APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat

Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat

Setelah dikhianati dan dicampakkan oleh Deon saat hamil tua, Elara memilih pergi dan membangun hidup baru. Lima tahun berlalu, ia bertransformasi menjadi miliarder sukses yang memikat dan mandiri. Namun, saat Elara berniat meresmikan perceraian mereka yang ternyata belum diurus Deon, mantan suaminya itu justru muncul kembali. Deon yang posesif mulai menyingkirkan setiap pria yang mendekati Elara. Ketika Elara mengumumkan pertunangan dengan pria lain, Deon yang didera penyesalan nekat mengonfrontasinya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Saat Arizo mengangkat kepala dan melihat perempuan yang berdiri di depan pintu, dia sempat tertegun sejenak, tidak langsung mengenalinya. Baru setelah Elara membuka mulut dan menyapa "Profesor Arizo", Arizo menahan ekspresinya, lalu berkata, "Kamu sudah datang."

Elara melepas masker dan masuk ke kantor. "Profesor Arizo, lama nggak bertemu."

Arizo tersenyum lembut. "Lama nggak bertemu. Hampir saja aku nggak mengenalimu."

Elara tersenyum getir dan berkata, "Dengan kondisiku sekarang ini, aku sendiri saja merasa malu menemuimu."

Arizo bangkit, berjalan mengitari meja kerjanya, lalu berkata, "Saat hamil, bentuk tubuh berubah itu wajar. Setelah melahirkan nanti akan membaik. Duduklah."

Elara duduk di sofa.

Arizo menuangkan segelas air hangat dan menyerahkannya kepadanya. "Hangatkan badan."

Elara menerimanya. "Terima kasih."

Arizo melirik perutnya yang membuncit dan bertanya, "Sudah berapa bulan?"

Elara menjawab, "Enam bulan satu minggu."

Arizo berkata, "Kalau begitu, saat mulai kuliah akhir Januari tahun depan, kamu baru sampai waktu perkiraan melahirkan."

Elara memohon, "Aku ingin minta bantuan Profesor. Apa aku bisa menunda waktu masuk kuliah?"

Melahirkan adalah hal yang tidak bisa dihindari, tetapi dia benar-benar tidak ingin melewatkan kesempatan ini.

Arizo bertanya dengan serius, "Kenapa ingin pergi?"

Elara menunduk dan berkata, "Setelah anak ini lahir, Deon berencana menceraikanku. Hubungan keliru ini juga nggak ingin kulanjutkan lagi. Aku ingin memulai kembali hidupku sendiri."

Enam bulan itu tidak bisa dibilang panjang, juga tidak pendek. Namun baginya, rasanya seperti menjalani seumur hidup.

Alis Arizo tak kuasa berkerut. Gadis yang dulu ceria dan manis itu telah berubah drastis dalam waktu singkat, cukup untuk membayangkan betapa berat penderitaan fisik dan batin yang telah dia alami.

"Aku sangat lega kamu akhirnya bisa berpikir jernih dan bangkit kembali. Kamu dan Deon memang nggak cocok. Ke depannya, kamu pasti bisa bertemu orang yang benar-benar mencintaimu."

Elara menunduk dan mengangguk pelan. Dulu, Arizo sebenarnya tidak setuju Elara bekerja di sisi Deon sebagai asisten, tetapi Elara bersikeras. Pada akhirnya, dia yang menderita sendiri.

Tiba-tiba, dia bertanya lagi, "Di mata Profesor Arizo, sebenarnya Deon itu orang seperti apa?"

Arizo terdiam sejenak, lalu berkata perlahan, "Seseorang yang demi mencapai tujuan, nggak segan menggunakan cara apa pun, mengutamakan kepentingan di atas segalanya. Orang seperti itu kemungkinan besar nggak punya cinta."

"Begitu ya?"

Namun, kelembutan Deon pada gadis itu tidak mungkin palsu. Mungkin hanya jika mencintai setengah mati barulah dia mau merendahkan diri seperti itu. Memang hanya perempuan cantik yang pantas berdiri di sisinya.

Elara tidak bertanya lagi.

"Karena kamu sudah memutuskan, nanti aku akan membantumu mengajukan penundaan masuk kuliah."

"Terima kasih, Profesor."

