APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Keempat

Istri Keempat

Airin selalu menjadi anak berbakti yang patuh pada kehendak orang tuanya. Namun, ujian terberat datang ketika ia dipaksa menjadi istri keempat dari miliarder bernama Saka Januar Pradipta. Banyak yang mengira Airin pasrah, padahal di balik kepolosan itu ia menyimpan sifat licik dan manipulatif. Sayangnya, taktik licik Airin tidak mempan di hadapan Saka. Sang suami baru justru mampu membaca seluruh topengnya dengan mudah, membuat Airin tak berkutik.
Bab
Bagikan

Bab 1

Matahari bersinar terik di atas langit, suara cicada yang menempel di pohon berbunyi sangat nyaring. Seorang lelaki paruh baya berlari tergopoh-gopoh ke arah rumah panggung yang di terasnya duduk seorang pria berpakaian modis dengan laptop terbuka di meja hadapannya. Mendengar langkah seseorang yang tergopoh itu, atensi si pria teralihkan padanya.

“Ada apa?” tanya si pria, suaranya terdengar berat dan tegas.

“Tu-tuan…!” lelaki paruh baya itu berhenti di bawah tangga teras, napasnya terengah-engah. “Tuan Sakha… ada yang pingsan di ladang!” serunya susah payah.

Berbanding terbalik dengan kepanikan lelaki itu, ekspresi di wajah Sakha justru tidak berubah. Sakha melipat layar laptopnya dengan hati-hati, kemudian berdiri dan mendekati salah satu pekerjanya itu.

“Di mana dia?” tanya Sakha.

Lelaki itu buru-buru menunjukkan jalan menuju ladang yang dia maksud.

Sakha mengikutinya di belakang. Saat mereka sampai di ladang, terik sinar matahari semakin terasa menyengat. Di tengah ladang yang ditumbuhi jagung itu, berkumpul beberapa orang yang juga merupakan pekerja tani yang bekerja di ladang Sakha, mereka tampak mengerumuni sesuatu.

“Hei, minggir-minggir! Ini Tuan Sakha sudah saya panggilkan,” seru lelaki yang tadi melapor.

Lantas semua pasang mata tertuju pada Sakha yang berjalan mendekat, beberapa mata menatapnya terkejut.

“Pak Ji! Kenapa manggil Tuan Sakha? Kamu ini, merepotkan saja! Tau ini siang bolong begini!” omel Inah, memukul pelan bahu Parji, lelaki itu masih ngos-ngosan, sibuk mengatur napasnya.

“Habisnya… kasihan Ririn. Daripada membiarkannya di sini, panas-panasan, yang ada keadaannya malah makin memburuk, lebih baik kita panggil Tuan Sakha. Lagipula itu sudah menjadi salah satu tanggung jawabnya untuk memastikan kesehatan dan keselamatan pekerjanya,” Parji membalas ucapan Inah dengan suara pelan.

Tepat setelah itu, Sakha sampai di dekat mereka dan langsung menatap ke bawah, ke seorang perempuan yang dibaringkan di atas tikar lusuh, cahaya matahari menerpanya, wajahnya pucat dan berkeringat deras, keningnya berkerut-kerut seperti seseorang yang kesakitan.

“Bagaimana ini, Tuan? Rumahnya lumayan jauh dari sini, kita ndak tahu bagaimana harus membawanya pulang,” kata Parji.

Tanpa pikir panjang, Sakha menjawab, “Biar saya yang bawa dia.”

Jawaban itulah yang para pekerjanya tunggu, jelas terlihat dari kelegaan di wajah mereka sesaat setelah Sakha mengatakan demikian.

Sakha berjongkok, menatap wajah perempuan itu untuk beberapa saat. Dia tampak lusuh sekali, pikir Sakha. Bajunya itu dulu pasti berwarna putih, tapi sekarang sudah cokelat dan ujungnya sedikit sobek. Dari lipatan pakaiannya, Sakha menduga dia mengenakan beberapa lapis pakaian. Wajah perempuan itu juga kotor karena debu dan pucat.

Sakha menduga alasannya sampai pingsan begini adalah karena dehidrasi. Tanpa menunggu lebih lama, Sakha pun mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya, dia sedikit terkejut karena ringannya tubuh itu, Sakha tidak menduganya karena tubuh perempuan itu tampak berisi.

“Saya akan membawanya ke rumah, kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian,” kata Sakha.

“Baik, Tuan.”

“Ya, Tuan.”

“Terima kasih, Tuan.”

Sakha mengangguk, kemudian berbalik dan melangkah pergi.

