APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel I WAS NEVER YOURS

I WAS NEVER YOURS

Menaruh hati padanya adalah kesalahan fatal yang semestinya kuhindari. Namun, rasa ini telanjur mengakar kuat walau rintangan besar menghadang hubungan kami. Tiap kali rasa sayang ini membuncah, kepedihan mendalam justru kian menyiksa batin. Kini, aku terombang-ambing di antara hasrat untuk bersama dan realitas kejam yang tak memihak. Menyayanginya hanya menuntunku pada kepedihan tanpa akhir dan ketidakpastian yang terus menyelimuti takdir kami.
Bab
Bagikan

Bab 3

Si tampan itu, tidak menghiraukan ocehan Cheryl yang mengada-ngada. Teori dari mana, tangan udah nggak perawan hanya salah pegang? Entah dimana pembagian otak anak ini?

"Siapa nama abang? Aku harus tahu alamat rumah, dan nomor handphone." Diam-diam, Cheryl tersenyum. Modus boleh bukan?

Si tampan hanya geleng-geleng, dia memang nggak tahu malu.

"Harusnya yang lapor gitu aku cantik."

Blush!

Dasarnya kurang belaian dan kasih sayang, Cheryl merasa dunianya begitu berwarna sekarang.

Ah, halalin dedek bang!

"Yaudah, biar sama-sama impas, aku Cheryl. Siapa nama abang?" Cheryl mengulurkan tangannya. Padahal, mereka sudah berkenalan tadi.

"Ehem." Mawar berdiri di samping Cheryl. Si tampan itu, tidak menyambut uluran tangan Cheryl. Dan menatap Mawar. Mawar hanya diam, menatap si cowok yang merebut makanannya beberapa kali.

Tanpa sadar, si tampan itu tersenyum simpul pada Mawar, namun Mawar tak bergeming. Ia mundur, mundur teratur. Mawar menyayangi Cheryl lebih dari segalanya. Cheryl bukan sekedar sahabat, tapi keluarga. Bahkan, berkorban apapun akan Mawar lakukan karena Mawar tahu, Cheryl kurang kasih sayang.

"Ish, abang. Nih, cium tangan aku." Cheryl tanpa malu menyodorkan tangannya, pada si tampan. Lelaki tampan itu mengambil tangan Cheryl dan mengecupnya sambil menatap Mawar yang sengaja membuang muka.

"Yes! Calon suami." Cheryl tersenyum begitu lebar. Ia mengklaim bahwa si tampan ini harus menjadi suaminya.

"Impas kan cantik?" Lelaki tampan tersenyum, membuat tubuh Cheryl lembek seketika seperti jelly. Cheryl langsung tak berkutik, irama jantungnya dipompa lebih kuat. Kulitnya nyaris keluar dari dagingnya, ini pengelaman pertama disentuh lelaki. Wajahnya memanas, Cheryl baru tahu, jatuh cinta seindah ini.

"Alamak! Lupa siapa namanya." Pekik Cheryl kuat.

"Mawar, besok kita kesini lagi. Aku harus tahu namanya." Cheryl merangkul pundak sahabatnya. Mawar hanya diam, entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang sesak di dadanya. Namun ia tahu, ia sadar. Soal paras, Cheryl lebih cantik dari dirinya. Lagian, siapa yang mau dengan dirinya yang tukang makan. Bisa-bisa bangkrut pasangannya, jika setiap kencan mereka selalu makan.

"Lihat tangan aku." Cheryl menunjuk telapak tangannya yang dicium tadi. Si tampan harus jadi miliknya, walau seluruh dunia menantang, Cheryl akan berusah segala cara untun lelaki itu menjadi miliknya.

"Ah... aku senang bangat Mawar." Cheryl berjingkrak-jingkrak layaknya cacing kepanasan tersiram minyak kayu putih.

"Aku janji, kalau aku jadian, aku akan traktir Mawar." Cheryl mencubit pipi bulat sahabatnya yang berbentuk seperti bakpau.

