
Istri Lima Belas Ribu
Bab 1
Penemuan Buku Rekening Gaji
“Dek, uang bulanan ada di meja rias, ya? Mas berangkat kerja dulu.”
Aku yang sedang menjemur baju sekilas menoleh, tersenyum dan mengangguk.
“Ada bonus, buat beli lipstick kamu.” Dia berkata seraya memainkan kedua alis. Kebiasaan yang ia lakukan saat sedang menggodaku.
“Jangan lupa! Beli yang warnanya merah menyala, mas suka itu.” Tambahnya lagi, saat sudah berada di atas motor.
Aku memonyongkan bibir, tanda mengejek. Ia lantas melajukan motornya perlahan menuju tempat dimana ia bekerja. Menjadi guru PNS di sebuah Sekolah Dasar. Lalu beranjak tubuh ini kubawa masuk ke dalam rumah. Langkah kaki terayun menuju kamar tidur. Kuambil amplop berisi uang bulanan dari suamiku. Lima lembar uang seratus ribuan. Aku tersenyum kecut. Mengingat permintaannya untuk membeli pewarna bibir. Memang benar ia memberiku bonus lima puluh ribu. Karena untuk sehari-harinya ia memberikanku jatah belanja limabelas ribu. Anak kami dua. Untuk uang jajan mereka sehari-hari saja, uang dari Mas Agam tidaklah cukup.Untungnya orangtuaku memberi beberapa petak sawah untuk lahan pertanian, sehingga untuk makanan pokok, kami tak usah membelinya.
Aku tak pernah tahu, berapa gaji yang ia terima utuh sebulan. Karena setahuku ia masih memiliki cicilan dari sebelum menikah, dan setelah menikah, ia menambah utangnya lagi untuk membeli sepetak tanah, sebagai investasi katanya. Tanah tersebut, kini dikelola oleh mertuaku. Sedang uang sertifikasi yang diterima tiap triwulan sekali, kami sepakat untuk menyimpan di bank untuk jaga-jaga bila ada kebutuhan mendadak.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku yang kebetulan juga mengajar di salah satu TK milik yayasan PKK Desa, membuka kantin di sekolah, tempatku bekerja. Selain itu, di rumah aku juga membuat beraneka macam keripik. Kutitipkan ke warung-warung. Alhamdulillah, hasilnya bisa ditukar dengan keperluan dapur. Kujalani dengan penuh rasa ikhlas sekalipun berat kurasa. Karena aku percaya, suamiku telah memberikan yang terbaik untuk kami.Hanya saja, memang kemampuaanya dalam memberi nafkah hanya sebatas ini.
“Gaji mas cuma satu juta Dek, buat nabung simpanan hari raya di koperasi dua ratus. Sisanya buat ongkos Mas beli bensin ya? Makanya kamu harus nerima kalau Mas sering nginep di rumah Ibu, yang lebih dekat dengan sekolah. Untungnya Mas gak ngerokok. Mas yakin, kamu bisa mengatur keuangan kita dengan baik. ”Begitu selalu yang ia ucapkan saat aku mengeluh. Dan aku selalu percaya padanya. Karena aku yakin, ia pria yang sangat baik. Taat beribadah, serta memiliki jiwa sosial yang tinggi.
Selama ini, keluarga Mas Agam menganggap aku sangat bahagia bersuamikan ia yang sudah PNS sejak sebelum menikah. Mereka mengira, kecukupan yang aku dapatkan semua berasal dari gaji yang ia berikan. Aku tak pernah menjelaskan apapun pada mereka. Karena kewajiban seorang istri adalah menjaga marwah keluarga. Tak sepatutnya menceritakan urusan rumah tangga kepada orang lain. Sekalipun mereka masih keluarga kita. Berat ringannya hidup, cukup kami yang tahu. Aku tak ingin harga diri suami jatuh di hadapan keluarga besarnya.
***
Siang ini, sepulang dari TK, aku berniat memembersihkan meja kerja Mas Agam. Kubereskan buku-buku yang berserakan. Dari mulai buku materi ajar sampai perangkat pembelajaran. Tiba-tiba sebuah buku rekening tabungan bertuliskan bank daerah yang kutahu itu buku rekening gaji, terjatuh dari dalam sebuah buku pelajaran Matematika. Entah terdorong rasa apa, aku membuka buku itu perlahan. Terlihat rentetan angka, nominal uang gaji yang setiap bulannya diterima suamiku. Seketika dadaku bergemuruh hebat. Sudut netra ini mulai memanas. Kuteliti satu per satu rententan angka yang tertera tiap bulannya. Aku mulai tergugu lalu terjatuh lemas di atas lantai. Isak tangis mulai keluar dari bibir ini. Sekali lagi kulihat transaksi uang yang tiap bulan diterima dan diambil suamiku dari bank tersebut, untuk memastikan apakah aku salah melihat atau tidak. Deretan angka dalam kisaran dua juta tujuh ratusan, atau bila ada lebih kurangnya hanya selisih seratus ribu tiap bulannya, sukses membuat dada ini sesak. Seketika luluh lantak sudah kepercayaan yang kuberikan padanya. Ia selalu mengatakan sisa gajinya hanya satu juta. Ternyata 8 tahun menikah dengannya, aku telah dibohongi. Dipaksa berjuang sendiri demi terpenuhinya kebutuhan makan kami berempat. Dan dengan begitu, aku pun tahu, hanya separuh dari uang sertifikasi yang ia berikan padaku untuk ditabung.
