APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Idaman Tuan Ares

Istri Idaman Tuan Ares

Pernikahan paksa tanpa cinta adalah mimpi buruk bagi siapa saja. Takdir pahit ini harus dijalani oleh Ares dan Anggun yang dipersatukan dalam perjodohan tanpa rasa. Meski batin mereka menolak keras, tidak ada jalan keluar untuk melarikan diri dari situasi pelik ini. Mereka terpaksa tunduk pada komitmen pernikahan yang tak diinginkan, karena tidak ada satu pun alasan kuat yang mampu membatalkan ikatan sakral tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

(Gareesa Resto)

“Jadi ... kau dijodohkan lagi?” tanya seorang wanita cantik yang sedang makan buah.

Ares mengangguk. “Aku tidak tahu kenapa ayahku melakukan hal itu,” desah Ares.

Wanita bernama Rena itu tertawa geli. “Kenapa kau tidak cari pacar, lalu kau kenalkan pada ayahmu? Bukankah itu mudah?”

“Apanya yang mudah?” sembur Ares. “Kau pikir gampang cari wanita di luar sana?”

Sambil mengacungkan sendok garpu, Rena berkata, “Kau tampan, mapan, kurang apalagi? Banyak wanita yang akan mengantri.”

“Kau pikir aku mencari wanita yang memandangku hanya karena dua hal itu?” Ares mendelik. “Bukannya hidup bahagia, yang ada aku malah menderita.”

Rena manggut-manggut. Garpu yang semula ia acungkan ke arah Ares sudah menancap di potongan buah melon.

“Kalau begitu, kenapa kau tak coba menerima gadis itu?”

Ares langsung terhenyak. “Apa kau bergurau?”

Masih mengunyah buah, Rena menggeleng. “Tentu saja tidak. Aku sangat serius malah.”

“Jadi, kau setuju kalau aku menikah dengan wanita lusuh itu?” Ares sudah membelalak. “Jangan gila kau!”

“Tidak ada salahnya kau coba dulu kan?” Rena menaik turunkan alisnya. “Apa dia cantik?”

Ares mendelik sambil menarik dagu ke dalam. “Kau gila ya?”

“Gila kenapa?” tepis Rena. “Apa perkataanku ada yang salah?”

Ares berdecak lalu menyandarkan punggung pada dinding kursi. “Sudah kubilang, dia itu lusuh. Mana mungkin cantik?”

Ares sebenarnya tidak terlalu jelas saat mengamati raut wajah gadis itu kemarin sore. Selain karena malas, gadis itu juga lebih banyak menunduk. Jelas-jelas bukan tipe Ares.

“Aku pergi.” tiba-tiba Ares berdiri.

“Kau mau kemana?” Rena ikut berdiri. “Jangan bilang kau mau menemui gadis itu?” Rena terkekeh menahan tawa.

“Sialan!” sembur Ares. “Aku mau pulang. Hari ini aku malas mau ngapa-ngapain.”

Ares sudah berjalan ke luar restoran. Ya, sebuah restoran mewah dengan nama Gareesa Resto. Tentunya sang pemiliknya adalah Ares sendiri.

Benar kata Rena, selain Ares tampan, dia juga pria matang dan mapan. Cabang restoran ada di setiap kota. Ares mempercayakan semuanya pada para bawahan, sementara Ares lebih sering duduk sambil menerima laporan masuk.

“Di mana Nando?” tanya Rena. “Dia tidak ikut?”

Ares menggeleng. “Dia ada di rumahku. Dia sedang mengecek laporan bulanan di ruang kerjaku.”

Raut wajah Rena terlihat merengut. Sebagai sepupu yang sudah sangat dekat sedari kecil, Ares sangat tahu apa yang sedang Rena rasakan saat ini.

“Kalau kau suka, kenapa tak kau lamar saja dia,” celetuk Ares saat sudah bersandar di pintu mobil.

“Enak saja! Aku kan wanita. Aku tak mau melamar duluan,” jawab Rena.

“Kau coba dekati dia lagi. Dia masih menjomblo, kau akan lebih mudah mendapatkannya.” Ares menaikkan satu alisnya lalu membuka pintu mobil.

“Aku pergi dulu,” ucap Ares saat jendela kaca mobil terbuka.

Sambil merengut, Rena hanya mengangguk.