Mawar menrenggut kesal. Janji ampas! Karena setiap saat, dirinya terus yang belanja. Cheryl layaknya lintah darat yang terus mengerus makanan dan barang-barang miliknya. Tapi, Mawar menyanyangi Cheryl, persabahatan mereka sudah sampai tahap keluarga.

Kedua sahabat itu saling merangkul dan menuju parkiran.

***

Saking mengebu cinta pada sang pujaan hati, ditambah wajah Cheryl yang terus saja terasa panas. Berkali-kali Cheryl menepuk pipinya, tetap saja rasa panas itu tak kunjung pergi.

Cheryl akhirnya menulis diary. Diary berwarna pink itu, sering kali ia tulis kala hatinya sedang resah, diary yang Cheryl namakan Meredith. Hanya Meredith yang tahu lubuk terdalam Cheryl yang merasa kesepian karena tidak ada orang di sekelilingnya.

Hai, Meredith.

Aku datang, dengan berita bahagia kali ini. Tenang saja, aku sedang tidak ingin terluka sekarang. Kita simpan dulu bagian yang itu.

Kamu tahu Meredith, wajahnya bagaikan purnama, begitu bersinar, senyumnya layaknya madu ditambah pemanis buatan yang ekstra manis. Senyum manisnya mengalahkan cup cake bahkan, lollipop.

Ku harap kamu juga bahagia Meredith mendengar ceritaku kali ini. Awalnya, aku tidak sengaja memegang tet----, aku malu bangat Meredith. Tapi begitu melihat wajahnya, aku tertegun. Bagaimana bisa, ada malaikat berwujud manusia. Dia begitu tampan Meredith. Bolekah aku berkhayal dia suamiku?

Bahkan, dia berani mencium tanganku. Tangan hangat dan lembut itu, membuatku ingin terus berada dalam gengamannya. Aku ingin selalu berada di sisinya. Aku ingin, tangan kecil ini yang digenggamnya terus.

Tapi :"( aku belum tahu namanya siapa, besok kalau sudah tahu namanya, Meredith yang aku kasih tahu pertama.

Meredith, kapan sih aku bahagia?

Cheryl melihat, kertas itu basah karena air matanya.

Maaf Meredith, tadi udah janji. Biar nggak nangis. Tapi aku nggak bisa. Kapan aku dianggap anak? Kapan aku akan tahu siapa ayahku? Orang yang telah memberi sperma itu?

Bahkan sudah 19 tahun nyaris 20 tahun, aku hidup dalam tanda tanya besar. Aku sadar Meredith, mamiku yang cantik menyesal telah melahirkan aku ke dunia. Sepertinya aku hanya pembawa sial bagi hidup mami, bahkan mami tidak sudi seatap bersamaku. Aku janji Meredith, setelah aku kerja, aku tidak akan pernah menyusahkan mami, agar mami bisa menemukan keluarga bahagia untuknya.

Aku sayang bangat sama mami Meredith. Apa mami menyadari itu? Bahkan, mami tidak pernah berada di rumah. Mami risih, berada di sekelilingku.

Aku hanya anak haram yang tidak diharapkan!

Cheryl meremas kertas itu hampir menggoyaknya. Sadar akan perbuatannya, Cheryl mencium diary itu.

"Maaf Meredith. Hanya kamu teman setia aku. Sama Mawar, tapi Mawar tidak mengerti apa yang aku rasakan."

AYAH, DIMANAKAH KAMU? BOLEHKAH AKU TAHU SOSOKMU? BOLEHKAH SUATU HARI AKU MEMELUKMU?

Cheryl mengakhiri curhatannya dengan emot hati yang hancur, seperti asal-usulnya. Selama hidupnya, keluarga yang Cheryl kenal hanya Delisha--Mami dan Mawar bersama keluarganya.

