APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU

IPARKU, CANDU SUAMIKU

Nadia Antika rela bersabar atas perlakuan buruk ibu mertuanya demi membina rumah tangga bersama Askara Brahma selama dua tahun. Namun, kehangatan Askara mendadak hilang dan ia berubah menjadi sangat dingin. Perubahan drastis ini memicu kecurigaan Nadia akan adanya rahasia kelam. Akankah ia sanggup menghadapi kenyataan pahit saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan adik iparnya sendiri di dalam rumah mereka?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Nggak. Itu kamar aku sama Mas Askara. Kalau kalian mau tidur berdua, kalian tidur di kamar tamu buat lanjutkan hal tadi yang belum selesai." Nadia mendekati Silvi lalu mendorong tubuh Silvi menjauh dari kamar.

Silvi berdecak kesal. Ternyata Nadia tidak mudah disingkirkan. Silvi berniat melakukan sesuatu untuk membuat Nadia membiarkan dirinya tidur di kamar itu bersama Askara.

"Aduh Mbak, sakit perutku," rengek Silvi meminta belas kasihan pada Nadia.

"Aku nggak peduli!" Nadia menutup pintu kamar dengan dibanting.

"Nadia buka!" teriak Mayang yang merasa geram dengan kelakuan Nadia.

Mayang terus menggedor pintu kamar Nadia, karena tidak kunjung dibuka. Mayang meminta Askara membuka pintu dengan paksa. Dengan berat hati Askara melakukan itu karena paksaan ibunya.

Alden masih berdiri di tempatnya dan masih belum beranjak sama sekali. Terus setia menyaksikan adegan istrinya yang kini sama sekali tidak lagi peduli dengan rumah tangganya. Alden hanya menggelengkan kepala melihat perubahan Silvi saat ini. Bahkan dulu Silvi sangat mencintainya, ternyata seiring berjalannya waktu, cinta itu hilang tidak tersisa.

"Sudahlah, kalian berdua tidur di kamar tamu saja." Alden melangkah mendekati mereka dan berlalu meninggalkan begitu saja setelah berucap. Bahkan Alden juga mengunci pintu kamarnya hingga terdengar suara pintu dibanting.

Mayang terus meminta Nadia membukakan pintu, tetapi Nadia di dalam kamar malah menutup mukanya dengan bantal. Meski berkali-kali Askara berusaha mendobrak pintu, tetap saja Nadia tidak bergerak dari tempat tidurnya. Bahkan Nadia juga menggunakan earphone dan mendengarkan musik.

****

"Jam segini baru bangun, mau jadi istri apa kamu!" ketus Mayang yang melihat Nadia baru saja membuka pintu kamarnya.

Nadia berjalan melenggang tanpa peduli ucapan Mayang. Bagi Nadia ini adalah hari terakhir dirinya di rumah itu. Bukan karena mengalah dengan Silvi, tetapi Nadia ingin hidup tenang tanpa ada yang menghina dirinya.

Askara berjalan cepat demi bisa menemui Nadia pagi itu. Namun, Silvi lebih gesit, membuat Askara menghentikan langkahnya. Askara sedikit kesal karena niatnya ingin meminta maaf pada Nadia terhalangi oleh kedatangan Silvi.

"Lepasin!" bentak Askara berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Silvi.

"Pagi-pagi udah pacaran aja, malu 'lah sama ayam. Mereka saja sudah nyari makan," sindir Nadia saat dia selesai mencuci muka.

"Sayang, kamu hari ini libur 'kan? Kita weekend yuk," ajak Askara setelah tangannya terlepas dari genggaman Silvi.

"Kamu pikir aku sudi kalau jalan berdua sama kamu Mas? Tidak sama sekali. Aku meminta kamu ceraikan aku sekarang juga," ucap Nadia dengan yakin.

"Tidak Sayang, aku tidak mau kita cerai," jawab Askara dengan lemas.

"Kamu harus sadar Mas, Silvi hamil anak kamu. Jadi, kamu harus ikhlasin pernikahan kita," ujar Nadia sinis.

"Aku masih mencintai kamu, Sayang," ucap Askara tulus.

"Lupakan cinta itu, kita tetap bercerai," ucap Nadia berlalu meninggalkan Askara.

Askara terduduk lemas. Kini rumah tangga yang dia bina selama dua tahun berakhir karena kesalahannya sendiri. Nadia wanita yang dia perjuangkan untuk dijadikan istrinya dulu. Kini Nadia telah memilih jalannya sendiri.

Tepat pukul sembilan siang. Nadia keluar dari kamarnya menenteng koper berisi penuh dengan baju-baju miliknya. Berjalan melewati Askara, Silvi dan Mayang yang sedang asik menyaksikan televisi.