Bekerja di tengah siang bolong seperti ini memang selalu berat, tapi Sakha sudah mengatur semua waktu dan dia tidak ingin terik matahari menjadi penghalang, dia bahkan memberikan upah lebih kepada para pekerjanya yang bekerja pada siang hari.

Saat sampai di rumah peristirahatan yang tersembunyi di kebun dengan pepohonan rindang, Sakha baru menyadari bahwa tubuh perempuan di dalam gendongannya terasa panas sekali, padahal cahaya matahari sudah tidak terlalu mengenai mereka karena daun di pepohonan.

Sakha masuk ke dalam rumah, membaringkan perempuan itu ke ranjang di salah satu kamar yang terdapat di sana. Kamar itu tidak pernah terpakai, kecuali kamar di sebelahnya yang biasanya Sakha gunakan untuk tidur siang saat menunggui pekerja di ladang.

Sebenarnya, Sakha juga tidak tahu harus melakukan apa, jadi dia mengambil hapenya untuk menelepon seseorang.

“Galih, sepulang kamu membeli benih, langsung ke rumah peristirahatan. Bawa mobil,” kata Sakha, setelah mendapatkan jawaban yang dia inginkan, Sakha mematikan hapenya lalu menatap perempuan itu. Sakha menyentuh dahi perempuan itu, terasa panas. Peluh terus saja mengalir di pelipisnya.

Sakha berpikir apa yang harus dia lakukan, kemudian perhatiannya tertuju pada pakaian lusuh yang perempuan itu kenakan. Sakha menyentuhnya pelan, sedikit jijik karena kotor, tapi Sakha mencoba untuk mengabaikannya kemudian membuka kemeja yang perempuan itu kenakan. Dan benar seperti dugaannya, perempuan itu mengenakan baju berlapis-lapis, yang mau tidak mau harus Sakha lepas sampai menyisakan kaus berwarna putih bersih yang telah basah oleh keringat.

Pantas saja ringan, tubuhnya kurus sekali, batin Sakha. Baju berlapis-lapis memang membuat tubuh si perempuan tampak lebih berisi.

Sakha kemudian mengambil handuk kecil, membasahinya dengan air dingin, lalu mengelap peluh di wajah perempuan itu.

Bulu mata yang panjang bergerak-gerak, kelopak mata terbuka, memperlihatkan manik mata hitam kelam yang langsung tertuju menatap mata Sakha. Sakha terhenyak sebentar, tangannya yang tadi bergerak langsung berhenti.

“Kamu pingsan, saya mencoba membantu kamu,” kata Sakha, tapi sepertinya perempuan itu tidak mendengarnya. Saat Sakha hendak berucap lagi, mata perempuan itu kembali tertutup.

Sakha terdiam menatapnya, kemudian melepas handuk di tangannya dan mengambil lagi hapenya. Menelepon Galih, menyuruh bawahannya itu untuk cepat.

Tidak lama kemudian, Galih pun datang, betapa terkejutnya dia melihat bosnya berada di dalam kamar dengan seorang gadis berpenampilan lusuh dan kotor di ranjangnya.

“Bawa gadis ini pulang,” Sakha berkata.

Galih mematung di ambang pintu, mulutnya terbuka.

Sakha mendelik tajam padanya. “Kamu mendengarku, Galih, bawa dia pergi.”

“Apa yang sudah…”

“Dia pingsan di ladang jagung sehingga aku harus menggendongnya sampai sini.”

Dengan penjelasan singkat itu, Galih pun mendekat, memandang wajah perempuan itu.

“Kamu mengenalnya?” tanya Sakha.

Galih mengangguk. “Dia anak Pak RT yang tukang hutang itu,” jawab Galih. Sebenarnya Sakha tidak memerlukan jawaban yang seperti itu, tapi yang penting sekarang dia tahu kemana Galih harus membawa perempuan itu.

Sakha baru saja hendak ke luar, tapi kemudian dia teringat akan sesuatu. “Sejak kapan anak perempuan pria itu bekerja di ladangku?” tanyanya heran.

“Oh bukan, ini bukan si Mawar sama Melati, namanya kalau tidak salah Ririn.”

Pantas saja, batin Sakha, dia tidak melihat perempuan lusuh ini saat terakhir kali dia berkunjung ke rumah Fahrul Jamal, Pak RT tukang hutang yang dibilang Galih itu. Karena setahu Sakha, Jamal hanya memiliki dua putri yang sangat cantik dan sering dijuluki sebagai kembang desa, siapa yang akan menduga bahwa gadis lusuh di hadapannya sekarang juga merupakan putri pria itu.

“Kamu sudah menyampaikan pesanku pada Pak RT itu, kan?”

