APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel ISABELLA: Dibelai Maut, Dicintai Takdir

ISABELLA: Dibelai Maut, Dicintai Takdir

Isabella terjerumus ke prostitusi kelas atas akibat pengkhianatan sang ayah. Saat menemukan cinta, duka justru menghampiri karena calon suaminya tewas misterius. Demi membalas dendam, ia menyelidiki kasus ini, hingga terungkap bahwa pembunuhnya adalah Ronald, pria pertama yang membelinya. Kini, Isabella terjebak pusaran konspirasi antar-keluarga yang mengancam nyawanya, sembari berjuang mengungkap rahasia jati diri aslinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Malam menyelimuti desa dengan sunyi yang mencekam. Di langit, bulan tertutup mendung tipis, hanya menyisakan cahaya pucat yang tak mampu menghangatkan. Angin malam menusuk kulit, membawa serta bisikan ketakutan yang tak terlihat.

Bella berdiri di balik pintu rumahnya yang reyot, mengenakan jaket lusuh milik ayahnya dan membawa tas ransel kecil berisi dua potong baju, satu pasang sandal cadangan, dan sedikit makanan kering. Di tangannya yang bergetar, terselip amplop berisi sisa uang dari hasil penjualan motor Chiko. Uang itu tak banyak, tapi cukup untuk satu tiket kereta ekonomi dan harapan baru.

Dari balik jendela, Bella menatap ayahnya yang tertidur pulas di dipan, napasnya berat karena mabuk. Sang ibu duduk di pojok dapur, memandangi putrinya dengan mata sembab, seolah tak mampu menahan segala beban yang menimpa keluarga mereka.

"Ma... aku pergi," bisik Bella, suaranya tercekat.

Ibu mengangguk perlahan, lalu berdiri dan memeluk Bella erat. Tak ada kata-kata yang diucapkan, hanya pelukan dan air mata yang cukup untuk mewakili perpisahan.

Di luar, Chiko sudah menunggu dengan motor pinjaman. Jaketnya lusuh, ransel di punggung dan helm cadangan tergantung di setang. Tatapannya tegang tapi penuh tekad.

"Cepat," katanya singkat begitu melihat Bella keluar.

Bella melompat ke atas motor dan memeluk pinggang Chiko dari belakang. Tangannya gemetar, tapi ia tak berkata apa pun. Ini bukan saatnya ragu. Ini tentang menyelamatkan dirinya sendiri. Tentang memperjuangkan hidup yang lebih dari sekadar takdir muram di bawah ancaman lelaki keparat bernama Tuan Jo.

Mereka melaju dalam gelap, melewati jalanan desa yang berkelok dan sunyi. Suara jangkrik berpadu dengan deru motor tua, menjadi simfoni perpisahan antara Bella dan dunia kecil yang telah lama mengekangnya.

Di perempatan terakhir sebelum menuju stasiun, Chiko berhenti sejenak. Ia menoleh ke belakang, menatap wajah Bella yang setengah tersembunyi di balik helm.

"Aku bakal kangen kamu," ucapnya pelan.

Bella menarik napas panjang. "Aku juga... Tapi aku harus pergi. Kalau aku tetap di sini, hidupku habis."

Chiko mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Jaga dirimu, ya? Di kota banyak orang jahat. Jangan mudah percaya siapa pun."

"Termasuk cowok?" Bella mencoba tersenyum.

Chiko tertawa pendek, lalu menggenggam tangan Bella. "Termasuk cowok. Kecuali aku."

Motor kembali melaju, kali ini lebih cepat. Menembus angin, menembus kecemasan yang menggumpal di dada mereka berdua. Hingga akhirnya, lampu-lampu stasiun kota kecil itu mulai terlihat dari kejauhan.

Stasiun tampak lengang. Jam menunjukkan pukul 03.45 dini hari. Tak banyak orang yang berlalu-lalang. Beberapa penumpang duduk terkantuk-kantuk di kursi tunggu, membawa koper atau buntalan kain. Kereta ekonomi ke Jakarta dijadwalkan berangkat pukul 04.10.

Bella berdiri di dekat peron, menggenggam tiket kereta dengan tangan gemetar. Chiko berdiri di belakangnya, tak berkata-kata. Saat pengumuman keberangkatan mulai terdengar dari pengeras suara, suasana makin menyesakkan.

"Waktunya," gumam Chiko.

