APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Intuition

Intuition

Hanna dituduh membunuh orang tuanya pada usia sembilan tahun dan dipenjara. Sepuluh tahun kemudian, ia kabur dan bertahan di jalanan. Pertemuan dengan teman lama membawanya bergabung dalam komplotan untuk membalas dendam masa lalu. Namun, rencana itu goyah saat Hanna jatuh cinta pada putra dari orang yang menghancurkan keluarganya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Hanna memegang pelipisnya yang masih sedikit perih, dan merasakan sesuatu menempel disana. Dipaksakan nya untuk membuka mata, yang masih terasa berat. Bau obat-obatan menyengat menusuk indra penciuman.

“Ugh!” Hanna mencoba untuk bangkit, satu tangannya memegangi kepalanya yang sakit saat digerakkan.

“Hei, kau sudah sadar! Tenanglah! Jangan banyak bergerak dulu, aku akan memanggilkan dokter untukmu.” Seorang wanita muda menghentikan gerakan Hanna, dia membantu Hanna kembali berbaring di atas tempat tidur.

“Dimana aku?” tanya Hanna. Matanya menyapu ke seluruh ruangan, dan menyadari kalau dirinya sedang berada di sebuah ruang perawatan. Mungkin, ini Rumah Sakit, fikirnya.

“Kau berada di Rumah Sakit. Tenanglah!” wanita muda yang ternyata seorang perawat itu, menjawab pertanyaan Hanna, agar gadis itu tenang. Hanna mengangguk, dan kembali memejamkan mata. Sementara wanita muda tadi, keluar dari ruangan itu, setelah memberikan suntikan pada Hanna.

***

10 jam yang lalu

Ngiiingg ...

Suara sirene polisi terdengar dari kejauhan. Pria bertopeng yang telah berhasil mendobrak pintu, kamar tidur orang tua Hanna, merasa panik dan bingung mau melakukan apa pada gadis itu. Dipandanginya tubuh Hanna, dan sebuah ide pun muncul di kepalanya.

Pria itu menyeret tubuh Hanna dengan cepat ke ruang tengah rumah itu, dimana tergeletak tubuh William dan Stephanie yang sudah tak bernyawa. Di letakkannya tubuh Hanna agak jauh dari kedua orang tuanya, lalu mengambil samurai yang tadi dipakai nya menghabisi nyawa William dan Stephanie, dan meletakkannya di dalam ganggaman Hanna yang sedang tak sadarkan diri.

Kemudian pria itu membersihkan semua jejak dirinya dari rumah itu. Termasuk sidik jari dan jejak sepatu. Merasa yakin sudah tidak meninggalkan jejak apapun, pria itu keluar lewat pintu belakang, tepat saat mobil patroli polisi berhenti di depan rumah.

“Halo tuan William! Apakah anda di dalam?” seorang petugas patroli masuk ke pekarangan dan memanggil pemilik rumah. Tak ada jawaban.

“Kami mendapat pengaduan telepon, dari rumah ini, apakah terjadi sesuatu? Halo? Kami akan memaksa masuk jika anda tidak menjawab!” petugas tadi, dan seorang temannya berdiri di depan pintu, bersiap dengan pistol di tangan.

Karena tak ada jawaban, mereka pun mendobrak pintu dan masuk ke dalam rumah. Kedua petugas itu terkejut melihat tiga orang tergeletak di ruang tengah rumah itu dalam keadaan mengenaskan.

“Hubungi pusat! Ada korban!” salah satu petugas memerintahkan temannya. Lima belas menit kemudian, polisi dan ambulance sampai dan menutup TKP untuk umum.

Hanna pun, langsung di bawa ke Rumah Sakit. Sementara petugas mengamankan barang bukti, dan tempat kejadian perkara.

Seorang pria memakai setelan hitam, datang dan langsung meminta laporan sementara kasus pembunuhan yang baru saja terjadi.

“Dua orang tewas, pasangan pengusaha kaya, Tuan William Ansley, dan istrinya seorang model papan atas Stephanie Jhonson. Di duga penyebab kematian mereka karena luka tusukan, menggunakan benda tajam, dan kehabisan darah.” Seorang petugas berseragam lengkap, menyerahkan laporan tertulis, kepada pria bersetelan hitam tadi, yang menerimanya tanpa mengalihkan pandangan dari samurai yang berlumuran darah, di dalam sebuah kantong plastik transparan.

“Pelaku sudah dapat di identifikasi?” pria tadi bertanya dengan pandangan masih pada tempat yang sama. Samurai.

“Tidak ada sidik jari lain, kecuali sidik jari ketiga orang korban, Pak!”

“Apa maksudmu? Bagaimana dengan samurai itu? Apa tidak ada sidik jari disana?” kening pria itu sedikit berkerut, mendengar penjelasan anak buahnya.

