APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel ISTRI KECILKU YANG MENGGEMASKAN

ISTRI KECILKU YANG MENGGEMASKAN

Mahardika tidak punya pilihan selain menuruti kemauan kakeknya untuk menikahi Eka Maheswari. Pernikahan ini dirancang demi menjaga ikatan erat antara keluarga Wijaya dan Saputra. Namun, perbedaan usia sembilan tahun menjadi ujian berat setelah mereka resmi bersama. Mahardika harus ekstra sabar menghadapi sikap Eka yang masih sangat kekanak-kanakan. Mampukah pernikahan mereka bertahan melewati jurang kedewasaan yang begitu lebar?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Ah, Om? Siapa yang kamu panggil Om?" Mahardika mengerutkan keningnya.

"Ya, Om lah. Memangnya siapa lagi yang aku ajak bicara sekarang? Tidak ada orang di sini selain kita." Gadis itu berbicara ketus, melipat kedua tangannya di dada dan membuang pandangan ke arah berbeda.

Mahardika merasa kesal dan mendidih aliran darahnya. Dia belum setua itu, untuk dipanggil om-om berkumis dan perut buncit.

"Hendak pergi kemana kamu? Jangan-jangan, kamu ingin kabur ya?" terka Mahardika, yang membuat gadis tersebut semakin membuang pandangannya.

"Ayo, ngaku kamu! Di saat yang lain ada di dalam, kenapa kamu ada di sini?" tambahnya semakin curiga.

Gadis cantik yang akrab dipanggil Eka itu, menurunkan tangannya. "Om sendiri gimana? Kenapa ada di luar, bukannya di dalam?" sunggut Eka, membalikkan ucapan Mahardika.

Sang pria sedikit menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Soal itu ..." Bola matanya berputar cepat. Mencari cela untuk menyusun kata-kata.

"Kenapa, Om? Jangan-jangan, Om Dika, mau kabur juga ya?" Kini Eka yang bertanya penuh selidik sambil mengarahkan jari telunjuknya tepat di depan Mahardika. Menuduh orang lain, demi menutupi kesalahannya sendiri.

"Apaan si? Saya bukan mau kabur, tapi saya harus menerima panggilan telpon tadi," sanggah Mahardika cepat.

"Ah, alasan. Aku bisa membaca pikiran Om, yang sebenarnya ingin kabur kan karena tidak mau menikah dengan aku? Mengaku saja, Om," cecar Eka terus menyudutkan Mahardika.

"Tunggu dulu! Kamu salah. Saya tidak seperti yang kamu tuduhkan itu. Ah, saya tahu. Jangan-jangan, yang sebenarnya ingin kabur tuh, kamu. Ngaku kamu!"

Kini Eka yang merasa tersudut. Ya, apa yang Mahardika katakan benar. Namun, dia juga tidak bisa mengakuinya sekarang.

"Kalau begitu, ayo, ikut saya!" Mahardika menggenggam pergelangan tangan Eka sangat erat.

"Lepasin, Om!" Eka menepuk-nepuk tangan Mahardika cukup kencang, supaya pria yang hendak menikahinya itu melepaskan genggamannya.

"Kamu tidak bisa kabur lagi. Saya akan katakan semuanya kepada Om Teguh, kalau kamu berusaha untuk kabur."

Mahardika tidak peduli, Eka terus memukuli tangannya dan berteriak minta dilepaskan. Bahkan digigit pun, Mahardika tidak merasa sakit, meskipun ada bekas gigitan di sana.

"Sebenarnya, tangan Om terbuat dari apa, kok enggak mempan digigit si? Om, bukan keturunan Iron Man kan, tangannya keras banget?" gerutu Eka, keheranan sekaligus pasrah lantaran tidak bisa lepas dari cengkraman Mahardika.

Sedangkan, Mahardika terkekeh kecil. Tidak menyahut ucapan Eka, tapi dia merasa terhibur dengan tingkah polos gadis itu. Dia tetap menarik tangan Eka untuk masuk rumah.

Ketika sampai di ruang tamu. Semua orang spontan berdiri dengan kedatangan dua anak manusia yang memiliki sifat saling bertolak belakang.

Mahardika pun melepaskan tangan Eka.

"Ayah ... Dia memperlakukanku sangat kasar," adu Eka merengek, yang langsung menghampur dalam pelukan cinta pertama bagi seorang anak perempuan.

