APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ikatan Hati

Ikatan Hati

Kehancuran melanda keluarga Bimantara setelah sesosok bayi misterius ditinggalkan di depan pintu rumah mereka. Sebuah surat yang menyertai bayi tersebut menuduh Adrian Bimantara sebagai ayah kandungnya. Kabar mengejutkan ini langsung memicu kekacauan besar di dalam keluarga. Kini, Adrian terpaksa menghadapi tuduhan berat itu sambil berusaha mengungkap siapa orang tua asli sang bayi, di tengah ancaman kehancuran hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Suara bel yang kencang terdengar di seluruh penjuru rumah. Tak memakan waktu lama pintu utama segera terbuka dan menampakkan seorang perempuan paruh baya dari balik pintu.

“Selamat malam. Selamat datang di kediaman Bimantara.” Sapaan hormat dilontar oleh perempuan paruh baya yang terlihat seperti petugas pelayanan di kantor-kantor jasa. “Mau bertemu siapa?” tanyanya sopan.

Gadis berkuncir satu ini mengangguk kikuk, “Se-selamat malam. Sa-saya mau ketemu yang punya rumah, katanya mereka lagi cari babysitter. Jadi, saya mau calonkan diri.”

“Silahkan masuk. Saya akan panggil Tuan rumah.” Ujar perempuan paruh baya ini. Bergeser sedikit dari pintu sehingga menciptakan celah.

Perempuan yang masih kelihatan sangat muda ini mengangguk lagi lalu berjalan masuk sambil memperbaiki tali tas yang tersampir di pundak mendahului perempuan paruh baya yang mungkin adalah asisten atau maid–entahlah. Dia dipersilahkan duduk di sofa di ruang tamu, sementara perempuan tadi menghilang di lorong yang kemungkinan memanggil sang Tuan rumah.

Selagi menunggu, dia memandangi keadaan ruang tamu. Dekorasinya simple. Empat sofa berbeda ukuran mengelilingi sebuah meja persegi panjang yang dilapisi taplak bermotif bunga dan dihiasi bunga plastik. Dindingnya dihiasi lukisan pemandangan alam. Hanya begitu. Tidak ada aksen lain. Yah, begini saja sudah cukup, sih.

Seorang perempuan datang ke ruang tamu sembari menggendong bayi. Duduk di hadapan si gadis berpakaian sederhana dan memandanginya intens. Sedang si bayi tampak sibuk menggigiti mainan karet berbentuk bebek.

“Maaf ...,” suara Nyonya Bimantara mengalihkan fokus perempuan di depannya, “Kamu mau mencalonkan diri sebagai babysitter? Kamu yakin?” dia kira yang datang adalah seorang perempuan yang sudah berumur seperti kebanyakan ART yang bekerja di rumah. Tapi, ternyata masih sangat muda. Apa tahu cara merawat bayi?

Untuk merawat si gembul, Rosa tak mau memperkerjakan sembarangan orang. Nanti cucunya juga dirawat sembarangan. Apalagi banyak kasus pengasuh anak yang kasar pada anak yang diasuh. Pun, dia kira putra bungsunya menghubungi agen penyalur pembantu. Tapi, perempuan itu datang sendiri. Tanpa agen? Bagaimana bisa sampai kemari?

Si gadis berkuncir satu ini mengukir senyum kecil lalu mengangguk. “Saya punya pengalaman mengasuh bayi, saya yakin, Bu.” Katanya.

Sang Nyonya Bimantara masih belum bisa meyakinkan dirinya. Meski punya pengalaman, entah mengapa dia tak dapat percaya begitu saja. Rosa berusaha tersenyum agar perempuan di depannya tidak merasa terlalu cepat di tolak, “Um ..., saya bicarakan sama suami dan anak-anak saya dulu, ya. Sebentar ....” bangkit berdiri dan beranjak dari ruang tamu.

Malam begini, anggota keluarga Bimantara biasanya berkumpul di ruang tengah. Meski melakukan kegiatan masing-masing; pastinya mereka ada di sana. Rosa buru-buru menghampiri sang suami yang sedang menonton televisi.

“Pa ..., ada yang mau jadi babysitter untuk Bian,” ujar Rosa memberitahu.

Adnan yang sedang mengetik di laptop mendongak, “Loh, bukannya bagus, Ma? Langsung ada yang datang ke sini.”

“Aku nggak masukin alamat rumah ini di iklan.”

Kalimat si bungsu membuat anggota yang lain saling pandang bertatapan–kecuali si gembul yang tidak peduli dan hanya fokus memencet-mencet mainan karetnya.

Mereka diam beberapa saat hingga semuanya bergegas meninggalkan ruang tengah menuju ruang tamu. Di sana sosok perempuan berkuncir satu dan berpakaian sederhana duduk di salah satu sofa. Menunduk sambil menautkan ke sepuluh jarinya. Agam berdeham membuat gadis itu mengangkat kepala dan melihat seluruh anggota Bimantara berdiri di dekatnya.