Mengapa ia begitu tega membohongiku? Membiarkanku sendiri, berjuang membanting tulang. Kemana larinya uang itu?
Aku masih terisak dengan segala kepedihan yang mendera. Memori otakku berputar, mengingat kejadian-kejadian yang telah berlalu. Betapa berat perjuangan yang kami lalui bersama. Meskipun sebagian keluarga besar Mas Agam menganggap aku adalah orang yang sangat beruntung mendapatkannya yang sudah menjadi PNS sebelum menikah denganku, namun mereka tidak pernah tahu. Berjalannya roda ekonomi kami, juga ada jerih payahku di dalamnya.
“Mbak Nia seneng pasti ya, punya suami Mas Agam. Gajinya sebulan lima jutaan kan? Belum lagi sertifikasinya yang keluar tiga bulan sekali. Wah, kalau aku mah bakalan gonta ganti gelang sama kalung mbak.” Teringat kata-kata Dina, adik sepupu Mas Agam yang suka berpenampilan glamour, kala itu.
Aku hanya tersenyum menanggapi pernyataannya. Tak kubantah maupun mengiyakan. Sekali lagi, karena menjaga marwah suami. Andai mengatakan yang sebenarnya-pun, akankah mereka percaya dengan ceritaku yang harus ikut serta membanting tulang demi memenuhi kebutuhan keluarga? Mengingat sosok Mas Agam begitu disanjung akan kebaikan serta sikap peduli yang tinggi terhadap sanak familinya.
Dada ini terasa semakin sesak. Namun segera ku menguasai diri. Aku harus mencari tahu, kemana uang Mas Agam yang selama ini ia sembunyikan dari aku. Pada siapa ia berikan. Dan aku tidak bisa menghadapi ini semua dengan emosi. Karena akan berakibat fatal. Lagi-lagi omongan keluarganya yang aku takutkan. Jujur selama ini, orangtua serta kakak perempuan sekaligus kakak satu-satunya itu, mereka sering mengeluarkan kata maupun kalimat yang sedikit menggores relung hati ini. Tapi, tidak pernah sekalipun mulut ini membalas omongan mereka, karena takut. Bagaimanapun, mereka semua adalah orangtua yang harus kuhormati. Dari rahim ibunya-lah suamiku dilahirkan.
“Biarkan Agam pulang kesini. Kasihan kalau harus jauh-jauh pulang ke rumahmu. Aku mengkhawatirkan kesehatan dan keselamatannya. Tiap hari kalau harus berkendara lama selama empat jam pulang pergi kan kasihan. Aku tidak tega. Cukuplah seminggu sekali ia mengunjungimu.” Ucapan dari Mbak Eka, kakaknya Mas Agam masih selalu teringat di kepalaku. Ketika itu aku masih hamil pertama empat bulan. Entah terlalu perasa atau memang ucapan itu yang terlalu menusuk. Ada sesuatu yang seperti menghunus ulu hati ini.
“Tapi kan aku lagi hamil mbak.”
“Lhoh, apa hubungannya hamil dengan kepulangan Agam? Aku aja yang ditinggal merantau ke Kalimantan, tidak masalah. Suamiku malah belum tentu setahun sekali pulang.”
Salahkah bila dalam keadaan hamil ingin selalu bersama suami?
“Mbak Eka tuh baik dek. Sayang sekali sama Mas. Makanya dia berbicara seperti itu. Udah gak papa. Jangan dipikirkan ya? Yang penting kan, Mas pulang gak sampai seminggu sekali dek. Paling tiga hari di rumah Ibu. Jangan sedih! Ibu hamil gak boleh tertekan. Dibuat bahagia aja. Ya, sayang?” Begitu jawaban Mas Agam saat aku mengadu perihal perkataan Mbak Eka.
“Mas, kenapa gak pindah saja? Cari yang dekat sini. Toh kan, Mas pulang ke rumah Ibu juga perjalanan hampir satu jam kan?” Yah, memang suamiku mengajar bukan di daerah tempat tinggal ibunya. Bila kesana, ia harus berkendara kearah timur, sedangkan pulang ke rumahku ke arah barat. Aneh bukan?
