APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ibuku Kuyang?

Ibuku Kuyang?

Kecurigaanku memuncak saat Ibu tiba-tiba enggan makan bersama kami. Suasana desa pun makin mencekam dengan rumor hilangnya bayi-bayi secara misterius. Keanehan berlanjut karena setiap tengah malam, Ibu selalu menghilang tanpa jejak. Rahasia gelap apa yang sebenarnya dia sembunyikan? Aku mulai meragukan sosok yang telah melahirkanku tersebut. Apakah dia benar-benar manusia biasa, ataukah sesosok siluman mengerikan?
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku membuka mata, cahaya mentari menelusup di balik celah jendela. Sudah pagi? Rasanya tidak tertidur malam tadi. Masih bergidik ngeri sekaligus penasaran dengan penampakan semalam itu.

"Kak, dipanggil Nenek," kata Dinda yang tiba-tiba muncul. Aku yang tersentak hanya bisa memelotot sambil berkacak pinggang.

"Aku baru bangun, lho. Disuruh ngapain, sih?" ucapku jengkel sambil menggaruk-garuk kepala.

"Mana Dinda tau. Cuma disuruh panggilin Kak Rasya."

Aku berdeham lalu menyuruhnya keluar. Paling juga Nenek menyuruhku membeli sesuatu. Eh, tapi ke mana Ibu, ya?

"Din! Lihat Ibu gak?" tanyaku menghentikan bocah itu.

"Lha, Ibu udah berangkat ke sekolah, Kak. Kenapa?"

Ya ampun! Cepat sekali ia berangkat. Ketika siang hari, ia seperti manusia pada umumnya. Bekerja, mengurus rumah tangga, juga bercengkerama dengan tetangga. Namun, jika malam tiba, kadang Ibu menjadi sosok yang lain. Nada bicara dingin, kadang hanya diam di teras entah memikirkan apa.

Awalnya aku mengira, ia pusing memikirkan pekerjaan. Sebagai guru, pasti ada saja masalah di sekolah atau dengan guru lain. Seringkali aku memintanya bercerita, tapi selalu dibalas tatapan kosong dan tajam.

Aku menghampiri Nenek. Jangan sampai ia marah karena lambat memenuhi panggilannya.

"Kenapa, Nek?" tanyaku santun. Nenek yang sedang memakan nasi kuning itu mendongak, lalu mengangguk beberapa kali.

"Semalam kamu ngapain masuk ke kamar Ibumu? Cari apa sampe gak ngetuk pintu dulu?"

Jantungku berdetak lebih cepat. Rupanya Nenek tahu aku memasuki kamar Ibu semalam. Lantas, ketika aku berteriak meminta tolong, mengapa tidak satu pun orang datang?

"Em ... Rasya cuma penasaran, Nek. Gak cari apa-apa kok!" jawabku sebisa mungkin menyembunyikan rasa gugup.

"Penasaran apa?" tanyanya lagi.

"Penasaran kenapa Ibu jarang makan bareng lagi, Nek."

"Rasya. Nenek ingatkan sekali lagi. Kamu jangan masuk ke kamarnya tanpa izin. Gak sopan!" kata Nenek memperingatkan. Aku mengerutkan dahi, apa perlu izin segala?

"I–iya, Nek."

"Jangan penasaran. Nenek gak mau kamu stres sebelum waktunya."

Aku yang tak paham maksud perkataan Nenek hanya manggut-manggut agar cepat berakhir. Wanita berumur hampir 60 tahun yang masih terlihat awet muda itu mengangkat piring dan berjalan ke dapur. Secara fisik, harusnya ia sudah mulai lelah dan tak kuat. Namun, kenyataannya masih sering membantu Kakek bekerja.

***

Ibu pulang dengan wajah penatnya. Ia merebahkan diri di sofa lalu memejamkan mata. Aku pun berinisiatif membuatkan minuman dingin. Rasanya merinding ketika dekat-dekat dengannya. Terbayang lagi ketika Ibu mengunyah daging manusia itu.

"Minum dulu, Bu," ucapku sembari meletakkan es kopi di atas meja.

"Iya, taruh situ aja. Kamu sama adekmu udah makan?" tanyanya tanpa membuka mata.

"Udah, Bu. Barusan selesai. Ibu udah makan?"

"Udah di kantor tadi."

Tuh, 'kan? Pasti alasannya sudah makan duluan.

"Ada roti di tas Ibu. Bagi sama adekmu," titahnya. Aku mengiyakan lalu membuka tas hitam bermerek itu.

Dua bungkus roti yang belum pernah kulihat itu tampak menggiurkan. Lelehan cokelat yang timbul di balik adonan rotinya. Ah, Ibu baik sekali. Aku memang suka mengemil.

Karena tugas rumah belum selesai, aku meletakkan roti itu di dalam toples. Ibu masih beristirahat, bukan waktu yang tepat bertanya tentang sosok di dalam kamarnya.

***

Tak terasa, malam lagi ....

Aku menonton televisi di ruang tamu, sedangkan Dinda bermain dekat kamar Ibu. Aku terus mengawasinya karena Nenek dan Kakek izin keluar, sedangkan Ibu? Seperti biasa, ia hilang.

Acara yang menyenangkan, sampai tak sadar Dinda tidak ada di sini! Panik, aku terus memanggil bocah itu. Tidak menjawab, akhirnya aku membuka semua pintu kamar.

