APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ibu Pengganti untuk Bayi Bapak Kos

Ibu Pengganti untuk Bayi Bapak Kos

Eva terjebak pernikahan kontrak menjadi ibu pengganti bagi anak bapak kosnya. Mengira hanya perlu mengasuh bayi tersebut, ia justru menghadapi tuntutan cinta dari sang suami. Di sisi lain, Eva masih berpacaran dengan kekasihnya. Kini, ia berada dalam dilema besar antara mempertahankan kesetiaan pada pacar atau menyerah pada perhatian intens suaminya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah ucapan spontan yang diucapkan Eva. Yang membuat wajahnya dan wajah bapak kos berubah kaget. Keduanya kompak membuang muka karena salah tingkah.

Eva tidak memiliki pemikiran lain dari perkataannya. Dia hanya ingin meminta izin mencium bayi itu juga, tapi waktu yang dipilihnya ternyata salah. Perkataan yang membuatnya malu karena kesalahpahaman di pemikiran keduanya.

"Saya ... saya ke supermarket depan dulu. Titip Arumi. Saya segera kembali. Secepatnya." Bapak kos segera pamit untuk menghindari kegugupan dan rasa canggung yang masih membungkus Eva dan dirinya.

Eva hanya mengangguk pelan.

Ditinggal berdua dengan bayi mungil itu membuat Eva tidak bisa melakukan hal banyak selain mengajak bayi itu berinteraksi. Eva tidak berani meninggalkan tempat duduknya karena khawatir kalau-kalau ada sesuatu yang hilang dari rumah ini, pasti dia yang akan dituduh. Meskipun Eva tidak pernah punya niat mengambil apapun, tapi namanya masalah akan menghampiri walaupun bukan dia penyebabnya.

Sesaat, Eva menunjukkan mainan bebek plastik ke depan wajah Arumi, tiba-tiba tangisan bayi itu pecah. Eva panik dan buru-buru ingin menggendongnya. Dia bingung harus menggendong dengan bersandar di dada dan bertumpu di bahunya atau menggendong dengan membaringkan di lengan.

"Aduh, gimana sih cara gendongnya?" tanya Eva pada diri sendiri.

"Lehernya udah bisa nahan nggak sih ini? Kalau berdasarkan umurnya, udah bisa. Tapi kalau pas aku gendong ternyata belum nahan lehernya, gimana dong? Bisa-bisa, aku bunuh anak orang."

Eva bolak-balik menyentuh lengan bayi itu. Ragu-ragu menyelimutinya. Masih dengan pikirannya yang berusaha mencari jalan keluar, dia dikejutkan dengan tangisan bayi itu yang semakin kencang.

Tanpa pikir panjang lagi, dia mengangkat bayi itu dan membuat lengan yang tidak seberapa panjang itu sebagai penyangga bayi itu. Memastikan kepala, leher, punggung dan pantat bayi tertahan dengan baik.

Eva menimang-nimang agar bayi itu tenang. Cukup lama Eva melakukan itu sambil mengeluarkan suara yang mengungkapkan rasa sayang pada bayi itu. Sesekali dia juga memasang ekspresi ikut sedih. Akhirnya, bayi itu diam dan menatap lurus pada Eva.

Eva bernapas lega melihat bayi itu sudah diam. "Sayang, kamu kenapa nangis-nangis, huum? Tenang ya, ada Kakak Eva yang jagain. Ututututut sayang-sayang."

Eva tidak sadar jika dia menggendong Arumi keluar rumah saking paniknya. Dia terus-menerus menggoyangkan tangannya agar bayi dalam gendongannya merasa nyaman.

Tawa Eva pecah ketika melihat bayi itu kesulitan membuka mata karena silau dengan cahaya luar rumah.

"Kenapa, Sayang? Silau ya?" tanya Eva gemas. "Mau masuk aja ya? Nggak sanggup melihat di sini? Iya?"

Eva berbalik hendak masuk kembali ke dalam rumah. Tetapi, suara teriakan memanggil namanya membuat dia berbalik lagi. Dan betapa kagetnya Eva ketika melihat ada orangtuanya terpaku di sana. Eva yakin, yang meneriakinya tadi adalah mamanya. Sedangkan, di belakang mama, ada ayahnya yang menatap kecewa Eva.

"Ma-mama, Papa. Kok mereka bisa ada di sini?"

Dengan langkah lebar, mama dan papa Eva mendekat. Setibanya di hadapan Eva, tatapan tajam itu berganti menatap bayi dalam gendongan Eva.

"Eva! Ini bayi siapa?!" tanya mama Eva penuh penekanan.

"Ini, ini tuh ... ini anak ...," Eva gugup sekaligus takut pada kemarahan mamanya. Dia tidak tahu penyebab kemarahan mamanya. Tapi itu benar-benar menakutkan.

