APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ikuti Saja Mau-Nya

Ikuti Saja Mau-Nya

Manusia kerap menganggap takdir Ilahi tidak adil. Namun, kisah romansa modern ini mengulas sudut pandang berbeda dari seorang hamba yang menjalani garis hidupnya tanpa mengeluh. Berbekal keyakinan penuh, ia percaya waktu akan menunjukkan bahwa keputusan Sang Pencipta adalah yang terbaik. Lewat kepatuhan serta kesabaran dalam berserah diri, ia membuktikan bahwa rencana Tuhan selalu menyimpan hikmah yang sangat mendalam bagi umat-Nya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sejak kejadian malam itu, aku percaya bahwa, meski tempatku berjualan sepinya bukan main, jika sudah rezeki pasti akan datang dengan sendirinya.

Setiap malam perlahan mulai bertambah hasil penjualannya. Memang tidak besar, tapi lima hingga sepuluh ribu begitu berharga untukku yang baru memulai usaha seperti ini.

Namun, terkadang juga aku hanya bisa gigit jari saat sedang apes. Jangankan untung banyak, bahkan modal saja kadang tidak tertutupi. Jika sedang sepi pembeli, gorengan yang tak terjual akan jadi lauk makanku dan Nayla esok paginya.

Meski begitu, kami belum mau menyerah, lagipula sampai saat ini belum ada panggilan kerja yang masuk, jadi lebih baik berusaha sebaik mungkin agar asap dapur tetap mengepul.

Usahaku tidak sampai disitu saja, terkadang aku menerima pekerjaan lepas, entah itu sekedar mencabuti rumput liar atau kuli panggul di gudang grosir milik Uni Fadila.

Hasilnya memang tidak besar, itu pun kalau memang ada panggilan, jika tidak, ya mencari lagi pekerjaan lainnya. Sempat terpikir untuk memulung juga, tapi pemilik kontrakan tidak mengizinkan jika kontrakannya nanti kotor oleh hasil memulung, akhirnya ku urungkan niatan itu.

"Apa Nay ambil kerja cuci gosok ya, Bang?"

"Enggak usah, masalah cari uang itu tugas Abang."

Kuraih sepatu boot milikku, hari ini ada panggilan kerja mencabuti rumput di rumah Bu Tono. Kesempatan tidak boleh disia-siakan, selagi ada dan masih bisa dikerjakan.

"Tapi Nay kasihan sama Abang, siangnya capek, malam harus jualan juga."

"Mumpung ada panggilan, enggak baik nolak rezeki, lumayan bisa untuk tambahan modal dagang. Udah ya, Abang jalan dulu. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikum Salam."

Dengan Bismillah, ku langkahkan kakiku menuju rumah Bu Tono, berharap hari ini mendapat upah yang lumayan untuk modal tambahan. Siapa tahu jika daganganku lebih bervariasi akan menarik pembeli.

***

Bu Tono adalah orang kaya kedua setelah pemilik kontrakan tempat aku tinggal, rumahnya besar, luas dan mewah. Saking luasnya, bahkan halaman dan tamannya saja terhampar luas nan indah.

Orang satu kampung saja sudah biasa menyebutnya toko perhiasan berjalan, karena perhiasan emasnya begitu banyak sampai bertumpuk pada setiap jarinya.

Kemarin lusa dia datang ke rumah, Bu Tono bilang tukang kebunnya sedang pulang kampung, jadi dia meminta tolong padaku untuk datang hari ini.

"Langsung kerjakan saja, Bang Adi," titahnya.

"Apa saja yang harus saya kerjakan, Bu?"

"Cabut rumput liar, potong daun yang layu, lalu siram semua pohonan saya."

"Baik, Bu."

"Itu kalau nyiram diperhatikan tekanan airnya, jangan sampai nanti malah merusak kebun saya."

"Baik, Bu."

Bu Tono kembali masuk ke dalam rumahnya, tidak lama kemudian pembantunya datang membawa sebuah gelas dan satu teko besar air putih.

Selagi masih pagi, aku harus segera menyelesaikan semuanya, kasihan Nayla akan kerepotan jika menyiapkan dagangan seorang diri.

