APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Intuition

Intuition

Hanna dituduh membunuh orang tuanya pada usia sembilan tahun dan dipenjara. Sepuluh tahun kemudian, ia kabur dan bertahan di jalanan. Pertemuan dengan teman lama membawanya bergabung dalam komplotan untuk membalas dendam masa lalu. Namun, rencana itu goyah saat Hanna jatuh cinta pada putra dari orang yang menghancurkan keluarganya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Hanna terbangun karena mendengar suara berisik dari ruang kerja ayahnya. Gadis kecil itu, duduk di sisi ranjang, dan berusaha menajamkan pendengaran. Di kuceknya mata, yang masih sedikit mengantuk.

Perlahan bocah sembilan tahun itu, turun dari ranjang dan melangkah keluar kamar. Dia merasa heran melihat keadaan rumahnya yang berantakan. Rasa penasaran, semakin menyelimuti hatinya, membuat gadis kecil itu melangkah lebih cepat. Kamar kedua orang tuanya, menjadi tujuan.

Sesampai di depan pintu kamar, Hanna sangat terkejut melihat ada bekas darah yang tercecer di lantai. Seketika wajah putihnya menjadi pucat. Dengan gemetar, Hanna memegang handle pintu, membukanya perlahan, lalu mengintip ke dalam. Disana dia melihat pemandangan yang sangat mengerikan.

Ibunya, Stephanie tergeletak di lantai dengan bersimbah darah. Ada luka tusukan di perut dan di dada sebelah kiri Stephanie, ibunya. Hanna mematung, melihat kondisi orang tuanya, dan tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya berdiri memandang ibunya, dengan lutut lemas, bibirnya gemetar memanggil sang bunda.

“Mom,” panggilnya lirih, hampir tak terdengar. Tak ada jawaban. Bocah malang itu, semakin takut. Lututnya tak mampu lagi menopang tubuh kecilnya, hingga dia tersungkur dan jatuh luruh ke lantai. Setelah mengumpulkan tenaga, dia memberanikan diri, dan merangkak lebih dekat. Di sentuhnya tubuh ibunya, dengan jari telunjuk. Sedikit mencolek, lalu menunggu. Tak ada gerakan. Di sentuhnya kembali, kali ini dia mencoba mengguncang tubuh itu.

“Agrrh!” ibunya mengerang lemah, lalu mata itu sedikit terbuka. Hanna bergeser lebih dekat, saat melihat bibir ibunya komat-kamit, seperti hendak mengatakan sesuatu. Tangan itupun kemudian melambai lemah, meminta Hanna untuk lebih dekat lagi.

“Iya, mom! Hanna disini!” ujar gadis kecil itu, terisak di samping ibunya. Disekanya air mata yang jatuh di pipi, dengan ujung tangan, lalu mendekatkan telinga, ke bibir wanita yang melahirkannya itu, agar bisa mendengar lebih jelas apa yang di ucapkan ibunya.

“Se-m-bu-nyi!” ucap Stephanie terbata.

“Mom?” Hanna hendak mengatakan sesuatu, tapi tangan lemah Stephanie mendorong tubuh bocah itu agar menjauh dari sana. Wanita yang sudah sekarat itu melambai-lambaikan tangan, menyuruh putrinya pergi. Hanna memandang tubuh ibunya dengan air mata yang meleleh membasahi wajah, dan bajunya. Dia menggeleng kuat, menarik-narik Stepahanie, berharap bisa menolong ibunya, dan pergi bersama. Namun, usahanya sia-sia. Tubuhnya terlalu kecil, untuk membantu Stephanie.

***

Di ruangan lain rumah itu, tampak seorang pria setengah baya, sedang duduk berlutut, dalam keadaan terikat, di hadapan seorang pria lain, yang memakai pakaian serba hitam dan topeng di wajah. Wajah pria paruh baya itu penuh dengan luka pukulan.

“Katakan, dimana tempatnya!” pria bertopeng itu menghunuskan sebuah samurai ke depan wajah pria yang sedang berlutut di hadapannya. Pria paruh baya itu diam saja.

“Katakan, tuan William! Atau kau ingin melihat jasad anak dan istrimu terlebih dahulu, hah!” pria paruh baya, bernama William, yang tak lain adalah suami Stephanie, ayah Hanna itu, bergeming, membuat pria bertopeng tadi naik pitam.

“Kau sangat keras kepala! Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan mengirim anak dan istrimu ke neraka di depan matamu.” Pria itupun menyeret William dengan kasar, hingga kemeja yang dipakainya sobek.

