APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Simpanan Itu Akan Menyesal

Istri Simpanan Itu Akan Menyesal

Rumah tangga Nayla Azzura dan Rafka Dirgantara yang tampak sempurna hancur seketika saat rahasia tentang istri simpanan Rafka terbongkar. Alih-alih meratap, Nayla memilih merancang aksi balas dendam yang cerdik dan penuh kejutan tak terduga. Namun, situasi menjadi rumit ketika sosok pria lain hadir dan memicu percikan baru di antara mereka. Siapakah yang akan keluar sebagai pemenang dalam intrik penuh pengkhianatan dan misteri ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Langit Jakarta sore itu mendung keperakan, seolah ikut menahan napas atas rencana gila yang baru saja disusun Nayla. Ia berdiri di depan kaca besar ruang kerja pribadinya-ruangan yang selama ini menjadi tempatnya menulis artikel untuk media gaya hidup, menyusun proposal proyek sosial, atau sekadar melamun menatap lalu lintas padat di bawah sana. Kini, ruangan itu menjadi markas rahasia dari sebuah misi yang ia beri nama dalam hati: Operasi Pembalasan.

Beberapa hari terakhir, Nayla telah menelaah setiap potongan informasi tentang perselingkuhan Rafka. Ia menelusuri jejak transaksi kartu kredit, riwayat hotel, bahkan menyusup ke email kerja suaminya-semua dengan ketelitian seorang detektif. Di balik air mata yang diam-diam ia tangisi dalam kamar mandi, perlahan tumbuh tekad dingin yang menakutkan bahkan untuk dirinya sendiri.

Dan hari ini, tahap pertama dimulai: umpan.

Namanya . Seorang creative director di sebuah agensi iklan ternama yang beberapa kali sempat bekerja sama dengan Nayla untuk kampanye CSR perusahaannya. Nayla ingat, setiap kali rapat, Radya selalu datang dengan kemeja lengan digulung, senyum separuh sinis, dan tatapan mata yang seperti bisa membedah seseorang sampai ke tulang. Bukan tipe pria yang langsung tampak "berbahaya", tapi jelas bukan tipe yang bisa disepelekan.

Rafka tidak pernah suka Nayla terlalu dekat dengan Radya, dulu. Ironis, mengingat kini Nayla justru akan mendekat... sengaja.

Ruang pamer galeri seni modern di bilangan Menteng itu dipenuhi lampu sorot hangat dan suara tawa pelan. Pameran lukisan kontemporer sedang berlangsung, dan Nayla berdiri anggun di antara kerumunan, mengenakan gaun hitam sederhana yang menonjolkan siluet tubuhnya dengan elegan. Rambutnya disanggul longgar, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya, memberi kesan lembut tapi tak terjangkau.

Dia tahu Radya akan datang ke acara ini-ia memastikan dengan pura-pura bertanya santai pada kurator yang juga temannya. Ia menunggu dengan gelas champagne di tangan, jantung berdetak pelan tapi mantap, seperti drum perang yang diselimuti beludru.

"Wah... kalau bukan Nayla Azzura."

Suara bariton itu terdengar tepat di belakangnya, dan bibir Nayla secara otomatis membentuk senyum. Ia berbalik, menemukan sosok Radya berdiri di sana dengan jas navy tanpa dasi, rambut hitam sedikit acak, dan tatapan mata yang-seperti dulu-menelanjangi pikirannya.

"Radya." Nayla menyapanya tenang. "Sudah lama."

"Terakhir kali kita ketemu... dua tahun lalu? Saat kampanye #HijaukanJakarta, ya?" Radya tersenyum, memperlihatkan lesung pipi samar yang dulu membuat banyak staf perempuan di ruangan rapat mendadak gagap. "Kamu masih terlihat sama. Elegan dan... terlalu rapi untuk dunia yang berantakan ini."

"Dan kamu masih suka bicara seperti kutipan dari novel eksistensialis," balas Nayla ringan.