Arizo memintanya mengisi satu formulir permohonan. Setelah Elara selesai mengisinya ....

"Setelah anak itu lahir, dia akan tinggal di rumah Keluarga Atmadja?" tanya Arizo tiba-tiba.

Elara tersenyum pahit. Sekalipun dia ingin membawa anak itu pergi, hal itu mustahil. Dia hanya bisa merasa bersalah pada anak tersebut. "Keluarga Atmadja seharusnya akan merawatnya dengan baik."

Arizo tidak bertanya lebih lanjut. "Kebetulan aku butuh satu asisten. Cukup satu bulan saja. Mau coba?"

Elara langsung menyetujuinya tanpa ragu. "Baik."

Sejak dia hamil, pihak Deon memindahkannya ke posisi yang nyaris tak berarti di bagian sekretariat. Dalam semalam, dia jatuh dari posisi asisten presdir menjadi figur tak terlihat. Semua usahanya seolah-olah lenyap menjadi gelembung.

Kini, dia memang membutuhkan pekerjaan baru untuk mengalihkan perhatian dan membuat hidupnya kembali berjalan. Kebetulan, ini bisa dijadikan persiapan sebelum berangkat studi lanjut.

Karena hari itu dia memang sudah mengambil cuti, Elara pun tinggal dan mulai bekerja sebagai asisten profesor. Dia sendiri adalah murid Arizo, ditambah sebelumnya pernah bekerja intens di sisi Deon. Meskipun sempat terpuruk, dia segera beradaptasi dan menangani pekerjaan dengan sangat lancar.

Saat itu, Elara seperti menemukan kembali dirinya yang dulu, menemukan kembali nilai keberadaan dirinya yang sesungguhnya.

Seperti kata Arizo, dia memang seharusnya bersinar di dunia kerja. Cinta tidak seharusnya menjadi satu-satunya pusat kehidupan.

Malam itu, Deon tidak pulang ke rumah, seperti biasanya. Dia memang hanya sesekali pulang. Kali ini, Elara sudah tidak peduli lagi.

Keesokan harinya, dia sudah menyiapkan surat pengunduran diri lebih awal.

Deon mengelola industri keuangan di bawah Grup Atmadja, termasuk bank dan perusahaan dana investasi. Di arena penuh intrik dan kepentingan seperti ini, dia mampu mewarisi industri inti Grup Atmadja dengan kekuatannya sendiri, bahkan terus melakukan ekspansi dan akuisisi.

Itu cukup membuktikan bahwa dia bukan hanya memiliki otak dan kemampuan luar biasa, tetapi juga hati yang dingin dan kejam.

Elara tiba di perusahaan dan kebetulan berpapasan dengan Deon yang baru turun dari mobil. Posturnya tegap, setelan jas rapi, tampan dan berwibawa. Kekayaan dan status membuatnya memancarkan pesona kedewasaan yang tak terbatas.

"Pak Deon." Para karyawan menunduk, memberi salam dengan hormat.

Elara tersadar dan buru-buru menunduk, lalu mundur dua langkah.

Pria itu seolah-olah tidak melihatnya sama sekali dan melangkah masuk ke dalam perusahaan.

Elara menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Shireen. Shireen adalah sekretaris Deon. Dulu, dia adalah bawahan Elara. Kini, roda nasib berputar. Elara justru menjadi bawahannya.

Saat Elara tiba-tiba diturunkan jabatannya dulu, seluruh departemen terkejut. Elara baru lulus kuliah dan langsung menjadi asisten presdir.

Posisi asisten tidak hanya menuntut kemampuan, tetapi juga penampilan. Sementara Elara, baik wajah maupun bentuk tubuhnya, sangat biasa saja. Namun, dia tetap terpilih, cukup untuk membuktikan bahwa kemampuannya mampu menutupi kekurangannya secara fisik. Presdir yang terkenal tegas bahkan pernah beberapa kali memujinya.

Namun, Shireen sangat paham. Di matanya, Elara ingin naik kelas lewat ranjang. Sehebat apa pun kemampuannya, tetap bukan orang baik. Karena itulah, Deon sangat membencinya.

Shireen melirik surat pengunduran diri itu, lalu pandangannya menyapu perut hamil Elara. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman mengejek.