Terakhir, kamar Ibu. Nenek telah melarangku, tapi keadaannya memaksa. Tak apa, lagipula ia tidak ada di rumah.

Pintu terbuka, aku pun memanggil pelan nama Dinda. Lampunya tak bisa dinyalakan. Ke mana bocah itu? Dinda takut gelap, ia tak mungkin berlama-lama di ruangan ini.

"Dinda?" panggilku lagi.

"Dinda! Jangan bikin Kakak takut!"

Duk, duk, duk!

Aku mendengar itu, ya dari sana! Karena gelap, aku keluar dan mengambil ponsel, menyalakan senter lalu kembali lagi ke kamar itu. Asal suaranya dari sana, lemari tua yang sepertinya tak digunakan lagi. Usang, banyak sarang laba-laba.

"Kamu di dalam, Din? Ngapain coba?"

Ketika aku hendak menyentuh gagang pintu itu, tiba-tiba lemarinya terbuka sendiri dan sesuatu keluar dari dalam sana. Aku berteriak sembari loncat ke belakang. Senter kuarahkan ke depan, ada rambut?

Mendekat, lebih dekat.

"Dinda?! Astaga, Dek, kenapa bisa begini?"

Aku memukul-mukul pipinya pelan, ia tak sadarkan diri. Khawatir, aku langsung merengkuh tubuh mungil itu erat-erat. Entah apa yang terjadi padanya sampai pingsan di lemari.

"Kak, Dinda takut ...," lirihnya.

"Takut apa, Din?"

"Tadi ada usus terbang. Lewat situ," jawabnya sambil menunjuk atap pojok atas. Aku menelan ludah, merinding mendengar jawabannya.

Ibu, apakah itu engkau?

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ANAK KETIGA
9.7
Sebuah karya lukis legendaris menyimpan misteri kelam di balik keindahan goresan kuasnya. Kanvas ini bukan pajangan biasa, melainkan saksi sejarah yang sarat intrik mengerikan. Perlahan, asal-usul karya seni tersebut mulai terungkap, membangkitkan teror masa lalu yang siap menghantui setiap mata yang memandangnya. Kisah mencekam ini akan mengungkap rahasia dan jejak kelam yang selama ini tersembunyi rapat di balik estetika semu.
Sampul Novel Jeritan yang Tak Terdengar
8.4
Sebuah petaka menimpa Yolanda di hari ulang tahunnya sendiri. Sang ayah yang murka menuduhnya telah mendorong sepupunya yang belajar balet hingga mengalami cedera kaki. Tanpa ampun, sang ayah memukuli kaki Yolanda dengan tongkat hingga ia tak berdaya dan tidak sanggup berteriak. Demi memberi pelajaran, tubuh Yolanda yang sekarat dilempar ke dalam ruang bawah tanah yang gelap. Namun, saat pintu itu akhirnya dibuka kembali, sang ayah hanya mendapati jasad putrinya telah hancur dan membusuk.
Sampul Novel Mr. Devil
8.1
Hidup Ellena hancur setelah ayah kandungnya sendiri tega menjualnya demi ambisi bisnis yang kotor. Kini, ia menjadi tawanan di mansion megah milik Hogue, sosok vampir kejam dengan hasrat menyimpang yang kerap menyiksa fisiknya. Diperlakukan layaknya budak tanpa harga diri di bawah kekuasaan pria sadis tersebut, Ellena terjebak dalam penderitaan yang tiada akhir. Mampukah ia bertahan hidup menghadapi segala kekejaman Hogue?
Sampul Novel NURHAYATI
8.2
Kepanikan luar biasa melanda warga Karang Pandan sejak hadirnya arwah perawat yang meneror klinik lokal. Kemunculan sosok mistis yang mengerikan ini seketika menjadi pusat perhatian publik. Di balik kehebohan yang mencekam tersebut, ada sebuah rahasia gelap yang telah lama disembunyikan. Kini, misteri besar seputar jati diri hantu perawat itu mulai terbongkar satu per satu, mengancam kedamaian hidup seluruh penduduk di sana.
Sampul Novel Perempuan Bersuami Dua
9.6
Kehidupan rumah tangga Mak Bayah sangat tidak biasa. Dukun desa ini tinggal bersama dua suami sekaligus dalam satu rumah secara damai. Namun, keharmonisan tersebut menyimpan misteri besar. Di balik itu semua, Mak Bayah memiliki ambisi yang sangat gelap. Mengandalkan ilmu hitam dan kemampuan mistisnya, ia siap melakukan apa saja demi memikat pria mana pun yang ia dambakan. Saat obsesinya telah memuncak, tidak ada satu orang pun yang mampu menghentikan niatnya.
Sampul Novel Tumbal lukisan
9.5
Kota gempar oleh hilangnya gadis-gadis muda secara misterius. Kini, Hani dalam bahaya besar setelah diincar menjadi tumbal berikutnya oleh sebuah keluarga misterius. Ternyata, keluarga penuh rahasia itu memiliki hubungan kelam dengan masa lalu Hani yang lama terkubur. Demi menyelamatkan nyawanya agar tidak lenyap selamanya, Hani harus melawan teror mengerikan dan membongkar alasan sebenarnya di balik pemilihan dirinya.