APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ipar Posesifku

Ipar Posesifku

Takdir membawaku ke situasi tak terduga saat harus menikahi adik dari mendiang suamiku. Pria dingin yang selama ini menunjukkan kebencian mendalam padaku itu justru menerima perjodohan kami tanpa penolakan sedikit pun. Di balik kebungkamannya, ada rahasia besar yang tersembunyi. Mengapa ia rela terikat dalam pernikahan penuh ketegangan misterius ini denganku? Apa sebenarnya rencana yang ia simpan rapat-rapat?
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku tiba di mall pukul sepuluh pagi. Tepat ketika pintu mall dibuka aku masuk. Mungkin hari ini aku adalah pengunjung pertama mereka.

Secepat kilat aku masuk ke toko sepatu. Siang ini aku harus datang ke wawancara kerja, dan baru semalam tau kalau sepatu pantofelku yang sudah lama menganggur dan kusimpan rapi dalam dus, sudah tidak layak pakai lagi, bagian kulitnya banyak yang mengelupas.

Aku nekat juga melamar lowongan kerja yang diinfo Erna kemarin dengan menggunakan fotokopian KTP lamaku saat masih lajang.

“Kalau nanti kamu keterima kerja, tunggu beberapa saat sampai mereka tau kamu karyawan yang bisa diandalkan, saat itulah kamu bisa jujur dengan statusmu.” Begitu saran Erna kemarin melalui pesan whats app.

Awalnya aku enggan. Aku orang yang paling tidak bisa berbohong, tapi penasaran juga sih, setelah empat tahunan tidak bekerja kantoran, bisa tidak ya kira-kira aku lolos tes wawancara kerja.  Disamping yaah butuh duitnya juga. Mau sampai kapan hanya hidup mengandalkan uang santunan kematian Mas Arya? Rania semakin besar, akan masuk sekolah, biaya yang dibutuhkan juga pasti semakin banyak. Akupun merasa tak nyaman jika terus menerus menerima pemberian dari Arman.

Setelah mendapatkan sepatu yang cocok, aku bergegas keluar mall. Ternyata hujan. Deras lagi. Pantasan, berulangkali mencoba order taksi online dari sebelum keluar mall tadi, tak ada yang nyangkut.

Aku mengedarkan pandangan ke sekitar, siapa tau saja ada taksi lewat.

Ah itu dia, sebuah taksi berwana biru melaju. Di bagian atasnya lampu menyala, tanda taksi itu tak berpenumpang.  Aku melambaikan tangan dan bergegas membuka pintu ketika taksi berhenti tepat di depanku. Tapi di saat bersamaan, seorang lelaki mengenakan jas casual dan bertopi hitam masuk dari sisi pintu yang lainnya.

“Lho?”

“Ehm, maaf, saya yang memberhentikan taksi ini.” Aku mencoba bicara sesopan mungkin, menyembunyikan rasa kesalku.

“Saya juga.” Si lelaki bertopi menjawab ketus, duduk dan menutup pintu taksi.

“Jalan Pak,” katanya lagi tanpa sedikitpun memperhatikanku yang masih terbengong-bengong dengan separo badan masuk ke dalam taksi.

“Eh tunggu-tunggu enak aja.” Aku mulai hilang kesabaran. Tapi rasanya sia-sia bicara sama laki-laki tak punya sopan santun ini.

“Pak, saya tanya, siapa yang memberhentikan taksi ini?” Aku memilih langsung bertanya pada sopir taksi.

“Aduuh kalian ini bikin ribut di taksi saya. Sebenarnya kalian mau ke mana sih?”

“Kota Lama,” jawabku dan si lelaki bertopi hampir berbarengan. Sedikit terkejut aku menoleh ke arahnya. 

“Oalah, tujuan kalian sama to. Ya sudah bareng aja. Hujan-hujan gini susah dapat taksi. Ayo mbak masuk, tutup pintunya.”

Aku tidak punya pilihan lain. Daripada telat wawancara, biarlah satu taksi dengan orang asing menyebalkan ini. Toh, Kota Lama tidak terlalu jauh dari sini, jadi hanya sebentar aku duduk bersebelahan dengannya.