“Mas sudah nyaman dek, sama teman-teman di sana. Mas takut, bila pindah gak nemu yang klop seperti mereka. Dan kalau dipikir ya, tetep deket ke rumah ibu kan?”
“Kalau gitu, aku ikut ke sana ya Mas? Aku ingin selalu berada bersama Mas setiap hari. Kan aku sedang hamil Mas.” Pintaku merajuk.
“Aduh, jangan sayang. Kamu harus ngajar kan? Nanti kalau kamu keluar, ada yang gantiin kamu gimana?” Akhirnya, aku hanya bisa pasrah pada keadaan.
Kepulangan Si Sulung Dinta dari sekolah membuatku tersadar dari segala lamunan. Dia terlihat kaget melihat mataku sembab.
“Ibu kenapa? Habis nangis?”
“Iya sayang, tadi habis baca novel online, ceritanya sedih banget” Jawabku berbohong. Bagaimanapun keadaanku, aku tidak ingin, ia yang masih berusia tujuh tahun harus mengerti bebanku.
Dinta masuk kamarnya, berganti baju lantas makan. Setelahnya, terdengar langkah kaki sang adik, Danis yang baru pulang dari bermain. Ia berlari memelukku. Kebiasaan itu suka dilakukannya saat masuk ke dalam rumah. Kudekap erat tubuh mungilnya. Usianya baru genap empat tahun, bulan lalu. Ia menjadi anak kesayangan Mas Agam.
Kepergian Mas Agam
Hari ini, jadwal Mas Agam pulang ke rumahku. Iya, rumahku. Karena rumah ini diberikan oleh orangtuaku. Mereka membuat rumah ini saat Dinta berumur satu tahun. Jarak dengan tempat tinggal Ibu dan Bapak hanya lima ratus meter.
Aku tidak langsung menanyakan perihal buku rekening yang kutemukan tadi siang. Menunggu saat yang tepat.
Setelah anak-anak tidur, dan kami berdua tengah menonton televisi, barulah aku menyusun bahasa untuk memulai menanyakan tentang gajinya. Lebih tepatnya menginterogasi.
“Mas, saat bersih-bersih tadi siang, aku menemukan ini.” Kuberikan buku rekening miliknya. Buku tersebut sebelumnya sudah kusimpan di bawah kasur yang sengaja digunakan saat anak-anak menonton TV. Wajahnya terlihat pucat. Tangan bergetar saat memegang benda berharga miliknya itu.
“Ka Kamu nemu dimana dek? Ka kamu udah buka isinya?” Tanyanya dengan nada terbata-bata.
“Di dalam buku pelajaran matematika. Sudah... “ Jawabku santai.
“Kenapa Mas? Kenapa kamu pucat seperti itu? Apa karena isi dalam buku itu berbeda dengan yang kamu ceritakan padaku?” Tanyaku kemudian sembari menatap tajam matanya.
“Tega kamu, Mas! Aku seperti kamu paksa untuk berjuang sendiri demi menghidupi keluarga kita. Sekarang aku tanya. Kemana uang kamu yang lain?”
Ia diam tidak menjawab. Terlihat tertunduk kepalanya. Sembari memainkan kuku-kukunya.
“Aku kasihkan sama Ibu, Dek…” jawabnya lirih setelah sekian lama.
Kuhembuskan nafas dengan kasar. Lalu mencoba menetralisir gemuruh dalam dada dengan menarik nafas kembali secara pelan-pelan.
“Sebagian uang sertifikasi juga?” Ia mengangguk.
“Begini Dek, Mas kan menjadi seorang PNS karena jasa Ibu. Kamu kan dapat senengnya, Dek. Sedang Ibu telah berjuang agar Mas bisa sekolah. Hingga sampai di titik ini. Kamu harus nerima dong. Jangan egois gitu lah. Kamu seharusnya bersyukur. Dapat laki-laki mapan kayak aku. Hidupmu terjamin.”Jelasnya terdengar agak ketus.
What? Beruntung karena hidupku terjamin?
“Kalau hidupku terjamin, aku harusnya tak perlu susah payah jualan ini itu dong Mas?”
“Ya sudah nasib kamu lah, coba kamu kaya aku. Jadi Abdi Negara juga. Kamu gak perlu ngemis nafkah gitu sama aku. Kalau kamu harus susah payah jualan, ya, itu karena gajimu kecil. Bahkan gak tahu, kamu ngajar dapat gaji apa tidak.” Netra ini tiba-tiba memanas. Suamiku yang selalu bertutur kata lembut, malam ini sungguh kata-katanya tajam bagai belati.
“Mas, seorang istri wajib kamu nafkahi. Uang suami berarti uang istri juga. Sedangkan uang istri, bukan uang suami. Aku tidak melarangmu memberi uang sama Ibu, tapi tolonglah, lihat dulu keadaan aku. Sementara Ibu, hidup berkecukupan bahkan berlebihan. Tidakkah bisa, kamu menukar nominal uang yang diberikan pada Ibu untukku. Karena aku lebih membutuhkan itu Mas. Lalu uang sertifikasi yang separuh kemana?”
