APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Intuition

Intuition

Hanna dituduh membunuh orang tuanya pada usia sembilan tahun dan dipenjara. Sepuluh tahun kemudian, ia kabur dan bertahan di jalanan. Pertemuan dengan teman lama membawanya bergabung dalam komplotan untuk membalas dendam masa lalu. Namun, rencana itu goyah saat Hanna jatuh cinta pada putra dari orang yang menghancurkan keluarganya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Brakkk!

Smith membanting pintu, sehingga semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Komisaris polisi, sekaligus atasannya, Mr. Santos, menatap Smith dengan pandangan menyuruh diam. Tapi sedikitpun tak di hiraukannya.

“Apa-apaan ini!” di hempaskannya berkas kasus Hanna ke atas meja, dimana beberapa orang sedang duduk mengelilinginya.

“Tidak usah bertindak berlebihan. Kau tahu betul bagaimana situasinya.” Seorang pria tua, berusia sekitar 60-an, menjawab ucapan Smith dengan santai. Dia adalah kepala polisi bagian federal, yang berwenang atas kasus Hanna.

“Kalian tidak bisa menjadikan anak kecil itu sebagai kambing hitam!” Smith nyaris berteriak di dalam ruangan itu.

“Dia bukan kambing hitam. Semua bukti mengarah padanya!” Santos menjawab dengan ekspresi wajah datar.

“Kau gila, jika mempercayai itu semua!”

“Kami semua yang ada di ruangan ini, bekerja sesuai prosedur hukum yang berlaku. Kau tahu itu! Jadi tolong! Jangan membuat kekacauan.”

“Masa bodoh dengan hukum kalian itu! Hukum mana yang membiarkan seorang anak kecil, menjadi terdakwa atas pembunuhan orang tuanya sendiri, hah!”

“Kami tidak bisa berbuat apa-apa, Smith! Kau tahu itu. Anak itu ditemukan bersama kedua orang tuanya, dan dia menggenggam senjata yang menghabisi nyawa keduanya. Kau faham itu, Smith!” Natalie, partner Smith, sekarang turun bicara. Smith memandangnya tak percaya.

Smith menghela nafas panjang. Dia mengacak rambutnya, frustasi, dengan satu tangan di pinggang. Diedarkannya pandangan ke sekeliling ruangan, mengamati satu persatu wajah di dalam ruangan.

“Aku mundur!” diletakkannya lencana dan pistol miliknya, lalu keluar dari ruangan itu, tanpa mendengarkan teriakan Santos, atasannya di kepolisian, yang memintanya menghentikan langkah.

***

“Hanna!” perlahan suster Jeni, perawat yang menangani Hanna menyodorkan sendok berisi bubur ke mulut gadis itu. Hanna membuka mulutnya dengan tatapan kosong, dan menelan bubur itu, tanpa mengunyahnya terlebih dahulu. Suster Jeni menyeka sudut bibir Hanna yang terkena tetesan bubur, dengan tissue.

“Apa kau butuh sesuatu? Atau kau menginginkan sesuatu? Aku akan mengambilkannya untukmu.” Suster Jeni mencoba berinteraksi dengan gadis itu.

Perlahan Hanna memutar kepalanya, menatap suster Jenni, “Aku mau mommy!” air mata jatuh, dan meluncur membasahi pipi putih nya yang pucat. Suster Jenni tak tega pada gadis itu, dan segera memeluknya. Tangis Hanna pun pecah dalam dekapan Jenni.

Dibiarkannya gadis itu menumpahkan kesedihan nya yang terpendam selama beberapa minggu ini.

Dr. David masuk, tapi hanya berdiri di depan pintu, karena suster Jeni memberi isyarat untuk menunggu. Beberapa menit, Hanna berhenti menangis, hanya sesekali bulir bening masih lolos dari sudut matanya. Gadis itu menatap suster Jeni lekat.

“Ada apa? Kau bisa bercerita padaku. Aku adalah temanmu, dan teman akan selalu membantumu.” Suster Jeni menyisipkan anak rambut yang berkeliaran di dahi Hanna, ke belakang telinga.

“Orang itu –“ mendengar Hanna mengucapkan kata orang itu, Dr. David pun mendekat hendak merekam pengakuan Hanna. Tapi gerakannya yang tiba-tiba itu, membuat Hanna ketakutan dan memeluk suster Jenni dengan erat. Gadis itu membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Jeni.

“Tidak apa-apa sayang! Dia Dr. David, yang mengobatimu. Dia juga akan mambantumu, sama seperti suster Jeni.” Ucap Jeni menenangkan Hanna.

Perlahan wajahnya mengintip dari balik lengan Jeni, melihat ke arah Dr. David. David pun tersenyum, dan berusaha untuk tidak melakukan gerakan yang akan membuat Hanna ketakutan.

“Apa kau mau bercerita sekarang?” tanya Jeni padanya. Hanna mengangguk dan mulai bercerita.