“Hanya ada sidik jari tuan William dan putrinya pada samurai itu, dan anehnya, samurai itu berada dalam genggaman putrinya.”

“Itu tidak masuk akal. Cari semua bukti sampai dapat. Saya mau laporannya, secepatnya!” petugas berpakaian lengkap itu, mengangguk dan menerima kembali laporan yang di sodorkan pria bersetelan hitam padanya.

“Mr. Smith! Anda mau kemana? Seluruh area sudah kami tutup, anda tidak boleh masuk kesana.” Pria bernama Mr. Smith itu mendengkus kesal, dan mengabaikan petugas forensik yang tadi mencoba menghentikannya.

“Anda tidak bisa mengacaukan pekerjaan kami!”

“Aku tidak butuh izinmu! Ini kasusku!”

Petugas forensik itu mencebik kesal dan berlalu pergi, meninggalkan Smith disana. Pria berusia sekitar 30-an itu berjalan-jalan di sekitar rumah, memperhatikan tiap benda, dan apapun yang menarik perhatiannya. Dia juga masuk ke kamar tidur William, memeriksa kamar itu dengan matanya, tanpa memegang apapun. Hanya memperhatikan! Tapi dia tidak menemukan apapun. Tempat itu bersih!

Ck! Dia berdecak. Raut wajah nya terlihat kesal. Aku punya firasat, kasus ini akan berakhir tidak bagus. Tapi saat dirinya memasuki ruangan kerja William, tanpa sengaja dia menemukan sebuah kancing, di sudut pintu sebelah dalam. Diambilnya menggunakan saputangan, dan segera memasukkannya ke dalam kantong. Setelah puas berkeliling, dan memeriksa, pria itu pergi dari TKP tanpa memberitahukan penemuannya.

***

Di Rumah Sakit

“Bagaimana perasaanmu, nona kecil?” sapa sang dokter pada Hanna, yang sudah bangun dari tidurnya. Gadis kecil itu, berusaha memaksakan senyum, menghormati keramahan dokter tadi.

“Anak pintar! Oh, iya! Kenalkan, saya Dokter David.” Dokter itu mengulurkan tangan, dan disambut Hanna dengan sedikit ragu. Gadis itu kelihatan takut.

“Kenapa?” tanya sang dokter, mengulurkan tangan hendak menenangkan Hanna. Tapi gadis kecil itu malah histeris, dan berteriak ketakutan. Perawat cepat-cepat menyuntikkan obat penenang pada selang infusnya, hingga membuat gadis itu tertidur kembali.

Dr. David menggeleng pelan, seraya menghela nafas. “Saya rasa anak itu mengalami trauma,” ucapnya sedih. Dr. David merasa prihatin atas kejadian tragis yang menimpa Hanna.

“Siapapun, pasti akan trauma, Dok! Apalagi anak sekecil Hanna.” Suster yang menemani Hanna, pun turut merasakan kesedihan yang dirasakan sang Dokter.

Kedua orang itu, keluar dari kamar Hanna, dan bertemu dengan Mr. Smith di depan pintu. “Bagaimana keadaan anak itu, Dok?” tanya Smith.

“Saya rasa anak itu mengalami trauma. Dia terlihat sangat ketakutan saat aku mencoba untuk mendekatinya.” Dr. David memberikan penjelasan.

“Separah apa, trauma yang dialaminya?”

“Untuk saat ini, hanya trauma psikplogis biasa. Belum ada tanda-tanda lainnya. Kita tunggu saja perkembangannya. Saya berharap dia bisa melewati semua ini.”

“Sebaiknya, begitu! Karena jika tidak, maka anak itu bisa di dakwa telah membunuh kedua orang tuanya dengan sadis.”

“What the .., kau serius? Anak sekecil itu! Oh come on! Kalian membuat aku muak!” Dr. David mempercepat langkah, meninggalkan Smith yang menurutnya, sangat memuakkan.

Bagaimana bisa dia mengatakan anak sekecil itu membunuh kedua orang tuanya? Apa mereka para polisi sudah gila?

“Tunggu! Saya belum selesai, Dok!" Smith mengejar langkah David, hingga kini mereka kembali bersisian dan masuk ke ruangan sang dokter.

“Saya datang kesini, untuk meminta bantuanmu!” Kening dokter itu berkerut, mencoba menebak arah pembicaraan lawan bicaranya.

“Katakan!” ujarnya, bersedekap.

“Sembuhkan anak itu secepatnya, agar dia bisa bersaksi di pengadilan. Jika dia tidak sembuh sampai sidang di gelar, maka bantulah dia dengan membuat catatan kesehatan palsu untuknya.”

“Apa maksudmu?”

