APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel I Love My Mother's Ex Lover

I Love My Mother's Ex Lover

Song Dasom tak pernah menyangka cintanya selama tujuh belas tahun pada aktor Yoo Junsu akan berbalas. Namun, di balik hubungan manis mereka, Junsu menyimpan motif terselubung. Ia mendekati Dasom hanya karena wajahnya sangat mirip dengan sang mantan kekasih, yang rupanya adalah ibu kandung Dasom. Begitu rahasia kelam ini terbongkar, Junsu harus bersujud memohon maaf atas kesalahannya. Kini, di tengah rasa sakit hati, keduanya mencoba bertahan dan menyembuhkan luka bersama.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Ah, maafkan ak—" Dasom menggantungkan kalimat, lehernya berkontraksi, kepalanya kini menengadah, membuat dua manik mata cokelatnya menatap jelas wajah itu. "Ahjussi," ujarnya lirih, terpesona sekaligus tak percaya. Orang itu orang yang disukainya sejak ia masih orok. Kebetulan yang indah sekali bisa bertemu dengannya satu banding satu seperti ini, pada waktu yang tak terduga, tempat yang terduga namun sulit menemukan momennya, Dasom bertemu dengan lelaki yang ia puja dengan seluruh kata manisnya.

Yang dipanggil langsung membuka matanya lebar-lebar. "Ahjussi?" tanya pria itu sedikit sebal. Kedua alis tebalnya naik ke atas, sungguh pemandangan yang mematikan untuk Dasom. Belum lagi tubuh kokohnya yang dibalut kemeja dan sweter merah marun. Betul-betul mengajak Song Dasom untuk menjadi gila mendadak!

"Junsu Ahjussi! Aku penggem—" Lelaki itu meletakkan jari telunjuk di bibir Dasom, menghentikan si gadis menyelesaikan kalimatnya. Apaaa? Tangannya menyentuh bibir Dasom pada kali pertama bertemu? Astaga. Kalau begini, Dasom tidak akan fokus bertemu laki-laki di 'dunia nyatanya'. Di pikirannya hanya akan bertengger Yoo Junsu seorang. Tak lekang oleh waktu. Dibuktikan dengan 17 tahun rasanya yang tak memudar, justru semakin menguat, mengakar. Hampir seumuran dengan umur pernikahan orang tua Dasom—21 tahun—ia menyukai aktor kebanggaan negara itu, Yoo Junsu.

"Pertama-tama, aku bukan ahjussi-ahjussi," jelas Junsu sambil menyilangkan tangan di depan dada. Imut sekali kalau kata Dasom. Ah, ia akan selalu mengatakan imut kalau itu Yoo Junsu. Selain imut, kata yang bisa ia keluarkan hanyalah kata-kata pujian lainnya. Begitulah kalau sudah menjadi budak cinta namun tak menyadari bahwa ia telah menjadi budak.

"Tapi umur Ahjus ... ah, maksudnya, umur Oppa sudah tu ... 36 tahun," cicit Dasom. Agak berdebar juga jantungnya melihat idola yang sangat disukai berdiri tepat di hadapannya. Meski 183 cm tinggi lelaki itu sedikit mengintimidasinya—yang cuma 159 cm—ia tak apa.

Junsu mendekatkan wajahnya ke wajah Dasom. Gadis itu salah tingkah, ia tak tahu ternyata idolanya bisa bersikap gila seperti ini. Melihat Dasom bertingkah aneh, Junsu yang tadinya mau berucap, mendadak mengurungkan niatnya, lalu tersenyum dengan bibir kecil itu. Senyum yang selalu membayang-bayangi Dasom setiap waktu.

"Mau minta tanda tangan boleh?" tanya Dasom gagap.

Junsu mengerjapkan kelopak matanya dua kali, sebelum akhirnya tertawa renyah. "Kau hidup di tahun berapa, sih? Memang masih zaman meminta tanda tangan?" tanya pria itu meremehkan.

"Tidak boleh, ya?" Dasom balik bertanya dengan polos. Junsu langsung tertawa lagi. Ah, lelaki itu tak hentinya membuat jantung Dasom berdebar tak karuan. Kurang ajar.

"Junsu-ssi?" Suara sekumpulan wanita menghentikan scene senyum-senyum manis ala Yoo Junsu.

Junsu berbalik membelakangi Dasom. Diam-diam, Dasom mengintip dari balik punggung lebar Junsu. Mentang-mentang kecil, penglihatan Dasom ditutup layaknya tembok yang ditempeli kertas wallpaper saja.

"Hai! Mau foto?" tanya Junsu ramah kepada sekumpulan anak SMA itu. Gadis-gadis langsung menyerbunya, membuat Dasom tersingkir.