“Orang itu, membunuh Papa dengan pedang,” air mata kembali menetes saat Hanna mengatakan kalimat itu, bibirnya sampai bergetar menahan sesak yang menghimpit.

“Dia memakai baju hitam, juga memakai topeng.” Dia memegangi dadanya. Mungkin karena kesedihan yang mendalam, menyebabkan gadis itu merasakan sesak yang sangat di sana.

“Sudah, tidak apa-apa!” Jeni menenangkan gadis itu, dan menyuruhnya untuk beristirahat, lalu menemaninya hingga terlelap.

“Kasihan! Pasti sangat berat untuknya.” Desis suster Jeni, berbisik, agar tak mengganggu tidur Hanna. David mengangguk, dan memberi isyarat untuk keluar dari ruangan itu.

“Apa menurutmu, anak itu bisa bersaksi di pengadilan?” tanya David pada Jeni.

“Kurasa, anda lebih tau kondisi Hanna!” Jenni menatap David, dengan ekspresi wajah heran. Tidak biasanya dokter muda itu, meminta pendapat pada perawat, tentang keadaan pasiennya. Sejauh yang dia tahu, David adalah seorang dokter yang sangat kompeten.

David menghela nafas, dan meninggalkan Jeni di lorong Rumah Sakit, setelah terlebih dahulu berpamitan, karena ada janji bertemu dengan Smith.

David memasuki sebuah coffe shop tempat dirinya dan Smith berjanji, untuk bertemu sore itu. Suara lonceng tersengar saat David membuka pintu cafe, mengundang kedatangan seorang pramusaji, yang menyambutnya, dan mempersilahkan dirinya untuk memilih tempat.

Diedarkannya pandangan berkeliling, hingga matanya menangkap sosok Smith di salah satu meja, di sudut ruangan. David melangkah mendekati Smith, yang disambut oleh pria itu. Mereka berdua pun duduk setelah berjabatan tangan.

“Well, kau mau minum apa, Dave?” Smith bertanya, saat seorang pelayan membawakan buku menu dan mencatat pesanan mereka.

“Americano, No sugar!” ucapnya, dan langsung di catat oleh si pelayan, yang segera berlalu setelah membungkuk hormat.

“Ternyata, kau orang yang sederhana.” Ucap Smith berbasa-basi. David hanya tertawa mendengar ucapan Smith.

“Jadi, apa yang ingin kau katakan?” tanya David langsung pada inti permasalahan.

“Bagaimana keadaan gadis itu? Kita sudah kehabisan waktu! Sidang akan digelar akhir pekan ini, dan jika Hanna tidak bisa memberikan bantahan atau kesaksian di pengadilan, maka dia akan dinyatakan bersalah!” Smith terdengar sedikit frustasi.

“sepertinya, dia tidak akan bisa bersaksi, maaf!” David, merasa bersalah karena tidak bisa banyak membantu.

“Traumanya tidak parah, hanya saja dia masih syok, dan sulit untuk membuka diri terhadap orang yang tidak dikenalnya.”

“Kurasa, itu wajar” Smith menginterupsi ucapan David.

“Itu memang wajar. Bahkan aku kagum akan ketegaran anak itu menghadapi masalahnya. Kurasa, sikap menutup diri dari lingkungan dan orang luar itu, dilakukannya sebagai perisai untuk melindungi dirinya. David melanjutkan uraiannya.

Percakapan mereka terjeda, saat pelayan tadi datang mengantarkan pesanan. Smith langsung membayar, dan memberikan tip pada pelayan itu, yang mengangguk dengan senyum lebar.

“Apakah itu berarti, pelaku juga mencoba menyerang Hanna?” tanya Smith, penuh rasa penasaran, sesaat setelah si pelayan pergi.

“Kurasa begitu! Sikapnya saat di dekati secara tiba-tiba, atau saat dia merasaaan gerakan yang spontan atau refleks, cukup membuktikan, gadis itu melakukan kontak fisik dengan pelaku.”

“Jadi begitu, rupanya!” Smith tampak manggut-manggut mendegar penjelasan David.

“Kenapa?” tanya David, melihat sikap Smith, yang seolah mendapat satu pencerahan.

“Awalnya, kukira gadis itu di sembunyikan oleh orang tuanya. Dia keluar dari persembunyian setelah pelaku pergi, dan mengambil samurai yang berlumuran darah, lalu terjatuh dan pingsan.” Smith menjelaskan penilaiannya tentang reka peristiwa yang terjadi.

“Tidak! Dia melihat pelaku membunuh ayahnya!”

“Apa! Maksudmu, Hanna melihat pelaku nya? Kenapa kau tidak mengatakannya, padaku?” Smith berang, dan menggeram. Merasa kesal oleh sikap David.

“Aku kesini, salah satunya untuk tujuan itu,Smith! Lagipula, aku baru saja mendapatkannya beberapa jam yang lalu, sebelum datang kemari” David merogoh sakunya, dan menyodorkan ponselnya kepada Smith.