"Eva! Mama tanya, ini bayi siapa?! Apa ini bayi kamu? Jadi ini alasan kamu nggak pernah mau balik ke rumah kalau libur kuliah. Ternyata, kamu punya anak di sini?"

"Ma, bukan gitu. Ini bukan bayi aku. Tapi tolong, mama jangan teriak-teriak di depan bayi ini. Itu nggak baik untuk anak ini. Dia belum bisa mendengar suara terlalu keras. Kalau dia terkejut bisa bahaya, Ma."

"Eva! Berani sekali kamu menegur mama!" Mama Eva semakin murka.

"Ma, bener kata Eva. Jangan berteriak di dekat bayi." Papa Eva berusaha menenangkan dengan mengusap lembut lengan istrinya.

"Papa, diam saja!" bentak Mama Eva menepis tangan papa Eva. "Anak ini sudah membohongi kita. Dia tidak pernah pulang selama libur kuliah. Sudah 2 tahun, dia tidak pulang-pulang. Itu pasti karena bayi ini. Dia menyembunyikan bayi ini dari kita. Pergaulannya bebas di sini, Pa."

"Mama!" Eva ikut meninggikan suara. Menegur ucapan mamanya yang mulai melantur.

Dia tidak terima dituduh macam-macam oleh mamanya sendiri. Memang benar, dia tidak pulang selama dua tahun. Itu karena dia malas mendengar ocehan mamanya dan tante-tante yang punya mulut besar itu. Dia malas dituntut harus bisa ini dan itu.

Teriakan Eva menganggu bayi itu. Bayi mungil itu menangis kencang. Pasti bayi ini merasa tidak nyaman dengan suasana di sekitarnya yang memanas. Tangisan bayi itu mengisi ruang-ruang kosong pertengkaran antara Eva dan mamanya.

"Mama, nggak tahu apapun yang terjadi di sini. Mama nggak seharusnya menuduh aku seperti itu. Aku anak mama. Apa pantas seorang ibu menuduh anaknya dengan keburukan?"

"Eva! Mama ...." Ucapan mama Eva terpotong oleh kehadiran dan suara panik seseorang.

"Eva, Arumi kenapa?" Bapak kos yang bernama Rafa itu segera mengambil alih bayinya. Dia berusaha menenangkan bayinya dan tidak memperhatikan kehadiran orang tua Eva yang menatap bingung padanya.

"Nak. Cup-cup-cup-cup, udah ya sayang nangisnya." Rafa berusaha mengentikan tangisan bayinya.

"Eva! Dia, ayah dari bayi itu?" tanya Papa Eva dengan suara tenang.

"Iya, Pa." Kali ini, Eva bisa menjawab dengan suara terkontrol. Matanya tidak lepas dari bayi mungil itu. Sepertinya bayi itu ketakutan. Dia terus menangis.

Mama Eva yang mendengar jawaban putrinya hendak menarik kerah baju Rafa, namun ditahan Eva. Dia menatap Eva dengan tatapan tanya. Dia menjadi geram karena dihentikan.

"Ma, jangan memperkeruh masalah. Eva nggak mau dibuat malu oleh dugaan melantur Mama."

"Lihat anak ini. Lihat, Pa. Dia sudah berani membela pria itu secara terang-terangan. Mama tidak salah lagi. Kalian ...." Mama Eva tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Dia berbalik memunggungi Eva.

"Eva, bantu dia tenangin bayi itu dulu. Papa mau tenangin mama dulu. Nanti kita lanjutkan bicara. Papa percaya sama kamu."

Mata Eva berkaca-kaca menatap papanya. Dia, Papa Eva adalah orang paling Eva sayangi dan hormati. Papa Eva memiliki watak tenang dan bijaksana, selalu menilai segala sesuatu dengan pandangan luas. Berbanding terbalik dengan mamanya yang tidak sabaran, posesif dan suka marah-marah. Tapi, dibalik sifat bertolakbelakang orangtuanya, Eva sangat menyayangi mereka. Sifat yang berbeda itu justru menghidupkan rumah mereka. Itulah kejutan dari seorang jodoh.

"Eva, nggak seperti yang mama pikir, Pa. Papa harus percaya itu. Aku akan menjelaskan semuanya ketika mama sudah tenang. Biar mama bisa menilai bahwa Eva tidak melakukan apapun apalagi bertindak bodoh seperti yang mama pikirkan."

Papa Eva mengangguk dan tersenyum. Dia menepuk sekali pundak putrinya dan menarik istrinya sedikit menjauh dari rumah utama.