Memandangi mereka satu-persatu hingga sorotnya terhenti sewaktu bertatapan dengan si bungsu. Gadis ini cepat-cepat mengalihkan perhatian.

Sang Kepala keluarga diikuti istri serta anak-anaknya menempati semua sofa ruang tamu. Menatap perempuan yang datang ke rumah mereka mengatakan ingin menjadi babysitter.

“Bisa perkenalkan diri kamu?” sang Tuan rumah–Agam–angkat bicara.

Si gadis berkuncir satu mengangguk, “Saya Rabia Anjasari. Sembilan belas tahun. Lulus SMA tahun lalu. Saya punya pengalaman mengasuh bayi.”

Agam mengangguk. Masih sangat muda. Lulus tahun lalu pula. Mestinya bisa mencari pekerjaan lain dibanding menjadi babysitter atau pengasuh. Hm ....

“Gimana kamu tahu kalau kami yang buat iklan mencari babysitter?” Adrian bertanya. Merasa ganjil terhadap perempuan di depannya. Darimana dia tahu rumah ini? Dia sama sekali tidak mencantumkan identitas apapun tentang Bimantara.

Perempuan bernama Rabia ini tidak mau memandang ke arah Adrian. Dia sedikit menunduk dan menjawab pertanyaan itu, “Ma-maaf. Saya nggak sengaja dengar waktu bantu bawain barang-barang di depan toko.”

“Toko? Toko apa?”

“Saya nggak tahu pastinya, tapi nama tokonya Rosa Galery.” Jelas Bia, tetap tak mengarahkan pandangannya pada si bungsu yang mencecar pertanyaan.

Rosa tersentak. Gerak-gerik sang Nyonya tertangkap mata oleh Agam dan Adnan. Sontak saja si sulung mendelik pada mamanya. Nah, sekarang mereka tahu siapa yang membocorkan identitas–mereka yang mencari babysitter. Adrian sendiri menghela ketika nama galeri sang Mama disebut. Berarti Rosa dan Bia secara tak sengaja bertemu lalu seakan diajak kemari untuk bekerja.

“Ya udah. Tapi, apa kamu yakin bisa jadi babysitter? Kamu masih muda, pasti bisa cari pekerjaan lain yang lebih pantas.” Usul Rosa. Rasanya tidak tega mengijinkan si gadis muda menjadi pengasuh bayi. Tidak elit sama sekali.

Kepala yang rambutnya diikat satu makin menunduk, “Saya ... semua dokumen-dokumen saya hilang karena di rampok. Saya dari desa, kalau balik lagi ... ma-maaf, kalau Tuan dan Nyonya terima saya, saya bersedia nggak dibayar. Tapi, ijinin saya tinggal di sini. Saya nggak punya tempat tinggal.”

Rosa dan Agam saling berpandangan. Merasa iba pada perempuan di hadapan mereka. Sang Nyonya Bimantara mengalihkan tatapan pada kedua putranya. Berbicara dari ekspresi mereka. Adnan setuju dan tidak merasa keberatan, sedang Adrian tampak tak yakin.

“Rabia, begini ... kalaupun kami setuju, kamu harus bisa ambil hati Bian,” kata sang Nyonya lalu memposisikan si bayi di pangkuannya menyebabkan mainan karet yang sejak tadi menjadi fokus si gembul jatuh, “Dia yang nentuin apa kamu bisa jadi pengasuhnya.

“Saya ngerti, Bu.” Balas Bia pasrah.

“Nah, coba kamu panggil,” pinta Rosa.

Yah, meskipun si bayi tidak rewel dan mau saja digendong orang lain, tapi belum tentu mau begitu saia menerima orang baru di sisinya. Apalagi Rabia akan hampir dua puluh empat jam berada di dekat Bian. Bisa jadi bayi ini mulai rewel dan menolak. Tidak mau berdekatan dengan pengasuhnya. Karena Adrian sewaktu kecil juga begitu. Suka dengan siapa saja yang menggendongnya, namun menolak tiap pengasuh yang bertugas menjaganya. Alhasil Rosa tak bisa lepas mengawasi si bungsu.

Hm, apa sifat Bian akan seperti Adrian? Buah kan jatub tidak jauh dari pohonnya.

Akhirnya kepala Bia terangkat, memandang bayi di pangkuan Rosa–yang terus melihat ke bawah dimana mainannya jatuh–dengan pandangan rindu. Tanpa diketahui siapapun, bibir gadis ini memoles senyum tipis. Ujung bibirnya naik sedikit. Dia mengangguk atas permintaan sang Nyonya, “Bian ....”

Bayi yang tengah menunduk itu menengadah saat merasa dipanggil. Irisnya yang berbinar bertemu sorot teduh dari perempuan di depan. Abian yang memang sedang tak terlalu aktif tiba-tiba tertawa. Tangannya memanjang seakan ingin menggapai Bia bersamaan dengan tubuhnya terdorong ke depan.