“Apa ini, bisa dijadikan bukti?” David bertanya.

Smith lalu mendengarkan rekaman audio, yang di buat David tadi dengan bersemangat. Hanya sebentar, raut wajah itu kembali kusut, merasa tidak puas dengan apa yang baru saja di dengarnya.

“Itu, tidak cukup!” serunya penuh penyesalan.

“Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu? Kau punya pangkat tinggi di kesatuan, dan namamu terkenal sebagai polisi yang handal. Kau sudah mengungkap banyak kasus!”

“Tidak! Aku sudah berhenti!”

“Apa? Tapi kenapa?

“Aku tidak mau mengotori, seragam yang kupakai, itu saja! Lagipula, jika tidak bisa berbuat apa-apa, seragam itu juga tidak berharga, bukan?” David tersenyum mendengar perkataan pria di depannya itu. Ternyata benar, yang dikatakan orang-orang tentang kehebatan seorang Smith.

“Apa boleh buat, kita jalankan rencana awal!” ucap David pasrah, di iringi anggukan Smith.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ENIGMA: When We Are
8.1
Elang Albimanyu, pemuda dari keluarga broken home, sangat mendambakan kehangatan rumah yang penuh kasih sayang tulus. Dalam pencariannya, ia jatuh cinta pada wakil ketua OSIS, Sabiru Anantasya, yang masih terikat bayang masa lalu. Walau kerap dibuat kesal oleh sikap judes Sabiru, Elang tak menyerah. Di tengah rumitnya perasaan dan tanggung jawab organisasi, mampukah perjuangan cinta Elang meluluhkan hati Sabiru dan mengubah segalanya?
Sampul Novel Janji yang Diingkari, Hati yang Sejati
8.7
Della terkejut saat matanya bisa melihat lagi dan mendapati dirinya telah menikah dengan Hurst Owen, adik dari kekasihnya. Kebenaran menyakitkan terungkap saat ia tahu Brady Owen, sang kekasih, sengaja meninggalkannya yang buta demi Betty Kirk. Brady berjanji akan kembali sebulan lagi dan menganggap pernikahan adiknya tidak sah. Namun, Hurst mulai jatuh cinta pada Della. Tanpa memberi tahu bahwa ia sudah sembuh, Della justru mengajak Hurst meresmikan pernikahan mereka agar sah seutuhnya.
Sampul Novel Jerat Cinta Mafia Kejam
8.2
Terbuang dari rumah sendiri akibat keserakahan kerabatnya, Kinanti memilih mengasingkan diri ke Amerika demi kedamaian. Namun, takdir justru menyeretnya kembali ke hadapan Brian, pemimpin mafia kejam yang sejak lama terobsesi padanya. Jika dulu ia bisa lari, kini Kinanti tak berkutik di bawah dominasi mutlak Brian. Di tengah ancaman keluarga pamannya yang terus mengusik, mampukah ia lolos dari cengkeraman cinta sang mafia?
Sampul Novel Mengirim Tunangku ke Neraka
8.0
Kegagalan Cathy Begum tampil di kapal pesiar memicu kemarahan bos mafia, Nate Adams, yang mengancam akan merusak tangannya. Tunanganku, Chris Dobson, awalnya bersikap dingin sebelum akhirnya membiusku. Begitu tersadar, aku sudah terikat di kamar Nate demi menyelamatkan karier Cathy. Chris bahkan memohon agar aku menyerahkan diri pada Nate semalam saja sebagai pengganti. Meski dia berjanji akan menjemputku kembali, aku sangat ragu Nate akan meredakan dendamnya begitu saja.
Sampul Novel Siap, Mas Bos! (Season 2)
9.3
Kembalinya ingatan Aika tidak membuat pernikahannya dengan Kairo berjalan mulus. Akibat trauma masa lalu dan luka pada rahimnya, Aika didera rasa bersalah. Ia bahkan meminta Kairo berpoligami demi kebahagiaan sang suami, terlebih setelah Andara Prameswari muncul. Keputusan tersebut memicu konflik besar dan kekecewaan mendalam pada diri Kairo. Di tengah bayang-bayang kelam masa lalu, akankah kekuatan cinta dan kesabaran menuntun mereka mewujudkan impian bersama?
Sampul Novel Suami Labil
8.2
Kecurigaan muncul karena putra mereka yang berusia tiga tahun tidak mirip dengan sang suami. Diam-diam, ayah mertua melakukan tes DNA dan mendapati sang cucu bukanlah darah dagingnya. Kemarahan meledak, tuduhan perselingkuhan dilayangkan, dan sang suami pun melayangkan tamparan keras akibat murka dikhianati selama bertahun-tahun. Namun, situasi berbalik saat sang istri menyodorkan hasil tes DNA lain yang membuktikan bahwa suaminya sendiri tidak memiliki hubungan darah dengan ayah mertuanya. Siapakah yang sebenarnya asing di rumah tersebut?