APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Kakakku Selalu Menangis

Istri Kakakku Selalu Menangis

Pernikahan Kak Heru dan Mbak Rena menyimpan misteri besar yang membuatku curiga. Mengapa Mbak Rena selalu menangis tanpa sebab jelas? Berbagai kejanggalan pun mulai terkuak, seperti tabrakan misterius di depan toko beras hingga temuan kantong plastik penuh berisi test pack. Didorong rasa penasaran, aku memutuskan untuk menyelidiki semua petunjuk aneh ini. Aku harus mengungkap kebenaran gelap yang sesungguhnya disembunyikan rapat-rapat di dalam rumah tangga mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

PART 3

Pagi-pagi, aku sudah bangun duluan. Mbak Rena masih tertidur di sampingku dengan wajah sendu. Kutatap wajah itu, mana mungkin ia wanita pembohong? Sepertinya tidak.

Hatiku tak mampu menempatkannya sebagai pembohong. Tapi, bagaimana dengan ucapan Kakak? Katanya aku jangan terlalu peduli dengan istrinya. Maksudnya apa?

Mumpung ia masih tidur, aku mengambil plastik di bawah sprei dan memasukkan ke dalam baju.

“Maaf, Mbak. Siti pinjam dulu bungkusannya. Sungguh, Siti penasaran,” gumamku pelan. Berbicara dengan orang tidur tak apa, kan?

Perlahan, aku keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamarku. Saat melewati kamar Kak heru, pintunya terbuka. Rupanya ia lupa menutup daun pintu tadi malam.

Kakak terlihat pulas karena kelelahan. Ia hanya tidur memakai baju dalam saja dan celana pendek. Padahal semalaman hujan, apakah tak dingin? Mana tak pakai selimut lagi. Aku menggeleng.

Sesampainya di kamar, aku segera membuka bungkusan itu. Sebelumnya, tak lupa kukunci pintu agar tak ada yang masuk dan melihat. Bisa gawat kalau ketahuan!

“Apaan isinya, sih?”

Tanganku cekatan membuka ikatan demi ikatan plastik hitam tersebut. Saat terbuka … rupanya itu berisi test pack yang jumlahnya banyak. Tanganku gemetar menyentuh benda itu.

Ingatan kembali memutar memori, memang Kak Heru dan Mbak Rena sudah menikah hampir tiga tahun lamanya. Namun, belum punya anak. Rupanya Mbak Rena mengalami luka batin cukup dalam di sini.

Setelah kuperhatikan, beberapa test pack memang negatif. Akan tetapi, aku menemukan beberapa yang bergaris dua. Bukannya kalau garis dua itu artinya hamil? Seperti yang sering terlihat di film-film? Berarti Mbak Rena sempat hamil dua kali.

Lalu, apakah keguguran? Tak pernah keluarga di kampung mendapat kabar berita baik kalau Mbak Rena hamil.

Saat ditanya Ayah dan Ibu pun mereka hanya tersenyum sambil menjelaskan kalau memang belum dikasih amanah oleh Allah. Padahal, pertanyaan itu kembali dilontarkan saat mereka menjemputku kemarin.

Kebohongan apalagi ini? Mengapa pernikahan Kakak terasa penuh misteri. Terlalu banyak hal yang disembunyikan.

Aku menyandarkan punggung ke dinding, menghela napas panjang. Walau bagaimanapun, aku juga sudah dewasa. Sudah cukup paham soal ini.

Cepat-cepat test pack itu kusimpan lagi dalam plastik. Nanti, akan dipikirkan bagaimana cara untuk mengembalikan benda ini ke kamar Mbak Rena.

Terdengar suara pintu diketuk. Siapa? Plastik itu kumasukkan dalam lemari dengan tergesa-gesa.

“Cepat mandi, Siti. Kita harus ke pasar pagi-pagi biar dapat sayuran segar.”

“Iya, Mbak. siti mandi sekarang.”

“Mbak tunggu di depan, ya.”

Setelah selesai bersiap-siap, aku mengikuti Mbak Rena ke pasar. Kami naik motor karena jaraknya pun dekat. Berjalan kaki saja sebenarnya hanya beberapa menit. Tapi nanti kalau bawa motor, kami bisa belanja banyak nantinya.

Sesampainya di pasar, aku menemani Mbak Rena belanja kebutuhan rumah untuk isi kulkas. Setelah selesai, Mbak Rena membawaku ke kedai sayur-sayuran. Wanita sudah cukup tua yang memilikinya. Wanita itu sedang menata sayurannya agar lebih rapi. Rambutnya sudah separuh memutih.