Cheryl naik ke atas ranjang, dan melanjutkan kesedihannya. Di luar tampak seperti manusia tanpa beban, layaknya manusia tanpa tulang, diluar semua orang melihat Cheryl sebagai anak yang begitu disayang keluarga. Jika di dalam kamar kita akan melihat seperti sosok Cheryl sebenarnya. Hanya Meredith yang menyimpan semua keluh kesah Cheryl.

"Semoga kehadirannya, bisa mengobati luka ini." Gadis berpiyama pink menyeka air matanya. Kamar Cheryl begitu gelap, pengap, lembap. Karena ia tak pernah mengurus kamarnya, apalagi Cheryl sendiri di rumahnya, membiarkan gadis itu memelihara sifat malasnya.

Bosan di kamar, Cheryl iseng keluar. Biasa di rumah, Cheryl akan mengunci dirinya di kamar, ia keluar hanya untuk makan. Hanya makan, makanan instan seperti mie dan telur.

Melihat ruang tamu yang lenggang, Cheryl duduk di sofa berwarna hijau tersebut. Biasanya, Cheryl mengintip melihat maminya bermain ponsel di sofa. Cheryl menduduki kursi kebesaran itu, dan mengkhayal ia duduk bersama maminya, bercengkrama seperti seorang ibu dan anak.

Ingin sekali, Cheryl diperlakukan layaknya anak. Cheryl ingin dimanja, Cheryl ingin diperhatikan. Cheryl ingin menjadi ponsel yang diperhatikan setiap saat.

Cheryl ingin sang mami bertanya, berapa IPK, apa sudah punya pacar, atau pernah kissing. Bahkan, Cheryl ingat, pertama kalinya ia mendapat tamu bulanan saat SMP, ingin sekali maminya orang pertama yang tahu, kalau ia sudah remaja. Saat itu, Cheryl hanya menangis, mengira dirinya sudah tak suci, diperkosa atau semacamanya. Namun, karena sering mendengar curhatan dari Mawar, akhirnya Cheryl sadar, dirinya sudah dewasa, menjadi seorang perempuan seutuhnya.

Saat itu, Cheryl malu-malu membeli pembalut di kedai yang jauh dari rumahnya karena malu, naasnya karena pertama kali, Cheryl memakai pembalut itu terbalik. Bukan karena kecerobohannya yang membuat Cheryl sedih, tapi dimana letak dan peran orang tua apalagi seroang ibu?

Cheryl sudah terbiasa dari kecil diabaikan. Bahkan, maminya terkadang tidak pulang ke rumah. Walau ada pun, mereka tidak pernah berinteraksi layaknya manusia normal.

Cheryl mendesah kasar, ia mengalihkan perhatian ke figura-figura cantik berisi foto sang mami, bahkan foto Cheryl tidak dipasang disana. Hal-hal sekecil ini, membuat Cheryl semakin berkecil hati, dan membuat dirinya menyesal dilahirkan. Apa ia salah, menyesal? Sungguh, Cheryl tidak ingin dilahirkan, jika tahu hidupnya akan membuat hidup maminya terpuruk, dan membuat maminya membenci dirinya.

Sederhana sekali, Cheryl ingin maminya menyuruh dirinya, mengomeli dirinya. Cheryl ingin ia dan maminya bercengkrama dan makan malam bersama. Cheryl tahu, maminya sering makan di luar, meninggalkan dirinya yang makan dengan hati yang sakit.

Coba saja, Cheryl punya kekasih ia mungkin tidak terlalu semenyedihkan ini. Ingin sekali, ia dan maminya kompak. Seperti memakai baju dengan model yang sama, sendal model yang sama, atau mungkin gaya rambut. Khayalan sederhana ini, nyatanya tidak pernah terjadi. Mereka layaknya dua orang asing. Sampai pada tahap jahat, Cheryl terkadang ingin nekat tes DNA. Apa benar, dirinya anak kandung atau anak pungut.

"Ah sudalah." Cheryl membuang napas berat.