Entah di manapun, yang namanya soal perasaan pasti sangatlah rumit. Cinta, cinta dan cinta, hal itu selalu menjadi alasan setiap hubungan. Namun, bagaimana dengan Ares?

Pria itu selalu gagal dalam percintaan. Ares tak pernah berhasil saat menjalani hubungan dengan setiap wanita. Entah apa yang membuat para wanita itu mendadak pamit pergi dari kehidupan Ares. Mereka tak pernah memberi sebuah alasan. Yang mereka katakan hanyalah: tak ada wanita yang betah bersamamu selama sifatmu masih sama.

Sifat apa? Yang seperti apa? Ares sama sekali tidak tahu.

“Tak ada wanita yang tulus!” sergah Ares. Dua tangannya mencengkeram bundaran setir dengan kuat.

“Mereka pasti hanya ingin mengincar kekayaanku saja! Itu sebabnya mereka pergi dariku. Selama bersamaku, bahkan aku memang berniat tidak membelikan barang mahal untuk mereka.”

Ares bergumam dalam mobil tanpa ada siapapun yang mendengarkannya.

“Itu kenapa, pada akhirnya mereka meninggalkanku. Itu pasti alasannya.” Seringaian nampak jelas di wajah Ares.

Saat Ares masih meracau tanpa arah, pandangan matanya tak sengaja menangkap seorang wanita yang sedang berdiri di halte bus. Dia tidak sendirian, melainkan bersama seorang pria, dan tak lama kemudian keduanya menghilang masuk ke dalam mobil.

“Mareta?” celetuk Ares tanpa mengalihkan pandangan. “Sejak kapan dia ada di kota ini?”

Karena penasaran, Ares melajukan mobilnya lagi mengikuti laju mobil di hadapannya. Ares ingin memastikan apakah itu benar Mareta atau bukan.

Setengah perjalanan, Ares mulai terlihat bingung dan gelisah.

“Inikan ...” Ares menengok ke sekitar sambil memperlambat laju mobilnya. “Mereka datang ke rumahku?” tanya Ares bingung.

Ares melajukan mobilnya lagi, hingga menyusul satu mobil berwarna hitam yang sudah terparkir di halaman rumah.

Karena penasaran, Ares buru-buru mematikan mesin mobil lalu segera melompat turun dari mobil.

“Dia Mareta atau bukan?” Ares semakin penasaran. Dan untuk menghilangkan rasa penasaran itu, maka Ares harus masuk dan melihatnya.

Setelah kedua kakinya menapak di lantai ruang tamu, mata Ares langsung membulat sempurna. Ares mematung sambil memandangi ketiga orang yang sudah duduk di sofa ruang tamu.

“Ka-kau?” Ares bergantian menatap Mareta dan satu pria yang sedang menggenggam erat tangan Mareta.

Pria itu tersenyum. Melepas genggaman tangan kemudian berdiri. “Halo, Ares. Apa kabar?” pria itu memeluk Ares.

Hanya sesaat. Tanpa berkata, Ares langsung mendorong tubuh pria itu hingga lepas dari pelukan.

“Jangan menyentuhku!” gertak Ares.

“Rangga pulang, kau malah membentaknya.” Wanita paruh baya yang disebut ibu tiri oleh Ares ikut bicara.

“Apa aku harus menyambutnya?” tanya Ares bernada sinis. “Pulang atau tidaknya dia, aku tidak peduli.”

“Ares!” gertak suara berat dari arah lain. Ayah muncul dengan raut sengit menatap Ares.

“Kenapa ayah membentakku?” tanya Ares sedikit memiringkan kepala.

“Saudaramu pulang, kau bersikaplah lebih sopan padanya,” pinta Ayah.

“Dia bukan saudaraku!” sergah Ares lantang.

Plak! Satu tamparan melayang di pipi Ares. Semua nampak terkejut. Termasuk Nando yang sedang menuruni anak tangga. Mungkin dia baru selesai dengan tugasnya di ruangan Ares.

Wajah memerah dab dengan napas berderu, Ares memutar bola mata ke arah ayahnya. “Ayah menamparku?” pekik Ares.

“Maaf, Ayah tidak--” Ayah nampak gugup dan bingung. “Ayah tidak bermaksud.”