"Ada apa ini?" tanya Teguh Saputra, selaku Ayah Eka. Dia menjatuhkan tatapan penuh tanda tanya pada Mahardika.

"Sebelumnya maaf, Om Teguh, tapi Eka berusaha untuk kabur dari rumah ini tadi," adu Mahardika jujur.

Eka yang sempat ingin mengubah fakta pun, tertahan kalimatnya karena Mahardika sudah lebih dulu berkata.

"Benar, yang dikatakan Nak Dika?" tanya Teguh, pada sang putri tercinta. "Sungguh, kamu ingin kabur dari rumah ini?"

Eka terdiam sejuta bahasa, kepalanya tertunduk malu. Tidak bisa menatap langsung mata ayahnya. Rasanya, Eka ingin mengumpat kasar dan memarahi Mahardika yang telah menggagalkan rencananya.

Annata selaku wanita yang telah melahirkan Mahardika pun, menghampiri sang putra. "Sebenarnya, apa yang terjadi, Sayang? Mengapa kamu bisa datang bersama Eka?"

"Tadi, selesai menelepon, Dika melihat Eka yang berjalan mengendap-endap seperti maling, menuju gerbang. Dika memergoki dia dan mengetahui bahwa Eka hendak kabur," paparnya bersikap tenang.

Mendengar penuturan Mahardika, membuat Teguh merasa malu. Dia sudah mengangkat tangan kanannya, hendak memukul. Namun, Mahardika segera mencegahnya.

"Tunggu, Om! Eka tidak sepenuhnya salah. Mungkin dia merasa tertekan dengan pernikahan ini," kata Mahardika memberi pemahaman.

Eka mengangkat kepalanya. Ucapan Mahardika, menariknya untuk menatap pria dengan jas hitam itu lekat. Cukup lama karena wibawa Mahardika yang tenang dan meneduhkan, seperti kalimat yang baru saja terucap.

Eka merasa kagum karena menurutnya, Mahardika seolah bisa membaca isi hatinya.

"Sebaiknya, kita dengarkan terlebih dahulu, apa yang Eka inginkan. Kita tidak bisa mengambil keputusan yang membuat Eka merasa tidak nyaman," sambung Mahardika menjadi penengah.

Teguh, selaku Ayah dan ibu bagi Eka, kini melonggarkan pelukannya. Menyentuh kedua pipi sang putri tercinta.

"Sekarang, ayah ingin bertanya. Apakah kamu, keberatan dengan pernikahan ini? Jika memang kamu keberatan, maka kamu bisa mengatakannya sekarang."

Teguh pun mengikuti ucapan Mahardika. Sedangkan Annata menggenggam tangan putra semata wayangnya tersebut, lalu tersenyum bangga. Mahardika pun mengerjapkan matanya satu kali.

Eka tidak buru-buru menjawab. Dia masih tertunduk. Tidak ada yang tahu isi pikirannya sekarang. Gadis itu benar-benar merasa dilema sekarang.

Mendapati Eka yang tak kunjung bersuara, membuat Mahardika mengambil tindakan lagi. "Seandainya kamu belum siap, maka saya bersedia membatalkan pernikahan ini." Dia sedikit meninggikan suaranya, supaya terdengar oleh Eka.

"Mahardika!" Bambang Wijaya bereaksi lebih dulu.

"Kakek, tenang ya. Saya belum selesai berbicara," kata Mahardika tanpa emosi. Dia menjatuhkan tatapan tenang pada Bambang Wijaya, sebelum akhirnya kembali menatap Eka di sana.

"Saya akan menunggu kamu siap dengan pernikahan ini. Saya tidak akan memaksa kamu untuk menikah sesuai tanggal yang telah ditetapkan. Kamu yang menjalani kehidupan ini. Jadi, kamu jugalah yang harus mengambil keputusan ..."

"Saya lebih baik menunggu, dari pada membuat seseorang merasa tidak nyaman dengan kehadiran saya. Pernikahan tidak hanya menyatukan dua insan saja, tetapi pernikahan menyatukan dua karakter yang berbeda."

Mahardika tersenyum kecil. Kalimatnya mengalir dari awal hingga akhir dan membuat pendengarnya merasa tenang. Terutama Bambang Wijaya. Dia lah yang sedari awal menginginkan Mahardika menikah dengan Eka.