Mereka keluar dari kamar, dan sampai di ruangan tengah rumah itu. Tubuh William yang terikat di tangan dan kaki, tidak bisa bergerak dengan leluasa. Dia hanya bisa pasrah, saat pria tinggi besar itu menyeret tubuhnya, yang sudah babak belur, dan kehabisan tenaga.

Pria bertopeng itu kemudian melangkah ke arah kamar tidur William dan Stephanie, dimana istri dan anak William berada.

Stephanie yang mendengar suara ribut di luar, menyuruh Hanna untuk bersembunyi di kolong ranjang. Hanna menggeleng keras. Dia terus saja menggenggam tangan ibunya, dengan air mata berlinang.

Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Stephanie mendorong Hanna sekuat tenaga, ke bawah tempat tidur, tepat saat pria bertopeng itu, masuk ke dalam kamar. Hanna yang ingin berontak, langsung terdiam dan menahan nafas, saat melihat sepasang kaki melangkah mendekati tubuh ibunya.

“Ayo! suamimu ingin bertemu denganmu.” pria itu pun menyeret Stephanie keluar dari kamar. Stephanie yang sudah sekarat memandang Putri nya, dibawah ranjang. Air mata wanita itu menetes dari sudut matanya yang lebam dan mengeluarkan darah, namun bibirnya masih sempat menyunggingkan sebuah senyum. Seolah ingin mengatakan, semua akan baik-baik saja.

Hanna memandang tubuh ibunya menghilang di balik pintu. Setelah memastikan suara sepatu itu menjauh, dia merangkak keluar dan mengintip dari celah pintu. Di sana, dia melihat ayahnya merangkak, berusaha menggapai ibunya, yang sudah tidak bergerak lagi. Bocah itu bahkan mendengar tangisan ayahnya, yang mengutuk perbuatan pria bertopeng itu.

“Manusia terkutuk! Iblis!” William mengutuk pria bertopeng itu, yang malah menertawakannya.

“Ini semua salahmu, William! Jika saja, kau mau membuka mulut mu, mungkin sekarang, istrimu yang cantik ini masih bernafas.” Pria bertopeng itu terkekeh, disamping jasad Stephanie, yang sudah tidak bernyawa.

“Tidak usah banyak bicara! Kau dan aku sama-sama tahu, bahwa kau di perintahkan untuk menghabisiku, setelah misi mu selesai.”

“Hahaha! Ternyata kau sudah tahu. Baiklah! Itu artinya, aku sudah tidak perlu lagi bermain-main denganmu.” Selesai berkata begitu, pria itu langsung menyabetkan samurai di tangannya, ke arah William.

Brrukk!

Tubuh William terkapar dengan leher hampir putus, terkena sabetan pedang pria bertopeng tadi. Darah segar memercik ke segala arah, dan mengucur deras dari leher William. Melihat ayahnya terkapar, Hanna menjerit histeris, membuat pria tadi mengalihkan pandangannya, ke arah Hanna.

Mengetahui dirinya dalam bahaya, buru-buru Hanna mengunci pintu dan mencari benda yang dapat dipakai sebagai penahan, agar pria itu tidak bisa mendobraknya, dan masuk ke dalam kamar.

“Brakk, brakk, brakk!

Suara pintu di dobrak dari luar. Hanna mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan melihat meja rias ibunya. Dia lalu mendorong meja itu, dengan sekuat tenaga. Keringat bercucuran dari dahi dan pelipisnya. Selesai mendorong meja, Hanna mencari ponsel ibunya, dan menelepon polisi.

Telepon tersambung, seorang petugas menyapa di seberang sana. Dengan panik, Hanna menceritakan kejadian di rumahnya secara singkat. Petugas itu menyuruh Hanna untuk tenang, dan menanyakan alamat bocah itu. Setelah memberikan alamatnya, petugas di seberang sana, meminta Hanna untuk tidak mematikan sambungan telepon sampai polisi datang. Hanna pun menyanggupinya.

Dia duduk di bawah jendela, dengan kedua kaki di tekuk, menghadap ke arah pintu. Sementara tangannya tetap memegang ponsel di telinga. Gedoran dan dobrakan di pintu semakin kuat, sedikit demi sedikit meja itu mulai bergeser. Daun pintu itu, bahkan sudah sedikit terbuka sekarang. Tiba-tiba saja, sebuah tangan terulur, masuk melalui celah pintu.

“Yuhuuu! Anak manis, ayo buka pintunya, sayang! Aku tau kau ada disana. Hehehe!” suara orang itu membuat Hanna semakin takut.