“Ya, buat Ibu juga lah. Terserah aku dong. Uang uangku. Kenapa kamu yang sewot. Itu kalau kamu masih mau jadi istriku, kamu harus nurut.”
Selepas bicara itu, dia bangkit. Masuk kamar mengambil jaket, lalu terdengar ia pergi mengendarai motornya.
Kulihat tas di meja kerjanya tidak ada. Helm juga. Sepertinya ia pergi ke rumah orangtuanya…
Selepas kepergian Mas Agam, aku masih terpaku. Tak percaya bila ia tega mengatakan kata-kata yang begitu menyakitkan padaku. Apakah ini sisi lain darinya yang tidak kuketahui? Kuakui aku hanya tahu kehidupannya bila di rumah saja, di luar sana aku tidak pernah tahu, apa yang dilakukan serta bagaimana perilakunya.
Saat sedang asyik dengan segala pemikiranku, tiba-tiba gawaiku berdering. Nomer baru menghubungi pada telepon seluller.
“Assalamualaikum…” Sapaku.
“Waalaikumsalam… Nia sayang, apa kabarnya? Sudah lama aku tak pernah tahu kabarmu. Tadi iseng-iseng buka grup WA alumni Aliyah, eh aku lihat foto kamu. Uh, maklumlah ya, kita kan dulu sekolah di jaman belum ada hp. Jadi, setelah lulus aku kehilangan jejak kamu deh.” Suara di seberang telepon terdengar terus berbicara tanpa memberi kesempatan padaku untuk menjawabnya. Aku tahu siapa dia. Tiga tahun kami satu kelas, dan satu kos, membuatku tak bisa melupakan spesies langka yang satu ini. Afifah, gadis mungil yang kecepatan bicaranya melebihi kilat, gadis baik yang selalu menolong siapapun yang membutuhkan. Teman sekaligus saudara bagiku, namun harus terpisah saat kami lulus. Ia berasal dari kabupaten lain. Pada waktu itu, handphone menjadi barang langka, hanya mereka dari kalangan berada saja yang punya. Itu pun belum secanggih sekarang untuk fitur dan aplikasinya. Afifah sudah mempunyainya, tapi aku belum punya. Sempat ia memberi nomer agar aku bisa menghubunginya, tapi hilang.
“Halo… haloo… Ni? Kamu masih dengerin aku kan?” Setelah ia berbicara panjang lebar barulah ia ingat aku.
Akhirnya malam itu, kami bercerita panjang lebar tentang kehidupan kami selepas lulus Aliyah. Ia ternyata belum memiliki anak di usia pernikahan yang keenam ini. Begitulah kehidupan, tak ada yang sempurna. Setiap orang akan mendapat ujian yang berbeda-beda.
Mengobrol dengan Afifah membuatku sejenak lupa pada permasalahanku dengan Mas Agam. Afifah ternyata sekarang sedang menggeluti bisnis produk kecantikan, yang diendorse oleh artis-artis ternama, salah satunya pemeran utama sinetron Ikatan Tinta yang sedang viral. NS Glowing, Nama produknya. Ia sudah menjadi member dengan penghasilan di atas dua puluh juta dalam satu bulan. Dan saat ini tengah mengajukan untuk menjadi agen. Afifah paham, bahwa di daerahku belum ada yang menjadi member untuk produk ini, ia menawari kerjasama denganku. Awalnya ia bilang akan mendaftarkanku sebagai reseller. Mengirimku sepuluh paket produk tersebut, plus gratis satu paket untukku. Uangnya bisa ditransfer setelah semua laku. Ah, dia memang baik dari dulu.
“Kamu pakai aja dulu, insya allah aman dan tidak menimbulkan ketergantungan. Kalau gak percaya, kamu pakai, setelah wajahmu bagus, coba berhenti beberapa hari. Timbul reaksi gak sama wajahmu. Insya allah sih enggak. Habis kamu berubah cantik tuh, kamu iklan deh. Nanti aku kirimi video yang endorse artis-artis, kamu buat story. Kalau udah banyak yang pakai, kamu daftar member. Nanti aku bantu modalnya say, jangan kuatir. Kamu bisa balikin modal nyicil dari untung-untung yang didapatkan. Di kabupaten kamu, aku cek belum ada member. Pasti nanti laku keras, apalagi kalau kamu juga jual di aplikasi jual beli juga. Pasti tambah untung tuh. ”Sebuah tawaran yang menggiurkan dan patut aku coba. Apalagi, aku tak perlu modal. Setelah pembicaraan ngalor ngidulku dengan Afifah, semangatku untuk bangkit dan menjadi wanita sukses, berkobar dalam dada. Akan aku tunjukkan, kalau aku bias menjadi wanita sukses pada Mas Agam yang sudah bilang bahwa aku mengemis nafkah padanya.