“Kita sudah beli sayur di sana tadi. Kenapa ke sini, Mbak?” tanyaku.

“Ada beberapa yang belum kita beli.”

Aku hanya diam mengekori Mbak Rena.

“Eh, Rena. Sama siapa itu?” kata wanita pemilik kedai. Ia menyambut dengan senyuman ramah.

“Oh, ini namanya Siti. Adik ipar saya, Bude.”

“Cantik sekali gadis ini.”

Aku menyalami wanita yang dipanggil Bude oleh Mbak Rena. Mereka tampaknya sangat akrab sekali, sering berinteraksi. Akan tetapi, satu hal kuingat adalah Mbak Rena di sini sebatang kara. Ia sama sekali tak punya saudara dan hanya semata-mata mengikuti Kak Heru. Lalu, siapa Bude ini?

“Siti, ini uangnya untuk beli mukena dan sajadah.” Mbak Rena memberiku tiga lembar uang seratus ribuan.

“Siti beli al-qur’an sekalian, ya?” pintaku.

“Iya, apa aja yang mau kamu beli silakan. Habisin aja uangnya. Mbak tunggu di kedai Bude Ratmi. Kamu belilah di toko sana,” tunjuk Mbak Rena mengarah ke deretan toko pakaian.

“Iya, Mbak. makasih, Siti belanja dulu.”

Aku senang sekali dan langsung meninggalkan kedai itu. Berjalan menuju toko untuk membeli alat ibadah. Tak butuh waktu lama, aku sudah selesai berbelanja.

Sambil menenteng plastik belanjaan, terlihat dari sini kalau Mbak Rena duduk berhadapan dengan Bude Ratmi. Mereka hanyut dalam obrolan serius di samping kedai. Ada anak perempuan seusiaku yang melayani pelanggan yang belanja di kedainya.

Sesekali, Mbak Rena tampak mengusap bagian mata. Apakah ia menangis lagi? Sepertinya, ia sedang curhat pada Bude Ratmi.

Aku menebak, selama tinggal di sini, Mbak Rena selalu bercerita pada wanita itu tentang keresahan hatinya. Bukanlah perkara mudah jauh dari keluarga dan hanya ikut suami di luar pulau. Satu hal yang kusadari, kalau Mbak Rena butuh teman.

“Sudahlah, kamu sabar aja. Semoga nanti suamimu bisa berubah,” kata Bude Ratmi sembari mengelus pundak Mbak Rena.

“Enggak mungkin, Bude. Enggak mungkin itu terjadi,” sahut Mbak Rena sedih.

Nah, pasti ada rahasia dalam pernikahan mereka yang sengaja disembunyikan dari keluarga. Namun, aku tak mungkin bisa langsung menodong dengan pertanyaan-pertanyaan yang bukan ranahku. Walau bagaimanapun mereka tetap punya privasi.

“Sudah belanjanya?”

“Sudah, Mbak. Sudah lengkap semua.”

“Yuk, kita pulang. Apakah gak mau belanja lagi?” Mbak Rena bangkit dari duduknya. Wajahnya tampak mengembangkan senyum terpaksa.

“Ini saja cukup, Mbak.”

“Kami permisi pulang dulu, Bude. Yani, Mbak pulang,” pamit Mbak Rena.

“Iya, hati-hati.”

Oh, rupanya gadis yang melayani pembeli di kedai tadi bernama Yani. Mungkin itu anak bungsunya Bude Ratmi, aku mencoba menerka.

Sepanjang jalan, kami hanya diam. Tak ada obrolan apa-apa, aku hanyut dalam pikiran sendiri. Bude Ratmi adalah orang yang tahu tentang apa saja kisah rumah tangga Kak Heru dan Mbak Rena.

Logika saja, kalau tak ada masalah mana mungkin kita ingin bercerita dan meminta pendapat orang lain. Dengan bercerita, kita akan merasa nyaman dan lega. Itulah yang dilakukan Mbak Rena.

“Bude Ratmi itu temannya, Mbak?” tanyaku saat kami telah sampai rumah.

“Iya, Siti. Beliau orang baik walaupun bukan saudara.”

Aku mengangguk paham dan langsung masuk ke dalam rumah membawa belanjaan. Ada Kak Heru sedang melayani para pelanggan.

Pagi-pagi saja sudah ada beberapa yang antre buat beli beras. Lokasi tikungan pun tak jadi halangan kalau sudah rezekinya.

