APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel INNOMINATUS : THE LOST CHILD

INNOMINATUS : THE LOST CHILD

Seorang ilmuwan ambisius menjatuhkan kutukan kejam pada bocah tanpa nama. Ia memprediksi anak itu akan selamanya terisolasi, tanpa hubungan apa pun, dan dikhianati dunia hingga kehilangan segalanya. Namun, sang bocah justru tersenyum misterius tanpa rasa takut. Ia berani menantang balik ucapan sang profesor, menegaskan bahwa akhir dari takdir ini masih menjadi teka-teki yang belum terjawab oleh siapa pun.
Bab
Bagikan

Bab 3

Dengan kemenangan itu beberapa dari mereka yang menontonnya terlihat tersenyum dengan sangat menyeramkan.

Itu bukanlah bakat yang di dapat hanya dengan mengandalkan eksperimen. Lebih besar dan menyeramkan, itu adalah insting hewan buas untuk memburu mangsanya.

Beberapa tahun terakhir ini tidak pernah ada bakat sealami ini yang mampu menarik perhatian mereka. Ini terlalu menarik dan mendebarkan.

''Sial. Itu sangat indah. Aku jadi ingin merasakan sensasi dari tetesan darahnya~''

''Tenanglah. Jika kita ceroboh Zero bisa menyadari keberadaan kita.''

''Dia benar. Jangan gegabah atau Master akan kecewa.''

Di balik kerumunan itu, beberapa anak mulai berbisik-bisik. Aura mereka berbeda dari yang lain.

''Cih.''

Kemenangan yang ia raih membuat seseorang kesal. Perasaan yang ia tujukan mengarah pada pribadi Zeta yang baru. Itu adalah pandangan penuh kebencian.

''Ada yang ingin melanjutkan pertandingan?''

''......''

''Aku anggap jawabannya tidak.''

Dengan begitu pertandingan pun berakhir.

''Zero, tunggu. Ada yang ingin kutanyakan.''

''Apa?''

''Sebelumnya aku merasakan aura yang sangat mengerikan. Darahku seperti mendidih dan itu.....sangat luar biasa. Aku tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya.''

''Lalu?''

''Apa kau tahu itu siapa? Aku ingin melawannya. Mungkin aku akan menemukan sesuatu.''

''Sebenarnya apa yang sedang kau cari?''

"Aku tidak paham."

"Semakin aku melihatmu kau seperti sedang tersesat."

Itu bukanlah jawaban yang di inginkannya.

Apa yang sedang ku cari?

Kenapa aku mencarinya?

Pertanyaan itu berputar di atas kepalanya. Semakin ia memikirkannya, kegelapan yang sangat pekat muncul di hadapannya.

''.....eta.''

''Zeta!''

''Ugh. Maaf.''

''Itu salahku. Mengenai seseorang yang kau maksud, aku tidak tahu. Aku tidak pernah merasakannya. Anak-anak disini tidak sekuat yang kau kira. Itulah kenapa aku menggunakan eksperimen lagi.''

''Jadi, sebelumnya kau pernah melakukannya?''

''Empat tahun yang lalu sebuah penyakit mematikan muncul pada tubuh salah satu anak. Kami tidak punya obat maupun seorang dokter. Aku berusaha semampuku dan takdir berkata lain. Satu per satu anak yang terjangkit meninggal. Ada 79 anak yang meninggal akibat penyakit tersebut.''

''Ditengah kekacauan itu, suara iblis berbisik padaku. 'Bukalah pintu itu dan hidupkan mereka.' Aku kacau dan aku menurutinya. Ternyata isinya adalah alat-alat eksperimen. Mungkin tempat ini dulu digunakan untuk melakukan uji coba pada manusia. Banyak bercak darah yang menempel di dinding dan sudah mengering. Beberapa alatnya masih bisa di gunakan. Dan aku melakukan eksperimen itu dengan di bantu oleh Phi, anak yang selalu ada di dekatku.''

''Dengan menyuntikkan sejumlah virus dan perbaikan pada beberapa bagian tubuh yang rusak, anak-anak yang meninggal dapat hidup kembali. Hanya saja dikarenakan otaknya sudah mati tubuhnya terlihat seperti zombie. Dengan berpatokan pada teori bahwa otak yang masih berfungsi dapat menahan virus tersebut, aku bisa menyempurnakan eksperimenku.''

''Jadi, pada akhirnya kau mencobanya pada anak yang masih hidup?''

