan pada Ibu. Tapi jika anak saya melakukan kesalahan, tolong jangan dipukul atau dimarahi, ya.”

Gina tidak pernah membentak anak kecil. Bahkan dia tahu cara menenangkan anak-anak. Dengan cara dipeluk atau diberikan pengertian. “Saya tidak melakukan itu, Pak. Tapi memang benar kalau Roland itu sedikit lambat dalam membaca. Di rumah juga mungkin bisa diajarkan.”

Pria itu mengatakan. “Kami baru bercerai. Maaf ini yang jadi alasan anak kami tidak bisa berpikir dengan baik. Memang bukan hak saya berkata seperti itu. Tapi saya memberitahu soal perceraian kami. Roland tinggal dengan saya, di rumah juga ada neneknya. Ibunya sudah menikah lagi beberapa hari lalu. Kami bercerai seminggu lalu.”

Gina antara bingung mau menanggapi seperti apa. Sementara dirinya berkebalikan dengan Arvin. Pria di sebelahnya ini baru saja mengatakan kalau dia mengurus anaknya. “Saya usahakan akan berikan yang terbaik.”

“Maaf kalau anak saya bikin ulah. Kalau anak saya bandel nggak bisa diatur. Saya akan pindahkan ke sekolah lain.”

“Tidak, dia tidak melakukan apa pun. Hanya saja kebanyakan diam.”

“Kalau begitu saya pamit, ya. Beritahu saya kalau ada apa-apa tentang Roland. Saya akan usahakan jadi orangtua yang nggak ganggu pendidikan dia.”

Gina termenung. Bagaimana nanti dengan Darcy yang menghadapi hal serupa. Tapi ini kebalikan. Sementara Darcy akan hidup dengan Gina. Kalau Roland hidup dengan ayahnya, tapi ibunya sudah menikah lagi.

Darcy juga akan merasakan hal serupa. Arvin akan menikah lagi dengan kekasihnya—Gina tahu akan hal itu.

“Maafkan Mama, Darcy.”

Perasaan dingin itu langsung menyambat tepat di uluh hatinya Gina yang mengingatkan dirinya kalau rumah tangga yang sedang dijalani oleh Gina dengan Arvin akan berakhir. Ini semua atas keinginan Arvin.

Tidak perlu menunggu Darcy tiga tahun untuk menyerah. Semakin besar Darcy, maka dia akan semakin paham arti kehadiran orangtua harus ada di sisinya. Tidak ingin kalau wanita itu menanggung semuanya.

Gina harus bisa mengurus semuanya sendirian.

Mulai dengan perasaan hampa yang sedari dulu sudah terbiasa dirasakan, sampai saat ini rasanya tidak ada yang berbeda. Entah Arvin yang memang lupa terhadap dirinya sendiri atau lantaran kehadiran cintanya lagi.

Gina memandang langit terik hari ini. Keringat bercucuran dengan perasaan yang panas tapi dengan suasana hati yang dingin. Lantas, bagaimana harus bisa bertahan dengan keadaan begini? Saat hati tidak pernah bisa mencerna apa yang diinginkan oleh Gina.

Ketika semua usaha telah dilakukan namun tidak pernah dihargai, percayalah bahwa menyerah adalah opsi paling tepat untuk semua ini. Gina yang pada akhirnya paham bahwa yang dirasakan saat ini adalah perasaan semu. Kehadiran Arvin bukan untuknya—melainkan hanya untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang ayah untuk Darcy.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Mau Penebusan yang Terlambat
9.6
Setelah kembali ke keluarga konglomeratnya, sang putri kandung mendedikasikan lima tahun hidupnya untuk mengejar Julian Jetarsa, pria yang pernah membelanya. Meski berhasil menjadi tunangannya, ia justru terus direndahkan karena dianggap tidak memiliki tata krama kelas atas. Puncaknya, saat kakek yang membesarkannya sekarat, Julian menolak membantu demi memberinya pelajaran agar bersikap lebih baik. Kematian tragis sang kakek dalam kondisi tak berdaya akhirnya memadamkan seluruh rasa cintanya.
Sampul Novel Balas dendam
9.2
Jenni yang dulu lemah kini telah berubah menjadi wanita tangguh setelah dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya sendiri, serta menjadi korban perundungan. Didampingi sahabat setianya yang selalu mendukung, Jenni kini merancang rencana balas dendam yang matang untuk membuktikan kekuatannya. Sambil mencoret foto para pengkhianat, ia bersumpah akan membalas semua rasa sakitnya. Ikuti perjuangan Jenni dalam menuntut keadilan atas masa lalunya.
Sampul Novel Diary Cinta Naelsa: Macaca Lova
8.5
Buku harian lama yang tak sengaja ditemukan kembali membawa Naelsa larut dalam kenangan masa sekolah. Lembar demi lembar catatan itu membangkitkan ingatan manis tentang cinta monyetnya bersama seorang teman sekelas. Kisah romansa masa lalu yang penuh emosi ini memiliki sebutan unik dari Myna, sahabat dekatnya, yang menamainya Macaca Lova. Naelsa kini harus menelusuri kembali lembaran memori indah yang sempat terlupakan dalam hidupnya.
Sampul Novel Hati Seorang Ibu, Kebohongan Kejam
8.5
Kebahagiaanku bersama Gavin Suryadiningrat runtuh seketika saat bank membeberkan rahasia akta lahir anak kembar kami. Ternyata, Iliana yang merupakan cinta pertama suamiku adalah ibu sah mereka. Aku hanya ibu pengganti yang disewa karena kemiripan fisik. Tragisnya, anak-anak yang kurawat justru menghinaku hingga terluka parah. Saat aku sekarat bersimbah darah, mereka malah pergi menyambut kembalinya Iliana. Pengabdianku selama enam tahun kini berakhir dalam pengkhianatan kejam.
Sampul Novel IMPERFECT BOSS
8.1
Elgar dikenal sebagai bos yang sempurna, namun semua itu hanyalah kedok belaka. Hidupnya yang tenang seketika terusik saat Lea, salah satu pegawainya, berhasil mengungkap rahasia gelap yang selama ini ia simpan rapat. Demi melindungi reputasinya, Elgar mencoba menekan Lea agar bungkam. Namun, tindakan itu malah memicu rasa bersalah dalam dirinya. Perlahan, kebencian Elgar terkikis dan berubah menjadi benih cinta yang mulai tumbuh di hatinya yang dingin.
Sampul Novel Impian untuk Rian
9.5
Bagi Rian, eksistensi Anara yang periang dan bermata binar adalah poros kebahagiaan hidupnya. Kehadiran gadis itu kini telah menjadi sandaran utama yang amat ia butuhkan. Namun, sebuah keraguan besar mulai membayangi hubungan mereka. Apabila takdir membuat Anara pergi dari sisinya, sanggupkah Rian bertahan dan melangkah maju secara normal, atau ia justru akan selamanya terperangkap dalam kepedihan memori masa lalu?