"Bagaimana, Sayang?" Teguh kembali bertanya.

Eka pun mengangguk malu-malu. "Iya, Ayah. Aku bersedia melanjutkan pernikahan ini sesuai tanggal yang ditetapkan." Lalu dia berkata sangat lembut, setelah diam cukup lama.

Selanjutnya, Eka menatap lurus Mahardika yang tersenyum di sana.

Eka tidak tahu, sihir apa yang digunakan Mahardika, sampai membuat hatinya luluh. Padahal beberapa saat lalu, ia berencana untuk kabur dari rumah, guna membatalkan pernikahan tersebut.

Sebegitu besarnya kah, pesona Mahardika?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel About Sila
8.6
Siti Laila, anak ustaz yang keras kepala, tumbuh tanpa kehangatan orang tua. Di balik sikap santunnya di rumah, Sila menyimpan dendam membara di luar. Ketika ia memutuskan bertobat dan lepas dari masa lalu kelamnya bersama Lucas, ancaman fatal justru datang. Lucas bersumpah akan meluluhlantakkan keluarga Sila jika gadis itu nekat pergi. Kini, Sila terhimpit di antara keinginan menebus dosa dan tuntutan menyelamatkan orang-orang yang ia sayangi.
Sampul Novel Anak Rahasia Sang Presdir
8.2
Kehidupan Ariana hancur akibat pengkhianatan ibu tirinya, memaksanya menjadi ibu pengganti bagi miliarder berhati dingin. Usai melahirkan, sang presdir dengan kejam merebut bayinya agar tidak perlu terikat pernikahan. Namun, seiring berjalannya waktu, kebekuan hati pria itu mulai mencair. Di tengah kepedihan dan perpisahan paksa tersebut, benih cinta tak terduga perlahan tumbuh di antara mereka, perlahan mengubah dendam menjadi kehangatan.
Sampul Novel Bukan Supir Biasa
8.5
Kisah nyata perjuangan seorang perantau yang mengadu nasib sebagai pengemudi di tengah hiruk-piruk Bali. Menghadapi realita hidup yang penuh liku di Pulau Dewata, ia berjuang keras demi bertahan hidup di tanah orang. Narasi ini menyuguhkan sisi lain kehidupan driver yang jarang diketahui publik, dibalut dengan romansa modern yang menyentuh hati dan terasa sangat nyata bagi pembaca.
Sampul Novel Dibenci Keluarga Mertua
8.1
Bertahun-tahun Ayu bertahan dari perlakuan buruk ibu mertua dan adik iparnya. Namun, batas sabarnya habis ketika perselingkuhan Wahyu, sang suami, terbongkar. Di tengah penyesalan Wahyu yang membisu, ibunya justru menuntut perceraian agar Wahyu bisa bersama Vina. Lelah dihina sebagai perempuan kampungan dan dikhianati, Ayu memutuskan pergi. Dengan kemarahan mendalam, ia bersumpah hidup keluarga yang telah menyakitinya tidak akan pernah bahagia lagi.
Sampul Novel Dinikahi Ceo Angkuh
9.0
Impian Nadia menjadi pramugari kandas akibat ambisi sang ayah terhadap harta, yang memaksanya menikahi Allard. Sosok suami barunya ini adalah pemuda kaya raya yang berwatak dingin serta sangat sombong. Kini, kehidupan Nadia dilingkupi tekanan besar karena Allard terus membatasi ruang geraknya dan menuntut kepatuhan tanpa syarat. Di tengah kekangan dan keangkuhan sang suami, sanggupkah Nadia bertahan, atau ia akan melangkah pergi demi meraih kembali kebahagiaannya?
Sampul Novel Gairah Liar Pembantu Lugu
7.9
Pasca-perceraian akibat hasrat yang tak terpenuhi, Valdi menjalani hidup yang terasa kosong. Kehadiran Mayang, gadis lugu anak mendiang pelayannya, menjadi celah bagi muslihat Valdi. Dengan memanfaatkan kepolosan Mayang, pria berpengalaman ini berniat memuaskan gairah terpendamnya. Mayang yang naif kini terjebak dalam manipulasi dan permainan dewasa yang penuh risiko. Akankah ia sanggup menyelamatkan diri, atau justru selamanya terbelenggu dalam jerat kendali Valdi?