Dewi fortuna sepertinya sedang mengikutiku. Selesai berceloteh ria dengan Afifah, gawaiku kembali berdering. Kali ini dari pemilik toko makanan ringan besar di kecamatanku. Ternyata ia ingin menjalin kerjasama juga. Pernah mencoba keripik dari salah satu guru TK yang membeli di aku, ia meminta untuk distok dalam berbagai kemasaan. Ia menanyakan apakah aku sanggup apa tidak. Tentu saja, kesempatan ini tidak ingin aku lewatkan sia-sia.
“Keripik pisang sama singkongnya bisa dikirim lusa Mbak Nia?” Tanyanya kemudian setelah aku menyanggupi.
“Bisa Mbak, Insya Allah…” Jawabku mantap. Sepertinya aku tidak bisa memproduksi sendiri. Harus mencari orang untuk membantu. Ah, tidak mengapa, aku mengenal tetangga yang cekatan untuk kuminta mengerjakan ini. Besok pagi aku akan mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan. Malam telah semakin larut, akhirnya rasa kantuk menyerang juga. Kubaringkan tubuh di samping Danis. Memeluknya erat ke alam mimpi…
Memulai Usaha Keripik
Pagi ini, aku sudah mendapatkan orang yang akan membantuku membuat keripik. Dengan bahan sisa yang ada, mereka mulai bekerja. Setelah sebelumnya kuajari mereka tentunya. Kulanjut menyiapkan sarapan untuk Dinta dan Danis. Setelahnya berangkat ke TK bersama Danis yang sudah mulai masuk nol kecil. Mulai hari ini kantin akan aku isi dengan makanan ringan saja, agar tidak repot. Selepas pulang nanti, aku berencana ke petani pisang sama singkong, meminta agar dikirim stok barang agak banyak.
Seminggu sudah berlalu, Mas Agam belum juga pulang. Pun tidak memberi kabar. Keripik-keripik produksiku juga sudah kupasarkan melalui story WA. Banyak warung desa lain yang ikut memesan. Ada tiga toko lagi di pasar yang meminta distok juga. Rasa yang lebih enak, menjadi alasan makanan ini semakin laris di pasaran. Namun aku percaya bahwa ini semua merupakan kemudahan yang Allah berikan. Untuk sementara, aku belum ada keinginan untuk menyusul Mas Agam. Pesanan yang semakin banyak, membuat waktuku seperti tersita untuk mengembangkan bisnis ini. Meskipun Danis beberapa kali menanyakan ayahnya, aku masih bisa membuat anak ini sabar menunggu ayahnya pulang.
Tujuh hari berjalan sudah menambah karyawan menjadi empat. Ada satu dari mereka yang bisa mengendarai motor, bertugas mengantar ke toko dan warung-warung. Terhitung selain empat took di pasar, sudah sepuluh warung di desaku yang menjadi langganan, serta ada dua puluh warung di dua desa lain yang tiga hari ini sudah kustok keripik. Aku sengaja menggunakan sistem bayar lunas, agar keuntungan bisa langsung kuhitung. Stok yang kukirim juga tidak terlalu banyak, hal ini menghindari barang tidak laku, bisa jadi kerugian buat aku. Karena perjanjian awal, barang yang tidak laku akan ditukar dengan yang baru.
Malam ini kuhitung laba bersih yang didapat, dan hasilnya Alhamdulillah, mendapatkan dua juta rupiah. Sebuah awal yang bagus menurutku. Tak lupa, kusisihkan sepuluh persennya untuk kuberikan pada Mak Tarni dan Mak Siti. Janda sebatang kara yang tinggal dekat rumah Ibu.
Aku sudah berniat memberi label keripik dengan nama DD snack. Singkatan dari Dinta dan Danis. Hari-hari besok, aku akan mempromosikan ke rumah makan dan café-café tempat nongkrong anak muda. Dan tidak menutup kemungkinan, akan kutambah lagi keripik jenis lain, jika ini sudah berjalan lancar. Selain usahaku semakin besar, tentunya bisa menyerap tenaga kerja. Memanfaatkan tenaga ibu-ibu rumah tangga agar mereka memiliki penghasilan. Untuk urusan kantin sekolah, aku akan mempekerjakan salah satu ibu wali murid yang setiap harinya mengantar dan menunggu anaknya hingga pulang. Dengan seperti ini, pekerjaanku tidak terlalu berat. Dan di sisi lain, memberikan rejeki pada orang.
Produk kecantikan dari Afifah sudah mendarat dua hari setelah Afifah telpon malam itu. Sudah mulai kuiklankan ke teman-teman guru TK. Aku pun sudah mulai menggunakan. Benar kata Afifah, produk ini bagus untuk wajah dan tidak menimbulkan ketergantungan.