Radya terkekeh. "Terserah kamu mau sebut apa."

Percakapan itu mengalir lebih mudah dari yang Nayla bayangkan. Mereka berbicara tentang karya seni di sekitar, tentang keadaan industri kreatif, bahkan tentang kemacetan Jakarta yang seolah tak pernah berubah. Nayla memainkan peran "diri lama"-nya dengan lihai-yang cerdas, sedikit sinis, dan tampak tak tergoyahkan oleh drama hidup. Tak ada yang boleh menebak bahwa di balik eyeliner sempurna dan tawa sopannya, ada bara dendam yang membara.

Setelah satu jam berkeliling bersama, mereka berdiri di balkon galeri, memandang jalanan yang mulai diselimuti lampu malam.

"Kamu kelihatan... beda," ujar Radya tiba-tiba.

Nayla mengangkat alis. "Beda bagaimana?"

"Dulu kamu seperti kaca bening. Sekarang seperti cermin retak-masih indah, tapi menyimpan cerita," katanya pelan, menatapnya lama.

Ucapan itu membuat dada Nayla berdebar, bukan karena baper, tapi karena Radya berhasil membaca sesuatu yang bahkan ia sembunyikan rapat-rapat. Ia harus hati-hati-pria ini bukan sekadar umpan; dia juga berbahaya jika sampai menembus tamengnya.

"Aku rasa... semua orang berubah," jawab Nayla tenang.

Radya hanya mengangguk, lalu menawarkan: "Mau lanjut minum di tempatku? Masih banyak hal yang ingin aku obrolin sama kamu. Tentang proyek, tentu saja."

Nada "tentu saja" itu terdengar seperti lelucon. Nayla menimbang sejenak. Ini terlalu cepat? Mungkin. Tapi kesempatan seperti ini tidak datang dua kali, dan Operasi Pembalasan tidak memberi ruang untuk keraguan.

"Aku ikut," katanya akhirnya.

Apartemen Radya berada di lantai tinggi sebuah gedung modern, dengan dinding kaca dari lantai ke langit-langit yang menampilkan panorama malam Jakarta bagaikan lautan cahaya. Interiornya minimalis, maskulin, dengan dominasi hitam, baja, dan kayu gelap. Sebuah rak besar penuh buku seni dan novel klasik mendominasi satu sisi ruangan, sementara sisi lain dipenuhi lukisan-lukisan abstrak yang tampak mahal.

"Wow," Nayla berkata sambil melangkah masuk, melepas stiletto-nya. "Tempatmu... sangat 'Radya'."

"Berantakan tapi terkonsep?" sahut Radya sambil menuangkan anggur merah ke dua gelas.

"Chaotic but curated," Nayla mengoreksi sambil duduk di sofa kulit hitam yang dingin saat disentuh.

Radya menyodorkan segelas padanya, lalu duduk di seberang, satu kaki terlipat santai di atas sofa. "Jadi... kenapa kamu tiba-tiba muncul lagi di radar? Bosan jadi istri sosialita?"

Nayla menahan napas sepersekian detik. "Mungkin," jawabnya ringan. "Atau mungkin aku cuma ingin merasa hidup."

"Mendefinisikan hidup lewat bahaya kecil?" Radya menatapnya tajam. "Karena itu kamu datang ke sini?"

Nayla meneguk anggurnya, membiarkan cairan asam manis itu menuruni tenggorokan. "Mungkin aku hanya butuh... teman bicara yang tidak menuntut kesempurnaan."

Keheningan jatuh di antara mereka, tapi bukan keheningan canggung-lebih seperti jeda yang sarat listrik. Mata Radya tidak pernah lepas dari wajahnya, dan Nayla tahu, dalam hitungan hari, ia bisa membuat pria ini jatuh. Itulah tujuannya. Membuat Rafka cemburu, merasa kehilangan, merasakan rasa sakit yang sama seperti yang ia rasakan saat membaca pesan mesra itu.