Setelah sesi foto-foto dadakan selesai, gadis-gadis itu pergi dengan senyum merekah di wajah mereka. Kalau dipikir-pikir lagi, sungguh beruntung para penggemar itu tidak memcerca Junsu dengan ribuan pertanyaan ketika melihat Dasom ada di sana.

Junsu berbalik, menatap intens Dasom yang masih bengong melihat kepergian gadis-gadis SMA tadi. "Hei? Jadi minta tanda tangan?" tanyanya.

"Eh? Oh, iya, jadi. Ini ..." Dasom mengeluarkan buku dan pensil dari dalam ranselnya—lebih tepatnya ransel adiknya, "di sini," katanya ragu.

Sama dengan Dasom, Junsu menerima buku dan pensil itu dengan ragu. "Yakin kau mau aku menggunakan pensil saja?" tanya Junsu, menimang pensil kecil dalam tangannya yang besar nan kokoh. Pelan, Dasom mengangguk. Ia baru pulang dari menjemput adiknya yang masih TK, jadi tak membawa alat tulis lain selain pensil dan krayon. Masa iya Junsu ia suruh menandatangani kertas dengan krayon?

"Padahal ini bisa cepat hilang." Junsu mengangguk paham. Lelaki itu membuka-buka buku tulis yang Dasom serahkan padanya. Ia terus membuka, mencari halaman yang kosong, tetapi tidak ada. "Penuh," komentarnya sambil menampakkan setiap kertas yang terisi tulisan adik Dasom yang tidak rapi sama sekali.

Sembari menghela napas kecewa, Dasom berniat mengambil buku itu dari tangan Junsu, tetapi pria itu mendadak mengangkat tangannya. Otomatis, Dasom tak mampu menggapainya.

"Ada buku lain?" tanya Junsu masih dengan satu tangan mengudara. Dasom menggeleng.

"Kita hapus saja tulisan di salah satu lembarnya," usul Junsu. Menurut, Dasom langsung mengambil penghapus.

Junsu menyerahkan buku itu kepada gadis dengan rambut sebahu di hadapannya. Dasom dengan sigap menghapus tulisan cakar ayam adiknya sebanyak dua halaman sekaligus, lalu menyerahkannya kepada Junsu.

"Hmm, masih ada bekasnya," ujar Junsu.

Dasom mendesah pelan. "Adikku memang seperti itu. Dia menekan tangannya sekuat tenaga waktu menulis," katanya putus asa.

Junsu tersenyum. "Tidak masalah," katanya.

"Ya?" Dasom membelalakkan mata melihat bagaimana kebaikan Junsu yang di luar batas normal itu terlihat.

"Balik badan," suruh Junsu.

"Hah?" Dasom melongo.

Junsu tak menghiraukan kekeongan Dasom, langsung memegang pundak gadis yang seperti anak kecil di hadapannya itu, membalikkannya. Ia sedikit menunduk, meletakkan buku di punggung Dasom, menjadikannya meja dadakan. Ia membubuhkan tanda tangan sebelum akhirnya berkomentar, "Mejanya sempit."

"Di rumah ada meja," ujar Dasom, menyembunyikan detak jantungnya yang setiap saat mungkin bisa saja terdengar oleh Junsu.

"Jadi aku harus mampir ke rumahmu?" Junsu menyeringai.

"Ahjussi sembarangan. Tapi tidak apa-apa, sih," Dasom berucap. Dia seperti orang gila sekarang karena sikap Junsu.

Seperti saat pertama mereka bertemu beberapa waktu yang lalu, kedua mata Junsu terbuka lebar begitu Dasom menyebutnya ahjussi. "Sudah kubilang, aku bukan ahjussi," belanya.

"Tapi Kakak lahir tahun 1984," cicit Dasom takut-takut.

Junsu berdecak. "Memang kau lahirnya tahun berapa? 1990?" tebaknya.

"2001." Dasom mengatupkan mulut cepat-cepat selesai menyebut tahun lahirnya.

Junsu terdiam mendengarnya. Detik berikutnya, ia berseloroh, "Tapi kau terlihat seperti ahjumma-ahjumma," kilahnya. Semua orang yang punya mata tidak akan setuju dengan pernyataan Junsu. Nyatanya, Dasom masih terlihat seperti anak kecil.

"Ih, saya masih muda!" gerutu Dasom.

"Aigoo, kalau marah langsung berbahasa formal, ya? Tadi waktu pertama ketemu saja kau tidak sopan," goda Junsu.

"Eh, aku tidak sopan, Ahj ... maksudku, Oppa?" Dasom memukul pelan mulutnya.