***

Teriknya sinar mentari yang membakar kulitku, serta cuaca yang terasa panas tidak menyurutkan semangat kerjaku. Kini hanya tinggal menyirami tanamannya. Setelah ini, aku akan langsung pulang dan membantu Nayla, jadi setidaknya aku ingin beristirahat meski hanya satu jam saja.

Perutku sebenarnya lapar, apalagi ini sudah lewat dari jam makan siang, tapi Bu Tono hanya menyuguhiku air putih saja.

Biasanya aku disuguhi sedikitnya makanan kecil untuk pengganjal perut, Meksi hanya biskuit atau roti, tapi ini benar-benar hanya air putih saja.

Daripada mengeluh, lebih baik segera ku selesaikan pekerjaan ini, lalu pulang dan makan siang di rumah. Percuma jika terus menggerutu, tidak akan melepas rasa laparku juga.

Akhirnya semua pekerjaan sudah terselesaikan, mungkin memakan waktu sekitar tiga jam lamanya karena taman Bu Tono cukup luas.

"Bang Adi, Ibunya tidur siang. Ini upahnya, katanya," ucap pembantu Bu Tono seraya menyerahkan amplop putih padaku.

"Bilang sama Ibu, terima kasih. Saya pamit dulu ya, Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikum Salam."

Ku langkahkan kakiku pergi, perutku sudah tidak bisa lagi diajak kompromi jika harus menunggu lebih lama lagi.

Setibanya di rumah, ternyata Nayla sudah menyiapkan makan siang untukku. Memang tidak mewah, hanya sayur asem dan tempe goreng, tapi apapun yang dia masak tetaplah sedap, apalagi dimakan setelah lelah bekerja.

Aku menyantapnya dengan lahap, mungkin juga karena saking lelahnya sampai nafsu makaku jadi berlipat, tidak terasa nasi yang Nayla suguhkan hampir habis jika aku tidak menahannya.

"Pelan-pelan, Bang."

"Masakan kamu enak soalnya. Kamu dan anak-anak sudah makan?"

"Sudah Bang, tinggal Abang saja. Maaf enggak nunggu Abang pulang."

"Enggak apa-apa, lagian Abang juga terlalu sore pulangnya. Kalian makan saja duluan, jangan suka nungguin Abang pulang."

Nayla bangkit lalu pergi ke dapur, tidak lama kemudian dia kembali membawa serta satu gelas penuh air minum untukku.

"Minum, Bang."

"Terima kasih, Sayang."

Setelah selesai makan siang, aku berniat hanya mengistirahatkan diri dengan berbaring santai, tapi karena saking lelahnya aku tak sadar kalau kini sudah terlelap.

***

"Bang ... Abang, bangun."

Sayup suara Nayla membangunkanku dari mimpi, aku kaget saat melihat jam di dinding ternyata hari sudah sore. Saking lelahnya, setelah makan aku tidak sadar sudah tertidur pulas.

"Maafin Abang, Nay. Kebablasan begini."

"Nggak apa-apa, Bang. Pasti capek banget, sampai pulas begitu."

"Ayo kita belanja bahan untuk gorengan, biar Abang antar."

"Enggak perlu, Bang. Tadi Nay sudah beli sendiri, sekalian ajak anak-anak jalan-jalan."

Aku merasa bersalah, padahal niatku ingin meringankan bebannya hari ini, tapi karena terlalu lelah semua rencana itu hancur begitu saja.

"Oh ya, kalau begitu ambil ini."

Kuserahkan amplop putih pemberian Bu Tono, Nayla meraihnya dengan senang. "Alhamdulillah," gumamnya.

"Abang belum lihat isinya, kamu buka saja sendiri."

"Iya, Bang."

Nayla membukanya dengan penuh semangat. Namun, saat amplop itu berhasil dibuka, Nayla terdiam seketika.

"Kenapa, Nay?"

"Lain kali jangan mau kalau disuruh Bu Tono, Bang."

"Kenapa?"

Nayla mengeluarkan uang yang ada didalamnya, isinya uang pecahan dua ribu rupiah sebanyak enam lembar, pantas saja agak tebal.

Nayla terisak, mungkin dia kesal karena tenaga Suaminya disepelekan oleh orang lain. Aku juga kecewa, tapi tidak bisa apa-apa karena memang tak mematok tarif setiap kali dimintai tolong.

Kurengkuh Nayla Istriku, mencoba sedikit menenangkannya yang kini tengah terisak-isak.