"Pak, maafin saya dan orang tua saya ya. Arumi sampai nangis ketakutan begitu." Eva mendekat ke Rafa. Dia menundukkan wajah, malu dengan keributan yang dia sebabkan.

"Tidak apa-apa, Eva. Arumi mungkin kaget dengan suara keras. Itu bukan kesalahan kamu."

"Pak, boleh saya gendong Arumi. Biar saya yang tenangin dia. Aku penyebab dia nangis, karena itu aku harus bertanggung jawab."

Setelah Rafa mengangguk, Eva memindahkan Arumi ke pelukannya. Dia melakukan hal yang sama saat dia menenangkan Arumi tadi—sebelum mama dan papanya datang.

Berhasil.

Arumi berhenti menangis dan berusaha meraih wajah Eva. Di depan mereka, Rafa terpesona dengan kemampuan Eva menenangkan bayinya.

'Semudah itu, Eva mampu mendiamkan Arumi.' Rafa membatin.

Rafa tertegun, kemudian berdeham. Dia menyadari suatu hal. "Sepertinya, Arumi menyukaimu," celetuk Rafa.

"Hah!" Eva kehabisan kosakata.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ditakdirkan untuk Pria Terkaya di Dunia
8.1
Usai dikhianati tunangannya dalam kondisi mengandung, Livia hampir kehilangan nyawa hingga terpaksa melarikan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali dan menolong seorang anak kecil yang rupanya putra dari miliarder paling kaya. Sang konglomerat pun hadir melindunginya, menumpas semua musuh, serta membungkam saudara perempuan Livia yang jahat lewat klaim pernikahan rahasia mereka. Kini, Livia yang kebingungan harus menghadapi godaan sang suami misterius yang mendambakan anak kedua.
Sampul Novel Hari-hari Dimanjakan Paman
8.7
Demi menghindari kencan buta yang buruk, Pamela nekat mencium pria asing tampan yang lebih tua bernama Agam. Tindakan ini membuat Agam menuntut pertanggungjawaban penuh. Pamela mencoba mengelabui Agam agar memejamkan mata lalu melarikan diri, tetapi rencananya gagal. Agam justru menangkap dan memanjakannya siang malam. Ketika Pamela kembali mencoba kabur, sang paman terus mengejarnya dan memastikan bahwa gadis itu tidak akan pernah bisa lolos dari genggamannya.
Sampul Novel Hasrat Terpendam Suamiku
8.6
Pernikahan paksa antara Sophia yang angkuh dan Albert, sang casanova, berjalan dingin dan penuh konflik. Namun, seiring waktu, benih cinta justru tumbuh di hati Sophia. Ia mulai menyadari adanya hasrat terpendam yang membara di balik sikap acuh tak acuh suaminya tersebut. Kini, Sophia bertekad mencari cara agar Albert mau jujur mengakui perasaan aslinya. Mampukah mereka mengatasi kekacauan hubungan ini dan bersatu dalam ikatan cinta yang tulus?
Sampul Novel Kematian Anakku, Perceraianku!
9.2
Kematian tragis Louis di bilik kamar mandi dengan luka kepala parah menjadi awal kehancuran rumah tangga ibunya. Thomas, sang suami sekaligus kepala sekolah, justru mengabaikan putranya yang sekarat demi menyelamatkan anak dari cinta pertamanya. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Louis hanya meminta ibunya untuk memercayainya. Di hari pemakaman, Thomas yang tidak tahu putranya telah tiada justru menelepon dan mengancam akan menghabisi Louis. Keputusan bulat pun diambil untuk mengakhiri pernikahan mereka.
Sampul Novel Rintihan Sekretaris Suamiku
7.9
Eva Renata adalah istri setia yang tulus mengurus suaminya, Ebin Permana. Namun, pernikahan mereka hancur saat Ebin tergoda oleh Dinda, sekretaris barunya. Stuart, sang asisten, melihat langsung perselingkuhan Ebin di hotel ketika Eva menanti di rumah. Kebohongan ini terbongkar saat Eva datang ke kantor dan mendengar suara mesra dari dalam ruangan suaminya. Dengan hati yang hancur, Eva kini mulai mengawasi gerak-gerik menyimpang Ebin bersama selingkuhannya.
Sampul Novel The Devil
8.8
Trauma mendalam akibat kekejaman sang paman mendorong Alina mengambil keputusan ekstrem. Ia nekat menyerahkan seluruh hidupnya kepada Alardo, sesosok iblis mengerikan, demi mendapatkan perlindungan dan membalaskan dendamnya. Namun, kesepakatan gelap ini justru menjebak Alina dalam perasaan cinta terlarang pada sang iblis. Terseret kian jauh ke dalam kegelapan, akankah Alina mampu menemukan jalan keluar, atau justru hancur selamanya dalam jerat asmara yang mematikan?