"Aku-ahjussi. Itu tidak sopan. Harusnya saya-Anda," kata Junsu meledek.

"Oke. Saya minta maaf. Terima kasih, ya, untuk tanda tangan ini. Saya minta maaf sudah mengganggu waktu Anda. Hati-hati ke mana pun Anda pergi, ya. Saya penggemar Anda," ujar Dasom penuh senyum tulus. Ia lalu berjalan pergi meninggalkan Junsu tanpa persetujuan lelaki itu.

"Eh, tunggu dulu! Mau ke mana?" Pertanyaan Junsu membuat Dasom berhenti melangkah, lalu berbalik.

"Kita belum berfoto," ujar Junsu sambil mengeluarkan ponselnya. Kali ini gantian, tanpa menunggu persetujuan Dasom, Junsu sudah berjalan pasti ke arahnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bagaikan Debu Bertemu Mercusuar
8.2
Pernikahan Velia dan Chris Dirja yang baru berjalan dua tahun diuji oleh sikap kejam sang suami. Chris sengaja membawa perempuan lain ke rumah mereka demi menyiksa perasaan Velia. Dia bahkan menantang istrinya untuk mencoba menjalin hubungan dengan pemuda lain yang lebih berenergi. Namun, permainan mental ini menjadi bumerang ketika Velia benar-benar membuka hatinya untuk pria lain. Saat Chris menyadari luka cakaran baru di pinggang pemuda selingkuhan Velia, kemarahan dan kecemburuannya pun meledak.
Sampul Novel CEO My Husband
8.6
Kehidupan damai Tasya seketika sirna sejak kedatangan Revan, bos barunya yang sangat menyebalkan. Sebagai CEO muda yang baru saja memimpin perusahaan milik sang ayah, Revan tidak pernah berhenti mengusik dan mengganggu hari-hari Tasya di tempat kerja. Tasya pun harus bertahan menghadapi tekanan setiap hari dari atasannya yang dominan tersebut. Kisah ini menyoroti dinamika penuh ketegangan antara seorang karyawan yang kewalahan dan bos miliarder yang terus menekannya.
Sampul Novel Gairah Liar Isteriku
9.5
Pernikahan Nara dan Rama tampak sempurna di mata publik, padahal Nara memendam kesepian yang luar biasa. Demi mengisi kekosongan hati, ia nekat menjalin perselingkuhan dengan Arka. Namun, kedamaian semu itu hancur ketika Arka mengirim ancaman untuk membeberkan hubungan rahasia mereka. Kini, Nara terjebak dalam pusaran pengkhianatan dan rasa sakit yang hebat. Di tengah kemelut asmara yang penuh misteri ini, ia harus berjuang keras demi menemukan kembali jati dirinya.
Sampul Novel Gairah sang gadis hiper
7.9
Kehidupan harmonis Revi hancur seketika akibat sebuah tragedi kelam. Peristiwa itu mengubah dirinya menjadi pribadi yang terobsesi pada kepuasan seksual hingga terjebak dalam lingkaran hitam yang tak berujung. Di tengah keterpurukan moral dan krisis harga diri, Revi terus didera keraguan mendalam. Ia mempertanyakan apakah sosok wanita dengan masa lalu sekelam dirinya masih pantas mendapatkan cinta yang tulus dari seorang pria baik-baik.
Sampul Novel Terapis Pijat Laktasi
9.0
Diawali dengan ajakan sang sahabat untuk mengunjungi sebuah pusat terapi laktasi, perjalanan ini membawa sang protagonis pada situasi yang sama sekali tidak terduga. Di sana, ia mendapati bahwa terapis yang bertugas adalah seorang pria. Metode perawatan yang diberikan pun sangat tidak biasa, tidak hanya mengandalkan pijatan tangan tetapi juga sentuhan mulut. Alih-alih merasa terganggu, ia justru terjerat dalam sensasi intim tersebut dan mulai jatuh cinta pada kehangatan luar biasa yang ia rasakan.
Sampul Novel Wanita Bayaran Tuan Muda
8.4
Akibat jebakan licik Eveline, kakak tirinya, Olivia terpaksa menikah dengan Jordan untuk menggantikan posisi sang kakak. Jordan yang merasa tertipu kemudian termakan oleh fitnah kejam Eveline yang menyudutkan Olivia. Tanpa perlindungan dari keluarganya, Olivia pun terpaksa menyetujui tawaran pernikahan kontrak berbayar dari Jordan. Di tengah sandiwara pernikahan ini, akankah hubungan mereka benar-benar berakhir saat kontrak selesai, atau justru benih cinta mulai tumbuh di antara keduanya?