Kesibukan mengurus bisnis nyatanya tak hanya membuat lupa akan masalah dengan Mas Agam. Namun juga menurunkan berat badan. Wajah yang semakin bersih memudahkanku untuk semakin gencar mempengaruhi teman-teman agar memesan produk kecantikan padaku. Karena dalam menjual, kita harus memberikan bukti terlebih dahulu.
Sepuluh hari memakai NS Glowing sudah memberi hasil nyata, aku semakin hobi berselfi, tujannya agar teman-teman melihat perbedaan yang ada pada wajahku. Agar mereka semakin tertarik dan beralih perawatan wajah ke produk ini. Namun, semua story-story, kusembunyikan dari Mas Agam serta keluarga besarnya. Biarlah mereka tidak tahu tentang aktivitasku saat ini.
Sore itu, hari keempat belas Mas Agam meninggalkan rumah. Aku sedang mendampingi anak-anak belajar. Saat tengah asyik mengajari mereka, pintu rumah diketuk, agak keras. Aku berfikir jika orang itu sedikit marah. Setengah berlari, menuju pintu depan. Segera kubuka handle pintu, dan betapa terkejutnya, saat mengetahui tamu yang datang, dengan raut muka yang tidak bersahabat.
Mencoba tersenyum saat hendak menyalami tamuku, namun tangan ini segera ditepis olehnya, Bapak mertua. Ia datang bersama Mbak Eka. Setelah dipersilahkan masuk, berdua melangkah ke dalam rumah.
“Langsung saja Nia, bapak mau bertanya. Kamu apakan Agam? Sehingga ia pulang ke rumah kami dan menangis?” Belum juga tubuh ini duduk, bapak mertuaku langsung bertanya tanpa basa basi.
Aku ternganga di tempatku berdiri. Pria yang sudah beranak dua, dan berprofesi sebagai seorang pendidik, punya masalah yang disebabkan oleh dirinya sendiri, mengadu pada orangtuanya? Aku bingung hendak menjelaskan dari mana. Toh, aku juga sudah paham, mereka berada pada pihak siapa. Akankah penjelasanku ini penting? Muka Mbak Eka terlihat sinis saat memandangku. Segera kuatur nafas, agar bicara yang akan kusampaikan ini, tidak berujung emosi.
“Bapak, kira-kira kalau Mbak Eka diberi nafkah yang jauh dari cukup oleh suami Mbak Eka, dan Mbak Eka harus berjuang keras agar tidak hidup kekurangan, kemudian akhirnya Mbak Eka tahu jika suaminya berbohong tentang gajinya, apa kira-kira Mbak Eka akan diam saja? Tidak menanyakan hal ini pada suami?” Mbak Eka sebagai objek percontohan segera membuang muka. Sementara Bapak, masih menunjukkan muka masam.
“Jangan bawa-bawa namaku ke dalam masalah kamu, Nia. Kita jauh berbeda. Adikku PNS. Kamu harus bersyukur nikah sama dia. Hidupmu terjamin, wajah kamu aja kelihatan bersih, mana bisa kamu perawatan, bila tidak memakai gaji suamimu? Kayak gitu gak tahu diuntung, pakai ngungkit uang yang dikasih ke Ibu segala. Masih banyakan yang dikasih ke kamu Nia… daripada buat Ibuku.” Mbak Eka bicara dengan nada yang sedikit tinggi dan ketus.
“Banyak aku kata Mbak Eka? Mbak, uang lima ratuis ribu banyak? Sementara yang dikasih ke Ibu tiga kali lipatnya, itu sedikit?” jawabku tak kalah sengit.
“Ya kamu tidak usah cari tahu tentang gaji suami kamu. Biar tidak sakit hati. Dasar kamunya saja, perempuan lancang.”
“Jadi, menurut bapak, aku yang salah? Mas Agam tidak bersalah?” Tanyaku untuk memutus perdebatan. Bukankah menghindari perdebatan adalah hal yang terpuji? Sekalipun seseorang berada di pihak yang benar. Terlebih berbicara dengan orang yang tidak mau merasa salah.
“Iyalah… kamu kalau tidak suka, ya minta cerai dari Agam, sesalah apapun, anakku tetap aku bela. Jangan pernah kamu mencoba menyakiti Agam. Agam adalah anak kesayangan kami, anak yang saya besarkan sendiri dengan tangan ini. Dia menjadi pegawai negeri berkat jasa dari orang tuanya. Camkan itu!” Ancamnya kemudian, Bapak mertua dan Mbak Eka lantas berdiri, berlalu pergi begitu saja. Bahkan berpamitan ataupun menyapa Dinta dan Danis pun tidak. Mereka berdua terlihat ketakutan, berdiri mengintip dari balik tembok. Aku membuang nafas kasar dan bergegas menghampiri kedua buah hatiku. Membawa mereka dalam pelukan…
Menyusul Ayah
Selepas kepergian Bapak dan Mbak Eka, kuajak anak-anak naik motor. Sekedar cari angin, menghibur dua kakak beradik ini. Karena kutahu, meski hanya sebuah insiden kecil, tapi sudut hati buah hatiku merasa terluka. Ada perih yang menggores, saat mereka yang tidak bersalah sedkitpun harus ikut merasakan kemarahan kakeknya.