Cheryl menghidupkan TV, tanpa memperhatikan apa yang ada di layar depan. Pikiran Cheryl menerawang. Semuanya bertentangan, sosok sang mami dan si tampan.

"Besok aku harus tahu namanya, sekalian tahu nomor HP-nya."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ah! Mantap Mas Ramli
8.4
Demi menghidupi tiga anaknya, Ramli bekerja pada pasangan CEO kaya yang belum dikaruniai keturunan setelah lima tahun menikah. Demi uang, duda asal desa ini terpaksa menerima tawaran gila sang majikan pria untuk menghamili istrinya, Vina. Namun, kerja sama ini berubah menjadi hubungan rumit saat Vina mulai nyaman dengannya, terlebih setelah perselingkuhan suaminya terbongkar. Di balik statusnya yang tampak sederhana, Ramli ternyata menyimpan rahasia besar tentang identitas aslinya.
Sampul Novel Ann The Innocent
7.8
Hidup Ann Arthurian, gadis jenius yang malang, penuh penderitaan akibat rundungan di asrama setelah neneknya tiada dan ayahnya dituduh membunuh ibu angkatnya. Nasibnya berbalik saat seorang putra mafia menemukan buku miliknya. Ann kemudian bergabung dengan tim ilmuwan untuk memecahkan kode rahasia negara. Di tengah misi krusial tersebut, misteri kelam tentang asal-usul keluarganya yang sebenarnya mulai terbongkar satu demi satu.
Sampul Novel Candu Dekapan Kakak Ipar
8.5
Menjadi bagian dari keluarga konglomerat justru menjadi siksaan bagi Djiwa. Diperlakukan buruk oleh ibu mertua tanpa pembelaan dari suaminya sendiri, ia merasa terasing di rumah megah tersebut. Namun, kehadiran Radja, kakak ipar tertua yang berwibawa dan dingin, mengubah segalanya. Tatapan intens Radja membangkitkan hasrat terlarang yang berbahaya. Djiwa pun terjebak dalam pusaran dosa manis yang tak bisa ia hindari, menyerah pada sentuhan pria yang seharusnya tidak boleh ia cintai.
Sampul Novel CINTA SANG JANDA
9.4
Demi menghidupi anak tercinta setelah bercerai, Rahma rela melakoni pekerjaan apa saja yang halal. Suatu hari, sebuah insiden kecelakaan mempertemukan dirinya dengan Rian, sosok pria tampan yang kemudian selalu melindungi dan mendampinginya. Hubungan mereka kian dekat, namun perbedaan status sosial serta keyakinan membuat keluarga enggan memberi restu. Perjuangan cinta mereka pun kini diuji oleh rintangan berat dari nenek Rian. Mampukah keduanya bertahan?
Sampul Novel Istri Tuan Jhason
7.9
Pascapenyelamatan dirinya oleh Jhason, kehidupan Kara berubah sepenuhnya hingga kini mereka bertunangan. Sayangnya, hubungan mereka diterpa banyak ujian berat yang mengancam kebersamaan itu. Keadaan kian pelik ketika mantan pacar Kara mendadak hadir kembali. Pertemuan dengan masa lalunya ini memicu gejolak batin yang hebat pada Kara, memancing keraguan mendalam untuk terus berkomitmen dan setia mendampingi Jhason.
Sampul Novel Kau Bersandiwara Seolah Tak Bersalah
8.0
Hari pernikahan Nadira berujung kacau setelah kedok Fadlan, sang calon suami yang ternyata sudah beristri, terbongkar. Guna menghindari aib keluarga, Nadira terpaksa menerima saran sang ibu untuk menikahi Rafli, seorang duda dingin yang usianya terpaut jauh. Walau awalnya merasa asing dan enggan, lambat laun Nadira mulai menyadari kelembutan serta tanggung jawab dalam diri suaminya. Kini, ia harus berjuang menyesuaikan diri demi menemukan arti cinta yang sesungguhnya.