"Sayang, kamu mau ke mana?" Askara bangkit dari duduknya.

"Pergi," jawab Nadia, ketus. Tanpa peduli dengan Askara yang kini mendekatinya.

"Apa kamu sudah yakin meninggalkan aku, Nadia?" tanya Askara mencoba memegang tangan Nadia yang dengan cepat ditepis oleh Nadia.

"Sudah," jawab Nadia singkat dan sedikit menahan tangis. Meski bagaimanapun, cinta yang pernah ada tidak akan mudah hilang begitu saja.

"Tinggal beberapa hari di rumah ibu, Nadia. Sampai kita bercerai," pinta Askara penuh harap.

Nadia tidak peduli sama sekali dengan Askara yang kini menangisi kepergiannya. Saat Nadia akan membuka pintu, Askara berlari mengejarnya hingga hampir terjatuh. Silvi dengan cepat mengejar Askara agar berhenti mengejar Nadia dan membiarkan Nadia pergi dari rumah.

"Sudah Mas, biarkan dia pergi. Atau aku akan melukai bayi yang kukandung saat ini!" ancam Silvi sambil menangis.

Namun, Askara tidak mengindahkan ucapan Silvi. Dia terus saja mengejar Nadia. Bahkan Silvi kini juga ikut berlari mengejar Askara.

"Aww," pekik Silvi saat dirinya jatuh.

"Silvi!" teriak Askara yang kini dalam kebimbangan.

"Askara, kembali!" teriak Mayang saat Askara tidak segera menolong Silvi.

Askara berjalan menghampiri Silvi. "Kamu itu nggak becus Silvi," kesal Askara menatap sebal Silvi.

"Mas, aku mohon. Biarkan Mbak Nadia pergi, demi bayi kita, Mas," ucap Silvi lemas. "Jika kamu terus mengejar Mbak Nadia, aku akan bunuh diri saja," ancam Silvi yang akhirnya Askara membiarkan Nadia benar-benar pergi meninggalkannya.

Askara tetap memandang Nadia hingga kini tubuh tinggi semampai itu tidak terlihat lagi. Dengan banyak penyesalan, Askara menggendong Silvi masuk ke dalam rumah. Setelah menidurkan Silvi, Askara kembali termenung.

"Mas." Silvi memegang tangan Askara. "Lebih baik aku dan bayi ini mati saja." Silvi bangkit dari tidurnya dan akan mengambil pisau di dapur.

"Askara, Ibu menginginkan cucu. Apa kamu tega menghilangkan bayi yang tidak bersalah ini? Hm?" Mayang menyudutkan Askara..

"Silvi jangan. Aku minta maaf, tapi jangan lakukan itu," cegah Askara saat Silvi akan menyayatkan pisau di tangannya.

Silvi menghentikan aksinya dan memeluk Askara. "Ini anak kamu, Mas," lirih Silvi setelah melepaskan pelukannya yang dijawab anggukan oleh Askara.

***

Nadia kini tinggal di apartemen. Nadia memulai hidup tanpa Askara. Pagi itu, Nadia meminta izin pada Rangga untuk ke tempat pengadilan mengurus perceraiannya dengan Askara.

"Aku akan mengantarmu," ujar Rangga saat Nadia keluar dari pintu kantor.

"Apakah kamu yakin, Rangga?" tanya Nadia mengulas senyum.

"Tentu, aku akan menemani kamu mengurus surat perceraian itu." Rangga tersenyum ke arah Nadia dengan penuh kebahagiaan. Berharap setelah Nadia bercerai dari Askara, Rangga bisa mendapatkan hati Nadia.

Gugatan cerai dari Nadia diterima oleh pengadilan. Surat perceraian akan dikirim satu bulan setelah Nadia menggugat. Hari ini, surat itu datang dan diterima oleh Nadia.

"Kamu mau ke mana, Nadia?" tanya Rangga saat bertemu Nadia di parkiran dan akan naik taksi.

"Mengantar surat ini, Rangga," jawab Nadia yang kini sudah masuk ke dalam mobil. 

"Biar aku antar," tawar Rangga akan membuka pintu mobil taksi tersebut.

"Tidak perlu Rangga, aku sudah membayar taksi ini. Aku akan kembali dengan baik-baik saja," ucap Nadia yang melihat wajah kekhawatiran di wajah Rangga.

"Baiklah, berhati-hatilah," balas Rangga dengan terpaksa.

***

Nadia kini sudah berada di depan rumah Mayang. Askara mengulas senyum dan segera menghampiri wanita yang sangat dirindukan. Kebetulan di rumah itu Askara hanya di rumah sendiri.