Namun ada sesuatu yang aneh-ia menemukan dirinya menikmati permainan ini. Bukan hanya karena dendam, tapi juga karena Radya berbicara padanya seolah ia bukan sekadar "istri seseorang." Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.

"Kalau begitu, biar aku jadi pengecualian," ujar Radya akhirnya. "Di sini, kamu tidak harus sempurna."

Ucapan itu menancap seperti paku di dada Nayla. Ia memalingkan wajah, pura-pura tertarik pada lampu-lampu kota di bawah sana. "Itu berbahaya, tahu," katanya pelan.

"Aku suka bahaya," Radya menjawab lebih pelan lagi.

Hari-hari berikutnya, pertemuan mereka menjadi lebih sering-ngopi sepulang kerja, makan siang mendadak, atau sekadar bertukar pesan larut malam tentang film dan buku. Nayla memainkan perannya dengan hati-hati: cukup menggoda untuk memancing, tapi tidak cukup terbuka untuk dimiliki. Ia menjaga batasnya, karena ini hanya permainan... seharusnya.

Namun batas itu mulai kabur ketika suatu malam, mereka menghadiri konser musik jazz di sebuah lounge eksklusif. Radya duduk di sampingnya, sangat dekat, bahunya menyentuh bahu Nayla setiap kali ia bergerak. Musik mengalun lembut, lampu remang, dan dunia luar terasa jauh.

"Kamu tahu nggak, Nay," bisik Radya di telinganya, "setiap kali kamu tertawa, kelihatannya kamu ingin meyakinkan dunia bahwa kamu baik-baik saja."

Nayla terdiam.

"Tapi aku rasa kamu tidak," lanjut Radya. "Dan itu... entah kenapa, membuatmu makin menarik."

Hati Nayla berdebar keras. Ia tahu seharusnya menertawakannya, mengganti topik, menjaga jarak. Tapi malam itu, dengan nada saksofon yang melankolis dan gelas wine ketiganya yang hampir kosong, Nayla hanya berkata, "Mungkin kamu benar."

Radya menoleh, dan tatapan mata mereka bertaut terlalu lama. Untuk sesaat, Nayla hampir lupa kenapa ia melakukan semua ini. Lupa bahwa setiap detik bersama Radya hanyalah alat untuk menusuk hati Rafka. Lupa bahwa ini bukan cinta... ini perang.

Dan perang, pikirnya, tidak mengenal perasaan.

Beberapa hari kemudian, ia mendapat kabar bahwa Rafka akan menghadiri gala dinner perusahaan-acara penuh media dan pengusaha papan atas. Nayla memutuskan malam itu sebagai panggung pertama.

Ia mengirim pesan ke Radya:

"Mau jadi partner in crime-ku malam ini?"

Radya membalas dalam hitungan menit.

"Selalu. Jam berapa aku jemput?"

Hotel bintang lima itu berkilau seperti istana dari kaca. Para tamu berdatangan dengan mobil mewah, fotografer sibuk memotret, wartawan TV berseliweran. Nayla turun dari mobil Radya dalam balutan gaun merah tua backless yang membungkus tubuhnya seperti cairan api. Semua kepala menoleh. Radya berjalan di sampingnya, gagah dalam tuksedo hitam, dan menatapnya seperti ia satu-satunya wanita di ruangan.

Tatapan itu bukan akting. Nayla tahu.

Mereka masuk ballroom, dan mata Rafka langsung menemukannya dari seberang ruangan-mata yang melebar, kaku, lalu menyipit dingin. Nayla merasakan gelombang kepuasan mengalir dalam dirinya. Itu dia. Retakan pertama.

Radya membisikkan sesuatu yang membuat Nayla tertawa kecil, lalu menyentuh punggungnya ringan saat mereka berjalan. Kamera-kamera langsung membidik mereka seperti hiu mencium darah.