Saat tengah menunggu pesanan bakso di warung lesehan, Dinta bertanya mengapa ayahnya tidak pulang.
“Ayah ngembek ya, Bu?” tanyanya lagi saat tidak mendapat jawaban dari aku. Aku mengangguk mengiyakan, seraya tersenyum. Bingung mau menjelaskan apa pada anak sekecil mereka.
“Kalau Ayah tidak pulang, kita susul kesana ya, Bu? Adek gak mau kalau Ayah pergi. Adek takut tak punya ayah lagi…” Danis ikut nimbrung pembicaraan kami. Matanya terlihat berkaca-kaca. Lagi-lagi hanya anggukan yang mampu aku lakukan.
Setelah baksonya datang, keduanya tak lagi mebicarakan ayahnya. Terlihat menikmati makanan favorit mereka. Kupandangi wajah polos dan lugu kedua anakku. Delapan hari tidak bertemu, sekalipun Mas Agam tidak menghubungi mereka. Apakah memang kami tak memiliki arti sama sekali bagi dirinya?
Sepulang dari makan bakso, kulihat bapakku sudah duduk di teras rumah. Menunggu kami sepertinya. Beliau tidak bisa masuk, karena pintu rumah terkunci. Dinta dan Danis berlari memeluk mbah kakungnya. Sejenak mereka bertiga terlibat permainan yang seru. Begitulah Bapak, sangat menyayangi kedua anakku. Saat bersama, Bapak selalu memposisikan diri seperti anak-anak. Mengikuti permainan apapun yang berdua kakak beradik itu lakukan. Setelah puas bermain dengan kedua cucunya, Bapak menghampiriku ke dapur. Aku tengah mengecek ketersediaan bahan-bahan keripikku.
“Tadi Bapak lihat mertuamu datang? Bapak pulang untuk berganti baju, ternyata pas kesini mereka sudah tidak ada. Kalian bertiga juga tidak ada di rumah. Bapak juga dengar dari orang-orang yang bekerja di sini, sudah seminggu ini Agam tidak pulang, betulkah?” Bapak bertanya terkesan sangat berhati-hati.
“Iya Pak… Mereka datang cuma sebentar. Setelah Bapak dan Mbak Eka pergi, aku mengajak Dinta dan Danis makan bakso.” Setelah itu mengalir ceritaku perihal buku rekening yang kutemukan. Bapak terlihat mendengarkan dengan sksama. Sekali-kali mengangguk-anggukkan kepala.
“Nia, setiap rumah tangga pasti ada ujiannya. Tidak semua hal harus dihadapi dengan emosi. Bapak harap, kalian tidak gegabah mengambil keputusan. Besok-besok jika hatimu sudah tenang, susul Agam. Ajak dia ke rumah Bapak. Biar Bapak yang bicara sama dia.” Bapak memang orang yang bijaksana. Tidak suka memperkeruh suasana. Tapi untuk kali ini, rasanya tidak tepat. Karena anak perempuannya sudah terdzalimi. Tapi percuma juga berdebat dengan beliau. Aku hanya akan semakin dinasehati. Nasehat-nasehat beliau memang bagus, tetapi untuk saat ini aku tidak ingin membahas apapun. Aku hanya ingin mengembangkan usaha yang aku miliki sekarang. Setelah bertemu dengan keluarga Mas Agam, aku jadi bersemangat untuk menjadi wanita sukses. Akan aku tunjukkan bahwa sukses itu tidak harus berseragam.
“Bapak tahu apa yang kamu pikirkan.Ya sudah, tenangkan dirimu. Bila repot mengurus usaha barumu, bawa Dinta dan Danis pada ibumu. Biar kami yang membantu menjaga mereka. Kami juga kesepian. Adikmu juga sedang libur kuliah. Pasti senang bermain bersama mereka berdua” Kuhela nafas lega. Bapak mengerti keadaanku, itu membuatku tak perlu menjelaskan apapun lagi. Sebagai anak sulung, aku tahu Bapak menginginkan yang terbaik padaku dan rumahtanggaku. Untuk contoh adik semata wayangku, Fani itu yang beliau harapkan.
“Bila mereka merindukan ayahnya, bawalah ke rumah mertua kamu. Jika di sana kamu mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan, bawa pulang mereka.” Pesan terakhir Bapak sebelum meninggalkan rumahku. Aku duduk termenung memikirkan semua nasehat yang Bapak berikan. Beliau memang tidak pernah mau mencampuri urusan rumah tanggaku lebih dalam.