Ares menyeringai setengah tertawa. Setiap orang yang berada di ruangan ini Ares tatap satu persatu. Setelah puas menatap mereka semua, Ares menghela napas panjang.

“Kau memang hebat Rangga. Kau bisa membuat semua orang menyayangimu. Kau berhasil karena sudah merebut semua milikku.” Terakhir, Ares melirik ke arah Mareta yang berdiri seperti patung.

Tak mau melanjutkan perdebatan lagi, Ares melengos lalu berlari menaiki anak tangga.

“Tunggu, Tuan!” panggil Nando.

“Kau pulang saja. Kita bahas pekerjaan besok.” Ares berkata tanpa menoleh maupun menghentikan langkahnya.

Nando menunduk lalu menuruni anak tangga dengan tenang.

“Saya permisi, Tuan.” Nando langsung pamit pergi.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Kerja dan Kenikmatan
9.5
Suasana sunyi menjadi saksi bisu saat kecupan manis mengawali hubungan rahasia antara aku dan Nita. Walau aku tahu dia sudah punya kekasih, hasrat membara di antara kami tak lagi bisa diredam. Sempat terhenti oleh akal sehat, daya tarik Nita akhirnya meruntuhkan pertahananku. Kini, batas profesional sebagai rekan kerja telah sirna, mengubah jalinan pertemanan biasa menjadi hubungan intim yang penuh kerumitan.
Sampul Novel Cinta Menjadi Dendam
8.0
Demi menyelamatkan nyawa Bima Arya yang divonis menderita kanker, Nimas rela menjalani operasi transplantasi dan menyerahkan dua per tiga organ hatinya. Di tengah rasa sakit pascaoperasi yang luar biasa, Nimas justru mendapati kenyataan pahit. Ia tidak sengaja mendengar Bima mengakui bahwa seluruh prosedur medis tersebut hanyalah kedok untuk membalas dendam atas kegagalan akademis Vivi. Bima berencana mencampakkan Nimas begitu Vivi kembali ke tanah air satu bulan lagi.
Sampul Novel My Mysterious Husband
9.7
Dua kali gagal menikah membuat Elsa Anindita menutup rapat hatinya. Saat putus asa, ia menerima tawaran kawin kontrak dari Alvaro, pria difabel yang sebenarnya adalah CEO sukses yang sedang menyamar. Elsa bersedia menikah demi mahar 500 juta rupiah. Namun, pernikahan ini menyimpan rahasia besar. Alvaro ternyata adalah Dika, pria dari masa lalu yang dulu meninggalkannya di pelaminan. Akankah cinta mereka bersemi kembali di tengah rahasia ini?
Sampul Novel perceraian
8.2
Kehidupan terasa runtuh seketika saat kenyataan pahit itu akhirnya datang menghadang. Rasa hancur ini bukan sekadar karena perceraian dengan Nadia, melainkan akibat beban pengkhianatan yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat. Walau kabar miring tentang perselingkuhannya telah lama berembus, runtuhnya mahligai pernikahan ini tetap saja mengguncang duniaku. Inilah akhir yang sangat tragis dari sebuah kesetiaan tulus yang terus-menerus dikhianati.
Sampul Novel Pria Dingin Itu Suamiku
9.4
Kehidupan Nadia, sang putri tunggal kaya, runtuh seketika saat ayahnya meninggal karena serangan jantung dan meninggalkan tumpukan utang. Demi bertahan hidup dan menghormati wasiat terakhir sang ayah, ia terpaksa mencari putra rekan bisnis ayahnya untuk dinikahi sebagai balas budi. Meski sempat menolak, impitan ekonomi membuatnya harus menerima takdir baru. Kini, Nadia harus menjalani hidup bersama pria dingin yang merupakan pewaris takhta perusahaan ternama.
Sampul Novel The Ceo Is My Husband
8.5
Hubungan unik terjalin antara gadis remaja berusia enam belas tahun dan seorang CEO sukses. Sang pria paruh baya terus mengejarnya tanpa lelah, selalu ingin menatap wajahnya. Sebaliknya, gadis itu merasa jengah dan bosan dengan kehadiran sang CEO yang terus-menerus di hadapannya. Perbedaan usia yang kontras serta keteguhan hati sang pria menciptakan dinamika interaksi yang penuh warna dalam kisah romansa mereka yang tidak terduga.