“Siti,” panggil Mbak Rena.

Aku yang sedang menyimpan belanjaan di dapur pun segera menoleh. Ia tersenyum dingin. Matanya membulat seolah hendak menegaskan sesuatu.

“Ingat, ya! Kalau salat pintu kamar dikunci. Kalau ngaji jangan bersuara. Habis ibadah langsung simpan semuanya dalam lemari dan kunci.”

Aku memutar bola mata karena bingung. Banyak sekali pertanyaan yang hendak kulontarkan, tetapi tertahan di tenggorokan. Mengapa ibadah harus seperti sembunyi-sembunyi? Persis zaman PKI. Haruskah begitu?

“Satu lagi, di rumah ini dilarang makan kepiting,” sambung Mbak Rena.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 66 Kali, Aku Tak Lagi Mencintaimu
8.8
Setelah enam puluh enam kali melamar, Vincent akhirnya berhasil meluluhkan hati pasangannya di upaya ke-67. Di awal pernikahan mereka, sang istri menyiapkan enam puluh enam kartu maaf yang bisa digunakan Vincent setiap kali ia berbuat salah. Namun selama enam tahun berumah tangga, Vincent terus-menerus memicu kemarahan istrinya demi membela teman masa kecilnya, hingga kartu-kartu itu perlahan habis dihapus. Saat kartu ke-64 digunakan, Vincent baru menyadari ada perubahan dingin yang tidak biasa.
Sampul Novel Cinta Ipar Duda
9.6
Keputusan Viona menetap di rumah mertua justru membawanya ke situasi pelik. Di sana, ia terus diusik oleh Dion, sang kakak ipar yang kerap bertindak nekat di luar batas. Di tengah perjuangan menyelamatkan pernikahannya yang retak, Viona malah menemukan berbagai rahasia gelap serta kebenaran mengejutkan tentang sosok asli Dion. Sanggupkah ia bertahan menghadapi intimidasi ini? Misteri besar perlahan terkuak saat Viona mulai menyingkap tabir kebenaran.
Sampul Novel Dua Takdir, Satu Malam
9.7
Tepat sebelum hari pernikahannya, Damar terbangun di sebelah sekretarisnya, Kyra. Menuduh Kyra menjebaknya, Damar yang murka segera memecatnya dan merusak nama baiknya. Hidup Kyra seketika hancur tanpa rumah dan biaya untuk mengobati sang ibu. Di tengah kemalangan ini, ia mendapati dirinya mengandung. Berbulan-bulan berlalu, takdir mempertemukan mereka lagi saat Kyra berjuang sendiri. Kebenaran di balik malam itu pun mulai tersingkap.
Sampul Novel Latihan Terlarang Bersama Instruktur Pengemudi
9.4
Niat awal untuk sekadar belajar mengemudi berubah menjadi situasi menegangkan bagi seorang istri. Di dalam mobil latihan, ia terus kesulitan menginjak pedal kopling dengan benar. Pak Peter, sang instruktur mengemudi yang juga merupakan teman dekat suaminya, mengambil tindakan ekstrem dengan menyuruhnya duduk di pangkuannya. Situasi kian tak terkendali karena ia mengenakan rok pendek tanpa celana pengaman, sementara sang instruktur justru sengaja melakukan kontak fisik yang sangat intim dan terlarang di sana.
Sampul Novel Lupakan Aku
8.0
Sita merajut kisah cinta yang indah dengan Raka, cinta pertamanya semasa kuliah. Di balik kebahagiaan mereka, sebuah tembok besar menghadang. Sita yang berasal dari keluarga biasa menyadari perbedaan status sosial yang sangat jauh dengan Raka, sang pewaris pengusaha kaya. Perbedaan kelas ini menjadi ujian berat bagi hubungan mereka. Sanggupkah cinta mereka bertahan tanpa restu, ataukah jurang kasta ini akan memisahkan keduanya untuk selamanya?
Sampul Novel Mati Rasa
8.9
Bara Ahava mengajari Lona arti pencinta cahaya dan kegelapan, sembari membawa kebahagiaan tanpa rasa sakit. Namun, kecelakaan pesawat tragis yang merenggut nyawa Hava seketika menghancurkan hidup Lona ke dalam duka mendalam. Saat Lona terpuruk dalam kesedihan, Aanand datang mengulurkan tangan untuk menyelamatkannya. Lona pun kini dihadapkan pada pilihan sulit: bangkit menyongsong cahaya terang atau tetap terperangkap selamanya dalam kegelapan malam yang dingin dan hampa.