''Tidak. Aku menangkap seorang anggota militer yang kebetulan melewati tempat ini. Dan seperti teoriku, dengan otak yang masih berfungsi virus itu sangat ampuh. Dia menjadi seorang zombie, namun tetap memiliki pemikiran sendiri. Tubuh yang kuat dan tidak bisa merasakan sakit, serta kecerdasan yang meningkat adalah senjata yang sangat sempurna.''

''Lalu dimana dia sekarang?''

''Mati. Virusnya semakin kuat dan secara perlahan memakan otaknya. Tubuh itu hanya bertahan selama 3 hari.''

''Pada akhirnya gagal juga.''

''Tidak sepenuhnya. Dengan ruang isolasi mereka lebih bisa dikendalikan secara mental. Yah walaupun itu juga bisa membuat mereka gila secara bersamaan."

''Kau lebih menarik dari yang kuduga.''

''Kuharap itu pujian.''

''Satu lagi. Dari mana datangnya anak-anak yang lain? Seharusnya jumlah kalian tidak sebanyak ini.''

''Sama sepertimu. Mereka berasal dari luar dengan latar belakang yang tidak diketahui.''

''Apa kau yakin diantara mereka tidak ada mata-mata pemerintah?''

''Aku tidak tahu. Jika sudah waktunya mereka pasti akan muncul."

''Kau terlalu optimis. Akan sayang sekali jika sosok sepertimu terkubur ditempat ini.''

''Aku hanya mengikuti arus. Itu saja.''

''Aku tidak bisa memahami dirimu.''

''Dan aku tidak ingin dipahami olehmu.''

Senyuman tipis terpatri diwajah mereka berdua. Hubungan yang tidak menentu terjalin dengan sendirinya. Mereka tidak butuh memahami ataupun dipahami. Cukup dengan percakapan ini mereka bisa saling melindungi punggung masing-masing.

Itu adalah ikatan yang tidak bisa Zeta pahami, namun ia menikmatinya.

'Ini akan semakin sulit untuk di percaya olehnya. Aku harus menyingkirkan anak itu.' Gumam seseorang di balik pintu itu. Tatapan penuh kebencian semakin menguat dari matanya.

''Aku pergi dulu.''

''Ya.''

***

Setelah percakapan selesai aku turun ke bawah menuju kamarku.

''Zeta.''

Seseorang memanggilku.

''Ah, kau...''

''Phi. Itu namaku. Maaf aku terlambat memperkenalkan diriku.''

''Tidak masalah. Lalu ada apa?''

''Ikut aku. Aku akan memperkenalkan tempat ini padamu.''

Kami berkeliling. Suasana hening dan mencekam terasa begitu nyata.

Sepanjang perjalanan, Phi bercerita padaku. Lavianno memiliki nama lain, yaitu Invi Aedificium yang berarti bangunan yang tidak terlihat. Letaknya yang berada jauh didalam tanah sangat sulit terdeteksi apalagi seluruh bangunan dibangun dengan batu sehingga alat pendeteksi logam tidak terlalu berguna.

Kedalamannya berkisar 800 meter hingga 1500 meter. Itu bukan kedalaman yang biasa. Entah bagaimana dan berapa lama serta siapa yang menggalinya tidak ada yang tahu.

Beberapa catatan yang tersisa di perpustakaan menjadi sumber informasi saat ini.

''Ini adalah perpustakaan. Buku yang memuat tentang tempat ini hanya ada 10 buah selebihnya hanya buku kosong saja.''

Untuk sebuah perpustakaan ini cukup besar. Ada sekitar 15 rak besar dengan satu rak memuat 300-400 buku. Hanya saja bukunya kosong tidak ada tulisan sama sekali. Buku tentang Lavianno hanya memiliki 3 lembar yang terisi tiap bukunya.

Ini terlalu aneh. Untuk apa mereka membuat perpustakaan sebesar ini jika isinya adalah buku kosong.

Setelah itu perjalanan berlanjut. Tak ada yang spesial dari tempat ini. Perpustakaan, kamar tidur yang sangat banyak dengan beberapa perlengkapan seadanya, kantin, kebun buatan mereka untuk bertahan hidup, dan yang paling menarik perhatianku adalah ruangan tertutup yang tidak pernah dibuka karena tidak memiliki lubang kunci ataupun gagang pintu seperti pintu pada umumnya. Mereka sudah mencoba berbagai cara untuk membukanya hanya saja tidak membuahkan hasil. Total ada 24 ruangan tertutup yang masih belum bisa dibuka hingga saat ini.

Pada masing-masing pintu terdapat simbol-simbol aneh. Rasanya aku pernah melihat itu di suatu tempat.

Entahlah. Aku tidak ingat.