"Jahat sekali Bu Tono, Bang."

"Sudah, mungkin Bu Tono memang hanya punya segitu. Disyukuri saja."

"Tapi, Ban—"

"Sudah, kita ikhlaskan saja. Anggap saja sedekah, uangnya mau kamu simpan?"

Nayla menggeleng pelan. "Mau masukkan kedalam kotak amal saja, biar semakin ikhlas sekalian," jawabnya seraya menghapus bulir air matanya.

"Ternyata ada yang lebih miskin dari kita ya, Bang," lanjutnya.

Aku hanya tersenyum simpul, biarlah jadi pelajaran untuk kami. Orang kaya memanglah banyak, tapi belum tentu juga kaya hatinya. Biarlah, aku ikhlas.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Sang Lady Killer
9.8
Daniel Millard, CEO berkuasa dari Millard Corporation, dikenal sebagai penakluk wanita ulung. Namun, takdirnya berubah drastis setelah ia bertemu dengan Anya. Sosok Anya membangkitkan sisi lain diri Daniel yang selama ini tersembunyi, terutama saat ia menyadari bahwa perempuan itu terikat dengan masa lalunya yang kelam. Daniel pun bertekad untuk terus menggenggam Anya, sosok istimewa yang sangat berbeda dari wanita mana pun di hidupnya.
Sampul Novel Dendam Sang Pelukis: Cinta yang Ditebus
8.6
Alana Maheswari menderita di pernikahan ketiganya. Damian, sang tunangan, tega menyiksanya demi Elina. Setelah karier melukisnya hancur dan dirinya dibuang terluka di hutan, Alana enggan menyerah. Demi menyelamatkan keluarga serta bisnisnya, ia menghubungi pria misterius dari masa lalunya. Alana pun merelakan semua asetnya demi menjalani pernikahan kontrak sebagai jalan keluar untuk membalas dendam.
Sampul Novel Gairah Baby Maker
9.1
Sesekali Aida melirik genit sambil memberi kode lewat gerakan alisnya. Dari posisi jongkoknya, daster tipis yang ia kenakan tak mampu menyembunyikan lekuk paha mulus serta detail pakaian dalamnya yang menerawang akibat sorotan cahaya matahari sore. Pemandangan menakjubkan itu seketika membuatku terpaku. Aku terpaksa menahan gejolak hasrat liar dan berulang kali menelan ludah, merasa sangat haus akan godaan nyata yang kini tersaji tepat di depan mataku.
Sampul Novel Gairang seorang pembantu penggoda
8.3
Demi menyokong keluarganya, Hana yang baru berumur dua puluh tahun nekat merantau dan bekerja jadi pelayan di rumah seorang triliuner rupawan. Terbuai oleh harta, ia sengaja memikat sang majikan hingga terseret dalam hubungan rahasia yang penuh gairah di dalam mansion mewah tersebut. Semua itu ia lakukan demi uang. Namun, rasa jenuh akhirnya datang dan ia ingin menyudahi segalanya. Sanggupkah Hana membebaskan diri dari jeratan materi dan kepuasan yang menggiurkan yang membelenggunya?
Sampul Novel I Love You My Secret Daddy
9.5
Kehidupan mapan Aisyahzaara Bellova seketika runtuh usai ayahnya menikah kembali. Di belakang sang ayah, ibu tiri menyiksanya dengan kejam. Demi kebahagiaan ayahnya, gadis berusia 17 tahun ini memilih memendam penderitaannya sendiri. Karena sangat mendambakan kasih sayang yang hilang, ia nekat terjun menjadi sugar baby. Siapa sangka, sosok pria yang menjadi daddy rahasianya justru menyimpan rahasia besar yang siap menjungkirbalikkan seluruh takdir hidupnya.
Sampul Novel Istri Pengganti Yang Tak Dicintai
9.6
Demi memulihkan nama baiknya dari fitnah pencurian, Keira terpaksa menjadi istri Ezra Leighton, pria yang seharusnya menikahi mendiang saudarinya. Namun, Ezra yang didera kesedihan mendalam hanya memandang Keira dengan kebencian. Di tengah dinginnya pernikahan tanpa cinta ini, Keira berjuang bertahan. Tanpa diduga, tabir misteri seputar kecelakaan maut saudarinya perlahan mulai tersingkap dan siap mengubah jalan hidup mereka.