“Mbaknya mau ke mana?” tanya Pak Sopir memecah keheningan kami di dalam taksi.

“Kafe Mentari Pak.”

“Lho kafenya kan, belum buka Mbak!”

“Iya saya ada tes wawancara kerja di sana.”

“Oh, gitu. Moga sukses ya Mbak, tesnya.”

“Hehe, makasih Pak.”

“Kalo masnya mau ke mana?”

“Kafe Mentari." Jawaban dingin si lelaki bertopi sontak membuatku kaget. Sementara ia hanya menunduk, tetap asik dengan ponsel di tangannya.

“Lho, sama lagi. Wawancara juga?” tanya si Bapak.

Lelaki bertopi tidak menjawab. Diam-diam aku mengamatinya, penasaran juga apa benar dia mau melamar kerja di tempat yang sama? Sebagai apa? Tempo hari aku lihat ada beberapa lowongan kerja lagi di Kafe Mentari selain sebagai Markom. Waduh gawat, aku bisa punya rekan kerja semenyebalkan dia. Ah, tapi belum tentu kan, dia diterima. Ya aku juga belum tentu keterima, sih.

“Sepertinya, kalian memang berjodoh hahahaha,” tawa Pak sopir membuyarkan lamunanku. Kesal.

Tak lama kemudian, taksi menepi di depan Kafe Mentari. Aku mengulurkan uang seratus ribuan pada Pak Sopir.

“Mbak, uang pas aja ada? Dua puluh delapan ribu, saya baru narik nih, nggak punya kembalian.”

“Eh? Aduh ngga ada Pak.” Hanya tinggal selembar itu uang di dompetku. Ada sih beberapa lembar lagi uang dua ribuan. Tapi tak cukup buat membayar senilai argo taksi.

“Ini saja Pak. ” Si lelaki bertopi meletakkan selembar uang ke tangan Pak sopir.

“Yah, sama aja, seratus ribu juga. Kan saya bilang nggak ada kembalian.” Kata Pak Sopir begitu melihat nominal uang yang ada di tangannya.

“Kembaliannya buat Bapak.” Si lelaki bertopi menjawab seraya berjalan masuk ke dalam kafe.

Aku terperangah, rasanya apa yang barusan dia lakukan, mencabik-cabik harga diriku.

“Wah makasih mas,” kata Pak Sopir setengah berteriak.

Sebelum berlalu pergi, Pak Sopir mengucapkan terimakasih juga padaku dan mendoakan agar tes wawancara kerjaku lancar.

Aku tersenyum kikuk. Kumasukkan kembali uang seratus ribuan ke dalam tas sambil bersungut-sungut dalam hati.

Sialan, baru juga mau melamar kerja, udah songong kek gitu.

Di dalam kafe suasana sudah cukup ramai. Usai mengisi daftar hadir, aku bergabung dengan para pelamar kerja yang lain. Beberapa orang kuajak ngobrol basa-basi. Eh, tapi ke mana si lelaki bertopi mengapa dia tak kelihatan ya? Hmm mungkin sedang ke toilet atau ... Ah bodo amat, kenapa jadi mencari dia sih.

Satu jam berlalu. Aku menunggu panggilan wawancara dengan gelisah. Memikirkan Rania yang kutitipkan di TK tempat Erna mengajar. Duh, kira-kira Rania rewel tidak ya?

“Nadia Putri Wijaya. ”

Ah namaku dipanggil, akhirnya .... 

Aku masuk ke sebuah ruangan, ada dua orang lelaki yang sudah duduk di sana. Satu orang lelaki berpakaian rapi, dengan kemeja lengan panjang biru navy yang dipadukan dengan celana kain casual berwarna hitam. Kutebak, usianya sekitar 35 tahunan. Lalu satunya lagi ...

Lelaki bertopi? Lho kapan dia masuk ke sini? Dia masih diwawancara? Tapi, kenapa aku sudah dipanggil?

“Selamat siang, Pak.” Aku tersenyum ramah sambil sedikit menundukkan kepala pada si lelaki berkemeja navy.