Bella menoleh. Mereka saling berpandangan.

"Kalau kamu udah dapat kerjaan... kabarin aku," pinta Chiko. "Aku janji, aku akan kejar kamu. Aku akan lulus jadi tentara. Kita nikah, Bella."

Bella menggigit bibir bawahnya. "Aku percaya kamu."

Kereta berhenti dengan derit besi yang panjang. Bella memeluk Chiko untuk terakhir kalinya, pelukan yang lama dan erat, seolah mereka tak ingin melepaskan.

"Aku pergi, Chik..."

"Jangan lupa aku."

Kereta mulai bergerak. Bella naik dengan langkah tergesa, menoleh ke arah Chiko yang masih berdiri di ujung peron. Lelaki itu melambaikan tangan, dan Bella membalas dengan senyum penuh air mata.

Pintu menutup. Dunia di luar menjauh.

Dan Bella... resmi melarikan diri dari neraka kecilnya.

Di dalam kereta, Bella duduk di bangku keras kelas ekonomi, memandangi jendela gelap. Di luar, pepohonan dan rumah-rumah mulai tertinggal. Masa lalunya juga. Tapi entah kenapa, hatinya justru semakin berat.

Ia tak tahu apa yang menantinya di kota. Ia hanya tahu satu hal: ia harus bertahan hidup.

Dengan atau tanpa cinta.

Dengan atau tanpa keluarga.

Dengan atau tanpa dirinya yang lama.

Kereta terus melaju, berganti menjadi bus ekonomi saat Bella turun di stasiun transit dan mencari tumpangan menuju pusat kota. Hari mulai terang, namun langit tetap kelabu. Seperti suasana hatinya yang penuh kekhawatiran dan was-was. Ia baru saja melarikan diri dari satu bahaya, kini melangkah ke dunia yang sama sekali asing.

Bella duduk di bangku tengah, merapat ke jendela. Ransel kecilnya dipeluk erat, satu-satunya yang ia punya kini. Bus perlahan terisi. Udara pengap dan suara deru mesin membuat matanya berat. Tapi ia berusaha tetap terjaga.

Seseorang duduk di sampingnya. Seorang pria berkemeja lengan panjang, tampak rapi dan cukup berumur, mungkin awal empat puluhan. Wajahnya terlihat ramah. Senyumnya hangat.

"Kamu sendiri aja, Dek?" tanyanya, suaranya lembut.

Bella mengangguk singkat tanpa menoleh. Ia tak ingin memulai percakapan. Namun pria itu terus mencoba.

"Kamu dari desa ya? Kota ini keras, harus hati-hati. Banyak orang jahat."

"Ya," jawab Bella pelan.

"Kalau butuh bantuan, Om tinggal nggak jauh dari sini. Bisa bantu cariin tempat tinggal. Atau kerja ringan..."

Bella hanya mengangguk sopan. Dalam hatinya, ia mulai waspada. Tapi saat bus mulai berguncang, kepalanya tiba-tiba terasa berat. Pandangannya berbayang, suara orang-orang mulai menjauh, seperti terendam air.

"Nggak... enak... badan..." gumamnya.

Pria di sampingnya menyambut tubuh Bella yang limbung. "Tidur aja, Dek. Kamu kecapekan."

Wajah pria itu menjadi kabur, seperti bayangan di balik kaca berkabut. Lalu semuanya menjadi gelap.

***

Bella terbangun dengan kepala berdenyut hebat. Udara pengap memenuhi rongga napasnya. Sekelilingnya asing. Ia berada di bangku bus yang kini kosong, hanya tersisa beberapa penumpang di ujung. Pria tadi sudah menghilang. Tasnya masih di pangkuan, tapi saat ia membuka, dompet kecil berisi uang tunai... hilang. HP-nya pun lenyap.

Tangan Bella menggenggam dadanya. Napasnya tercekat. Ada rasa tak nyaman di tubuhnya, perasaan dingin dan lengket, seperti habis disentuh tanpa izin. Tubuhnya bergetar. Ia menunduk, berusaha mengingat.

Sekilas ingatan muncul - tangan kasar menyentuh pipinya, suara napas memburu, lalu kegelapan dan rasa takut yang membekas di balik kulit.

Air mata Bella jatuh tanpa suara.

Ia tidak ingin mengingat lebih banyak.

Ia merasa kotor.

Dilecehkan.