"Orang yang bermartabat itu tahu diri. Kalau nggak ada kerjaan, sering-seringlah bercermin. Jangan mengira dengan punya anak kamu bisa memanjat ke pohon yang tinggi. Lihat dulu Keluarga Atmadja itu tempat apa dan kamu sendiri itu siapa."

Soal dirinya dan Deon yang sudah mendaftarkan pernikahan, tidak ada satu pun orang di perusahaan yang mengetahuinya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Kembar Tiga: Ayah Presdir untuk Ibu
8.0
Akibat konspirasi jahat yang merusak kehormatannya, Claire Adhitama terpaksa meninggalkan rumah. Enam tahun berlalu, ia kembali bersama tiga anak kembarnya yang masih kecil untuk membalas dendam. Tak disangka, anak-anaknya yang cerdik justru menemukan ayah kandung mereka yang kaya raya dan menculiknya pulang demi mendukung sang ibu. Saat berhadapan dengan tiga replika dirinya, sang presdir menyudutkan Claire dengan senyuman hangat, menantangnya untuk memiliki anak keempat, yang langsung ditolak keras oleh Claire.
Sampul Novel Kurebut Istri Mandul Milikmu
8.2
Desakan orang tua untuk segera memiliki anak membuat Morgan hilang kesabaran menghadapi Fla. Ia pun berniat menceraikan sang istri agar bisa menikahi adik iparnya sendiri, Ara. Fla menolak keras rencana tersebut karena tak sudi berbagi suami dengan adiknya. Namun, Morgan tetap nekat berselingkuh dengan Ara di belakang Fla. Sanggupkah rumah tangga mereka bertahan di tengah hantaman badai pengkhianatan serta konflik keluarga yang begitu rumit ini?
Sampul Novel SENANDUNG RINDU
8.2
Setelah sembuh dari depresi, Anika Larasati harus menghadapi rasa rindu yang berat kepada anak serta lelaki impiannya. Sementara itu, Gafi Beryl mengambil langkah berani menentang kehendak keluarganya demi mengejar cinta yang sempat hilang. Di sudut lain, Citra Larasati memutuskan untuk menyembunyikan anaknya dari sang suami yang telah berkhianat. Bersama ambisi Noah Berto yang ingin merebut kembali cintanya, takdir membawa mereka dalam pencarian pengampunan yang tulus.
Sampul Novel Siapa Ayah Anakku?
8.2
Demi menegakkan keadilan, jaksa Grace Anderson Shin terpaksa bekerja sama dengan Ethan Christoper, seorang bos mafia yang didorong oleh misi balas dendam atas kematian ibunya. Namun, kolaborasi ini justru menumbuhkan perasaan cinta di antara mereka. Situasi kian pelik ketika Grace menyadari bahwa Ethan adalah pria masa lalu sekaligus ayah kandung dari putra yang selama ini ia sembunyikan. Akankah rahasia besar ini menyatukan mereka atau malah memicu kehancuran?
Sampul Novel Tiga Gadis Bar-Bar ( Jatuh cinta)
8.3
Tiga bersaudara, Ara, Kinan, dan Yasmin, menolak keras perjodohan dari orang tua mereka. Demi kemandirian, mereka nekat melarikan diri dan menyamar untuk memulai lembaran baru. Namun, takdir mempertemukan ketiganya dengan para pria yang sebenarnya merupakan calon suami pilihan keluarga mereka. Tanpa menyadari situasi ini, hubungan mereka mulai tumbuh. Akankah rahasia mereka terbongkar, dan bagaimana kelanjutan kisah cinta ini saat kebenaran terungkap?
Sampul Novel Tunanganku Mendonor Ginjalku
8.6
Sebagai saudara kembar yang sama-sama menderita penyakit ginjal parah, harapan hidup muncul saat dua ginjal donor tersedia untuk kami berdua. Namun, adikku menuntut kedua organ tersebut demi dirinya sendiri. Saat aku menolak, tunanganku justru mengurungku di rumah dan membiarkan adikku mengambil paksa hak hidupku. Dia menuduhku egois tanpa menyadari bahwa keputusan kejamnya telah menutup kesempatanku untuk bertahan hidup, karena sisa waktuku di dunia ini tidak lama lagi.