***
Selang sehari stelah kedatangan mertuaku, hari ini kebetulan libur tanggal merah, aku berencana membawa anak-anak menemui ayah mereka. Dua minggu tidak berjumpa, sebagai Ibu, aku bisa melihat kesedihan di mata mereka. Perilaku kedua kakak beradik itupun terlihat lebih murung. Benar-benar tidak habis fikir dengan Mas Agam. Sekian lama tidak berjumpa dengan anak, sama sekali tidak pernah ada keinginan untuk menghubungiku sekedar mencari kabar atau minta berbicara dengan anak-anaknya.
Dengan mengendarai kendaraan roda dua kami bertiga berangkat. Dibutuhkan waktu sembilan puluh menit untuk sampai rumah mertuaku. Aku mengendarai dengan santai agar selamat sampai tujuan. Fani yang kebetulan tidak kuliah, sudah kuminta mengurus pesanan keripik.
Ada debar yang membuncah di hati ini, manakala rumah mertua sudah kelihatan. Perasaan rindu pada suami, senang akan bertemu serta rasa takut terhadap sikap keluarga mertua terhadapku bercampur menjadi satu.
Sesampainya, kami turun dari motor, melangkah ke arah pintu, kuucapkan salam dengan hati-hati. Rasa was-was kian mendera dalam hati.
Lama tak terdengar orang menjawab salamku. Rumah juga kelihatan sepi. Kami menunggu sembari duduk di teras. Dinta dan Danis terlihat kelelahan. Aku jadi semakin kasihan melihat mereka berdua.
Mbak Liha, tetangga depan rumah terlihat baru pulang dari pasar.
“Wah, kok ada Mbak Nia? Eh, Dinta sama Danis… salim sini sama Bu Dhe…” Mbak Liha menyapa dengan ramah. Dinta dan Danis segera berdiri menyalami Mbak Liha.
“Mau ketemu Ayah ya?” Tanya Mbak Liha kemudian. Seraya duduk di teras bersama kami.
“Iya Mbak… Tapi kok sepi ya?” Tanyaku balik sambil celingukan memperhatikan keadaan sekeliling. Terlihat raut ragu dalam wajah Mbak Liha. Seperti hendak menceritakan sesuatu tapi takut.
“Itu Mbak Nia, dari kemarin siang, Mas Agam mengajak keluarganya piknik ke Guci… Katanya mau sekalian nginap di sana. Aku kira Mbak Nia diajak juga, nunggu dimana gitu. Denger-denger siih, karena Mas Agam habis dapat tunjangan apa gitu, Mbak. Makanya pengin nyenengin keluarga.” Terang wanita yang usianya terpaut sepuluh tahun di atasku ini. Sakit, itu yang kurasa. Selama menikah belum pernah ia memperlakukan kami dengan special, mengajak pikinik sampai menginap ke hotel. Bila pun kami pergi, hanya sekedar tempat yang dekat-dekat saja. Mas Agam selalu menyuruhku hemat, hemat dan hemat.
“Ayah gak pernah ngajak kami piknik. Kok sekarang malah piknik gak ngajak kita ya Bu?” Tanya Dinta dengan raut muka sedih.
“Iya, Ayah jahat ya kak?” balas Danis sengit.
Mbak Liha terlihat tidak enak setelah bercerita seperti itu. Setelahnya pamit berlalu masuk rumahnya. Aku bingung sekarang. Apa yang harus kulakukan? Pulang atau menunggu? Anak-anakku terlihat semakin murung dan sedih. Kulihat air mata menetes dari sudut netra mereka.
Pernikahan adalah hal yang sakral. Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan perceraian. Karena akan ada sosok makhluk kecil yang paling terluka bila hal ini terjadi. Namun apa jadinya, bila saat masih bersama_pun, seorang Ayah tega menorehkan sakit pada buah hatinya? Aku menahan air mata ini agar tidak jatuh di hadapan dua mahkluk tak berdosa ini. Karena mereka membutuhkan kekuatanku untuk sandaran saat ini. Kudekati kedua tubuh yang duduk terpekur di pojok teras dengan mata berkaca-kaca. Mendekap ke dalam pelukan. Seketika tangis pecah saat tubuh mereka menempel pada tubuhku. Kuusap pelan punggung Dinta dan Danis, berharap dapat melegakan perasaan mereka.
“Bu, Ayah kenapa piknik gak ajak Danis? Ayah pasti main seneng-seneng sama Aira.” Ucap Danis di tengan isak tangisnya. Aira anak Iyan, adiknya Mas Agam. Aku tak bisa menjawab.
“Kakak sama Danis mau piknik? Akhir bulan ini ya, kita akan piknik naik kereta. Nanti kita menginap di hotel. Kita bertiga.” Mereka mengangguk dalam dekapan.
Anda Mungkin Juga Suka