Dan sekali lagi, dikhianati dunia yang bahkan belum sempat ia kenal.

Dengan tangan gemetar, Bella turun dari bus di terminal terakhir. Langkahnya lemah, tapi ia tetap berjalan. Seperti hantu yang kehilangan arah.

Ia sendiri.

Tanpa uang.

Tanpa HP.

Tanpa siapa-siapa.

Namun di kejauhan, kerlap-kerlip lampu kota masih menyala - seolah menyiratkan bahwa di balik gelap, masih ada ruang untuk bertahan.

Dan Bella, dengan sisa harga diri dan tekadnya, bersumpah dalam hati:

"Aku akan hidup. Apa pun caranya."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gadis Pecandu di Rumah Sakit
9.8
Saat berbaring di ranjang pasien untuk memeriksa gangguan gairah parah yang dideritanya, seorang wanita harus menghadapi tindakan tidak senonoh dari sosok yang ia kira adalah dokter medis. Alih-alih diperiksa secara profesional, ia justru dipermainkan secara fisik hingga tak berdaya. Ketika ia menoleh ke belakang demi menghentikan perbuatan itu, ia terkejut mendapati bahwa pria itu sebenarnya adalah dosennya sendiri, yang kemudian langsung merangsek maju dengan sangat kasar.
Sampul Novel Kumpulan Cerita Pendek dengan Alur Ringan dengan Akhir yang Bahagia
9.7
Antologi fiksi romantis modern ini menyuguhkan rangkaian kisah cinta yang menyejukkan jiwa. Hadir dengan plot mandiri dan judul berbeda di setiap bab, buku ini menawarkan pengalaman membaca yang selalu segar. Di tengah peliknya dinamika kehidupan nyata, kumpulan cerita pendek ini dirancang khusus sebagai ruang nyaman bagi pembaca. Fokus utama dari setiap jalinan kisahnya adalah menjamin akhir yang bahagia dan manis bagi seluruh karakter di dalamnya.
Sampul Novel Kau Menebar Dusta di Hatiku
9.3
Bekerja sebagai ART di kediaman Rafly dan Nadya yang penuh konflik, Liyana menyaksikan perselingkuhan sang nyonya. Kejadian itu membawanya masuk dalam rencana licik Alvin. Demi melunasi utang keluarganya, Liyana terpaksa menerima misi rahasia untuk memikat Rafly. Namun, kepolosan Liyana justru memicu gairah mendalam pada diri Rafly. Kini, rahasia demi rahasia mulai terbongkar. Liyana pun harus bertahan dari dominasi misterius Rafly agar hatinya tidak hancur dalam permainan ini.
Sampul Novel Little Wife
9.0
Di usia 18 tahun, Elsa Putri harus menjalani pernikahan dini dengan pria yang terpaut sembilan tahun lebih tua. Belum paham arti cinta sejati, ia justru didera cemburu karena suaminya tampak dimiliki wanita lain. Konflik batinnya kian rumit saat sebuah kenyataan besar datang mengubah segalanya. Kini, dalam segala kebingungan emosi yang ada, Elsa harus menerima kenyataan bahwa dirinya tengah berbadan dua di usia yang masih sangat muda.
Sampul Novel My Bule Husband
8.1
Demi membalas budi, Naina yang sederhana terpaksa menikahi seorang miliarder asal Jerman. Ekspetasi pernikahan yang tenang sirna saat ia mendapati kenyataan pahit tanpa cinta. Suami bulenya yang dingin menganggap Naina tak lebih dari pengasuh bagi anaknya yang berumur tujuh tahun. Tak hanya itu, Steven, sang putra sambung, juga bersikap acuh dan menolak kehadirannya. Kini, Naina harus berjuang bertahan menghadapi perlakuan kasar dari dua sosok kaku tersebut.
Sampul Novel My Fair Lady
9.0
Gugur di luar angkasa, Alex yang merupakan calon kaisar terlahir kembali di Bumi abad ke-21. Sialnya, jiwanya merasuki tubuh Alexandra, gadis tertindas yang dibenci keluarga Klein. Ia bahkan dipaksa menikahi Master Dietritch yang dingin demi menyelamatkan bisnis keluarganya. Walau dianggap sebelah mata sebagai sosok pengganti, jiwa tangguh Alex menolak menyerah. Kisah perjuangan sang ratu pemberani di bawah kuasa presiden tiran yang posesif pun dimulai.