Malam itu, Nayla menari di tepi jurang. Ia menari dengan anggun, dengan senyum beracun, dan dengan rasa nyaris bebas-untuk pertama kalinya sejak mengetahui pengkhianatan itu.

Ini baru permulaan.

Operasi Pembalasan telah dimulai... dan ia tidak akan berhenti sampai Rafka tahu rasanya kehilangan segalanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan
8.6
Raina, pembalap jalanan legendaris berjaket kulit hitam di Jakarta, baru saja menaklukkan Melia dalam adu balap. Namun, kemenangan itu hancur seketika saat sang ayah menelepon dan memberi ultimatum keras. Raina dipaksa pulang untuk dijodohkan dengan anak sahabat keluarganya. Sambil menangis dan bimbang, ia dengan tegas menolak dikendalikan oleh orang tuanya demi mempertahankan kebebasan yang sangat ia cintai.
Sampul Novel Ditakdirkan untuk Pria Terkaya di Dunia
8.1
Usai dikhianati tunangannya dalam kondisi mengandung, Livia hampir kehilangan nyawa hingga terpaksa melarikan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali dan menolong seorang anak kecil yang rupanya putra dari miliarder paling kaya. Sang konglomerat pun hadir melindunginya, menumpas semua musuh, serta membungkam saudara perempuan Livia yang jahat lewat klaim pernikahan rahasia mereka. Kini, Livia yang kebingungan harus menghadapi godaan sang suami misterius yang mendambakan anak kedua.
Sampul Novel Kontrak Cinta Dengan Iblis
9.6
Niat baik Aluna menyelamatkan seorang pria yang ingin mengakhiri hidupnya berujung pada takdir tak terduga. Sosok yang ia tolong ternyata adalah Denias, iblis yang menyamar jadi manusia demi menguasai Negeri Barat. Aluna yang tidak curiga pun menyetujui kontrak rahasia yang ditawarkan Denias. Namun, keputusan itu justru membawa mereka pada petualangan yang menyingkap misteri besar masa lalu Aluna. Rahasia kelam apa yang sebenarnya tersembunyi di balik kesepakatan ini?
Sampul Novel Lenyap Usai Kata Pisah
8.2
Sofia Wijaya memilih mundur saat Olivia Kartika kembali ke sisi suaminya, Revan Mahendra. Melalui trik dokumen universitas, Sofia berhasil membuat sang pewaris mafia menandatangani perceraian tanpa disadari. Sofia pergi menjauh dalam keadaan hamil, membawa rahasia besar yang akan mengubah segalanya. Kini, Revan yang menyesal mengerahkan seluruh kekuasaan dunia bawah tanah untuk memburunya. Namun, Sofia telah bertransformasi menjadi sosok tangguh yang siap membuat mantan suaminya berlutut memohon cinta.
Sampul Novel Mengandung Anak Boss
8.3
Siska awalnya hanya ingin bekerja sebagai sekretaris di perusahaan mewah. Namun, Arga, sang atasan yang tampan, malah menyodorkan kontrak kerja yang sangat tidak biasa. Bosnya tersebut rupanya memiliki kondisi medis khusus yang mewajibkannya meminum ASI. Siska pun kini berada di persimpangan jalan yang sulit, harus memilih antara tetap bersikap profesional atau bersedia menjadi penyedia ASI demi memenuhi kebutuhan kesehatan unik sang pimpinan.
Sampul Novel Terjerat Pesona CEO Tampan
8.0
Kehidupan Odelia hancur setelah bisnisnya di ambang kehancuran dan tunangannya berselingkuh dengan perempuan berharta. Saat frustrasi, ia melarikan diri ke kelab malam hingga kehilangan kesadaran. Tak dinyana, Odelia terbangun di ranjang yang sama dengan bos di kantornya, CEO bernama Noah Danzel. Kejadian tak terduga tersebut menyeret Odelia ke dalam hubungan rumit dengan sang atasan. Akankah takdir membawa perubahan besar dalam hidupnya setelah malam itu?