“Oh selamat siang, silakan duduk.” Lelaki berkemeja hitam menunjuk kursi yang ada di depan mejanya.

“Nadia Putri Wijaya.” Ia menyebut namaku 

“Iya, Pak.”

“Sebelumnya perkenalkan, saya Wira, manajer dari Kafe Mentari.” Pak Wira tersenyum ramah.

“Lalu ini ... .”

Eh, si lelaki bertopi?

“Ini Galang, pemilik Kafe Mentari.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Boneka Suami, Kebenaran Pahit Terkuak
8.4
Demi membela diri dari pelecehan ayah mertuanya hingga koma, seorang istri justru terjebak tipu daya Rangga, suaminya yang berpura-pura menjadi pelindung. Sebuah pesan rahasia membongkar kenyataan pahit bahwa dirinya hanya dijadikan umpan demi warisan asuransi. Rangga sengaja memanfaatkan situasi tersebut agar sang ayah tersingkir tanpa mengotori tangannya sendiri. Kini, dendamnya membara; sang istri bertekad merebut segalanya dan menjebloskan Rangga ke dalam penjara.
Sampul Novel Devil Beside You
8.1
Sergio Blanco, pembunuh bayaran berdarah dingin, kehilangan arah saat ditugaskan menghabisi nyawa putri seorang miliarder. Hazel Afford, sang target dengan mata indah, berhasil meluluhkan hatinya. Namun, begitu Hazel menyadari jati diri Sergio yang sebenarnya, rasa cinta itu berubah menjadi muak. Hazel bertekad melarikan diri, tetapi ia malah terjerat dalam lingkaran gairah yang penuh risiko. Akankah Sergio menyelesaikan misinya atau memilih tunduk pada cinta?
Sampul Novel Di Balik Kilau Giok, Ada Cinta yang Mati
9.7
Empat tahun menikah, sang istri selalu dihadiahi gelang batu giok setiap kali suaminya berselingkuh. Setelah mengalah dan memaafkan hingga 99 kali, batas kesabarannya habis. Kepulangan sang suami dari dinas luar kota selama tiga hari dengan membawa gelang giok hijau kekaisaran senilai puluhan miliaran rupiah tidak lagi meluluhkan hatinya. Alih-alih menerima hadiah mewah tersebut, ia justru memantapkan tekad untuk segera melayangkan gugatan cerai demi mengakhiri pernikahan mereka.
Sampul Novel Hawa Nafsu Kekasihku
8.0
Kehidupan Affry jungkir balik setelah malam tak terduga membuatnya mengandung anak dari pria asing. Lelaki itu ternyata Liu Chaing He, manajer di perusahaan milik orang tua Affry. Demi melindungi nama baik keluarga, mereka pun terpaksa menikah. Namun, kepedihan Affry makin berat karena Chaing He rupanya masih mencintai wanita lain. Akankah pernikahan tanpa rasa cinta ini sanggup bertahan di bawah bayang-bayang masa lalu sang suami?
Sampul Novel JIKA CINTA INI SALAH
8.8
Aku merelakan hidup mewah demi cinta, tetapi ketulusanku justru dikhianati. Sekarang, aku menghadapi pilihan sulit: tetap bertahan dalam rumah tangga yang retak demi masa depan anak-anak remaja kami, atau memilih pergi. Di tengah rasa bimbang dan ketergantungan ini, sebuah perasaan baru mulai tumbuh. Layakkah seorang ibu dengan dua anak sepertiku kembali membuka hati untuk cinta lain yang kini datang membawa harapan baru?
Sampul Novel Mami, Papi Memintamu Kembali
8.1
Binar Mentari memilih menyudahi tiga tahun pernikahan penuh penderitaan bersama sang penguasa sombong, Barra Atmadja, yang kerap merendahkannya. Usai lenyap tanpa kabar, ia kini hadir kembali sebagai dokter sukses yang membesarkan anak kembar genius. Saat banyak lelaki hebat mengagumi sosoknya, Barra justru datang lagi dengan penyesalan besar demi meminta maaf. Sanggupkah Binar memaafkan masa lalu sang mantan suami dan kembali bersatu demi anak-anak mereka?