“Ah! Mm! Mm! Mmm~!” si gembul mengeram. Memaksa tubuhnya maju. Ingin segera meraih orang yang ada di depannya.

Mau tak mau Rosa bangkit lalu menyerahkan Bian pada Bia. Bayi itu kegirangan, melompat-lompat di dekapan si perempuan berkuncir satu.

“Aah!” kedua tangan kecil si gembul menepuk pipi Bia, senyum tak pudar dari wajahnya. “Aaah! Mm! Mm-mm-mah! Mah!” dia terus berceloteh dengan bahasa sendiri.

Melihat itu ... tampaknya Bian menerima si perempuan yang akan menjadi pengasuhnya. Para Bimantara lain juga yang selama beberapa hari ini melihat si gembul tidak tahu jika Bian bisa selincah dan seceria itu bersama seseorang. Dia kelihatan sangat menyukai perempuan bernama Rabia tersebut.

Kamu kangen, ya? Sama. Mama juga kangen banget sama Abi. Retina coklat milik Bia berbayang. Buliran bening menumpuk di mata. Dia pengin nangis!

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ace Tribes
9.5
Akibat kutukan dari perundungan kawanannya, Chryssant Elettra alias Ysee terlempar ke benua Earthalic. Ia hampir kehilangan nyawa saat dituduh oleh Putra Mahkota Remus Valez sebagai dalang penyerangan suku Ace. Begitu kebenaran terungkap, Ysee dipaksa bekerja sebagai pelayan pribadi di kediaman Remus. Namun, eksistensinya di sana justru membongkar rahasia-rahasia kelam yang terkubur. Mereka tidak menyadari bahwa keduanya hanyalah pion dalam rencana besar yang mengancam kehancuran.
Sampul Novel Gairah Liar Pembantu Lugu
7.9
Pasca-perceraian akibat hasrat yang tak terpenuhi, Valdi menjalani hidup yang terasa kosong. Kehadiran Mayang, gadis lugu anak mendiang pelayannya, menjadi celah bagi muslihat Valdi. Dengan memanfaatkan kepolosan Mayang, pria berpengalaman ini berniat memuaskan gairah terpendamnya. Mayang yang naif kini terjebak dalam manipulasi dan permainan dewasa yang penuh risiko. Akankah ia sanggup menyelamatkan diri, atau justru selamanya terbelenggu dalam jerat kendali Valdi?
Sampul Novel Kehamilan Berujung Perceraian
8.3
Enam tahun pernikahan hancur seketika di hari jadi mereka. Sang istri mendapati unggahan media sosial Erika, wanita masa lalu suaminya, Regha, yang memamerkan kehamilan dan perhatian pria itu. Meski Regha berdalih hanya membantu donor tabung reaksi, kenyataan bahwa suaminya berbohong demi menemani Erika periksa kandungan tak bisa dimaafkan. Di tengah hinaan Regha tentang dirinya yang belum hamil, sang istri menatap hasil tes kehamilannya sendiri dengan hati yang membeku. Cinta delapan tahun ini pun berakhir.
Sampul Novel Maaf, Kami Pernah Berzina
8.5
Demi tanggung jawab persaudaraan, aku terpaksa menikahi Niken yang sedang mengandung anak dari Nara, adik angkatku. Nara sendiri telah terjebak dalam pernikahan paksa bersama Nada. Situasi menjadi pelik saat muncul tuntutan gila agar aku menodai Nada demi memberinya keturunan. Hal ini terjadi karena Nara bersumpah enggan menyentuh istrinya demi menjaga kesetiaan pada Niken. Kini, aku terjebak dilema moral: haruskah aku merusak kehormatan Nada yang sebenarnya wanita baik-baik?
Sampul Novel Secret Affair
8.0
Pernikahan Raquel Brons selama lima tahun hancur setelah sebuah foto misterius mengungkap perselingkuhan suaminya. Karena gugatan cerainya selalu ditolak pengadilan, Raquel nekat mencari pria simpanan untuk memancing sang suami agar mau berpisah. Di tengah rencana tersebut, datang seorang pria yang menawarkan bantuan. Namun, kehadiran sekutu baru ini malah menumbuhkan perasaan cinta tak terduga, mempersulit usahanya meraih kebebasan.
Sampul Novel Warisan Rahasia Ayahku
7.8
Dunia Ravina Aleysha Pratama, dokter muda putri mantan Menteri Kesehatan, runtuh akibat kasus korupsi sang ayah. Di masa sulit ini, ia berhadapan dengan Darian Mahendra Arsatama, direktur rumah sakitnya yang kaku dan menuntut kesempurnaan. Interaksi penuh konflik di antara mereka berubah selamanya setelah sebuah malam impulsif terjadi. Kini, rahasia kelam keluarga mereka mulai terkuak, mengubah rasa benci menjadi jalinan asmara yang rumit.