Hanna yang panik, kembali menjerit histeris, dan menjatuhkan ponsel di tangan. Dia bangkit dan mendorong meja itu sekuat tenaga.

Tangan itu terjepit pintu, membuat pria di luar, berteriak kesakitan. Sumpah serapah keluar dari mulutnya.

Hanna, melihat tangan itu, bergerak-gerak, berusaha untuk lepas dari sana. Sejenak dia terpaku, menatap tangan yang baru saja membunuh ayahnya itu. Ada sebuah tato dengan bentuk matahari, setengahnya saja. Saat bengong seperti itu, tiba-tiba pria bertopeng mendorong dengan kuat. Hanna yang sedikit lengah, terjatuh, kepalanya membentur ujung meja.

Dia meringis kesakitan, lalu meraba pelipisnya yang sedikit perih. Ternyata kepalanya mengeluarkan darah. Pandangan Hanna menjadi buram, dan dia terhuyung dengan rasa pusing yang sangat, lalu gelap.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BURONAN
9.5
Sammy, eks-militer yang kabur dari penjara akibat fitnah keji, kini menjadi buronan Interpol demi melacak adik angkatnya. Di tengah pelarian, ia terpaksa bertahan hidup sebagai pembunuh bayaran berdarah dingin. Kehidupannya mulai berubah saat ia jatuh hati pada Rheyna. Namun, dilema besar menghantam Sammy ketika ia mendapati bahwa target eliminasi berikutnya merupakan sosok penting yang sangat dekat dengan wanita yang dicintainya tersebut.
Sampul Novel Dendam seorang Janda
9.5
Kehidupan Mutia hancur setelah suaminya tewas dalam kecelakaan. Alih-alih mendapat simpati, ia malah difitnah menggoda pria beristri oleh keluarga mendiang suaminya, lalu diusir hingga mengalami insiden tragis yang merusak wajahnya. Lewat operasi rekonstruksi wajah, Mutia terlahir kembali dengan identitas baru. Kini, ia siap menuntut keadilan dan membalaskan dendamnya kepada setiap orang yang telah merusak hidupnya. Simak aksi berani Mutia dalam membalas rasa sakitnya.
Sampul Novel Dewa perang jadi Pengawal Pribadi CEO
9.8
Xion, seorang petarung tangguh yang baru saja kembali, memilih jalan hidup tak terduga dengan menjadi sosok pelindung di balik bayang-bayang seorang CEO wanita yang sangat menawan. Di tengah kembalinya sang jagoan, ia membawa misi ganda yang membara dalam dirinya. Xion bertekad untuk menuntut balas atas setiap dendam masa lalu yang belum terselesaikan, sekaligus membalas semua kebaikan yang pernah ia terima. Kisah aksi romantis modern ini penuh dengan perjuangan dan kesetiaan yang mendalam.
Sampul Novel KEBANGKITAN HADES BAKER
9.1
Hades, pemuda berparas menawan, memperoleh peluang emas untuk hidup kembali demi membalas dendam atas kematian orang tuanya. Terlempar ke tahun 2001, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan di masa lalu tersebut. Dengan strategi cerdik, Hades mulai mengumpulkan kekayaan melimpah dan memperkuat dirinya. Perjalanan lintas waktu ini menjadi langkah awal baginya untuk mengubah takdir sekaligus menuntut keadilan atas masa lalunya.
Sampul Novel Kekayaanku, Keluarga Benalunya
9.0
Sebagai dokter bedah saraf kaya, aku membiayai suami kaptenku dan keluarganya yang parasit, bahkan melunasi utang 75 miliar mereka. Namun saat liburan mewah ke Monako, suamiku malah memberikan kursi jet pribadiku pada mantan kekasihnya, Dahlia, dan membuangku ke penerbangan berbahaya. Setelah menyaksikan pengkhianatan mereka di ranjangku sendiri di tengah persekongkolan jahat itu, kini saatnya aku membalas dendam dan menghancurkan segalanya.
Sampul Novel Keturunan Terakhir!
9.5
Zha, pemimpin mafia Legion Of Death berjuluk Gadis Pecinta Asap, bertekad membalas kematian ayahnya dengan memburu sisa keturunan Klan Jangkar Perak. Berbekal petunjuk tato jangkar, misinya berubah drastis setelah sebuah peluru mengungkap adanya chip manipulasi di tubuhnya sejak bayi. Begitu chip itu dilepas, tato jangkar justru muncul di kulitnya. Zha kini menghadapi kenyataan pahit tentang siapa pewaris sejati yang dicarinya.