Setelah kami menelusurinya, ada 3 pintu yang tidak memiliki simbol dan warna pintunya berbeda dari yang lain. Semua pintu yang terdapat ditempat ini berwarna putih polos, sedangkan ketiga pintu ini berwarna hitam pekat. Teksturnya kasar berbeda dengan yang lain. Ini terlihat seperti-

''Ayo. Kita ke tempat lain.''

Entahlah. Pikiranku seperti melayang.

''Dan ini tempat terakhir. Ini adalah satu-satunya pintu menuju dunia luar. Itu dulu. Sekarang tidak lagi.''

''Apa maksudmu?''

''Pintu ini tidak lagi terbuka sejak 5 tahun yang lalu. Alat untuk menyangga batunya menghilang dan tertutup permanen. Di satu sisi itu kabar bagus karena dengan begitu tidak akan ada lagi yang bisa menemukan tempat ini. Namun disisi lain, tempat ini juga menjadi kuburan.''

''Tunggu. Jika pintu ini tidak pernah terbuka, lalu bagaimana aku bisa masuk ke tempat ini?'

''Itulah yang di takuti oleh Zero. Mungkin tempat ini bukan tidak bisa ditemukan, tapi sengaja di sembunyikan oleh seseorang. Mungkin juga pintu itu bisa di buka dari luar dan mungkin juga ada yang membukanya dari dalam. Bagaimanapun itu bukan kabar baik. Itulah kenapa ia mengulang eksperimen yang sama dengan metode yang berbeda."

''Lalu menurutmu, apa kali ini eksperimen itu akan berhasil?''

''Tidak. Kebanyakan anak yang masuk ke tempat itu berakhir gila bahkan ada yang mati. Meskipun ada yang selamat butuh waktu yang sangat lama untuk mengembalikan kewarasannya."

Phi benar. Meskipun memiliki kekuatan yang besar jika mentalmu lemah maka kekuatan itu akan menjadi sia-sia. Tapi, jika efeknya demikian kenapa Zero memutuskan untuk terus melanjutkan eksperimen itu?

''Jika tempat ini memang tertutup, bagaimana kalian bisa tahu perkiraan waktu yang terjadi?"

''Disini ada 5 jam. Satu di aula, di perpustakaan, di depan ruang tertutup, di kamar Zero, dan di ruang eksperimen.''

'' Itu jam yang kalian pasang?''

''Bukan. Itu juga sudah ada sejak dulu. Jamnya masih hidup hingga saat ini."

"Begitu, ya."

Tempat ini benar-benar menyimpan banyak misteri. Jam yang masih berfungsi padahal sudah bertahun-tahun. Tak mungkin baterainya tidak diganti. Apa ada seseorang yang diam-diam mengganti baterainya? Tapi, untuk apa?

''Jujur saja tempat ini sedikit menyeramkan bagiku. Hawanya terlalu dingin.'' Phi menggosok-gosok tubuhnya untuk menghangatkan dirinya.

''Benarkah? Aku justru merasa nyaman disini."

Cukup aneh.

Di sepanjang perjalanan kami, aku sering kali merasa di ikuti dan hawa dingin terasa begitu dekat dengan kulitku. Aku tidak percaya pada hantu, tapi mungkin aku akan mengubahnya. Sosok tidak kasat mata lebih menyeramkan karena tidak bisa di sentuh. Sekalipun aku ingin menyerangnya aku tidak bisa menggapainya. Lebih baik aku melawan 1000 makhluk hidup daripada 1 arwah.

''Phi.''

''Apa?''

''Kenapa kau berbohong?''

''Hah? Apa maksudmu?''

''Sejak awal aku tidak merasakan kejujuran dalam ucapanmu.''

''Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti?''

''Apa kau akan mengkhianati Zero?''

''Sebenarnya apa yang kau bicarakan? Mengkhianati Zero? Jangan konyol. Zero sangat berarti bagiku. Bagaimana mungkin aku akan mengkhianatinya? Kurasa perjalanan ini kita akhiri saja. Mungkin tempat ini memang ada penghuninya.''

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Aku dan Phi menghabiskan waktu selama 5 jam untuk berkeliling.

Setelah itu aku kembali ke kamarku. Ada banyak hal yang terus mengganggu pikiranku. Aku tidak bisa tidur.

Terlalu banyak hal aneh ditempat ini baik keberadaannya maupun isinya. Kamar ini juga terlalu bagus untuk tempat yang di tinggal lama. Area ini tidak pernah disentuh oleh siapapun, tapi lihatlah kamarnya sangat rapi. Kasurnya tidak berdebu dan selimutnya juga sangat bersih.