“Sudah, Tuan, kemarin malam. Dia tampaknya agak syok, tapi juga tidak punya pilihan lain.”

“Hm, baguslah.”

“Ngh… Tuan.”

“Apa?”

Galih tampak ragu-ragu. “Apakah… Tuan sudah membicarakan perihal akan menikah lagi dengan nyonya-nyonya di rumah?”

Karena pertanyaan Galih itu, Sakha menatapnya memicing. “Siapa yang menelepon kamu?”

“Nyonya Henia, Tuan,” jawab Galih.

“Hm, sejak kapan kamu jadi punya mulut ember begitu, Galih?”

“Bu-bukan saya yang kasih tau, Tuan! Nyonya Henia bilang dia dengar desas-desusnya saja dari warga desa yang suka begosip.”

Sakha terdiam untuk beberapa saat, bergumam, “Seharusnya saya tidak membawa mereka kemari.” Setelah mengucapkan itu, Sakha pun berlalu pergi.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gadis Milik Tentara Arogan
9.3
Akibat pandemi global, Amore Acresia terpaksa menyudahi studinya di Los Angeles dan kembali ke Kudus. Sialnya, kepulangan Acre justru membawa petaka saat mobilnya tidak sengaja menabrak seorang tentara arogan bernama Alexander Yudha yang tengah bertugas. Insiden itu menghancurkan ponsel Alex hingga terlindas ban mobil, memicu kemarahan sang prajurit yang menuntut ganti rugi penuh. Perselisihan tajam ini perlahan berubah menjadi benih cinta, sebelum akhirnya tugas negara memisahkan mereka.
Sampul Novel Jerat CEO: Jodoh Salah Tarik
7.9
Setelah menuntaskan aksi balas dendam terhadap mantan kekasih dan sahabat yang mengkhianatinya, Diva Gantari justru terjebak dalam situasi rumit. Akibat salah masuk toilet pria, ia bertemu dengan Elvan Sabil, seorang CEO berkuasa dari perusahaan multinasional raksasa. Meski Elvan menyelamatkan Diva dari kekacauan tersebut, bantuan itu tidaklah gratis. Sang konglomerat menuntut Diva membayar jasanya dengan cara yang tidak terduga, yaitu bersedia menjadi tunangannya.
Sampul Novel Ketagihan Menjadi Penguntit
8.7
Berawal dari tatapan misterius di dalam kendaraan umum, hidup seorang wanita berubah ketika ia menyadari dirinya sedang diawasi oleh seorang pria asing. Tanpa disadari, setiap keputusan yang diambil justru menuntunnya lebih dalam ke dalam skenario yang telah dipersiapkan dengan matang. Setiap langkah yang ia tempuh membawanya masuk ke dalam perangkap yang tak kasat mata. Kisah romansa modern penuh misteri ini mengupas batas tipis antara obsesi, rasa penasaran, dan bahaya yang mengintai.
Sampul Novel KURELAKAN SUAMIKU
8.5
Kehidupan mapan tak menjamin kebahagiaan Alwi. Di tengah gelimang materi, rasa bosan mulai merayap dan mengancam keutuhan rumah tangganya. Padahal, ia memiliki istri yang sangat rupawan dan seorang putra. Kisah ini mengulas bagaimana kejenuhan menjadi ujian kesetiaan yang berat bagi hubungan mereka. Di era modern ini, Alwi harus menghadapi badai yang mengikis komitmen pernikahannya saat segalanya terasa hambar.
Sampul Novel Sebatas Istri Bayaran
9.5
Demi mendapatkan keturunan, Anita Artemio mendesak suaminya, Julian Narendra, untuk melakukan poligami. Reyna Anindira yang mendambakan kemewahan pun setuju menjadi istri bayaran untuk melahirkan anak mereka. Konflik mulai membara ketika Reyna jatuh cinta pada Julian dan menuntut status yang lebih tinggi dari kesepakatan awal. Di tengah ambisi Reyna untuk menguasai hatinya, Julian tetap setia mencintai Anita, memicu pergolakan batin yang sangat menguras emosi.
Sampul Novel SEKEPING PERNIKAHAN
8.6
Rumah tangga Tiara terasa dingin tanpa kehangatan dari sang suami. Ketika ia memutuskan menyerah dan melangkah pergi, sang mantan suami justru didera penyesalan mendalam. Namun, perpisahan ini mengungkap tabir misteri yang menyelimuti orang-orang terdekat mereka. Tiara pun mulai mencurigai ketamakan ibu mertuanya dan meragukan identitas asli pria yang pernah dinikahinya dalam pusaran rahasia yang rumit.