"Ini surat perceraian kita." Nadia menyerahkan surat itu.

"Kita pergi sekarang," ajak Askara dengan menarik  lengan Nadia.

"Aku mengantarkan surat perceraian kita, Mas. Bukan …."

"Iya Nadia, aku tahu, tapi aku ingin berbicara sesuatu denganmu. Aku mohon Nadia, sebentar saja." Askara merengek menatap melas ke arah Nadia.

"Baiklah," jawab Nadia dengan terpaksa.

Mereka kini naik mobil bersama meninggalkan rumah Askara. Meski ada rasa takut dalam hati Nadia. Dengan terpaksa Nadia mengikuti kemauan Askara saat ini.

"Loh Mas, kita mau ke mana?" tanya Nadia khawatir.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Berdamai Dengan Takdir
8.5
Alena yang periang dan Leo yang bersikap dingin sangat bertolak belakang. Ketika Alena menyatakan perasaannya, Leo menolaknya dengan kejam hingga membuat hati gadis itu hancur. Kepedihan dari cinta pertama ini mengubah Alena menjadi pribadi yang tertutup dan tidak percaya diri. Melihat perubahan besar tersebut, Leo justru didera penyesalan mendalam karena merasa kehilangan sosok Alena. Akankah kebencian Leo berganti menjadi cinta, atau ia sekadar merindukan kehadiran gadis itu?
Sampul Novel DENDAM SI PELAYAN SEKSI
9.4
Mimpi buruk terus menghantui kehidupan pernikahan Daren dan Carolina. Di tengah situasi itu, hadirlah Eliana, seorang pelayan baru yang memikat sekaligus membangkitkan memori asing dalam diri Daren. Di balik pesonanya, Eliana menyimpan niat terselubung untuk menghancurkan hidup sang majikan demi membalas dendam. Namun, saat rahasia masa lalu mulai tersingkap, ia justru terjebak dalam perasaan cinta pada targetnya. Akankah dendam Eliana luntur, atau misinya tetap berlanjut?
Sampul Novel Ibu Mandul Melahirkan Sextuplets Untuk CEO Panas
8.9
Diceraikan Callan karena dituduh mandul, Amy nekat menghabiskan malam satu kali bersama gigolo sebelum pergi jauh. Enam tahun kemudian, ia kembali sebagai ibu dari enam anak kembar yang lucu. Namun, betapa terkejutnya Amy saat mendapati bos barunya di NorthHill adalah pria dari masa lalunya itu. Kini ia harus menyembunyikan rahasia besar tersebut dari sang CEO berkuasa, yang sebenarnya juga diyakini tidak dapat memiliki keturunan.
Sampul Novel Kirana, Cinta Sejatiku
9.1
Pernikahan tanpa cinta membuat Sendra Wijayanto merasa hampa hingga menganggap hubungan intim dengan istrinya sebagai rutinitas belaka. Saat cinta sejatinya, Kirana Larasati, kembali dari luar negeri, keduanya langsung menjalin hubungan gelap. Menghadapi sikap sombong Kirana yang menuntutnya mundur, sang istri tidak tinggal diam. Ia justru melemparkan surat cerai dengan dingin dan menantang Kirana untuk membuat Sendra menandatanganinya, menolak untuk kalah dalam perebutan harga diri ini.
Sampul Novel Last Twilight
8.5
Senja Aluna selalu bingung dengan sikap dingin kedua orang tuanya. Saat adiknya sakit keras, ia malah menjadi pelampiasan amarah sang bunda. Beruntung, ada Dilan, sahabat setia yang selalu melindunginya di tengah kehampaan kasih sayang keluarga. Namun, hidup Senja kian goyah saat takdir mengancam akan memisahkan Dilan darinya. Di ambang keputusasaan, Senja hanya mendambakan pelukan hangat dan perhatian tulus ibunya. Akankah impian sederhana itu terwujud?
Sampul Novel MAHLIGAI: Istana yang Kujaga
8.0
Kebahagiaan Dara Kahiyang bersama Adam dan anak kembar mereka kini terancam hancur. Ibu dan kakak kandungnya kembali hadir, membawa dendam membara untuk merusak keharmonisan tersebut. Sebagai mantan putri yang dahulu dibuang dan diabaikan, Dara menyimpan sebuah rahasia masa lalu yang sangat kelam. Kini, ia harus berjuang habis-habisan demi melindungi keluarga kecilnya dari ancaman kerabat sendiri. Mampukah Dara bertahan menghadapi teror yang datang bertubi-tubi?