Lantainya juga tidak berdebu sama sekali. Jelas-jelas kamar ini telah di bersihkan sebelumnya, tapi kenapa Phi mengaku bahwa tempat ini tidak pernah di datangi?

Jadi, dia memang berbo-

Tok... Tok....

Ketukan pintu dimalam hari? Dan juga hanya ada aku di area ini.

Dengan sigap aku membuka pintu, tapi aku tidak melihat siapa-siapa.

Hanya ada lorong gelap tidak berujung yang terlihat. Tak ada lampu penerangan yang menyala.

Bulu kuduk ku mulai berdiri. Mungkinkah ini penghuni yang selalu mengawasiku?

Kurasa aku akan meminta Zero supaya di pindahkan ke kamar lain.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Banyu-2 tak tergenggam dan yang lepas.
9.2
Sebuah surat misterius tiba-tiba datang kepada Banyu. Isinya menyatakan bahwa ia terpilih sebagai avatar setelah dipantau selama enam bulan oleh tim rahasia. Meski diliputi keraguan dan kecurigaan, ia diminta hadir di Jalan Lembayungkuning No. 17, tepat di sebelah kantor MNG Group, untuk menjalani wawancara penjelasan. Didorong rasa penasaran dan ketakutan, Banyu nekat mendatangi lokasi. Keputusan berani ini menjadi titik awal petualangan besar yang mengubah hidupnya.
Sampul Novel Istriku Berasal Dari Kerajaan Medang
9.1
Kirana Ayu Wening, seorang gadis dari masa lalu Kerajaan Medang, mendadak terlempar ke masa depan sejauh 1024 tahun. Di tengah kota modern yang asing baginya, ia dipertemukan dengan Yodha, seorang pekerja yang tengah patah hati. Yodha pun tulus membantu Kirana beradaptasi dengan zaman baru ini. Bersama-sama, keduanya kini harus melewati badai kesedihan, kebingungan, hingga kebahagiaan demi memulai lembaran hidup yang benar-benar baru.
Sampul Novel Jasper dan Misteri Sang Raja Kerajaan Almekia
8.7
Di Almekia, kerajaan futuristik yang dikuasai seorang ratu, Pangeran Jasper menyimpan rasa penasaran mendalam tentang mendiang ayahnya. Identitas sang raja sengaja dirahasiakan rapat oleh pihak istana. Demi mengungkap kebenaran, Jasper bersama Diamond, Zircon, dan Opal nekat melanggar hukum kerajaan. Meski kini berstatus buronan dan menghadapi berbagai bahaya, mereka terus berjuang menembus misteri besar yang menyelimuti Almekia.
Sampul Novel Kembali Ke Masa lalu, Merelakan Suamiku
7.9
Sepuluh tahun pernikahan penuh kebencian berakhir tragis saat Richard Starling tewas demi menyelamatkan istrinya dari kecelakaan. Kematian itu meninggalkan penyesalan mendalam bagi semua orang, termasuk mertua yang menyalahkan sang istri. Ketika penemuan mesin waktu tiga tahun kemudian memberinya kesempatan kedua, sang protagonis memutuskan kembali ke masa lalu. Kali ini, ia bertekad melepaskan hubungannya dengan Richard dan membiarkannya hidup bahagia tanpa dirinya.
Sampul Novel Pedang Ikatan Darah
8.3
Pedang Ikatan Darah menyajikan kisah misteri modern berselimut fiksi ilmiah yang menegangkan. Demi menyelamatkan adik angkat mereka, orang tua kandung sang protagonis tega membawanya ke meja hijau untuk merebut paksa jantungnya. Di bawah pengawasan panel berisi seratus orang, sebuah teknologi komputer mutakhir digunakan untuk membongkar isi memori mereka demi menentukan kepemilikan organ tersebut. Meski dituduh berhati keji dan diduga akan melarikan diri, ia justru hadir di persidangan. Namun, saat proyeksi ingatannya mulai diputar di hadapan publik, rahasia masa lalu yang terungkap justru menguras air mata semua orang.
Sampul Novel Poligraf
8.4
Dalam dunia fiksi ilmiah remaja ini, sentuhan fisik menjadi pendeteksi kebohongan yang mematikan, membuat rahasia tidak lagi aman. Ketika batas antara kebenaran dan tipu daya mulai kabur akibat kekuatan misterius tersebut, sang tokoh utama harus menghadapi konsekuensi yang mengancam hidupnya. Apakah kejujuran mutlak ini akan membawa kedamaian yang dicari, atau justru menjadi pemicu kehancuran total bagi mereka?