“Jika kau tidak bisa menyembuhkannya, tepat waktu, buatlah seolah-olah dia mengalami gangguan mental, dan harus mendapatkan terapi. Hanya dengan cara itu, dia tidak di jebloskan ke penjara federal.”

“Kau gila!”

“Ini memang terdengar gila. Tapi asal kau tahu, aku juga percaya dan simpati pada anak itu. Ini hanya untuk berjaga-jaga. Kurasa kasus ini akan berakhir tidak baik. Jadi tak ada salahnya, membuat rencana.”

Dr. David tampak berfikir, dia mondar-mandir di depan meja kerjanya. Sementara Smith menunggunya dengan tidak sabar.

“Kau harus berjanji, membantu anak itu!” Smith mengulangi permintaannya. Melihat kesungguhan dimata, Smith, akhirnya Dr. David pun berjanji untuk melakukan apa yang diminta oleh Smith.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ENIGMA: When We Are
8.1
Elang Albimanyu, pemuda dari keluarga broken home, sangat mendambakan kehangatan rumah yang penuh kasih sayang tulus. Dalam pencariannya, ia jatuh cinta pada wakil ketua OSIS, Sabiru Anantasya, yang masih terikat bayang masa lalu. Walau kerap dibuat kesal oleh sikap judes Sabiru, Elang tak menyerah. Di tengah rumitnya perasaan dan tanggung jawab organisasi, mampukah perjuangan cinta Elang meluluhkan hati Sabiru dan mengubah segalanya?
Sampul Novel Janji yang Diingkari, Hati yang Sejati
8.7
Della terkejut saat matanya bisa melihat lagi dan mendapati dirinya telah menikah dengan Hurst Owen, adik dari kekasihnya. Kebenaran menyakitkan terungkap saat ia tahu Brady Owen, sang kekasih, sengaja meninggalkannya yang buta demi Betty Kirk. Brady berjanji akan kembali sebulan lagi dan menganggap pernikahan adiknya tidak sah. Namun, Hurst mulai jatuh cinta pada Della. Tanpa memberi tahu bahwa ia sudah sembuh, Della justru mengajak Hurst meresmikan pernikahan mereka agar sah seutuhnya.
Sampul Novel Jerat Cinta Mafia Kejam
8.2
Terbuang dari rumah sendiri akibat keserakahan kerabatnya, Kinanti memilih mengasingkan diri ke Amerika demi kedamaian. Namun, takdir justru menyeretnya kembali ke hadapan Brian, pemimpin mafia kejam yang sejak lama terobsesi padanya. Jika dulu ia bisa lari, kini Kinanti tak berkutik di bawah dominasi mutlak Brian. Di tengah ancaman keluarga pamannya yang terus mengusik, mampukah ia lolos dari cengkeraman cinta sang mafia?
Sampul Novel Mengirim Tunangku ke Neraka
8.0
Kegagalan Cathy Begum tampil di kapal pesiar memicu kemarahan bos mafia, Nate Adams, yang mengancam akan merusak tangannya. Tunanganku, Chris Dobson, awalnya bersikap dingin sebelum akhirnya membiusku. Begitu tersadar, aku sudah terikat di kamar Nate demi menyelamatkan karier Cathy. Chris bahkan memohon agar aku menyerahkan diri pada Nate semalam saja sebagai pengganti. Meski dia berjanji akan menjemputku kembali, aku sangat ragu Nate akan meredakan dendamnya begitu saja.
Sampul Novel Siap, Mas Bos! (Season 2)
9.3
Kembalinya ingatan Aika tidak membuat pernikahannya dengan Kairo berjalan mulus. Akibat trauma masa lalu dan luka pada rahimnya, Aika didera rasa bersalah. Ia bahkan meminta Kairo berpoligami demi kebahagiaan sang suami, terlebih setelah Andara Prameswari muncul. Keputusan tersebut memicu konflik besar dan kekecewaan mendalam pada diri Kairo. Di tengah bayang-bayang kelam masa lalu, akankah kekuatan cinta dan kesabaran menuntun mereka mewujudkan impian bersama?
Sampul Novel Suami Labil
8.2
Kecurigaan muncul karena putra mereka yang berusia tiga tahun tidak mirip dengan sang suami. Diam-diam, ayah mertua melakukan tes DNA dan mendapati sang cucu bukanlah darah dagingnya. Kemarahan meledak, tuduhan perselingkuhan dilayangkan, dan sang suami pun melayangkan tamparan keras akibat murka dikhianati selama bertahun-tahun. Namun, situasi berbalik saat sang istri menyodorkan hasil tes DNA lain yang membuktikan bahwa suaminya sendiri tidak memiliki hubungan darah dengan ayah mertuanya. Siapakah yang sebenarnya asing di rumah tersebut?